
"Kakek," ucap Alex dan Sophia bersamaan. Mereka menundukkan pandangannya karena malu bermesraan kepergok kakek David.
"Bagus, ternyata kau sudah betah di rumah Alex," puji Kakek David.
Alex langsung mengangkat kepalanya.
"Iya dong Kek, ada istri masa ditinggal," sahut Alex.
"Sophia kalau suamimu macam-macam, bilang kakek," ujar Kakek David.
Sophia mengangkat kepalanya.
"Iya Kek," sahut Sophia.
"Dengar Alex, jangan sia-siakan orang yang mencintai dan menyayangimu, dia takkan pernah kembali," ucap Kakek David. Wajahnya berubah murung. Terlihat gurat kesedihan di wajah tuanya yang sudah mulai keriput.
"Pasti Kek, aku takkan menyia-nyiakan Sophia," sahut Alex.
Kakek David mengangguk. Meninggalkan keduanya. Tinggal Sophia dan Alex di ruangan itu. Sophia terdiam memikirkan ucapan Kakek David tadi. Seperti sebuah penyesalan. Terlihat dari ekspresi dari wajahnya.
"Sayang kenapa?" tanya Alex.
"Gak papa, Mas mau diobatikan?" tanya Sophia.
"Iya dong Bu Dokter," jawab Alex.
Akhirnya Alex dan Sophia kembali ke kamar mereka. Mereka duduk di ranjang. Sophia dengan sabar mengobati lebam di pipi Alex. Mengoleskan obat luka untuk lebamnya.
"Sakit gak Mas?" tanya Sophia.
"Gimana mau sakit kalau memandang wajahmu terus Sophia," ucap Alex.
"Beneran gak sakit?" tanya Sophia. Dia mulai mengoles dengan agak kencang. Sengaja untuk memastikan.
"Sakit sayang, pelan-pelan," keluh Alex.
"Tadi katanya gak sakit, asalkan memandang wajahku," sanggah Sophia.
"Iya sih gak sakit, apalagi kalau ...?" Alex meraih tangan Sophia. Menjatuhkannya ke ranjang.
"Mas," ucap Sophia menatap mata Alex yang dulu dingin sekarang penuh kehangatan untuknya.
"Iya sayang," sahut Alex yang juga menatap matanya. Mata keduanya saling bertautan. Memancarkan cinta yang mendalam.
Tiba-tiba Sophia menggelitiki dada Alex. Membuatnya kegeliaan. Alex beranjak dari ranjang tak tahan dengan rasa geli. Namun Sophia terus mengejarnya.
"Sayang geli," ucap Alex berlari dikejar Sophia.
"Masa?" Sophia terus mengejar Alex hingga tersudut ke sudut ruangan. Dia pasrah. Namun saat Sophia mendekat, Alex langsung menangkap Sophia, memeluknya.
"Kena," ucap Alex.
"Mas," kata Sophia.
"Kau tak bisa bergerak sayang, cuma bisa ku ciumi," ucap Alex kemudian menghujani Sophia dengan ciuman-ciuman mesranya di seluruh wajah Sophia.
"Mas ampun," ucap Sophia.
Mereka pun berbaring di ranjang setelah lelah bergurau mesra. Mengatur nafas. Alex menarik tubuh Sophia ke mendekat padanya. Merangkul Sophia sambil berbincang dengannya.
"Mas kenapa ya aku merasa ucapan kakek tadi begitu mendalam?" tanya Sophia.
"Itu karena kakek kehilangan nenek, orang paling dicintainya," jawab Alex.
"Nenek pasti orang yang baik, sampai kakek begitu kehilangan saat beliau tak ada di sisinya," ucap Sophia.
