
Udin dan Dudung membawa Dodo dan Nesa pergi ke Pelabuhan Brangkas. Mereka berangkat setelah sahut. Dodo dan Nesa masih tertidur di gerobak yang ditarik motor butut milik Udin dan Dudung. Mereka berdua tidur di antara barang-barang rongsokan yang dikemas rapi.
"Din anak-anak gak masalah tidur di belakang?"
"Gak papa, paling gatel doang."
"Tar gak dipotong tebusannya buat biaya berobat?"
"Iya ya mana biaya berobat orang kaya mahal, abis dong uang tebusannya dipotong buat ganti rugi."
"Moga gak kenapa-kenapa?"
"Kita berdoa aja semoga anak-anak sehat sampai di tangan orangtuanya."
"Amin."
Kedua penculik itu sampai di Pelabuhan Brangkas. Mereka parkir di belakang karena di depan untuk mobil.
"Dung bangunin dua bocah itu."
"Iya Din."
Dudung turun dari motor. Membangunkan Dodo dan Nesa yang berbaring di gerobak belakang. Mereka berdua tampak pules. Tidur dengan nyamannya.
"Gendut bangun ... bangun ...."
Mendengar suara yang memanggilnya, Dodo terbangun. Langsung duduk berbalik melihat Dudung yang ada di samping gerobak.
"Om dah sampai ya?" tanya Dodo.
"Kamu siapa? Perasaan gak nyulik monster deh." Dudung melihat Dodo bengkak karena biduran sekujur tubuhnya. Maklum kebanyakan makan kepompong sangrai jadi bengkak sana sini.
"Monster? Di mana Om?" tanya Dodo.
Dudung syok melihat monster muncul di gerobaknya. Sampai bengong melihat Dodo udah sipit, matanya gak keliatan ketutup pipi yang bengkak penuh biduran.
Nesa yang sedang tertidur ikut bangun. Dia langsung duduk. Mengucek matanya. Kemudian melihat ke arah Dodo.
"Do kau berhasil jadi Hulk untuk menyelamatkankukan?" tanya Nesa.
"Hulk, emang ya, tapi kok gatal semua," jawab Dodo.
"Iya cuma gak hijau, apa kurang vitamin ya Hulk-nya?" tanya Nesa.
"Perasaan ngeliat aja susah, emang menderita begini jadi Hulk?" tanya Dodo.
"Apa karena kau Hulk albino," jawab Nesa.
"Ada ya Hulk albino? Tapi kok gerak aja susah gimana mau nyelamatin kamu Nes," ujar Dodo.
"Mungkin kau harus makan kepompong lagi biar maksimal berubahnya," sahut Nesa.
Di saat mereka berdua asyik mengobrol, Dudung baru nyadar monster aneh itu Dodo yang biduran.
"Oh kau si gendut, tapi kok jadi bengkak gini?"
"Iya Om, kayanya gara-gara kebanyakan makan kepompong," jawab Dodo.
"Berarti kau biduran, tapi parah ya sampai bengkak gini."
"Gak tahu Om, tadi sahur semangkuk kepompong saus tiram," jawab Dodo.
"Itu kepompong basi yang kemarin gak sempet dijual."
Dodo langsung syok. Kirain penculiknya ngumpetin kepompong saus tiram biar gak dicolong Dodo gak tahunya kepompong tumis yang basi.
"Udah yang penting kamu sehat, tiga hari lagi juga sembuh."
"Sehari aja menderita gini Om, masa tiga hari," kata Dodo.
"Sabar, nikmati prosesnya agar kau tak lupa saat lagi di atas angin."
Dodo tepok jidak. Mau tak mau harus merasakan biduran untuk beberapa hari ke depan.
"Ayo turun, mau ketemu ayah dan ibu kaliankan?"
"Iya Om," sahut Dodo dan Nesa. Keduanya turun dari gerobak. Mengikuti Dudung dan Udin masuk ke pelabuhan. Di pelabuhan ilegal itu tampak ramai tapi bukan ramai karena penduduk sekitar atau penumpang kapal. Tapi orang-orang yang sibuk membawa barang ilegal mereka untuk dikirim ke luar kota dan luar negeri. Pelabuhan itu kecil. Tak banyak orang tahu. Secara umum diketahui sebagai pelabuhan untuk menyeberang antar pulau bagi para pedagang atau digunakan untuk pelabuhan barang-barang bekas dari luar kota atau luar negeri. Padahal di pelabuhan itu berbagai barang haram diselundupkan.
Udin dan Dodo berjalan melewati beberapa orang berbaju hitam dan bertato yang sedang duduk. Mereka memperhatikan keduanya yang membawa Dodo dan Nesa. Salah satu dari mereka yang terlihat menyeramkan menghampiri Udin dan Dudung.
"Kalian mau ke mana?"
"Kami mau ketemu orang Bang," jawab Udin.
"Barang bagus, berapa harganya?"
"Kami tidak sedang berjualan Bang," jawab Dudung.
Orang itu menarik Udin dan Dudung ke tepi.
"Aku kasih seratus juta, berikan bocah itu padaku."
"Maaf Bang kami gak berniat menjual anak gendut itu, biarpun kaya monster," jawab Dudung.
"Siapa yang mau beli bocah gendut itu, yang satunya."
"Maaf Bang kita cuma penculik kecil-kecilan, gak berniat menjual anak-anak itu," jawab Udin.
