Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Jagung Bakar



Malam itu Tuan Matteo pergi ke sebuah klub malam. Sudah jadi kebiasaan untuknya menghabiskan kesepiannya di antara gemerlap lampu-lampu dan musik disko. Tuan Matteo masuk dengan dua bodyguard yang mengikutinya . Dia melihat keramaian klub malam yang mulai dipadati pengunjung dari muda mudi hingga orangtua yang sudah berumur.


Tuan Matteo masuk ke ruang private room. Dia duduk di sofa. Beberapa wanita masuk ke dalam menemaninya duduk dan menuangkan wine untuknya.


"Tuan besar sudah lama tak datang." Wanita seksi itu meraba dada Tuan Matteo.


"Turunkan tanganmu kalau kau masih ingin kerja!" titah Tuan Matteo.


"Baik Tuan besar." Wanita seksi itu menurunkan tangannya. Kembali menuangkan wine di gelas Tuan Matteo.


"Apa ada yang menyenangkan di sini selama aku tak datang?" tanya Tuan Matteo.


"Paling DJ baru Tuan besar."


Tuan Matteo meneguk wine di gelasnya. Dia hanya duduk sendirian tanpa teman mabuk lainnya. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam dengan dua wanita cantik masih muda.


"Sepertinya Tuan Matteo membutuhkan wanita muda untuk teman minum," ucap Indra.


Tuan Matteo melihat ke depan. Dua gadis cantik masih muda itu berdiri di samping Indra.


"Kau datang untuk apa? Perintah Bos atau kau sengaja ingin menemaniku minum?" tanya Tuan Matteo.


"Temani Tuan Matteo!" titah Indra pada dua gadis muda itu.


"Baik."


Kedua gadis muda itu menghampiri Tuan Matteo, dua wanita seksi sebelumnya berdiri. Berjalan meninggalkan ruangan itu. Kini Tuan Matteo diapit dua gadis muda itu. Kemudian Indra duduk di seberang Tuan Matteo.


"Mereka masih perawan Tuan, siap melayani Tuan sepuasnya," ujar Indra.


"Apa Bosmu memberi hadiah ini untukku?" tanya Tuan Matteo.


"Dua hadiah ini memang untuk anda, asalkan anda memudahkan keinginan Bos Harry," ujar Indra.


"Apa keinginan Bosmu?" tanya Tuan Matteo.


"Batalkan kerjasama dengan Alex Sebastian," ucap Indra.


Tuan Matteo tersenyum tipis. Menatap lelaki di depannya.


"Ketika aku sudah mengambil keputusan, aku takkan menariknya kembali. Bawa kembali hadiahmu, aku tidak tertarik," ujar Tuan Matteo.


"Tuan Matteo anda tahu akibat menolak hadiah dari Bos Harry?" tanya Indra.


"Tahu, aku tidak takut, silahkan ke luar dan bawa kembali hadiahnya," tegas Tuan Matteo.


Indra langsung berdiri. Mukanya penuh emosi.


"Anda akan menyesal menolak tawaran ini," ujar Indra.


Tuan Matteo terlihat mempersilahkan Indra ke luar bersama dua gadis muda itu. Indra pun ke luar dari ruangan itu bersama dua gadis muda itu.


"Ingin menyuapku, Harry tak ku sangka kau selicik itu," ucap Tuan Matteo.


Karena tak ada yang menarik untuk Tuan Matteo, akhirnya dia ke luar dari ruangan itu. Berjalan menuju parkiran. Naik mobilnya ke luar dari klub malam itu.


Tuan Matteo merasa bosan dengan hidupnya yang kini sendirian. Malam itu pukul 11 Malam. Masih sore untuk Tuan Matteo. Dia juga tak ingin segera pulang. Sang malam masih setia menemani perjalanannya. Tuan Matteo berhenti di tepi jalan. Ada penjual jagung bakar. Dia ke luar dari mobilnya, berjalan menghampiri tukang jagung bakar itu.


"Pak beli jagung bakarnya satu," ucap Tuan Matteo.


"Mau rasa apa Tuan?"


"Rasa apa aja?" tanya Tuan Matteo tanya kembali.


"Coklat, keju, susu, original, strawberry, nanas, srikaya, dan mentega?"


"Original aja," ucap Tuan Matteo.


"Oke."


Tuan Matteo duduk di kursi sambil menunggu jagung bakar buatannya dibuat. Ternyata selain Tuan Matteo ada pembeli lainnya cukup ramai.


Di tepi jalan itu, berhentilah sebuah mobil Alphard hitam. Seorang perempuan yang sedang menelpon berjalan menuju tukang jagung bakar itu. Dia mengenakan hijab, berbicara dengan kakaknya ditelpon.


"Claudya, rasa coklat ya, Sophia pengennya makan yang rasa coklat," ucap Alex.


"Istri lo yang nyidam kenapa gue yang jadi bapak siaga Kak?" ujar Claudya.


"Lo masih mau jajan?" tanya Alex.


"Sial ancemannya itu, iya beres jagung bakar coklat," jawab Claudya.


"Jangan lupa pesenan gue jagung bakar mentega," ujar Alex.


"Sekalian, enak juga makan jagung bakar malem-malem," ujar Alex.


