
Baca bab sebelumnya baru nyambung ke sini ya
.
.
"Nona!" panggil Pak Harry yang menatap wajah cantik Sora yang tercengang melihatnya.
"Nona!" Pak Harry kembali memanggil Sora yang masih mematung.
"Kau-kau orang yang sudah ..." Sora tak sanggup berkata apapun lagi. Dia langsung pingsang. Tak ingat apapun lagi.
Satu jam berlalu. Sora mulai sadar. Matanya terbuka perlahan-lahan. Melihat ke sekeliling. Sebuah kamar yang indah dan elegan. Terlihat seperti sebuah kamar hotel yang tertata dengan rapi dan harum. Kedua netranya melihat ke sekeliling. Tak ada satupun orang di kamar itu.
"Aku di mana?" Sora mulai mengingat di mana dia berada.
"Tadi aku melihat ..." Sora memegang dahinya. Dia mulai ingat kejadian yang sebelumnya terjadi.
Tiba-tiba seorang wanita bercadar masuk ke dalam kamar itu. Dia membawa nampan di atasnya ada gelas berisi teh hangat.
"Assalamu'alaikum," sapa Humaira.
"Wa'alaikumsallam," sahut Sora. Matanya tertuju pada wanita bercadar yang perutnya tampak membuncit.
Humaira meletakkan teh hangat itu di atas nakas yang beradi di samping kiri ranjang. Dia menghampiri Sora. Duduk di samping kakinya.
"Nona sudah sadar?" tanya Humaira. Sambil tersenyum ramah. Mata berwarna biru itu tampak indah meski wajahnya tertutup cadarnya.
"Iya," jawab Sora.
"Perkenalkan aku Humaira Az Zahra," ucap Humaira memperkenalkan dirinya dengan ramah dan sopan.
"Aku Sora Nafiza, senang bertemu dengan Nona Humaira," sahut Sora yang memperkenalkan dirinya juga pada Humaira.
Humaira bangun. Mengambil teh hangat. Kemudian memberikannya pada Sora. Dan duduk kembali di atas ranjang.
"Diminum teh hangatnya!" ucap Humaira.
"Iya, makasih," sahut Sora sambil memegang gelas di tangannya.
Humaira hanya mengangguk.
Sora mulai meneguk teh hangat yang dibuatkan Humaira untuknya. Tegukan demi tegukan diseruput dengan perlahan hingga habis tak bersisa.
"Alhamdulillah," ucap Sora. Bibirnya tersenyum. Melihat wanita bercadar di depannya.
"Mau tehnya lagi?" tanya Humaira.
"Tidak, terimakasih," ujar Sora. Baru pertama bertemu wanita bercadar. Dulu Sora menganggap wanita bercadar itu menjaga jarak dari orang-orang, misterius dan aneh. Namun saat melihat Humaira, semua anggapannya itu terkikis sudah. Apapun penampilannya tergantung pribadi masing-masing orang.
Humaira mengangguk.
"Oya, kenapa aku ada di sini?" tanya Sora. Dia ingin tahu siapa yang sudah membawanya ke kamar itu.
"Papaku, tadi beliau yang membawa Nona Sora pulang ke rumah," jawab Humaira. Tutur katanya begitu santun menyejukkan jiwa. Dari tutur katanya saja sudah membuat siapa saja nyaman.
"Papamu?"
"Iya, tadi Papaku bertemu Nona Sora di jalan, kata beliau Nona pingsan," jawab Humaira.
Sora langsung terdiam. Matanya kosong. Menatap ke depan.
"Nona Sora!" panggil Humaira.
"Tolong tinggalkan aku sendiri!" pinta Sora. Dia butuh waktu untuk merenungkan semua masalahnya.
"Iya, kalau ada apa-apa panggil aja! itu telpon rumahnya ada di atas nakas," ujar Humaira sambil menunjuk nakas yang ada di samping ranjang.
Sora mengangguk. Membiarkan Humaira meninggalkan kamar itu. Sementara itu Sora hanya terdiam. Dia menangis. Memeluk tubuhnya sendiri. Dia teringat lelaki yang sudah memperkosanya.
***
"Kemana Sora?" ujar Ibu Nita. Dia bingung harus ke mana lagi. Sudah coba mencari sekitar kontrakkan sampai ke jalan raya tapi belum menemukan keberadaan Sora juga.
"Pasti Sora menemui Ezar, anak angkat Tuan Matteo," tebak Ibu Nita. Dia yakin Ezar ada di rumah Keluarga Sebastian.
