Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Kau Harus Layak



Humaira terdiam. Menunduk.


"Aku tidak akan memaksa jika kau tidak ingin menerimanya," ujar Luki. Dia tahu soal hati tidak bisa dipaksa. Jika Humaira menerimanya itupun harus dari hatinya.


Humaira masih terdiam.


"Kau tidak bisa melamar putriku anak muda," ujar Pak Harry yang berdiri di depan pintu. Berjalan menghampiri Luki dan Humaira. Dia berdiri di depan Luki. Menatap lelaki berwajah Korea itu dengan tajam.


"Humaira masuk!" titah Pak Harry.


"Tapi Pa," sahut Humaira.


"Masuk!" titah Pak Harry dengan nada yang dingin.


Humaira mengangguk. Melirik ke samping sesaat. Kemudian berjalan meninggalkan tempat itu. Tinggal Pak Harry dan Luki saling menatap. Mata keduanya bertautan. Ada kemarahan yang terpendam di dalam mata keduanya.


"Kau bekerjasama dengan Alex, iyakan?" tanya Pak Harry.


"Maksud Bos apa?" tanya Luki.


"Mobil yang seharusnya kecelakaan itu mobil Alex, kenapa kau kau ada di dalam mobil itu?" tanya Pak Harry.


Deg


Jantung Luki berdebar. Sepertinya Pak Harry tahu soal mobil Alex yang ditukar dengan mobilnya. Luki terdiam sesaat memikirkan alasan yang tepat.


"Kenapa Anda tahu, kalau yang harus kecelakaan itu Alex, bukan aku?" tanya Luki.


"Bukan urusanmu, bagiku jika kau tak dipihakku, berarti kau musuhku," jawab Pak Harry.


"Kebetulan aku ingin membeli mobil milik Bos Alex, jadi aku harus test drive terlebih dahulu. Memastikan mobil itu oke," sahut Luki. Belum saatnya dia melawan secara terang-terangan lelaki tua itu.


"Benarkah? Kau bisa membuktikannya padaku?" tanya Pak Harry.


"Aku akan membuktikannya pada Anda," jawab Luki. Dia mengeluarkan handphone miliknya. Memperlihatkan chat miliknya dengan Alex satu hari sebelumnya tentang tawar menawar harga mobil yang akan dijual.


"Bagaimana apa Bos percaya? Apa aku harus menunjukkan bukti lain?" tanya Luki. Dia melihat Pak Harry dengan tatapan santai. Seolah tak ada beban. Tak seperti orang yang berkhianat pasti tegang.


Pak Harry mendekat. Menepuk bahu Luki.


"Aku tidak suka pembohong, kau tau apa yang akan ku lakukan pada pembohong?" tanya Pak Harry.


"Kalau aku berbohong, seharusnya aku takkan kembali ke rumah Singa setelah ke luar dari bahaya," jawab Luki.


Pak Harry tersenyum licik melihat lelaki muda yang begitu berani menghadapinya.


"Aku suka caramu berbicara, tapi untuk mendapatkan putriku kau harus layak di depanku," ujar Pak Harry.


Luki terdiam. Lelaki tua di depannya itu bukan orang yang mudah dilawan.


Pak Harry memanggil dua orang anak buahnya. Tak lama dua orang anak buahnya datang.


"Bos."


"Diamlah kalian di situ!" titah Pak Harry menyuruh dua orang anak buahnya berdiri di samping Luki.


Kemudian dia mengeluarkan pistol miliknya dari dalam bajunya. Dia memberikan pistol itu pada Luki.


"Tembak salah satu dari mereka atau kau tembak dirimu sendiri," ujar Pak Harry memberi Luki pilihan.


"Apa?" Luki terkejut. Dua pilihan yang sama-sama sulit untuknya. Tak mungkin dia menembak salah satu dari anak buah Pak Harry.


"Kenapa? Takut?" tanya Pak Harry.


Luki terdiam sesaat. Memikirkan keputusan apa yang akan diambilnya.


"Kau ingin aku merestuimu menikahi putrikukan?" tanya Pak Harry dengan senyuman licik.


Luki masih terdiam. Tangannya mulai bergerak. Mengacungkan pistol ke udara.


"Astaga kita kelinci percobaan Jon."


"Bukan kelinci tapi tikus percobaan."


