Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Alasan



Baca bab sebelumnya baru nyambung ke bab ini


.


.


"Ini wanita bercadar itu?" Erisa terkejut melihat nisan di depannya adalah wanita bercadar yang dimaksud Dokter Leon.


"Iya, dia Aisyah wanita bercadar yang sholeha," jawab Dokter Leon. Matanya berkaca-kaca kala mengucapkan nama Aisyah.


Erisa menoleh ke arah Dokter Leon. Lelaki itu terlihat sedih.


"Siapa dia untukmu?" tanya Erisa. Dia ingin tahu hubungan Dokter Leon dan wanita bercadar itu.


"Dia saudara sepupuku," jawab Dokter Leon.


Erisa langsung terdiam. Dia sudah salahfaham. Dia mengira wanita bercadar itu pacar atau istrinya Dokter Leon ternyata sepupunya.


"Maafkan aku sudah salahfaham padamu," ujar Erisa. Dia merasa bersalah sudah menuduh ini itu. Padahal wanita bercadar itu sepupu Dokter Leon. Pasti lelaki di samping bersedih memikirkan kematian sepupunya.


"Tidak apa-apa. Aku dan Aisyah memang dekat sejak tinggal di sini. Aisyah sangat baik dan hambel. Membuatku nyaman bersamanya," sahut Dokter Leon.


"Memangnya Aisyah meninggal karena apa? Di sini tertulis baru dua bulan ini Aisyah meninggal," ujar Erisa melihat tanggal kematian Aisyah. Yang diperkirakan baru dua bulan Aisyah meninggal.


"Aisyah meninggal karena kanker otak," jawab Dokter Leon.


"Innalilahi wainailaihi raji'un," sahut Erisa. Dia merasa simpati saat mendengar Aisyah menderita kanker otak.


Dokter Leon duduk di bawah dan memegang nisan Aisyah, begitupun Erisa yang ikut duduk di bawah.


"Sepanjang hari Aisyah selalu menghafal Al-Qur'an. Entah berapa kali dia khatam Al-Qur'an, dia juga selalu sholat tepat waktu. Selalu menolong oranglain dengan ikhlas dan menebar banyak kebaikan semasa hidupnya. Itu membuatku bangga menjadi sepupunya," ujar Dokter Leon.


"Masya Allah. Aku jadi iri. Iri karena amalannya," sahut Erisa. Dia malu selama hidupnya belum sebaik Aisyah. Yang mungkin sudah membawa bekal sangat banyak sebelum meninggal.


"Allah sayang padanya, Dia mengambil Aisyah lebih cepat saat Aisyah sedang sholat," kata Dokter Leon.


"Masya Allah. Orang yang rajin sholat meninggalnya pun saat sholat. Benar kata Pak Ustad kita akan meninggal sesuai kebiasaan kita," kata Erisa. Dia berpikir mungkin jika dia masih mencopet sampai nanti, dia akan meninggal di saat mencopet.


"Semoga kita meninggal dalam keadaan husnul khotimah," ucap Dokter Leon.


"Amin," jawab Erisa.


"Erisa, maukah kau ikut denganku membaca surat Al Fatihah dan surat Yasin untuk Aisyah?" tanya Dokter Leon.


"Leon kau?" Erisa heran saat Dokter Leon mengajaknya membaca surat Al Fatihah dan surat Yasin.


"Aku seorang muslim. Baru dua bulan ini," ujar Dokter Leon.


"Masya Allah, Leon sudah muslim?" tanya Erisa sekali lagi. Dia merasa sedang bermimpi.


"Iya," jawab Dokter Leon.


"Apa yang membuatmu jadi seorang muslim itu aku?" tanya Erisa. Dia tidak ingin Dokter Leon masuk muslim karena manusia. Tidak dari hatinya.


"Bukan," jawab Dokter Leon.


"Alasan apa yang membuatmu menjadi seorang muslim?" tanya Erisa. Dia ingin tahu alasan Dokter Leon menjadi seorang muslim. Dia tidak ingin Dokter Leon terpaksa atau hanya ikut-ikutan saja. Menjadi seorang muslim harus dari hatinya. Bukan paksaan apalagi trend.


"Aku melihat sebuah kebesaran Allah pada kematian Aisyah," jawab Dokter Leon. Dia tersenyum tipis saat mengingat kejadian itu.


"Kebesaran Allah seperti apa?" tanya Erisa. Dia ingin tahu.


"Saat Aisyah meninggal. Jenazahnya begitu harum, wajahnya tersenyum dan bercahaya. Itu membuatku merasa Allah sudah memberi hadiah pada Aisyah yang selalu menghafal Al-Qur'an, sholat tepat waktu dan berbuat kebaikan," jawab Dokter Leon menceritakan alasannya menjadi seorang muslim.