"Aku harus pergi ke sana! Sora pasti ada di sana," kata Ibu Nita.
Wanita tua itu menyetop bus yang lewat di depannya. Dia naik ke dalam bus. Duduk di kursi yang berada di tengah. Dengan keyakinan di dalam hatinya Ibu Nita pergi ke rumah Keluarga Sebastian.
Setengah jam kemudian, Ibu Nita sampai di rumah Keluarga Sebastian. Dia berdiri di depan gerbang tinggi. Mengetuk pintu gerbang itu dengan keras.
"Buka! Buka! Aku ingin bertemu anakku!" seru Ibu Nita.
Kegaduhan yang dibuat Ibu Nita membuat sekuriti mendekati pintu gerbang. Melihat dari slot yang terbuka.
"Ngapain teriak-teriak Bu?"
"Aku ingin bertemu Tuan Matteo, anakku pasti ada di dalam," jawab Ibu Nita.
"Apa Ibu sudah punya janji dengan Tuan Matteo?"
Sekuriti itu tidak akan membukakan pintu gerbang sebelum ada izin dari sang empunya rumah atau sudah punya janji dengan salah satu anggota di rumah besar itu.
"Tidak, tapi aku harus bertemu Tuan Matteo," jawab Ibu Nita. Dia tidak peduli sudah ada janji atau tidak. Yang penting dia harus bertemu sang empunya rumah itu.
"Baiklah, saya akan sampaikan dulu, nama ibu siapa?"
"Nita, ibunya Sora Nafiza," jawab Ibu Nita.
Sekuriti itu mengangguk. Berjalan memasuki posnya. Dia menelpon ke dalam rumah besar itu. Menyampaikan apa yang tadi Ibu Nita sampaikan padanya.
Di dalam rumah besar, Bi Siti yang mendapat kabar dari sekuriti langsung menuju ruang makan. Di sana sebagian anggota Keluarga Sebastian masih sarapan. Ada Tuan Matteo, Claudya, Pak Ferdi dan Ibu Marisa. Bi Siti memberitahu apa yang disampaikan sekuriti pada mereka.
"Ibu Nita ibunya Sorakan sayang?" ujar Claudya.
"Iya sayang," jawab Tuan Matteo.
"Ibu Nita yang anaknya ditabrak mobilmu Matteo?" tanya Pak Ferdi. Dia masih ingat nama itu pernah disebut Tuan Matteo saat menceritakan kecelakaan yang melibatkannya
"Iya Yah," jawab Tuan Matteo.
"Jangan-jangan mau minta duit?" tebak Ibu Marisa. Dia pernah diposisi Ibu Nita, matre dan serakah. Jadi tahu persis seperti apa Ibu Nita.
"Jangan suudzon dulu Bu," sanggah Claudya. Dia tidak ingin ibunya sudah berburuk sangka pada orang lain.
"Iya, habis dia itu loh masa minta Matteo nikahin anaknya, minta duit masih bisa diterima, yang sakit kakinya bukan hatinya," ujar Ibu Marisa tak terima jika Matteo harus menikahi anak Ibu Nita. Hanya karena Tuan Matteo sudah menabrak putrinya.
"Sudah-sudah, Matteo lebih baik kau temui dia," usul Pak Ferdi.
Tuan Matteo mengangguk.
"Hati-hati sayang," ujar Claudya.
"Iya sayang, makasih," sahut Tuan Matteo.
Setelah mendapat izin dari istri dan keluarganya, Tuan Matteo menemui Ibu Nita. Dia mengizinkan Ibu Nita masuk ke halaman rumah Keluarga Sebastian.
"Di mana Sora? Dia pasti ke sinikan?" Baru masuk Ibu Nita langsung marah-marah.
"Sora? Dia tidak ada di sini," jawab Tuan Matteo. Dia tidak tahu kenapa wanita tua itu asal marah-marah gak jelas.
"Dia ingin bertemu Ezar, Sora tahu Ezar anaknya," ujar Ibu Nita.
"Apa? Ezar anak Sora?" Tuan Matteo terkejut saat mendengar pengakuan Ibu Nita kalau Ezar anaknya Sora. Bahkan Tuan Matteo tidak sedikitpun berpikir ke arah situ.
"Iya, kemungkinan Ezar anak Sora. Ada tanda lahir di belakang pundaknya," ujar Ibu Nita. Dia tahu soal tanda lahir yang dimiliki Ezar. Apalagi saat itu dialah yang memang membuang anaknya Sora ke tempat sampah.
Tuan Matteo terdiam. Mencerna perkataan Ibu Nita.