
Alex dan Kenan duduk duduk di kursi, ada tirai kain putih yang membatasi mereka dengan Frank yang duduk di seberang. Wajah Frank tidak terlihat hanya anak buah Frank berdiri di tengah tirai sebagai pemandu jika ada yang tidak dipahami atau tidak kedengaran.
"Begini Tuan Frank, aku ingin membeli lahan kosong milikmu yang ada di jalan Anggrek," ujar Alex menyampaikan keinginannya untuk membeli tanah milik Frank.
"Tanah itu tidak untuk dijual sembarangan," sahut Frank.
"Tapi kenapa dipasang plang dijual, sebagai orang awam aku tertarik untuk membelinya," kata Alex. Dia tidak mungkin datang kalau tidak ada plang dijual pada lahan kosong tersebut.
"Itu karena aku ingin menjual pada orang yang ku inginkan," jawab Frank.
"Bagaimana kalau harga yang ku tawarkan di atas harga sebelumnya?" tanya Alex. Sebelum hari ini Alex pernah tawar menawar dengan Frank via telpon. Tapi belum menemukan kesepakatan.
"Aku belum tertarik meski kau tawar berkali-kali lipat," jawab Frank. Dia belum ingin menjual lahan kosongnya pada Alex. Belum ada sesuatu yang bisa menggerakkan hatinya untuk menjual tanah itu.
Alex terdiam. Dia sedang berpikir. Sangat sulit tawar menawar dengan orang yang tidak menginginkan uang. Sedangkan jual beli dilakukan karena uang.
"Bos gimana? Apa kita nunggu hujan kali aja berubah pikiran?" bisik Kenan.
"Memang kenapa mesti nunggu hujan?" tanya Alex.
"Kalau tempat itu kena tsunamikan harga jualnya turun," jawab Kenan.
"Dodol, mana ada tsunami. Yang ada banjir," sahut Alex. Mana ada tsunami kebanyakan banjir yang menjadi permasalahan warga kota.
"Iya itu maksudku Bos," ujar Kenan.
Alex terdiam. Lahan itu tinggi mana mungkin banjir dan memang bukan daerah banjir.
"Bos jangan-jangan wajah Frank digerogotin tikus makanya Frank sengaja memelihara banyak anjing," bisik Kenan. Ada-ada saja pikirannya yang mulai liar ke mana-mana.
"Benar juga, kalau gitu kucing bisa pensiun, ada anjing yang menggantikan tugasnya menangkap tikus," balas Alex.
Alex dan Kenan justru mengobrol pelan disela gabut memikirkan cara bicara dengan Frank.
"Tuan Frank, sebenarnya aku ingin membeli tanah itu untuk dibangun pesantren. Dengan adanya pesantren daerah di jalan Anggrek tidak sepi lagi, lebih ramai dan lebih aman," ujar Alex. Daerah di jalan Anggrek sangat sepi. Kerap terjadi perampokan, begal dan kemalingan. Dengan adanya pesantren di daerah itu akan membuat lingkungan itu menjadi ramai.
"Pesantren?" Frank terperanjat mendengar Alex ingin membangun pesantren di atas lahan kosong itu.
"Iya, aku berharap anda bersedia melepas tanah itu untuk perusahaan kami," jawab Alex. Dia berharap Frank mau melepas tanah itu.
Frank terdiam. Memikirkan apa yang diucapkan Alex.
"Baiklah, aku akan melepas tanah itu tapi aku punya syarat yang harus kau penuhi," ujar Frank. Dia mengajukan sebuah syarat agar Alex memenuhi syarat yang akan diajukannya.
"Apa syaratnya?" tanya Alex. Penasaran dengan syarat yang akan diajukan Frank padanya.
"Tolong carikan aku istri yang mau menerimaku tanpa melihat wajahku terlebih dahulu," ujar Frank. Dia meminta Alex untuk mencarikannya istri.
Alex terdiam. Syarat yang diajukan Frank sulit. Mencarikan istri tanpa melihat seperti apa wajah calon suaminya.
"Bos mana ada yang mau, kalau Frank ternyata jelmaan gendruwo gimana Bos? Atau alien nyasar ke bumi," kata Kenan. Dia khawatir ternyata Frank adalah makhluk tak kasat mata atau penghuni planet lain.
"Jangan suudzon dulu. Bisa jadi Frank malu kalau orang tahu dia tampan. Macam misterius boy," sahut Alex. Dia berusaha berpikir positif.
"Gimana kalau dia pawang hujan Bos? Atau tukang sandal jepit di pinggir kali?" ujar Kenan.
"Bagus, berarti kaya tidak membuatnya lupa daratan," jawab Alex.
Mereka kembali berdiskusi. Memikirkan jawaban apa yang tepat untuk Frank.
"Bagaimana? Aku akan menjual tanah itu bahkan dengan harga di bawah yang anda ajukan sebelumnya," ujar Frank.
"Baik, Insya Allah akan memenuhi syarat dari Tuan Frank," jawab Alex. Dia akan berusaha terlebih dahulu. Tidak ada yang tidak mungkin. Asal mau berusaha, berdoa, dan bertawakal.
"Oke, aku akan menunggu hasilnya," jawab Frank.
Sementara itu di luar Son dan Jon sedang dikejar anjing gara-gara memakan sosis milik anjing-anjing itu. Alex dan Kenan berdiri di atas balkon melihat mereka dikejar-kejar anjing.