"Masya Allah. Hidayah telah sampai padamu Leon, aku jadi iri denganmu dan Aisyah. Aku masih seperti ini. Bahkan belum menutup aurat," sahut Erisa. Dia menunduk malu. Merasa masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki olehnya.


"Kalau begitu jadilah Aisyah untukku, yang menemaniku di dunia dan akhirat Erisa," sahut Dokter Leon.


"Jadilah dirimu sendiri dan lakukan yang terbaik!" jawab Dokter Leon. Dia tidak ingin Erisa menjadi Aisyah. Tapi jadi dirinya sendiri yang akan memperbaiki semuanya dari hatinya.


"Iya, aku ingin berhijrah bersamamu Leon," sahut Erisa.


Dokter Leon mengangguk. Dia memetik bunga yang ada di makam Aisyah dan mengenakannya di rambut Erisa.


"Kau sangat cantik, seperti saat aku meninggalkanmu," ujar Dokter Leon. Dia selalu merindukan wajah cantik yang kini mengisi pikirannya.


Erisa menunduk. Dia tersenyum malu-malu saat Dokter Leon memujinya.


"Kalau begitu ayo kita mendoakan Aisyah!" ajak Dokter Leon.


Erisa mengangguk. Mereka membacakan ayat suci Al-Quran dan mendoakan Aisyah. Agar semua amal ibadahnya diterima Allah SWT dan diringankan siksa kuburnya.


"Ayo pulang!" ajak Dokter Leon.


"Pulang ke mana?" tanya Erisa.


"Pulang ke pelaminan," jawab Dokter Leon bercanda. Agar wajah cantik itu tersenyum.


"Leon! Jangan bercanda! Aku mau banget," jawab Erisa. Cemberut. Mengerucutkan bibirnya.


"Nona Harold satu-satunya yang belum nikah ya?" sindir Dokter Leon.


"Leon!" Erisa menepuk lengan Dokter Leon dengan pelan.


"Ampun, nanti Abang nikahin," sahut Dokter Leon sambil tersenyum.


"Aku belum nikah karena menunggumu. Padahal banyak yang mau denganku loh," kata Erisa. Gengsi disebut belum nikah juga.


"Oya, berarti aku pemenang dong! Secara Dokter paling tampan sepanjang masa," sahut Dokter Leon menyombongkan dirinya.


"Hih! Pede banget," kata Erisa. Cemberut.


"Jangan marah dong cantik. Kitakan mau kangen-kangenan. Dah lamakan gak ketemu?" gumam Dokter Leon.


Erisa membuang muka sambil tersenyum malu. Dia memang sudah kangen berat pada Dokter Leon.


"Terus kenapa kau tidak kembali ke Jakarta?" tanya Erisa.


"Rencananya sih minggu ini balik ke Jakarta, eh udah disusulin si cantik duluan," jawab Dokter Leon.


"Gimana kalau ternyata aku sudah nikah duluan?" tanya Erisa. Menunggu tanpa kepastian bisa jadi Erisa jenuh dan memilih menikah dengan orang lain.


"Berarti bukan jodoh, tinggal mendoakanmu samawa aja," jawab Dokter Leon.


"Leon! Kau ya gak ada sedihnya gimana gitu? Atau memperjuangkan cintamu padaku?" keluh Erisa.


"Aku pergi ke Garut untuk memperjuangkan cintamu cantik. Bagaimana aku bisa menikahimu jika kita berbeda keyakinan," jawab Dokter Leon. Mereka tak mungkin bisa bersama jika berbeda keyakinan. Dan bila memaksakan pasti akan ada yang tersakiti nantinya.


Erisa mengangguk.


"Kau ingat, kau sendiri berpesan padaku untuk menjadi seorang muslim karena keinginanku bukan paksaan apalagi demi cinta," tambah Dokter Leon.


Erisa mengangguk. Semua yang dikatakan Dokter Leon benar.


"Aku pergi ke sini untuk mencari alasan yang bisa membuatku yakin menjadi seorang muslim. Bukan sebuah paksaan apalagi karena nafsu," kata Dokter Leon. Dia harus meninggalkan semuanya demi mencari sebuah alasan. Bagaimana dia bisa yakin untuk menjadi seorang muslim.


"Terimakasih Leon, kau sudah memperjuangkan semuanya," ujar Erisa.


Dokter Leon mengangguk.


"Ayo pulang! Sari masih terdampar di lautan," ujar Dokter Leon.


Erisa tertawa kecil. Dia sampai lupa Sari masih terdampar di kolam ikan.