Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Kembali Seperti Dulu



Suara adzan berkumandang. Menbangunkan setiap insan yang bertaqwa untuk segera mendirikan sholat. Telinga Sophia yang sudah terbiasa peka dengan panggilan yang membangunkan jiwanya, segera bangun membuka matanya perlahan. Hal pertama yang dilihatnya, sesosok lelaki mengenakan koko dan sarung sedang berdiri di depan cermin. Sophia tersenyum melihatnya.


"Assalamu'alaikum sayang," sapa Alex.


"Mas sudah bangun lebih pagi dariku," ujar Sophia.


"Tadinya aku ingin membangunkanmu sayang, tapi tadi malam aku sudah membuatmu sangat kelelahan, jadi aku membiarkanmu beristirahat dulu, kata Alex.


"Mas sudah rapi, mau sholat berjamaah denganku?" tanya Sophia.


Alex mendekat. Mencium kening Sophia.


"Aku ingin sholat berjamaah di masjid, lama sekali aku meninggalkannya, sampai lupa kapan terakhir aku ke masjid," ujar Alex.


"Alhamdulillah," ucap Sophia bersyukur. Tak ada yang jauh lebih membuatnya bahagia selain melihat Alex jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Aku berangkat dulu sayang," ucap Alex.


Sophia mengangguk. Kalau bukan karena kelelahan tentunya Sophia akan ikut bersama Alex pergi ke masjid. Namun kali ini Sophia membiarkan Alex pergi sendirian.


Alex ke luar dari kamarnya. Berjalan menuju tangga. Tak sengaja bertemu dengan Kakek David yang juga mengenakan sarung dan baju koko.


"Alex kau mau ke mana? Tumben pakai koko dan sarung?" tanya Kakek David.


Alex terdiam. Bingung ingin menjawab tapi malu dan gengsi. Biasanya juga baru pulang klubing jam segini. Ini malah mau ke masjid. Dunia sudah normal kembali dalam kehidupan Alex.


"Ini Kek, mau ketemu sama Ustad Hamzah, biasa masalah bisnis, gak enak ketemu Ustad masa pakai baju begajulan," sahut Alex yang masih malu bilang dirinya tobat. Kekamaan maksiat, orang pastibakan kena jantungan kalau mendengar iblis masuk masjid.


"Oh, kirain kau mau sholat di masjid, padahal kakek mau ke masjid," ujar Kakek David.


"Monggo Kakek duluan, nanti Alex ke sana usai sholat subuhnya," kata Alex.


"Oke, semoga kau cepat dapet hidayah," ucap Kakek David. Kemudian berjalan meninggalkan Alex. Menuruni tangga. Di Keluarga Sebastian hanya Kakek David yang sholat dan gemar ke masjid. Yang lainnya sibuk dengan urusan dunia. Termasuk Alex yang dulu. Jangankan sholat tiap malam rajin mengumpulkan dosa.


Setelah Kakek David pergi, Alex berjalan menuruni tangga. Ke luar dari rumahnya. Berjalan menuju masjid. Alex kembali berwudhu di masjid. Kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan sholat. Beberapa teman masa kecilnya terkejut melihat Alex masuk ke dalam dan penampilannya yang bak seorang ustad dadakan.


"Itu Alex, apa setan sudah meninggalkannya," ujar teman masa kecilnya.


"Mungkin hidayah memukul kepalanya, jadi kembali ke fitrah, membayar zakat dan sedekah."


"Ku rasa dia tertabrak kereta api, lupa ingatan jadi begini."


"Apa dia mati suri, melihat siksa kubur?"


Semua teman-teman masa kecilnya membicarakan Alex yang masuk masjid setelah sekian purnama berlalu. Masjid saja sudah berubah ukuran dan cat dindingnya. Mereka berpikir Alex masih nyaman di lembah dosa tapi ternyata dia sudah bangun dari tidur panjangnya.


Alex yang dulunya sering ke masjid bersama kakeknya saat dia masih kecil hingga SMP berubah jadi Alex dewasa yang meninggalkan Allah dan lebih suka nongrong dan bermaksiat mengikuti godaan setan. Kini dia kembali ke jalanNya, jalan yang dulu sempat ditapakinya.


"Assalamu'alaikum," sapa Alex.


"Wa'alaikumsallam," sahut semuanya.


Alex menyalami teman-temannya. Duduk bersama satu shaf dengan mereka menunggu waktunya sholat dilaksanakan.


"Alhamdulillah, kau kembali ke masjid Lex."


"Iya, teduh ngelihatnya, semoga Allah senantiasa membimbingmu ke jalan yang benar."


"Amin," sahut Alex.


Teman-teman Alex senang melihat Alex yang sekarang. Biasa mereka melihat Alex pulang klubbing atau lagi mesumin cewek. Namun kali ini Alex duduk bersama mereka menjalankan perintahNya.


Usai sholat, Alex masih berdzikir di dalam masjid. Kakek David melihatnya dari kejauhan. Dia tahu Alex masih malu mengakui perubahannya. Tapi beliau sangat senang, sedikit perubahan pada Alex sangat berarti untuknya.


