Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Jamaah Kembali



Aliran air itu akhirnya bertemu dari hulu ke hilir. Dari Sabang ke Merauke. Menjelajahi semua keindahan pegunungan dan air terjun yang bergermik dalam hangatnya sinar matahari pagi.


Alex dan Sophia mengeluarkan semua jurus sakti. Dari singa menerkam mangsa sampai cicak di dinding menangkap nyamuk. Sudah jelas mereka sangat mahir dengan segala pelatihan kanuragan. Dari prolog, monolog hingga epilog. Semua sudah digosok sana sini. Semakin diputar semakin konslet namun masih bisa mengeluarkan suara merdu yang mampu menimbulkan tsunami yang menyapu kenikmatan yang tak bisa terbendung. Tenggelam dalam lautan cinta. Berlayar dalam luasnya samudra.


Itulah indahnya perpaduan cinta dua sejoli yang sedang di mabuk asmara. Untung saja tak ada yang mengintip, kasihan penghuni lain, yang semuanya galau tak memiliki pasangan baik nyata atau masih dalam bayangan.


Setelah penghitungan ronde sudah genap. Sophia sudah kelelahan akhirnya Alex menutup antrian karcis, acara sudah ditayangkan berulang-ulang, waktunya balik ke rumah masing-masing.


Alex memeluk Sophia dalam dekapannya. Mereka berada dalam satu selimut berdua. Tak ada yang lebih romantis dari sebuah cinta dari sepasang suami istri yang sah.


"Sayang makasih ya, rasanya bebanku hilang seketika," ucap Alex.


"Iya Mas, akukan sudah janji akan memberi Mas hadiah," sahut Sophia.


"Sayang sebenarnya ada yang harus kau tahu," ucap Alex.


"Apa Mas?" tanya Sophia.


Alex menceritakan pada Sophia kalau dia bukan anak Pak Ferdi. Dan apa yang terjadi pada kakek pun semuanya diceritakan pada Sophia tak ada yang ditutupinya. Alex berharap Sophia jadi kekuatan terakhir yang selalu mensupport-nya.


"Mas, sebenarnya aku sudah tahu sebelumnya, hanya saja aku menunggu waktu yang tepat untuk menceritakannya padamu," ujar Sophia.


Alex memeluk erat Sophia. Mendekatkan kepalanya menempel di kepala Sophia.


"Aku tahu semua yang kau lakukan demi kebaikankukan?" ucap Alex.


Sophia mengangguk.


"Apa kakek akan menerimaku, aku ini bukan cucunya, pasti kakek kecewa," ucap Alex.


Tangan Sophia memegang pipi Alex, mengelusnya dengan lembut.


"Kakek orang yang baik dan sangat menyayangi keluarganya, meskipun begitu kakek butuh waktu untuk bisa menerima semuanya," sahut Sophia.


"Kau benar sayang, kakek butuh waktu," ujar Alex.


"Oya Mas, besok aku akan pergi ke Bandung untuk datang ke acara pelestarian alam," ucap Sophia.


"Acara pelestarian alam?" Alex baru mendengar acara pelestariaan alam. Selama ini dia tak pernah tahu menahu atau mengikuti acara-acara yang berhubungan dengan pelestariaan itu.


"Iya, acara peresmiaan sebuah tempat yang berfungsi untuk melestarikan alam, sekaligus tempat wisata yang didedikasikan untuk alam," jawab Sophia.


"Kau akan pergi dengan siapa?" tanya Alex.


"Sekretaris Wang atau Aiko," jawab Sophia. Dia memang harus pergi, sudah lama Sophia ikut dalam kegiatan pelestariaan alam. Bahkan Sophia pernah jadi aktivis yang menyuarakan pentingnya melestarikan alam. Hanya saja kesibukannya sekarang membuat Sophia belum memiliki waktu lagi untuk ikut kegiatan tersebut.


"Banyak cowok gak di sana?" tanya Alex. Dia mulai posesif pada Sophia. Di Bandung tentunya banyak jejaka tampan atau duda keren. Sophia cantik, pintar dan baik, lelaki manapun pasti menyukai pembawaannya.


"Banyak, cewek juga banyak," jawab Sophia.


"Aku ikut kalau gitu," jawab Alex.


Sophia tersenyum. Ternyata Alex mulai posesif padanya tapi Sophia senang, dia merasa berharga untuk suaminya.


"Loh bukannya Mas mau bertemu Tuan Matteo?" tanya Sophia.


"Iya sih," jawab Alex.


