Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Yang Terjadi



Frank berjalan menghampiri Aiko. Dia berjalan dengan arogannya. Meski ada luka sayatan di setengah mukanya Frank tetap terlihat tampan dan keren.


"Aku memang Frank Howard. Kau menyesal bertemu denganku?" tanya Frank.


Aiko terdiam memperhatikan lelaki yang ada di depannya. Ini pertama kalinya Aiko bertemu dengan Frank.


"Kau takut?" Frank memutari gadis berhijab yang mematung di tempat.


"Tidak, untuk apa takut. Aku tak pernah takut kecuali pada Allah SWT," jawab Aiko. Selama ini tak pernah takut tapi ada satu yang telah membuatnya takut, Allah SWT.


Frank tersenyum mendengar jawaban Aiko.


"Ku pikir kau wanita lemah lembut ternyata bar-bar juga ya?" ujar Frank.


"Tergantung situasi apa yang ku hadapi. Jika orang sepertimu yang ku hadapi untuk apa aku berlemah lembut," jawab Aiko. Dia memasang wajah dinginnya.


"Oke, aku suka dengan caramu berpikir," sahut Frank.


Aiko hanya diam. Tangannya tetap diposisi berjaga untuk bertarung. Dia tidak bisa mempercayai lelaki itu.


Frank duduk di kursi. Menatap ke arah Aiko. Begitupun dengan Aiko yang menatap tajam lelaki di depannya bak seorang musuh.


"Seperti inilah wajahku, mungkin banyak wanita di luar sana akan ketakutan saat melihat wajahku, bagaimana denganmu?" tanya Frank dengan suara beratnya.


"Asalkan lelaki itu satu iman dan baik hati, aku masih bisa menerimanya," jawab Aiko. Selama ini dia tidak pernah mematok harus tampan atau tidak. Yang penting satu iman dan baik hati.


"Berarti kau mau jadi istriku?" tanya Frank.


"Tidak semudah itu. Ada satu pertanyaan yang harus kau jawab," jawab Aiko


"Apa?" tanya Frank.


"Apa yang sudah terjadi pada wajahmu?" tanya Aiko. Dia ingin tahu kenapa wajah Frank ada bekas sayatan benda tajamnya.


Frank tersenyum tipis menatap gadis berhijab di depannya.


"Itu pertanyaan yang harus ku jawab?" tanya Frank.


"Iya," jawab Aiko.


"Baiklah akan ku jawab, tapi ingat! Menikahlah denganku setelah aku menjawabnya," sahut Frank. Ada jawaban berarti Aiko harus siap menikah dengannya.


"Oke, siapa takut? Hari ini juga kita menikah," tantang Aiko. Padahal kedua tangannya gemetaran. Masa iya menikah tanpa cinta dan dadakan. Tapi namanya juga jodoh, nemu di pohon kesemek juga jadi.


"Saat itu terjadi perampokan di rumahku yang ada di Jalan Anggrek. Mereka tak hanya mengambil harta keluargaku tapi membantai kami semua. Setelah merampok mereka juga membakar rumah kami. Seakan tidak terjadi perampokan tapi hanya sebuah kebakaran. Saat itu usiaku masih belasan tahun, luka ini ku dapat saat aku berusaha melawan mereka, tapi justru mereka ingin membelahku hidup-hidup. Untung saja aku masih bisa bertahan. Luka ini tak hanya ada di wajahku bahkan sampai ke bagian perutku," jawab Frank menceritakan sejarah luka di wajahnya.


Mata Aiko berkaca-kaca. Dia tidak menyangka Frank mengalami kejadian yang begitu tragis. Satu keluarga dibantai dan hanya dia yang masih hidup.


"Kau ingin melihatnya. Akan ku tunjukkan!" Frank membuka kancing kemeja putih di dalam jas hitam miliknya.


Aiko terdiam. Menatap luka sayatan yang memanjang dari dada kiri Frank hingga ke perut.


"Astagfirullah, mereka sangat kejam," ucap Aiko melihat luka sayatan di tubuh Frank. Perampok-perampok itu sangat kejam dan sadis. Satu keluarga terbunuh dalam semalam. Hanya Frank yang tersisa.


Frank kembali mengancingkan kemeja putihnya. Menatap Aiko yang terlihat sedih menatap ke arahnya.


"Jadi itu alasan kenapa di halaman rumahmu banyak anjing, iyakan?" tanya Aiko. Dia tahu mulai mengerti kenapa Frank memiliki banyak anjing di depan rumahnya.


"Iya, kejadian itu menyisakan trauma mendalam untukku. Aku selalu takut ketika malam datang. Aku takut mereka kembali," sahut Frank. Kejadian itu menyisakan trauma mendalam. Membuat Frank jadi phobia setiap malam dan lebih ketat menjaga keamanan rumahnya.