"Bos mereka kita apakan?" tanya Kenan.
"Biarkan saja dulu, mereka sedang berolahraga," jawab Alex.
"Masa iya sih Bos? kayanya mereka makan sosis kadaluarsa yang ada di halaman. Itukan makanannya anjing," ujar Kenan.
"Mereka belum pernah makan sosis kadaluarsa, wajarlah. Lagi pula sehat juga lari pagi dikejar anjing," jawab Alex.
Mereka berdua memperhatikan Son dan Jon yang berlari ke kanan dan kiri dikejar beberapa anjing.
***
"Ayo Neng semangat! Kamu pasti bisa, Abang dukung," ucap Pak Harry melihat istrinya belajar berdiri.
Sora mengangguk dan tersenyum pada suaminya yang dari tadi menyemangatinya.
"Sedikit lagi, lakukan perlahan dan sesuai yang ku ajarkan." Terapis itu memandu Sora untuk berdiri. Tahapan sebelum dia berlatih berjalan.
"Iya Kak," jawab Sora. Dia tidak mau menyerah. Apalagi suaminya selalu menemaninya terapi. Dia selalu mengosongkan jadwal demi menemaninya. Sora tidak ingin mengecewakannya.
Sora berusaha berdiri. Meski kakinya sulit dan kaku untuk digerakkan. Tapi apa yang sudah diajarkan terapisnya membuat Sora yakin bisa.
"Semangat Neng, semangat! Semangat!" Pak Harry terus menyemangati.
"Pak anda di sini bukan tim suporter bola, mohon diturunkan volumenya." Seorang terapis lain menegur Pak Harry. Menyemangati Sora sudah seperti tim supporter bola.
Pak Harry mengangguk. Malu sekali sampai ditegur seorang terapis saking suaranya menggelegar.
"Semangat Neng! Semangat!" Suara Pak Harry pelan bagai putri Solo.
"Pak kalau menyemangatinya begitu ya gak kedengeran, paling semut yang denger." Terapis itu kembali menegur Pak Harry.
Pak Harry mengangguk. Bingung deh kenceng gak boleh pelan gak kedengeran. Akhirnya Pak Harry diam. Dari pada begini salah begitu salah.
"Abang Neng bisa!" teriak Sora kegirangan bisa berdiri.
"Alhamdulillah, Neng hebat!" sahut Pak Harry. Dia ikut senang Sora sudah bisa berdiri. Meski susah payah dia berusaha untuk bisa.
Setelah selesai tetapi Pak Harry mengajak Sora jalan-jalan di taman bunga sekalian berjemur. Pak Harry membeli seikat bunga untuk Sora dan memberikan padanya.
"Bunga cantik untuk wanita tercantik," ujar Pak Harry menggombal.
"Abang bisa aja, makasih ya," sahut Sora.
"Cium Abang Neng kaya anak-anak muda gitu," ujar Pak Harry.
Sora tersenyum. Suaminya memang tak muda lagi tapi dia begitu menyayanginya.
Pak Harry mendekat, dia tak sabar mendapat ciuman dari istrinya. Sora pun mencium pipi suaminya.
Cup
"Makasih Neng, I Love You," ujar Pak Harry.
"I Love You Too Abang," sahut Sora.
Mereka berdua begitu menikmati pemandangan yang indah dan udara yang sejuk di pagi hari. Di tambah sinar matahari yang hangat.
***
Erisa duduk bersama Sari di gubuk yang ada di tepi sawah. Mereka sedang makan siang sekalian mengobrol santai. Sari membawa rantang berisi makanan yang dibawanya dari rumah. Berbagai lauk pauk dan sayuran terdapat di setiap rantang.
Mereka begitu menikmati makanan itu dan memakannya sampai habis.
"Alhamdulillah kenyang," ucap Erisa.
"Alhamdulillah," tambah Sari.
Erisa bersandar di tiang gubuk. Sambil membuka handphone miliknya. Dia mencari-cari beberapa orang terkenal di Jakarta.
"Erisa lagi ngapain?" tanya Sari.
"Lagi nyari bokap gue," jawab Erisa.
"Bokap Lo bukannya Bang Toyib ya?" sahut Sari. Dari zaman sekolah SD sampai SMA, Erisa selalu bilang ayahnya Bang Toyib kalau ditanya teman-temannya.
"Bang Toyib sudah pulang, kan cuma tiga tahun gak pulangnya, tapi bokap gue udah puluhan tahun gak pulang. Makanya gue nyariin dia," jawab Erisa. Matanya masih fokus ke layar handphonenya.
"Emang Lo tahu bokap Lo siapa?" tanya Sari penasaran sama ayahnya Erisa.
"Orang terkenal di Jakarta, wajahnya familiar sering muncul di medsos," jawab Erisa. Dia kerap melihat ayahnya di medsos.
"Siapa? Mana tahu akau kenal," sahut Sari.
"Aku lupa siapa ya? Yang dulu kasus perumahan ambrug itu loh. Orangnya tampan dan keren," ujar Erisa.
"Oh Alex Sebastian," jawab Sari. Dia pernah membaca berita perumahan ambrug itu juga. Berita itu viral di medsos. Bukan karena perumahannya saja Sari tertarik baca beritanya tapi wajah tampan dan keren si empunya perumahan itu.
"Ya ya betul." Erisa kegirangan Sari tahu orang yang sedang dicarinya.