"Kalau begitu, urusan perusahaan harus diurus dulu, nanti kalau sudah selesai Mas nyusul ya," ucap Sophia.


"Iya dong, sekalian bulan madu di Lembang, hawa dingin cocok untuk pengantin baru," sahut Alex.


Sophia tersenyum malu. Benar juga kata Alex, sekalian bulan madu. Lembang tempatnya sejuk dan asri. Cocok untuk pengantin baru yang bermalas-malasan turun dari ranjang karena hawa yang dingin. Kemesraan dan keromantisan akan terus menerus dijalin dari pagi ke pagi. Hanya ada Sophia dan Alex. Berduaan, melupakan sejenak kesibukan di Jakarta.


Lama kelamaan Alex tertidur. Lelah mengoceh dan bergumam dari tadi. Staminanya sudah dihabiskan dalam pertarungan benua timur dan barat. Masuk ke alam mimpi, eh bertarung lagi. Sang casanova tak jauh dari itu meskipun itu dalam mimpi.


"Mas udah tidur ya," panggil Sophia.


Alex tak menggubris. Malah ngigau ngomelin Kenan gara-gara harga minyak naik, cabe naik dan kedelai ikut naik. Potong gaji dan bonus biar Kenan tak menyebabkan semua barang naik.


Sophia bangun. Mencium kening Alex. Menatap wajah tampannya.


"Mas, kau lelah sekali ya? sampai mengigau," ucap Sophia. Dia menyelimuti Alex. Kemudian masuk ke toilet. Sophia mandi, berganti pakaian. Mengenakan hijabnya kembali. Berjalan ke luar dari kamarnya. Sophia turun ke lantai bawah. Masuk ke dalam dapur. Dia mengambil ayam dan sayuran. Menyianginya sayuran, memotongnya dan menyiapkan bumbu untuk memasak semua bahan itu.


"Non masak apa?" tanya Bi Inem.


"Masak sup untuk kakek Bi," jawab Sophia.


"Tuan besar memang paling suka makan sup apalagi kalau brokolinya banyak," ujar Bi Inem.


"Kalau gitu brokolinya agak banyak deh Bi," ucap Sophia.


"Iya Non, biar Bibi bantu motongin brokolinya," sahut Bi Inem.


Sophia mengangguk. Dia memasak sup untuk kakek dibantu Bi Inem. Setelah sup matang, Sophia memindahkannya ke mangkuk. Membawa mangkuk itu naik ke lantai atas menggunakan nampan. Tidak hanya sup, pemilik mata emerald itu membuatkan jahe madu hangat untuk kakek.


Sophia berjalan menuju kamar kakek. Berdiri di depan pintu. Satu tangannya mengudara, mengetuk pintu itu sambil memanggil kakek.


"Kakek ... kakek ..., ini Sophia," panggil Sophia.


Tiba-tiba pintu itu terbuka. Kakek David menyuruh Sophia masuk ke dalam. Sophia mengangguk. Mengikuti kakek masuk ke dalam kamarnya. Mereka duduk di sofa. Sophia meletakkan sup dan minuman jahe untuk kakek di atas meja.


"Kek, Sophia membuat sup dan jahe madu hangat untuk kakek," ucap Sophia sambil tersenyum ramah.


"Terimakasih Sophia," sahut Kakek David.


Sophia mengangguk.


Kakek mengambil sup buatan Sophia. Memakannya perlahan hingga habis, begitupun dengan jahe madu hangat buatan Sophia, diminum tak bersisa.


"Pantas Alex begitu mencintaimu, kau memang pintar menyenangkan hati orang," puji Kakek David.


Sophia tersenyum. Senyuman itu terbit bak matahari di bibirnya. Membawa kehangatan di kala bersedih.


"Kek, Alex sangat menyayangi kakek, ayah, ibu, Claudya dan Gavin, waktu sudah membuat Alex hidup dan tumbuh besar di keluarga ini, meskipun tidak ada ikatan darah, tapi cinta dan kasih sayang sudah mengikatnya untuk menjadi bagian dari keluarga ini," ujar Sophia. Mata emerald-nya berkaca-kaca. Meneteskan air mata jatuh di pipi kemerahannya.


Kakek David terdiam. Dia hanya mendengarkan ucapan Sophia.


"Ada yang bilang sebuah keluarga tidak hanya terjalin karena ikatan darah saja, seperti halnya Sophia yang datang ke rumah ini, menjadi bagian dari keluarga ini. Bahkan kakek dan semua anggota keluarga menerima Sophia sebagai anggota Keluarga Sebastian" ucap Sophia.