"Nenekku memang orang yang sangat baik. Dia seorang Ustadzah. Mengajar di sebuah pesantren. Dulu kakek sepertiku begajulan. Kerjaannya mabuk, judi, main perempuan. Selama hidupnya, kakek selalu menyakiti hati nenek. Tapi nenek tak pernah pergi meninggalkannya. Selalu ada di sisinya. Sampai akhir nafasnya, saat itu kakek baru menyadari betapa berartinya nenek. Tapi semua sudah terlambat," ujar Alex.
Sophia ikut bersedih mendengar Alex menceritakan kisah kakek dan neneknya.
"Sejak kematian nenek, kakek bersumpah akan menebus semua waktu yang terlewatkan. Kakek bertobat dan memulai hidupnya. Mengasuh ayah sambil bekerja. Dengan tabungan yang diamanahkan nenek, memulai bisnis pertamanya dan sekarang jadi perusahaan besar. Dengan kata lain, kebaikan nenek masih dirasakan sampai sekarang," ungkap Alex menceritakan semuanya.
"Nenek orang yang hebat, semoga Allah mengampuni segala dosa-dosanya, meringankan siksa kuburnya dan menempatkannya di tempat yang terbaik, amin," ujar Sophia.
"Amin," sahut Alex.
"Oya Mas ada satu hal lagi yang ingin ku tanyakan," ucap Sophia.
"Apa sayang?" tanya Alex.
"Tadi dari mana? Kenapa pipi Mas jadi lebam?" tanya Sophia.
Alex terdiam sesaat. Mrmikirkan masalah yang tadi, hampir saja dia lepas kendali dan menghajar Luis sampai mati. Untung saja dia teringat Sophia. Emosinya langsung mereda meskipun Alex masih kesal dan marah pada Luis yang sudah berani melecehkan istrinya.
"Aku menemui Luis," jawab Alex.
"Apa? Mas menemui Luis?" Sophia terkejut. Dia belum cerita secara detail pertemuannya dengan Luis tapi Alex sepertinya sudah tahu.
"Aku tahu semua yang dilakukan Luis padamu, termasuk soal tanah wakaf itu," ujar Alex.
"Maafkan aku ya Mas," kata Sophia.
Alex mengelus pipi Sophia. Dia tahu istrinya itu sangat mandiri dan berusaha menyelesaikan masalahnya dengan baik tapi itu semua dimanfaatkan Luis.
"Iya sayang, lain kali jangan bertemu dengan Luis tanpa ada aku atau Sekretaris Wang," ucap Alex.
Sophia mengangguk.
"Apa yang Mas lakukan sampai lebam?" tanya Sophia.
Cup
Satu ciuman mendarat di kening Sophia.
"Ya membelamu sayang, takkan ku biarkan ada orang yang berani menyakitimu, kalau perlu ku patahkan semua tulang-tulangnya," ujar Alex.
Sophia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia tahu suaminya hanya ingin membela harga dirinya.
"Terimakasih ya Mas, tapi jangan diulangi lagi, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu," ucap Sophia.
"Iya sayang," sahut Alex.
Malam itu Alex dan Sophia mulai membangun pondasi-pondasi cinta mereka. Memulai awal dari kisah cinta sejati. Mengukir kisah yang indah bersama dalam indahnya cinta dan kasih sayang yang tulus.
***
Pagi itu Sophia memasak di dapur. Dia masak sarapan sendirian karena Bi Siti ke pasar dan Bi Inem sedang tak enak badan. Sophia terlihat kerepotan. Memasak begitu banyak menu. Ibu Marisa sengaja menyuruhnya memasak banyak karena teman-temannya akan sarapan bersama di rumah. Ibu Marisa sedang senam bersama dengan teman-teman sosialitanya di halaman depan. Pagi itu Kakek David sedang joging ke luar rumah. Pak Ferdi belum pulang. David menginap di rumah temannya, sedangkan Alex sedang mengerjakan pekerjaan kantornya di ruang kerjanya di lantai atas. Dia sengaja cuti agar bisa bersama Sophia tapi pekerjaan kantor tetap harus diselesaikan dulu.
