Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Menuju Rumah Sakit



Empat bulan kemudian


Malam itu Gavin dan Maria main ke rumah Jack dan Vera. Kini Jack dan Vera sudah menikah. Pernikahan mereka tidak dirayakan. Hanya keluarga inti yang hadir di pernikahan keduanya. Semua ini atas kesepakatan kedua belah pihak. Perut Maria sudah semakin besar. Kini usia kehamilannya sudah sembilan bulan. Gavin selalu mendampinginya ke mana pun karena bisa saja setiap saat istrinya melahirkan. Kini Gavin bekerja di perusahaan milik keluarga. Dia lebih banyak memiliki waktu bersama Maria karena pekerjaannya di lapangan sebagai Manajer Marketing. Gavin menolak diangkat jadi Direktur, dia lebih menyukai pekerjaan yang tidak hanya duduk di kantor, agar Gavin bisa mengatur pekerjaannya sendiri. Asal target terpenuhi Gavin bisa bersantai dengan Maria.


Gavin dan Maria duduk di ruang keluarga bersama Jack dan Vera sambil mengobrol dan menonton televisi. Maria dan Vera duduk lesehan sedangkan Gavin dan Jack bermain game.


"Kak Maria waktu hamil tiga bulan masih mual gak?" tanya Vera.


"Iya, sampai empat bulan. Tapi mualku cepet reda kalau makan," jawab Maria sambil mengelus perutnya yang buncit.


"Aku mual kalau diisi makanan paling sebentar di perut, ujung-ujungnya muntah," sahut Vera. Kehamilan pertamanya cukup berat. Tidak seperti kehamilan Maria.


"Udah minum obat mual yang dikasih Dokter?" tanya Maria.


"Sudah Kak, tapi bertahan sebentar. Makan aja rasanya hambar dan pahit, gak enak gitu Kak," keluh Vera. Sudah tiga bulan tidak enak makan, semua makanan hambar dan ada beberapa yang pahit dilidah. Makan hanya untuk mengisi perut yang lapar meski terkadang ke luar lagi.


"Tenang sebulan lagi udahan, tar bisa makan enak lagi. Beberapa ibu hamil memang ada yanga sepertimu Vera. Coba makan makanan yang seger aja biar gak hambar," sahut Maria. Memberi saran pada adiknya. Dia tahu masa sulit itu akan berlangsung selama empat bulan.


"Iya sih Kak, kalau makan buah dan es krim enak. Tapi kalau makan yang lainnya gak enak. Jadi Abang nyetok es krim dan buah yang banyak untukku," sahut Vera.


"Nah itu juga bisa, tapi makan yang lain harus dipaksain meski gak enak, demi si kecil biar sehat," kata Maria. Ibu hamil memerlukan banyak vitamin dan kandungan makanan yang beragam untuk perkembangan janin di dalam rahimnya.


"Iya Kak, tetep dipaksain kok, enak gak enak," jawab Vera. Demi buah cintanya bersama Jack, Vera tetap makan apapun. Walau rasanya hambar dan pahit.


Maria duduk bersandar di sofa. Dari tadi lesehan membuatnya pegal.


"Kak, bentar lagi lahiran ya?" tanya Vera.


"Iya akhir minggu ini HPL-nya," jawab Maria.


"Berarti bisa maju atau mundur ya Kak?" tanya Vera.


"Iya Vera, makanya Abang selalu jadi satpam seharian, kerja aja dari rumah," sahut Maria. Mendekati HPL Maria, Gavin kerja dari rumah. Dia harus jadi bapak siaga. Bisa saja istrinya melahirkan setiap saat.


"Semoga lancar ya Kak lahirannya, ibu dan bayinya sehat dan selamat," ujar Vera.


"Amin," jawab Maria.


"Kak, Dodo masih di pesantren?" tanya Vera.


"Iya, sampai SMA, biar kurus katanya kalau banyak menghafal dari pada banyak makan," jawab Maria. Dodo sudah bersikeras ingin di pesantren sampai SMA. Selain untuk diet, di sana banyak teman-temannya yang sama-sama menghafal Alquran.


"Emang Dodo dah kurus?" tanya Vera.


"Sempet kurus beberapa bulan tapi sekarang bulat lagi," jawab Maria.


"Kok bisa?" tanya Vera.


"Itu banyak ibu-ibu santri yang gemes dan ngasih makan Dodo kalau jenguk anaknya," jawab Maria. Gara-gara tingkah lucu Dodo banyak dapat makanan dari keluarga para santri. Dodo terkenal di pesantren karena tingkahnya yang lucu dan supel. Jadi banyak yang sayang dan membawakan makanan. Imbasnya Dodo susah diet.


"Jahat juga ibu-ibu itu, udah tahu Dodo gendut malah dibawain makanan, jadi tambah gendut," kata Vera.


Maria tertawa kecil mendengar celotehan Vera. Dia juga tak habis pikir koo bisa Dodo bikin ibu-ibu gemes sampai pada bawain makanan. Bukannya kurus malah tambah gemuk.


Mereka berdua kembali mengobrol. Di sisi lain Gavin dan Jack main game lagi asyik-asyiknya.


"Bro punya bini enakkan?" tanya Gavin.


