
Saat itu Vera duduk di kelas dua SMA sedangkan Maria sudah kuliah di Universitas Indonesia karena bea siswa yang didapatkannya. Maria tidak hanya cantik dan baik tapi juga pintar. Dia selalu mendapatkan berbagai penghargaan dari masih SD sampai perkuliahan. Berbeda dengan Vera yang saat itu cupu, udik, jerawatan, berkulit hitam dan bodoh.
Perbedaan yang sangat mencolok itu menimbulkan banyak masalah dihidup Vera. Dia menjadi minder setiap kali bersama kakaknya. Bak langit dan bumi. Maria selalu jadi primadona di mana pun dia berada sedangkan Vera hanya upik abu yang selalu tersisihkan. Untungnya Maria dan Mak Ros begitu menyayanginya.
Pagi itu Vera berangkat sekolah. Kebetulan Maria sudah berangkat duluan. Jadi Vera berangkat sendiri.
"Mak, Vera berangkat dulu ya," ujar Vera.
"Iya, hati-hati di jalan," sahut Mak Ros.
Vera meraih tangan Mak Ros menyalaminya seperti hari-hari sebelumnya. Itu dilakukan setiap hari ketika dia berangkat sekolah atau pergi ke manapun. Vera gadis pendiam yang baik hati. Mesti fisiknya tak secantik kakaknya dia tetap berusaha bersikap baik pada siapapun.
"Assalamu'alaikum," ucap Vera yang berjalan ke luar pintu.
"Wa'alaikumsallam," sahut Mak Ros.
Vera jalan kaki melewati rumah tetangganya Ibu Sarinah. Kala itu Ibu Sarinah belum gila dan bisu. Dia paling rajin mengoceh setiap Vera melewati rumahnya.
"Ya ampun Vera, gak cuci muka apa? Kok jerawat makin penuh aja, udah kaya bisulan di muka," ujar Ibu Sarinah.
"Udah Bu, belum sembuh aja," sahut Vera. Dia berhenti sekedar menghormati orang yang mengajaknya bicara.
"Tanya dong kakakmu Maria, mukanya mulus, kinclong kaya artis," kata Ibu Sarinah.
"Iya Bu, makasih sarannya," sahut Vera.
"Aku denger kakakmu dapet bea siswa di UI ya?" tanya Ibu Sarinah.
"Iya Bu," jawab Vera. Dia tahu kakaknya memang pintar. Semua warga di kampungnya tahu prestasi kakaknya. Bahkan kakaknya jadi kebanggaan Kampung Durian Montong.
"Kok bisa ya kakakmu pinter banget, sedangkan kamu paling bodoh di kelas, makanya belajar sama kakakmu," ujar Ibu Sarinah.
"Iya Bu," sahut Vera.
"Ibu kasihan sama kamu, mukamu jerawatan, bodoh, penampilanmu itu kuno banget, nanti susah loh nyari jodoh," kata Ibu Sarinah.
Vera terdiam. Setiap pagi Ibu Sarinah ini selalu mengatakan hal itu padanya. Tak pernah bosan dan selalu membanggakan kakaknya.
"Kalau gitu Vera berangkat dulu Bu, assalamu'alaikum," ucap Vera.
"Wa'alaikumsallam," sahut Ibu Sarinah.
Vera berjalan dengan perasaan yang begitu terluka. Malu, setiap kali orang selalu membandingkannya dengan kakaknya. Bukan dia iri tapi dia tidak bisa seperti kakaknya. Tak hanya itu warga lain juga membicarakannya setiap kali dia melewati mereka. Begitupun ibu-ibu yang belanja di tukang sayur.
"Bu ibu lihat Vera, kaya upik abu, kakaknya kaya putri raja, kok bisa ya?"
"Gak tahu cetakannya beda kali."
"Jangan-jangan Mak Ros selingkuh saat suaminya pergi bertugas."
"Tahu sendiri suaminya tentara."
"Mak Ros tongkrongannya di pasar ya kecentilan sana sini."
"Amit-amit, adzab tuh punya anak kaya Vera."
Mendengar celotehan ibu-ibu itu meski tak terdengar kencang, cukup memanaskan telinga Vera yang melintas. Jujur Vera terkadang tak ingin ke luar rumah. Dia ingin bersembunyi di dalam rumah. Malu selalu jadi bahan pembicaraan orang. Bukan hanya karena berbeda dengan kakaknya tapi masalah pekerjaan ayahnya yang sering tak ada di rumah membuat orang-orang berpikir negatif pada ibunya. Imbasnya Vera yang memiliki perbedaan dengan Maria membuat mereka mengira Vera anak haram. Anak selingkuhannya Mak Ros.
Tak hanya itu sekolah tempatnya menuntut ilmu justru menjadi tempatnya menambah luka. Teman-temannya selalu menghina, memaki dan meledeknya.
"Si cupu baru datang."
"Cupu kebagusan, udik."
"Babu ke sini pijati kakiku."
"Jerawatnya beranak pinak, gak KB ya."
"Sengaja diternakkin tuh."
Mereka tak hanya menghina tapi kerap berbuat kasar padanya. Mereka sering mengunci Vera di toilet ketika pulang sekolah, mengerjainya di gudang sekolah sampai menyembunyikan barang miliknya. Tak hanya siswa putri tapi siswa putra melakukan hal yang sama padanya.
Pada suatu hari Mak Ros ditelpon pihak rumah sakit. Vera ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri. Untung ada warga yang membawanya ke rumah sakit. Mak Ros bergegas ke rumah sakit. Kala itu Maria sedang KKN di luar kota.
Mak Ros pergi ke rumah sakit. Menemukan Vera sedang terdiam duduk di ranjang pasien. Terdiam mematung. Matanya melihat ke jendela kaca.