Orang itu mengeluarkan pisau. Mengasahnya di jengot tebal di bawah dagunya. Seolah menakuti Udin dan Dudung.
"Gimana kalau dua ratus juta?"
"Gak Bang, kami gak ingin duit banyak, yang penting halal dan ikhlas diberikan keluarga bocah itu untuk kami," jawab Dudung.
"Kami tak ingin menambah dosa Bang," tambah Udin.
Tiba-tiba Dodo dan Nesa ditangkap orang-orang berbaju hitam itu. Dibawa mereka berjalan menuju kapal yang berukuran sedang. Melihat itu Udin dan Dudung berusaha mengejar meski mereka dihalangi orang yang membawa pisau itu.
"Mau ke mana kalian?"
"Bang jangan dibawa anak-anak itu, kasihan Bang," jawab Udin.
Orang itu mengacungkan pisau ke arah Dudung dan Udin. Untung mereka bisa menghindar. Terjadi baku hantam. Meskipun Udung dan Udin tidak bisa bertarung tapi mereka pintar menghindar.
"Udung keluarkan jurus andalan," kata Udin.
"Sip," sahut Dudung. Dia mulai mengeluarkan kentut bau busuknya.
Bruuut .... bruuuut ... bruuut ....
"Buset bau banget, bangkai aja kalah."
"Dung keluarkan jurus serudukan kerbau gila!" titah Udin.
Dudung mengangguk. Dia mengeluarkan jurus serudukan kerbau gila.
Dug ....
Orang itu langsung terpental jatuh ke bawah.
Bruuug ....
"Aw ..."
"Dung ayo kejar kapalnya!" titah Udin.
"Iya Din," jawab Dudung.
Mereka berdua berlari ke arah kapal yang berukuran sedang itu. Kapalnya mulai berlayar. Udin dan Dudung tak bisa mengejarnya.
"Nyebur Din!" titah Dudung.
"Oke," jawab Udin.
Keduanya melompat ke salam laut.
Byuuur ...
"Dung memang kau bisa berenang?" tanya Udin.
"Gak bisa," jawab Dudung..
"Terus kenapa kau nyuruh kita nyebur?" tanya Udin.
"Biar keren aja kaya di TV," jawab Dudung.
"Astaga, kita bakal mati, aku juga gak bisa renang," jawab Udin.
"Din aku tenggelam, tolongin!" ujar Dudung.
"Dung tolongin aku duluan, aku takut jadi santapan hiu," sahut Udin.
Mereka berdua justru kesulitan menyelamatkan dirinya sendiri. Untunglah Alex dan Gavin menolong keduanya. Naik ke atas pelabuhan kembali. Mereka bisa duduk dan bernafas kembali dengan leluasa.
"Kalian pasti penculik itukan?" tanya Alex.
"Iya Bang," jawab Udin dan Dudung.
Alex dan yang lainnya tahu mereka dari para saksi yang ada di pelabuhan itu.
"Dodo dan Nesa ke mana?" tanya Kenan.
"Dibawa penculik kelas kakap," jawab Udin.
"Penculik kelas kakap gimana?" tanya Gavin.
"Di bawa ke seberang mau dijual," jawab Dudung.
Gavin emosi hampir saja mau menonjok kedua orang itu tapi ditahan Luki.
"Kita butuh mereka untuk mencari penculik kelas kakap itu," ujar Luki.
"Iya Vin, sabar, kita harus cari Nesa dan Dodo," sahut Tuan Matteo.
"Kalau begitu ayo kita susul!" ajak Alex. Tak ada waktu untuk berdebat apalagi saling menyalahkan. Lebih baik bergegas untuk menyelamatkan Dodo dan Nesa sebelum semuanya terlambat.
Mereka menyewa kapal untuk mengejar kapal penculik itu. Alex dan yang lainnya berdiri di tepi kapal sambil meneropong ke depan. Mencari kapal penculik kelas kakap itu.
"Kira-kira mereka pergi ke mana?" tanya Alex.
"Pulau Kesepian," jawan Udin.
"Pulau kesepian itu karena menjanda Din?" tanya Dudung.
"Bukan, diputusin dari jaman purba," jawab Udin.
"Kalian! Jawab yang benar, dibawa ke mana Dodo dan Nesa?" tanya Tuan Matteo.
"Pulau Janda Tuan," jawab Dudung.
"Dung Pulang Kesepian bukan Pulau Janda Dung," sahut Udin.
"Kalian plin plan, jangan-jangan ke Pulau Duda," sahut Kenan.
"Enggak, beneran ke Pulau Kesepian," jawab Udin.
Alex terdiam. Memikirkan nama Pulau Kesepian itu. Begitupun Tuan Matteo dan yang lainnya.
"Kita harus ke sana!" ujar Alex.
Semuanya mengangguk.
Lima jam berlayar sampai juga di Pulau Kesepian. Terlihat dijaga ketat dari kejauhan. Kapal yang ditumpangi Alex dan yang lainnya tak bisa mendekat. Kapal itu terpaksa tetap di perairan yang berada cukup jauh dari tepi pantai.
"Kenan kau berjaga di kapal!" pinta Alex membagi tugas.
Kenan mengangguk.
Sementara itu Alex, Luki, Gavin dan Tuan Matteo turun dari kapal, berenang ke tepi pantai. Mereka berbagi tugas jadi dua. Alex dan Tuan Matteo dari samping kanan sedangkan Gavin dan Luki daro sebelah kiri.