"Mati kita, mana biniku lagi hamil anak orang."


"Kok bisa?"


"Pas mati listrik tetangga masuk, eh istriku malah keenakan."


"Itu belum seberapa dengan dukaku."


"Memang kenapa?"


"Aku belum sempat operasi ambien, uang udah ku transfer, rugi dong "


Kedua anak buah Pak Harry malah asyik menggosip. Udah tahu nyawa mereka di ujung tanduk. Keenakan ngobrol lupa kalau nanti udah pindah alam. Tahu-tahu udah dipocong.


"Siapa yang menyuruh kalian ghibah sebelum mati?" Pak Harry pada anak buahnya.


"Astagfirullah, kita nambahin dosa sebelum mati Jon."


"Emang ya, tadi ghibah apa aja?"


"Istriku, kau lupa?"


"Tetanggamu jugakan."


"Coba hitung berapa kalkulasi dosanya."


"Cukup gak kalau aku bayar pakai amalanku?"


"Emang kau punya amalan, seingetku kita berdosa terus."


"Iya ya, Si Boskan jahat."


"Diam!" Pak Harry membentak mereka. Keduanya langsung terdiam. Takut dengan bentakkan Pak Harry yang mengaung seperti singa.


"Ayo Arfan pilihlah!" ujar Pak Harry menatap Luki dengan tatapan tajam.


Luki yang sudah mengacungkan pistol ke udara bersiap menembak. Pistol itu diarahkan ke arah salah satu anak buah Pak Harry.


"Ayo tembak!" titah Pak Harry.


Kedua anak buah Pak Harry menutup matanya. Takut akan dieksekusi mati.


Dor ....


"Aw ...." Suara anak buah Pak Harry menjerit.


Luki hanya terdiam. Kedua tangannya turun ke bawah. Darah di lengannya mengalir di baju hingga ke lantai. Luki hanya menatap Pak Harry dingin.


"Anda sudah puas?" tanya Luki.


Prook ... proook ... proook ...


Pak Harry bertepuk tangan atas keberanian Luki.


"Aku akan merestuimu menikahi putriku," ujar Pak Harry.


Luki membuang nafas leganya. Dia tak mungkin melukai orang yang tak bersalah hanya demi memuaskan keinginan lelaki tua itu. Meskipun dia harus melukai lengannya sendiri.


"Alhamdulillah, kita masih di alam manusia Son."


"Tapi aku kencing Jon."


"Masih wangi, aku BAB Son."


"Kok bisa Jon?"


"Tadi nahan BAB pas mau ditembak, eh ke luar gara-gara kaget Son."


"Kalian bubar!" titah Pak Harry.


"Siap Bos."


Kedua anak buah Pak Harry pergi juga. Tinggal Pak Harry dan Luki yang masih saling menatap.


"Humaira!" panggil Pak Harry.


Humaira ke luar dari dalam rumah. Melihat lengan Luki berlumur darah.


"Oppa," ucap Humaira.


"Obati Arfan!" titah Pak Harry. Kemudian meninggalkan keduanya.


Humaira berjalan mendekat. Menghampiri Luki.


"Oppa kenapa tanganmu? Apa Papa menyuruhmu melakukannya?" tanya Humaira.


"Semua ini demi meminangmu Humaira," jawab Arfan.


Mata Humaira langsung berkaca-kaca. Melihat lengan Luki penuh darah. Lelaki itu sampai harus seperti itu demi meyakinkan ayahnya.


Humaira membawa Luki masuk ke dalam rumah. Luki berbaring di sofa yang yang berada di ruang keluarga di lantai bawah. Humaira memanggil Dokter pribadi Keluarga Harold. Tak lama Dokter tiba di kediaman Keluarga Harold, Dokter langsung masuk ke ruang keluarga di antar Humaira. Bergegas Dokter menangani Luki. Dokter mengeluarkan peluru yang bersarang di lengannya sebelum Luki kehabisan darah.


"Sudah selesai, tinggal nunggu pemulihannya," ujar Dokter yang selesai mengobati Luki.


"Alhamdulillah," ucap Luki dan Humaira.


"Saya akan resepkan obat untuk Nak Arfan, beberapa obat minum dan obat oles," ucap Dokter.


"Iya Dok," sahut Humaira. Luki hanya mengangguk dan memegang lengannya.