"Vera!" panggil Mak Ros.
Vera hanya diam. Tak ada kata ke luar dari mulutnya. Tak ada air mata juga. Hanya diam.
Mak Ros coba menepuk pipinya. Memeluknya, tapi Vera tetap diam.
Vera hanya diam. Tatapan matanya kosong. Melihat ke depan. Tak ada kesedihan, senyuman ataupun kemarahan dari wajahnya.
"Vera!" teriak Mak Ros.
Vera masih terdiam. Mematung.
"Anak ibu baru saja terkena bullying di sekolah, dan seperti ada pelecehan seksual juga," ujar guru yang baru masuk ke dalam ruangan itu.
"Apa?" Mak Ros berbalik. Menatap guru yang ada di depan matanya.
"Sepulang sekolah kami menemukan putri ibu tergeletak di kebun yang ada di belakang sekolah, dia sudah tidak mengenakan sehelai benang pun," ujar guru.
"Apa? Bapak bohong!" Mak Ros marah.
"Kami menemukannya dari saksi yang menemukan putri ibu. Saksi itu tidak berani menolong putri ibu karena dia hanya seorang diri sedangkan yang melakukan pembullian ada sepuluh anak," jawab guru.
"Kok bisa? Kemana kalian semua? Heh!" Mak Ros murka. Anak gadisnya dibulli. Dan pelaku pembullian teman-teman sekolahnya.
"Ini di luar tanggung jawab kami karena sudah di luar jam sekolah dan terjadi di luar lingkungan sekolah," jawab guru.
"Tidak, kalian semua jahat. Putriku hik hik hik ...." Mak Ros lemas tak berdaya. Dia sampai terduduk di lantai. Menangis. Merintih. Seakan semuanya tak adil pada putri bungsunya.
Air mata Mak Ros menetes di pipinya kala menceritakan masa lalu Vera. Masih terasa sakit sampai sekarang.
"Pantas saja Vera jadi seperti ini," ujar Gavin.
"Selama satu tahun sejak kejadian itu Vera hanya diam mengurung diri di kamar," kata Mak Ros.
"Pasti dia sangat trauma dengan kejadian itu," sahut Gavin.
"Dia tak pernah bicara satu katapun. Makan, mandi dan kebutuhan lainnya Mak yang urus, dia seperti patung," ungkap Mak Ros.
Gavin ikut bersedih dengan apa yang terjadi dengan Vera. Ternyata begitu menyakitkan masa lalu yang terjadi padanya.
"Setelah satu tahun tiba-tiba Vera ceria kembali. Menjalani hidupnya seperti biasa. Seolah kejadian itu tak pernah ada. Mak pikir dia sudah kembali pulih tapi Mak tidak tahu ternyata ...," ujar Mak Ros.
"Itu awal dia memiliki kepribadian ganda, iyakan Mak?" tanya Gavin.
Mak Ros mengangguk.
"Satu bulan lalu Mak baru tahu Vera sering pergi ke Klinik Dokter Joko Santoso. Akhirnya Mak coba mencari tahu kenapa dia pergi ke sana," ujar Mak Ros.
"Ternyata karena masalah gangguan kejiwaannya?" tanya Gavin.
"Iya," jawab Mak Ros. Dia mengingat kembali pertemuannya dengan Dokter Joko Santoso.
Saat itu Mak Ros memberanikan diri datang ke Klinik Dokter Joko Santoso. Untung saja dia diperkenankan bertemu Dokter Joko karena keluarga pasien klinik tersebut. Mak Ros masuk ke ruangannya dan bicara padanya.
"Jadi Mak belum tahu putri anda mengalami gangguan kejiwaan?" tanya Dokter Joko.
"Tidak Dok, kemarin saja saya tak sengaja melihat Vera masuk ke klinik ini," jawab Mak Ros.
"Sebenarnya satu tahun belakangan ini, Vera jadi pasien saya. Dia mengeluh sering berada di tempat-tempat yang tidak dia datangi. Dia juga merasa kehilangan ingatan selama beberapa waktu. Terkadang seperti orang pingsan dan terbangun di tempat yang berbeda," ujar Dokter Joko.
"Kok bisa begitu Dok?" tanya Mak Ros.
"Saya kembali menanyakan hal-hal lainnya seperti berapa kali dia sering begitu, apakah tidurnya nyenyak sampai ke mana saja dia pergi," ujar Dokter Joko.
"Jawabannya normal seperti orang pada umumnya, hanya dia merasa seperti kehilangan dirinya saat dia tidak sadar, dia seperti menjadi orang lain dan tidak ingat apa yang dilakukannya," tambah Dokter Joko.
"Jadi anak saya kenapa Dok?" tanya Mak Ros.
"Dugaan saya, anak ibu memiliki kepribadian ganda," jawab Dokter Joko.
Mak Ros menangis. Menceritakan pertemuannya dengan Dokter Joko satu bulan lalu.
"Mak baru tahu juga kalau Vera memiliki kepribadian ganda?" tanya Gavin.
"Iya, selama ini Mak pikir Vera baik-baik saja, ternyata dia mengalami gangguan kejiwaan setelah kejadian yang menyakitkan itu," jawab Mak Ros sambil menangis.
Tiba-tiba suara handphone milik Mak Ros berdering. Dia mengambil handphone di saku daster yang dikenakannya. Mak Ros melihat panggilan dari nomor yang tak dikenal.
"Siapa yang nelpon?" ujar Mak Ros.
"Itu nomor kepolisian Mak," jawab Gavin melihat nomor telpon di layar handphone Mak Ros.
"Ada apa ya?" Mak Ros cemas. Pasti mengenai putrinya Vera.