"Kenapa gak lo aja yang ke luar, gue enak-enak nonton drakor malah suruh klayapan," keluh Claudya.


"Mana tahu ketemu pangeran kodok, malem gini mereka kluyuran," ujar Alex.


"Bisa aja alesannya Kak," sahut Claudya.


"Buruan jangan banyak omong, bini gue nyidam," ucap Alex.


"Iya bawel," jawab Claudya. Kemudian mematikan handphone-nya. Dia menghampiri pedagang jagung bakar. Berdiri di depannya.


"Mas jagung bakarnya masih?" tanya Claudya.


"Yah Mba udah abis, tinggal satu juga punya Tuan itu." Tukang jagung bakar menunjuk ke arah Tuan Matteo.


Claudya melihat ke arah Tuan Matteo yang duduk di kursi. Lelaki itu terlihat rapi dengan setelan jas rapi dengan jaket kulit berwarna coklat melapisi jasnya.


Claudya kembali melihat tukang jagung bakar.


"Mas, kakak saya lagi nyidam, dia pengen banget makan jagung bakar rasa coklat, emangnya gak ada lagi satu aja Mas?" tanya Claudya kembali memastikan.


"Maaf Mba habis beneran, tadi rame banget, saya aja sampai lupa pesanan Tuan itu."


"Gimana ya? kakak saya nyidam, tar kalau gak ada repot," keluh Claudya.


"Coba tanya Tuan itu bersedia tidak memberikan jagung bakar miliknya untuk kakaknya Mbak."


Claudya terdiam. Melihat ke arah Tuan Matteo. Ragu untuk menghampirinya tapi dia butuh. Alex akan ngomel kalau sampai dia gak dapet jagung bakarnya.


"Aduh, harus gitu tanya, malu gue," batin Claudya.


Perlahan meski ragu, Claudya menghampiri Tuan Matteo. Dia menepuk bahu Tuan Matteo yang lagi asyik menengadah ke langit melihat bulan dan bintang.


"Tuan maaf," panggil Claudya.


Tuan Matteo terkejut. Menoleh ke arah Claudya yang berdiri di sampingnya. Dia memperhatikan gadis cantik berhijab itu. Usianya jauh lebih muda di bawahnya. Bibir gadis itu berwarna pink pucat selayaknya anak muda yang tidak menor saat berdandan.


"Ada apa Nona?" tanya Tuan Matteo.


"Begini ... eee ...," ucap Claudya malu ingin mengatakan keinginannya.


"Kenapa?" tanya Tuan Matteo.


"Sial grogi banget," batin Claudya sambil mengepalkan tangan di samping roknya.


"Apa kau wanita malam yang biasa menemani lelaki kesepian sepertiku? Berapa bayaranmu?" tanya Tuan Matteo.


Plaaak ...


Claudya langsung menampar Tuan Matteo.


"Gue bukan wanita murahan ya, nyesel deh gue mau tanya, tahu gitu pulang aja, ternyata lelaki hidung belang," gumam Claudya kesal. Kemudian berjalan meninggalkan Tuan Matteo.


Sepanjang jalan Claudya bergumam kesal pada lelaki yang tadi menganggapnya wanita penghibur. Dia sampai ngomel-ngomel di luar mobilnya. Kesal pada lelaki tadi. Meluapkan emosinya dengan bicara sendirian dan menunjuk ke arah kaca mobil.


"Baru kali ini ya ada tua bangka menyebalkan, orang mau tanya disangka mau jual diri, kesel, gue sumpahin gak laku seumur hidup," gumam Claudya.


"Biar Dokter menyunatnya berkali-kali, biar habis sekalian gak numbuh lagi, mesum, otak ngeres, gak inget umur," gumam Claudya masih kesal.


"Nih jagung bakarnya, tadi kau mau jagung bakar coklatkan?" tanya Tuan Matteo yang berdiri di samping Claudya.


"Apa?" Claudya menoleh ke samping. Lelaki tadi mengacungkan plastik berisi jagung bakar padanya.


"Kau mau tukar jagung bakar dengan ciuman atau malam panas seperti di otak mesummu itukan?" celetuk Claudya.


Tuan Matteo tersenyum tipis dengan tingkah gadis di depannya.


"Kau mau tidak, bukannya kakakmu nyidam?" tanya Tuan Matteo.


"Tahu dari mana kau kakakku nyidam? Oh jangan-jangan kau penguntit, kau sudah memata-mataiku sejak lama, atau kau penculik gadis-gadis muda sepertiku," ujar Claudya marah.


"Ha ha ha." Tuan Matteo tertawa. Membuat Claudya termenung. Sedikit malu namun kesal.


"Nona otakmu itu berpikir terlalu jauh, maafkan pertanyaanku yang tadi," ujar Tuan Matteo. Dia memberikan jagung bakar itu ke tangan Claudya. Menatap matanya sesaat kemudian meninggalkannya.


"Sampai jumpa gadis manis," ucap Tuan Matteo sambil berjalan menjauh. Meninggalkan Claudya yang masih termenung.


Claudya melihat plastik di tangannya. Kemudian melihat ke depan. Lelaki tadi sudah berjalan menjauh.