"Hidup mati seseorang sudah ada yang mengatur. Kenapa kau masih hidup sampai sekarang, itu karena takdir yang sudah digariskan untukmu. Begitupun dengan kematian keluargamu. Percayalah Allah SWT tidak akan menguji hambaNya melebihi batasnya," sahut Aiko.


Frank mengangguk. Dia merasa apa yang dikatakan Aiko benar. Kematian keluarganya tak terlepas dari takdir yang sudah digariskan.


"Kalau begitu bantu aku agar bisa menghilangkan trauma yang ku rasakan," pinta Frank.


"Berarti kau siap jadi istriku?" tanya Frank.


Aiko hanya mengangguk. Dia merasa seperti Sophia. Menikah dadakan dengan seorang laki-laki yang belum dikenalnya dekat.


"Akhirnya aku menikah juga, sudah lama aku tak pernah ke luar rumah. Lama sekali." Frank sudah lama tak pernah ke luar rumah. Dia hanya mengerjakan pekerjaannya dari rumah. Dia bekerja di depan laptop. Semua dilakukan dibalik layar.


"Apa? kau tak pernah ke luar rumah?" tanya Aiko.


"Iya, sudah lama. Mungkin dalam satu tahun hanya satu kali. Itupun kalau kepepet. Selebihnya aku hanya diam di rumah," jawab Frank.


"Manusia gua," gumam Aiko.


"Kau bilang apa calon istriku?" tanya Frank.


"Kau seperti manusia yang tinggal di dalam gua dalam waktu yang lama. Padahal di luar sangat menyenangkan dan menarik. Apa kau tak bosan di dalam rumah terus?" jawab Aiko. Dia heran ada orang seperti Frank yang hidup di dalam rumahnya terus. Tak pernah ke luar dari rumah jika tak penting.


"Maka dari itu ajari aku kehidupan di luar seperti apa, aku sangat phobia bertemu siapa pun apalagi aku tidak mengenalnya," sahut Frank. Dia selalu takut bertemu banyak orang yang tidak dikenal olehnya. Dia selalu berpikir orang-orang itu akan mencelakainya.


"Oke, dimulai dari sekarang. Kau harus ikut denganku ke luar rumah. Hidup normal seperti manusia pada umumnya," ujar Aiko dengan semangat yang tinggi untuk mengajari Frank hidup normal. Tak hanya tinggal di dalam rumah nanasnya.


Frank hanya mengangguk dan tersenyum.


Sementara itu di luar Kenan naik ke atas pohon mangga. Dia ingin memetik mangga yang matang disela-sela kegabutannya.


"Bos mau mangga yang mana?" tanya Kenan berdiri di dahan pohon mangga.


"Aku tidak ingin mangga. Asal kau masih hidup sampai turun itu yang terpenting," jawab Alex yang berada di bawah bersama Sophia. Mereka menikmati buah mangga yang sudah disediakan pelayan rumah itu.


"Bos soal panjat memanjat aku paling jago, lihat sudah setinggi ini aku masih hidup," sahut Kenan.


"Hati-hati tersengat tawon. Sepertinya banyak rumahnya di atas sana," kata Alex memperingatkan.


"Bos kenapa baru bilang? Kepalaku habis disengat," sahut Kenan yang dikerumuni tawon agresif gara-gara Kenan salah menginjak rumah tawon.


"Aku tadikan sudah bilang, asal kau masih hidup sampai turun itu sudah bagus," kata Alex.


"Bos! Bos! Aw .. aw ..., tawonnya ganas nih, kepalaku habis disengat," keluh Kenan yang masih di atas dahan pohon mangga.


"Mas tolongin Kak Kenan!" pinta Sophia melihat ke atas.


"Kenan jatuhkan dirimu ke matras di seberang!" titah Alex. Dia menyuruh Kenan menjatuhkan diri ke matras di bawah pohon mangga yang ada di sebelah kiri pohon.


"Banyak anjing berjemur Bos, selamat dari tawon dikejar anjing Bos," sahut Kenan.


"Kalau begitu berdamailah dengan tawon, ajak mereka berdiskusi secara mufakat," kata Alex.


"Sampai kapan mufakatnya Bos? wajahku sudah bentol semua," sahut Kenan. Jangankan berdiskusi secara mufakat, dia malah habis dikeroyok tawon. Tak ada kata damai di antara keduanya.


"Mas!" Sophia cemas melihat Kenan jadi bulan-bulanan tawon.


Akhirnya Alex melempar sosis ke tempat yang jauh, anjing-anjing di atas matras berlari ke arah sosis yang dibuang Alex.


"Turun!" titah Alex.


Kenan pun melompat. Tapi bukannya jatuh ke matras malah jatuh ke pasir.


Bruuug ...


"Bos bau!" keluh Kenan.


"Itu toiletnya anjing Kenan, ngapain kau jatuh di situ bukannya ke matras," sahut Alex.


Sophia hanya menggeleng dan tersenyum melihat tingkah Bos dan anak buahnya.