
"Sari ayo masuk!" ajak Dokter Leon.
Erisa mengangguk.
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah. Menghampiri Ibu Jesika yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Sore Bun," sapa Dokter Leon.
"Sore Nak," sahut Ibu Jesica. Melihat ke arah Dokter Leon dan Erisa.
"Sore Tante," sapa Erisa.
"Sore," sahut Ibu Jesica.
Ibu Jesica menatap wanita bercadar itu. Seingatnya yang ada di foto wanita cantik dan seksi.
"Siapa dia Leon?" tanya Ibu Jesica. Menatap wanita bercadar di samping Dokter Leon.
"Ini Sari Sridevi Bu," jawab Dokter Leon memperkenalkan Erisa pada ibunya.
"Hallo Tante, saya Sari Sridevi, senang bertemu Tante," ujar Erisa memperkenalkan dirinya secara langsung. Meskipun ini pertama kalinya bertamu ke rumah laki-laki.
"Oh, Tante Jesica ibunya Leon, senang juga bertemu denganmu," sahut Ibu Jesica.
"Ayo duduk!" ajak Ibu Jesica.
Dokter Leon dan Erisa duduk di sofa bersama Ibu Jesica. Erisa tampak tegang. Dia tak menyangka akan sejauh ini. Mana tak punya pengalaman main ke rumah cowok.
"Bagaimana ceritanya kau bisa kenal dengan Sari?" tanya Ibu Jesica.
"Loh Bunda, ini wanita yang ku kencani hari ini, Bunda sendiri yang merekomendasikan," sahut Dokter Leon.
"Astaga, foto siapa yang dipajang Sari di profilnya? Jangan-jangan ...?" batin Erisa
Erisa teringat beberapa hari yang lalu Sari memfotonya yang sedang tidur.
"Masa iya foto itu, kan gue buluk, parah Sari," batin Erisa.
"Emang ya, perasaan cewek seksi lagi tidur di pinggiran sawah," ujar Ibu Jesica.
Deg
Erisa bingung. Sekarang mengenakan hijab dan cadar sedangkan foto yang dilihat Ibu Jesica fotonya saat tidak mengenakan hijab dan cadar.
"Apa Bun?" Dokter Leon terperanjat. Menoleh ke arah Erisa.
"Ee ... begini Tante, Leon, itu foto boleh nemu di pinterest," jawab Erisa.
"Memang kaya apa fotonya Bund?" tanya Dokter Leon.
Ibu Jesica menunjukkan foto Erisa di profil Sari pada Dokter Leon. Seketika Dokter Leon teringat seseorang yang pernah dilihatnya.
"Ini pencopet cantik yang mencuri dompetku Bun," ujar Dokter Leon.
"Aduh, kenapa jadi begini? Gimana kalau Leon tahu aku pencopetnya?" batin Erisa. Dia takut penyamarannya terbongkar.
"Cantik juga ya pencopetnya, pantes kau terlena. Bunda tak meyangka seleramu tinggi juga," celetuk Ibu Jesica.
"Leonkan laki-laki normal Bun," sahut Dokter Leon.
Erisa hanya diam. Berharap Dokter Leon tidak mempermasalahkan itu.
"Ya udah, lagian ini cuma foto profil, Bunda aja pake profil ulet bulu, bebaskan," ujar Ibu Jesica.
Dokter Leon menggeleng. Tak disangka ulet bulu yang selalu kepo medsos dan komentar padanya ternyata ibunya.
"Bunda, Sari ini tukang pijat," ujar Dokter Leon.
Erisa hanya mengangguk dan tersenyum.
"Mati aku, kenapa jadi seperti ini? Sari gimana ini?" batin Erisa. Dia tidak berharap akan sejauh ini. Tugasnya hanya memastikan cowoknya oke atau tidak.
"Benarkah? Kebetulan Tante lagi pada pegel, Bibi di rumah ini juga lagi gak enak badan, bisa tidak dipijat?" tanya Ibu Jesica.
"Bisa banget Bun, iyakan Erisa?" tanya Dokter Leon.
"I-iya," jawab Erisa terpaksa.
"Ampun deh, kenapa ceritanya semakin bercabang, kapan aku pulang? Ini gak ada diperjanjianku dan Sari," batin Erisa. Niat hati dapet duit cuma-cuma. Malah masuk dalam perangkapnya sendiri.
Mau tak mau Erisa memijat Ibu Jesica di ruang keluarga. Ibu Jesica berbaring di karpet sedangkan Erica mulai memijatnya
"Salah urat gak nih? Gimana kalau melitir atau belibet uratnya," batin Erisa. Dia menyesal udah asal jeplak. Tak tahunya berujung sejauh ini.
"Pijatanmu enak juga, sudah biasa mijat ya?" tanya Ibu Jesica.
"Iya Tante, sudah biasa mijat. Bahkan mijet sapi," jawab Erisa.
"Ops, bibir kau salah ngomong lagi," batin Erisa.
"Kalau gitu pijatin kucing Tante, dua hari ini masuk angin," sahut Ibu Jesica. Dia memiliki hobi merawat kucing. Ada beberapa kucing di rumahnya. Semua kucing-kucingnya gendut dan terawat.
"Sari aku ingin pulang," batin Erisa. Dia tak menyangka akan serumit itu.
Setelah memijat Ibu Jesica, Erisa juga memijat pembantu rumah tangga yang ada di rumahnya Leon.
"Iya Bi, emang makan apa?" tanya Erisa.
"Kebanyakan makan jengkol Neng."