Dokter meresepkan obat untuk Luki kemudian berjalan ke luar dari ruang keluarga bersama Humaira.


Setelah mengantar Dokter, Humaira membawa segelas teh hangat untuk Luki. Dia menghampirinya. Duduk di sofa yang berada di samping tempat Luki berbaring. Meletakkan teh hangat di atas meja.


"Oppa masih sakit tangannya?" tanya Humaira.


"Sakit banget, pengennya ada yang merawat luar dalam," ujar Luki.


Humaira menunduk malu dengan ucapan Luki.


"Humaira, maukah kau menikah denganku?" tanya Luki.


"Kenapa Oppa ingin menikah denganku? Kita baru bertemu?" tanya Humaira.


"Karena aku ingin kau jadi penerang di hidupku yang gelap," jawab Luki.


Humaira terdiam. Membuat Luki merasa ragu apakah Humaira mau menerimanya atau justru menolaknya.


"Aku mau menikah denganmu Oppa," ujar Humaira.


"Alhamdulillah," jawab Luki begitu senang. Humaira mau menikah dengannya. Luki yakin Humaira adalah lentera penerang di hidupnya yang gelap.


***


Malam itu Kenan terpaksa lembur menggantikan Alex yang seharusnya lembur. Banyak pekerjaan yang menumpuk di meja yang harus di cek sebelum besok Alex menganalisisnya. Kenan teringat istrinya di rumah yang belum dikabari. Istri Kenan bernama Monika Sari. Kenan menyempatkan menelpon istrinya.


"Assalamu'alaikum," ucap Kenan.


"Ada apa sih Mas? ngantuk nih," sahut Monika.


"Jawab salamnya dong Yang," ujar Kenan.


"Ngantuk, ngerti gak sih, aku tuh capek seharian ngurusin anakmu," jawab Monika.


"Aku lembur Yang, gak tahu pulang jam berapa," ujar Kenan.


"Pulang malem sekalian Mas biar lemburannya banyak," jawab Monika. Dia selalu menyarankan Kenan untuk lembur setiap hari biar gajinya semakin besar. Terkadang Kenan lelah tapi demi istri dia rela untuk memenuhi kemauannya.


"Ya udah mau dipesenin apa? Pasti laper ya?" tanya Kenan.


"Pizza double box aja, tapi pakai uangmu," jawab Monika.


"Sayang, uangku cuma tinggal tiga ratus ribu buat seminggu, kan semua gajiku kamu yang pegang," sahut Kenan.


"Kalau gitu gak usah nawarin, cari sampingan kek Mas," ujar Monika.


"Ya udah aku gak mau berdebat, nanti ku belikan roti bakar aja ya?" tanya Kenan.


"Bosen, aku maunya pizza," jawab Monika.


"Sayang aku ...," sahut Kenan namun sambungan telpon itu terputus.


Kenan menghembuskan nafas gusarnya.


"Apa aku pinjem si Bos ya?" ujar Kenan. Mengecek dompetnya hanya tinggal tiga ratus ribu. Sedangkan harga pizza yang diinginkan istrinya paling tidak dua ratus ribu.


"Ya udah deh, tar dipikirin lagi. Yang penting Monika gak marah," kata Kenan. Dia ingin pesan pizza secara online tapi belum sempat. Akhirnya dia menyelesaikan pekerjaannya. Setelah selesai, Kenan memutuskan pulang. Dia turun ke lantai bawah. Mengendarai mobil operasional kantor menuju outlet pizza favorit istrinya. Kenan membeli pizza double box.


"Uangku tinggal seratus ribu juga kurang, cukup gak ya buat seminggu lagi?" batin Kenan melihat sisa kembalian dari harga pizza yang dibayarnya.


Kemudian dia ke luar dari outlet pizza itu. Masuk ke dalam mobilnya. Mengendarai mobilnya menuju rumahnya. Kenan senang sekali bisa membelikan istrinya pizza yang dimaunya. Dia turun dari mobil sambil memegang pizza di tangan kanannya. Tapi baru memasuki teras rumahnya, Kenan melihat sandal di depan teras yang bukan sandal miliknya atau anggota keluarganya.


"Kok ada sandal cowok di sini?" tanya Kenan. Dia heran melihat sandal itu.