Kakek hanya terdiam. Tak ada satu kata ke luar dari mulutnya. Ekspresi datar. Tak menunjukkan senang ataupun sedih.


"Cinta dan kasih sayang membuat semua orang bisa hidup bersama dan saling mengerti meskipun begitu banyak perbedaan," ujar Sophia.


"Alex mungkin bukan cucu kakek, tapi cinta dan kasih sayangnya tulus pada kakek. Seperti seorang cucu pada kakeknya. Karena kakeklah yang sudah membuatnya seperti sekarang," ujar Sophia.


Mata Kakek David berkaca-kaca. Teringat masa kecil Alex yang bermain bola dengannya. Bukan hanya itu banyak hal yang sudah dilewati bersama.


"Sophia kembali ke kamar lagi ya Kek, assalamu'alaikum," ucap Sophia.


"Wa'alaikumsallam," sahut Kakek David.


Sophia berdiri. Berjalan ke luar dari kamar Kakek David. Dia berharap perasaan kakek akan membaik kembali.


Di dalam kakek terdiam. Dia memikirkan Pak Ferdi dan Ibu Marisa yang tega membohonginya. Tak jujur padanya. Seharusnya dari awal mereka memberi tahu kakek. Mungkin semua ini takkan terjadi.


Sore itu Alex dan Sophia menggelar karpet di ruang keluarga lantai atas untuk sholat magrib berjamaah. Mereka ingin sholat berjamaah bersama semua anggota keluarganya. Tak lama Claudya mendorong kursi roda yang dinaiki Pak Ferdi. Menghampiri Alex dan Sophia.


"Lex, ayah ikut sholat berjamaah," ucap Pak Ferdi.


"Aku juga Kak," tambah Claudya.


"Alhamdulillah," sahut Alex dan Shopia.


Tak hanya Pak Ferdi dan Claudya, Gavin dan Dodo juga berjalan menuju ruang keluarga yang ada di lantai atas. Mereka ingin ikut sholat magrib berjamaah.


"Alhamdulillah Om sudah tobat, hampir aja masuk neraka, Dodo gak yakin doain Om," ucap Dodo.


"Gendut, aku ini ayahmu sekarang, mendoakan orangtua itu wajib," tegas Gavin.


"Tapi setannya kebanyakan Om, doanya memakan waktu mesti makan berapa bakul?" sahut Dodo.


Gavin menggeleng. Ada aja alasan Dodo untuk makan dan makan lagi.


"Pokoknya aku harus rajin sholat biar bisa dapatin Humaira," ujar Gavin sambil senyum-senyum sendiri.


"Sholat itu karena Allah Om, bukan karena Kak Humaira, itu namanya Om tidak ikhlas," ucap Dodo.


"Oke, yang penting aku harus dapetin Humaira," ujar Gavin.


"Kalau ternyata mukanya berjerawat, panuaan dan borokan gimana Om? Masih cinta atau Om mau mati aja, biar Dodo doain dari sekarang Om, setidaknya dosa Om berkurang saat mati nanti," ujar Dodo.


"Dodo, kau bilang apa tadi?" tanya Gavin merangkul si gendut gempal itu.


"Gak Om, kita kan mau sholat berjamaah, tuh Om Alex dan Tante Sophia dah nunggu," ucap Dodo.


"Hari ini aku membebaskanmu Ndut, awas aja besok," ucap Gavin.


Mereka berdua masuk ke ruang keluarga yang ada di lantai atas.


"Kak, gue sama Dodo, ikut sholat berjamaah," ucap Gavin.


"Alhamdulillah," ucap semuanya.


"Kalau gitu ayo masuk barisan kita mulai sholatnya," ucap Alex yang berdiri di shaf imam.


"Oke," sahut Gavin. Dia dan Dodo berdiri di belakang Alex bersama Pak Ferdi. Sedangkan Sophia satu baris dengan Claudya di belakang shaf lelaki.


Ketika sholat hendak dimulai. Terdengar suara Kakek David.


"Kakek ikut sholat berjamaah Lex," ucap Kakek David.


Semua mata tertuju pada Kakek David yang berjalan menghampiri mereka.


"Iya Kek, ayo kita sholat berjamaah lagi," ucap Alex.


Kakek David tersenyum. Masuk dalam shaf lelaki. Berdiri bersama Gavin, Dodo, dan Pak Ferdi yang duduk di kursi roda. Mereka sholat magrib bersama. Pemandangan itu sungguh menyejukkan hati. Dulu rumah itu hanya ada satu orang yang sholat sekarang tinggal Ibu Marisa saja yang belum sholat bersama.