"Pantes, kepalaku jadi pusing, mual lagi. Kenapa apes begini," batin Erisa. Suka tidak suka dia memijat pembantu rumah tangga itu juga.
Setelah selesai Erisa masuk ke toilet. Dia cuci muka dan memegang perutnya.
"Baru kali ini senjata makan tuan, seharusnya aku tidak tertarik dengan tawaran Sari," ujar Erisa. Dia mengeluarkan handphone miliknya. Menelpon Sari selagi di dalam toilet.
"Sari, aku gak mau ngelanjutin. Pokoknya aku mau pulang!" ujar Erisa.
"Erisa, ada pembayaran yang harus kau bayar nih," sahut Sari yang justru membicarakan keperluan kakek Erisa di rumah sakit.
"Apa?"
"Tadi kau ngomong apa Erisa aku gak denger nih?" tanya Sari.
"Gak, maksudku cowok yang ku kencani tampan dan baik hati, pokoknya terjamin jalan dengannya. Malah aku dibawa ke rumahnya," jawab Erisa.
"Wah bagus dong, ini namanya jodoh datang terlambat. Akhirnya aku dapat jodoh pilihan Allah," sahut Sari.
"He .. he ... he ..." Erisa hanya tertawa. Padahal sebaliknya. Dia sangat apes dari tadi bertemu dengan Dokter Leon.
"Kalau gitu selamat berjuang Erisa. Biar aku diet dulu dan oplas sebelum bertemu dia," sahut Sari.
"Iya ya," jawab Erisa.
Pembicaraan keduanya pun ditutup. Erisa baru saja mau membatalkan kencang buta itu mau tak mau melanjutkan gara-gara biaya perawatan kakeknya.
"Sabar Erisa, demi kakek, kembali berjuang," ujar Erisa.
Dengan muka yang sudah kembali ceria. Semangat yang membara, Erisa menjalankan tugasnya lagi. Erisa mulai memijat kucing kesayangan Ibu Jesica.
"Kirain kucingnya cuma satu, ternyata ada sepuluh. Teklek tanganku," batin Erisa. Dia berpikir kucing yang akan dipijatnya cuma satu ternyata sepuluh.
"Enak banget sih Lo kucing, rumah Lo lebih bagus dari gue yang gak jelas tinggal di mana. Makanan Lo juga lebih enak," batin Erisa. Melihat kucing memiliki kehidupan yang jauh lebih baik darinya. Sedangkan dia terkadang menahan lapar, tidur di mana saja.
Tak terasa air mata jatuh di pipi Erisa. Dia jadi teringat kakeknya.
"Kek, Erisa kangen. Cuma kakek yang sayang Erisa. Ibu sudah meninggal," ujar Erisa.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Erisa kembali ke ruang keluarga duduk bersama Ibu Jesica.
"Sari makasih ya, tubuh ibu jadi enak, ringan dan bugar lagi. Sebagai gantinya ibu buatkan jamu khusus untuk memulihkan tenagamu," ujar Ibu Jesica.
"Jamu?" Erisa terkejut melihat gelas di atas meja. Dia menelan salivanya. Teringat kentut jengkol yang dihembuskan oleh pembantu rumah tangga itu.
"Iya, turun temurun. Membuat kau sehat, tenagamu pulih dan staminamu kembali terisi," sahut Ibu Jesica.
Erisa hanya tersenyum.
"Ayo diminum. Tante sengaja membuatkanmu segelas besar," ujar Ibu Jesica.
"Makasih Tante, a-aku memang suka jamu," sahut Erisa. Padahal Erisa agak takut mau minum jamu. Dia tidak tau jamu apa di gelas itu.
"Ayo diminum tadi Tante tambahkan telur ayam kampung mentah loh," ujar Ibu Jesica.
"I-iya Tante," jawab Erisa. Dia terpaksa meminum jamu itu. Seteguk demi seteguk.
"Getir banget, pahitnya lebih pahit dari hidupku," batin Erisa. Suka tak suka, enak tak enak, Erisa menghabiskan semuanya.
"Alhamdulillah, makasih Tante," ucap Erisa. Meskipun rasanya tak enak, Erisa tetap menghargainya.
"Sama-sama," sahut Ibu Jesica.
Tak lama Dokter Leon turun. Dia mengenakan pakaian santai. Kaca matanya juga dilepas. Terlihat tampan. Erisa sampai terpana melihatnya.
"Bun, aku mau mengantar Sari pulang ya," ujar Dokter Leon.
"Ya udah, Sari ini sebagai ucapan terimakasih Tante ya," ujar Ibu Jesica menyodorkan sebuah goodie bag pada Erisa.
"Gak usah repot-repot Tante, aku seneng kok mijat Tante," ujar Erisa.
"Maksud Tante, besok-besok jangan kapok ya kalau Tante minta dipijat lagi," ujar Ibu Jesica.
"He he ..., iya Tante," sahut Erisa.
"Ayo Sari!" ajak Dokter Leon.
Erisa mengangguk.
"Saya pamit pulang dulu ya Tante, terimakasih," ujar Erisa.
"Ya, hati-hati di jalan," sahut Ibu Jesica.
Erisa mengangguk. Kemudian ke luar dari ruang keluarga bersama Dokter Leon. Masuk ke dalam mobil.
"Rumahmu di daerah mana Sari?" tanya Dokter Leon.
Deg
Erisa bingung mau jawab apa. Dia gak punya rumah. Tidur di mana saja. Hampir mirip gelandangan.