"Enaklah, apalagi bini gue lagi hamil, bawaannya tambah sayang," jawab Jack.


"Iyalah, tapi bini posesif gak saat hamil?" tanya Gavin padahal mengalihkan konsentrasi Jack biar kendor.


"Posesif gimana? Vera sih cuma suka ngikut ke acara-acara peluncuran prodak atau pameran prodak, terus gak bolehin sekretaris gue perempuan," jawab Jack.


"Itu posesif Bro, aku malah lebih parah," jawab Gavin.


"Gak boleh jalan ma kucing atau singa, iyakan?" tanya Jack.


"Eh iya, gue pikir lo kencan gak cuma ma kucing, singa juga, kan masih ras kucing-kucingan," sahut Jack.


"Ya gak singa juga kali, repot baru kenalan tangan gue udah lenyap di caplok, mau ngomong udah ilang kepala gue diterkam, sisanya dekem di perut singa," jawab Gavin.


"Kalau gitu jalan ma uler piton aja biar Maria gak ngomel," tambah Jack.


"Apa bedanya singa dan ular piton Bro, sama-sama tinggal sandal jepit doang kalau gue kencang sama mereka," sahut Gavin.


Jack dan Gavin tertawa terbahak-bahak dengan banyolan mereka.


Setelah itu Gavin dan Maria berpamitan pada Jack dan Vera. Kemudian mereka naik mobil meninggalkan tempat itu. Gavin menyetir sendiri mobilnya sedangkan Maria duduk di sampingnya.


"Bang-Bang perutku sakit," ucap Maria sambil memegang perutnya.


"Jangan-jangan kamu mau lahiran ya sayang?" sahut Gavin.


"Iya kayanya Bang, rasanya makin mules," jawab Maria.


"Sabar Neng, kita langsung ke rumah sakit," sahut Gavin panik. Dia harus ke rumah sakit mengantar istrinya lahiran.


"Buruan Bang, makin mules," kata Maria sambil memegang lengan Gavin.


"Iya Neng," jawab Gavin. Dia putar balik mobilnya. Mengemudikan mobil menuju rumah sakit. Namun di tengah jalan ada yang butuh tumpangan. Mobilnya di stop seseorang.


"Bang buruan!" pekik Maria.


"Ada yang mau nebeng Neng, kasihan mau lahiran juga," jawab Gavin.


"Ya udah buruan suruh masuk Bang!" titah Maria sambil menahan perutnya yang tambah mules.


"Siap!" jawab Gavin. Lalu dia turun menpersilahkan suami istri masuk ke mobilnya. Mereka berdua duduk di jok belakang mobil. Gavin pun kembali mengemudikan mobilnya.


"Buruan Mas istri saya mau lahiran!"


"Sabar ini juga lagi ke rumah sakit," sahut Gavin.


"Bang buruan, Neng udah gak tahan!" keluh Maria sambil menahan perutnya yang mules.


"Iya Neng ini juga lagi otw," jawab Gavin panik. Ada dua ibu-ibu mau lahiran di mobilnya. Dia jadi tambah panik dan pusing. Lengan dicengkram Maria sampai dicubit beneran, sedangkan bahunya dicengkram dari belakang, ibu-ibu yang lagi nahan sakit.


"Astaga kalau gak sampai rumah sakit segera, habis babak belur aku," batin Gavin.


Tak lama Gavin melihat Luki dan Humaira berdiri di samping mobil mereka. Luki terlihat menenangkan Humaira. Melihat itu Gavin langsung menghentikan mobilnya. Dia menurunkan kaca mobil untuk melihat apa yang sudah terjadi pada mereka.


"Luk ada apa?" tanya Gavin.


"Humaira mau lahiran, tapi ban mobil gue pecah," jawab Luki.


"Udah naik mobil gue buruan! Kita barengan ke rumah sakit," sahut Gavin. Dia menawarkan tumpangan pada Luki dan Humaira.


"Makasih ya Vin," ucap Luki.


"Sip!" jawab Gavin.


Bergegas Luki dan Humaira masuk ke mobil. Mereka duduk di kursi belakang bersama sepasang suami istri yang istrinya juga akan melahirkan. Luki tersenyum tipis. Ternyata di dalam mobil sudah ada dua ibu-ibu yang akan melahirkan, ditambah istrinya.


"Wah Vin, siap-siap seriosa sepanjang jalan," ucap Luki yang duduk di kursi belakang. Dia duduk di tengah sedangkan Humaira di tepi kiri.


"Bukan sekedar seriosa, kau lihat saja nanti, bagaimana gue teraniaya," sahut Gavin. Sudah babak belur sendari tadi membuatnya terbiasa dengan semua keadaan itu.


"Kalau gitu buruan Vin! Jangan sampai lahiran di mobil, brabe tiga sekaligus," sahut Luki memberi semangat.


"Iya, gue tahu." Gavin kembali menyetir. Bukan bawa tumpangan satu ibu hamil tapi tiga ibu hamil yang akan melahirkan. Habis Gavin kena cengkram sana sini, belum lagi para bapak-bapak yang ngomel minta buruan. Berasa dia paling bersalah padahal cuma kasih tumpangan.