Tangan Sophia ke sana sini menggoreng, menumis, mengkukus, membakar dan memanggang semua bahan yang disiapkannya dari tadi. Dia mulai berkeringat. Dengan tenaganya sendiri kerepotan memasak semuanya. Apalagi mertua dan teman-temannya akan sarapan usai senam.
"Kerepotan?" tanya Claudya.
"Iya, Bi Siti lagi ke pasar, sedangkan Bi Inem sakit," jawab Sophia.
Tiba-tiba Claudya membantu Sophia. Dia menggantikan sebagian tugas Sophia. Membagi pekerjaan mereka menjadi dua. Sophia tersenyum. Tak disangka Claudya yang biasa meledeknya dan tak suka pada Sophia justru membantunya memasak.
"Aku tidak tahu apa ini sudah enak apa belum," ujar Claudya dengan nada datar. Dia masih gengsi kalau harus terlihat akrab dengan Sophia.
"Oh, biar kakak yang cicipi," sahut Sophia. Dia menghampiri Claudya. Mencicipi masakan yang dimasak olehnya.
"Emm ..., enak, cuma kurang ditambah gula sedikit," ujar Sophia.
"Gula sedikit kan?" tanya Claudya kembali.
Sophia mengangguk.
Claudya melakukan apa yang tadi disuruh Sophia. Melihat itu Sophia senang. Mungkin butuh waktu untuk setiap orang bisa menerima seseorang yang tidak disukainya masuk ke dalam hidup mereka.
Sophia kembali memasak. Hadirnya Claudya sangat membantunya. Semua masakan selesai dimasak tepat waktu. Sophia meletakkan semua makanan yang dimasaknya di atas meja begitupun dengan Claudya. Dia ikut membantu Sophia. Menata semua makanan dengan rapi.
"Claudya terimakasih ya sudah membantu kakak," ucap Sophia.
"Aku membantumu karena hutang budiku yang semalam, jangan berpikir lebih dari itu," sahut Claudya.
Sophia mengangguk. Tidak masalah Claudya masih bersikap jaim padanya. Sophia yakin kelak Claudya akan menerima Sophia sebagai kakak iparnya.
Tak lama Ibu Marisa dan teman-teman sosialitanya masuk ke dalam. Mereka memenuhi ruang makan. Duduk di kursi masing-masing. Sophia masih berdiri karena semua kursi penuh di duduki.
"Marisa siapa?"
"Menantuku," jawab Ibu Marisa.
"Yang bener? Masa kaya pembantu."
"Gak punya pakaian yang bagusan, norak, masa Alex seleranya begitu."
Sophia membiarkan mereka mengoceh. Dia tak sama sekali sakit hati. Dunia bisnis sudah membuatnya sangat kebal terhadap cacian yang memanaskan telinganya.
Entah kenapa Claudya bangun dari duduknya.
"Orang yang kalian hina itu Sophia Thalia, pebisnis hebat, bukan hanya istri yang menghabiskan harta suaminya untuk pamer," ujar Claudya.
Sophia tercengang melihat Claudya membelanya. Yang biasanya Claudya selalu ikut meledek Sophia bila dibulli anggota keluarganya. Tapi kini berdiri di depan mereka, membersihkan nama baik kakak iparnya.
"Claudya!" bentak Ibu Marisa.
Claudya hanya terdiam kemudian meninggalkan meja makan. Dia berpapasan dengan Alex yang hendak menuju ruang makan. Langkahnya terhenti melihat ke arah Alex.
"Lihat istrimu dihina mereka, seharusnya kau bisa menjaganya," ucap Claudya ketus. Belum Alex membalas ucapannya, dia kembali berjalan. Naik ke lantai atas.
Alex heran dengan ucapan Claudya. Baru tersadar ibunya mengundang teman-teman sosialitanya senam dan sarapan bersama di rumah. Segera Alex menuju ruang makan. Namun apa yang dilihatnya membuat Alex tercengang.