"Alhamdulillah, cucuku sudah kembali ke tempat yang tepat," ujar Kakek David.


"Ya Allah, jika hamba memang harus pergi suatu saat nanti. Izinkan hamba dapat mengabdi pada suami hamba dan menyelesaikan janji hamba padanya. Jadikanlah dia lelaki yang beriman dan bertaqwa, dan pertemukan kami di surgaMu, amin," ucap Shopia sambil menengadahkan kedua tangannyan. Tak terasa tetesan-tetesan darah menetes di mukena putihnya.


"Aku ikhlas Ya Allah dengan semua takdirmu," kata Sophia.


Teringat beberapa bulan lalu perkataan Dokter Leon padanya. Saat itu mereka sedang duduk berdua di taman belakang rumah sakit. Sophia bukan hanya pasien untuk Dokter Leon tapi lebih tepatnya sahabat meskipun Dokter Leon menyimpan rasa cinta padanya. Jika Sophia membuka hati, dia mantap untuk jadi mualaf.


"Dok, aku ingin Dokter jujur, dengan keadaanku yang sekarang, mampu bertahan berapa lama?" tanya Sophia.


"Sophia hidup mati manusia di tangan Tuhan," ujar Dokter Leon.


"Aku tahu itu, tapi aku hanya ingin mengetahui analisa Dokter dari hasil pemeriksaan yang terakhir," ujar Sophia.


Dokter Leon terdiam. Mengambil nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya. Mengumpulkan semua kekuatan untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Dua tahun, bisa lebih cepat," ujar Dokter Leon.


"Terimakasih Dok," ucap Sophia.


"Kenapa kau tak menangis atau memberontak Sophia?" tanya Dokter Leon.


"Aku sudah ikhlas," jawab Sophia.


Sophia hanya tersenyum. Apa yang diucapkan Dokter Leon saat itu membuatnya teringat kebersamaannya bersama Alex. Mungkin tak banyak waktu lagi. Esok atau lusa sang kematian datang menjemput. Sophia harus meninggalkan cinta dan dunia fana. Tak ada kesombongan dan nafsu hanya amalan yang akan setia menemani langkahnya.


"Hamba ikhlas, berilah suamiku yang terbaik, selalu bimbing dia dijalanMu ketika aku tak ada disisinya," ucap Sophia dalam doanya. Air mata cinta dari ketulusan hati terdalam menetes mengusik rasa. Tak bisa menentang garis takdir yang sudah tersurat dalam takdirnya.


Usai sholat, Sophia melipat mukena. Meletakkan ke dalam laci. Tiba-tiba terdengar suara handphone berdering dari atas ranjang. Sophia mengambil handphone miliknya. Melihat panggilan dari Aiko. Sophia langsung menekan tombol hijau.


"Selamat pagi Sophia," sapa Aiko.


"Pagi," jawab Sophia.


"Sorry telpon jam segini, aku mau kasih tahu ahli waris pemilik tanah bersedia bertemu denganmu, semalam dia balas chat-ku," ujar Aiko.


"Oke, kapan kita akan bertemu?" tanya Sophia.


"Pagi ini, di rumahnya," jawab Aiko.


"Baik, oya hari ini aku cuti, jadi gak ke kantor," ujar Sophia.


"Tumben Presdir cuti lagi, apa?" ledek Aiko.


"Ada deh, yang jelas yang masih jomblo gak boleh tahu, biar cepet nyusul," canda Sophia.


"Sip, jadi pengen nyusul," sahut Aiko.


Mereka terus mengobrol beberapa kemudian mengakhiri panggilannya. Sophia terdiam sesaat. Pagi ini dia akan bertemu ahli waris pemilik tanah yang diwakafkan untuk masjid. Dia harus minta izin pada Alex, karena ini di luar pekerjaannya.


Tak lama Alex masuk ke kamar. Dengan senyuman sumringahnya. Berasa habis dapet door prise. Maklum masih anget-angetnya, baru malam pertamaan yang ke sumbat sebelumnya. Semangat 45 masih dikobarkan. Bak pahlawan di medan perang. Tak gentar meski musuh menghadang. Cuma kecoak aja bikin ketakutan nyungsep di atas WC duduk.


"Assalamu'alaikum," sapa Alex.


"Wa'alaikumsallam," sahut Sophia.


"Selamat pagi bidadariku," ucap Alex memuji istrinya. Lidahnya kini mulai lihai memuji Sophia.


"Pagi Mas," sahut Sophia.


Alex langsung mendekati Sophia. Memeluknya. Mencium bibir cantik yang terus menanggilnya untuk menciumnya.


"Lagi yuk sayang!" ajak Alex.


"Lagi?" Sophia terkejut. Perasaan baru semalam bahkan sampai jam 3 pagi. Sophia sampai kelelahan. Namun sepagi itu Alex minta lagi. Benar-benar sang casanova begitu kuat di atas medan pendakian.