
Malam itu Claudya berkumpul bersama teman-temannya sedang bersenda gurau. Mereka membicarakan para pangeran tampan yang hadir di acara itu. Mereka tak sekedar tampan tapi berkedudukan.
"Claudya ayolah pilih satu pangeran yang kau sukai."
"Iya, lupakan mantan, waktunya cari yang baru."
"Aku ingin sih, tapi malu nunggu mereka datang menghampiriku."
Di saat mereka mengobrol dari sisi seberang Tuan Matteo memperhatikan Claudya. Matanya hanya tertuju padanya.
"Tuan mau minuman atau makanan?" tanya Luki.
Tuan Matteo tak menjawab. Terus melihat ke arah Claudya. Melihat itu Luki penasaran apa yang dilihat Tuannya. Ternyata sesosok gadis cantik dengan dress berwarna peach yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.
"Gadis itu lagi geram rasanya aku," batin Luki. Dia tak suka melihat Tuan Matteo melihat Claudya.
Tiba-tiba sesook lelaki tampan menghampiri Claudya. Lelaki itu salah satu anak konglomerat yang datang ke pesta dansa itu.
"Hai cantik," sapa lelaki itu.
Claudya melihat ke arah lelaki yang mengajaknya bicara.
"Iya," sahut Claudya.
"Cogan Claudya, sikat."
"Iya, cocok sama kamu."
Claudya masih terdiam memikirkan nasihat dari teman-temannya.
"Dari semua wanita yang datang hanya kamu yang paling bersinar," ucap lelaki itu.
"Meleleh aku."
"Jiwa jombloku meronta."
Claudya hanya tersenyum memalingkan pandangannya karena malu. Dari sisi seberang Tuan Matteo tampak dingin. Dia tidak suka melihat ada lelaki yang mendekati Claudya. Sedangkan lelaki di depan Claudya terus merayu padanya. Tuan Matteo tak bisa tinggal diam. Dia berjalan ke depan. Menghampiri Claudya yang berada di seberang.
"Cantik, maukah kau berdansa denganku?" ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangannya dan membukanya sebagai sebuah ajakan untuk gadis cantik di depannya.
"Dia milikku, pergilah!" ujar Tuan Matteo yang datang.
Claudya dan yang lainnya terkejut. Mendengar suara lantang dari Tuan Matteo. Mereka melihat ke arahnya yang berdiri di belakang lelaki itu. Semua teman-teman Claudya menjauh. Begitupun dengan lelaki yang tadi ingin mengajak Claudya berdansa. Mereka tak berani berhadapan dengan lelaki berkuasa dan berkedudukan itu. Claudya sampai bingung kenapa teman-temannya pergi meninggalkannya. Dia baru sadar itu karena Tuan Matteo yang datang.
"Kau lelaki mesum pantas saja mereka takut," ketus Claudya.
"Mau berdansa denganku?" tanya Tuan Matteo.
"Gak, aku gak mau berdansa dengan lelaki mesum kaya kamu," jawab Claudya. Dia langsung berjalan melewati Tuan Matteo. Namun Tuan Matteo meraih lengan bajunya.
"Eh, lepas!" titah Claudya.
"Jangan mencari lelaki lain selain aku sayang," ujar Tuan Matteo.
"Sayang? Hei, siapa kau?" sahut Claudya.
"Aku calon suamimu," jawab Tuan Matteo.
"Apa? Kau gila?" tanya Claudya sambil berusaha melepas tangan Tuan Matteo yang mencengkram lengan bajunya.
"Aku memang sudah gila, tergila-gila pada gadis kecil sepertimu," ujar Tuan Matteo.
"Ampun, kenapa aku bertemu dengan lelaki mesum sepertimu, menyesal!" ketus Claudya.
Tuan Matteo hanya tersenyum. Sedangkan Claudya lelah tak bisa melepas tangannya dari Tuan Matteo.
"Kau hanya punya dua pilihan, berdansa denganku atau temani aku makan!" ujar Tuan Matteo.
"Siapa kau memerintah?" celetuk Claudya.
Tuan Matteo menarik lengan Claudya. Berjalan ke arah hidangan makanan.
"Lepas, orang akan berpikir kita pasangan," ucap Claudya.
"Kita memang pasangan," sahut Tuan Matteo.
"Hah, kau memaksa," sahut Claudya.
Tuan Matteo tersenyum. Membawa Claudya tempat hidangan makanan. Barulah dia melepas tangannya dari lengan baju Claudya.
"Kau mau makan apa sayang?" tanya Tuan Matteo.
Claudya cemberut. Mengerucutkan bibirnya. Percuma melawan. Lelaki itu memaksa.
Tuan Matteo mengambil sebuah kue berukuran kecil. Dia mencoba memakannya. Merasakan rasa kue itu.
"Enak," ucap Tuan Matteo.
"Kau makan tidak baca doa, berdiri, contoh yang tidak baik," ujar Claudya.
Tuan Matteo tersenyum. Kemudian mengambil kembali satu kue kecil. Menarik lengan baju Claudya. Mengajaknya duduk di kursi dekat hidangan makanan. Ketika mereka sudah terduduk. Tuan Matteo mengangkat tangannya ke udara sambil memegang kue kecil itu ke depan mulut Claudya.
"Berdoalah dulu, baru makan kuenya," ucap Tuan Matteo.
"Gak mau," sahut Claudya.
"Kalau tidak mau, aku akan menyuapimu dengan mulutku, biar aku merasakan bibir manis itu," ucap Tuan Matteo.
"Memaksa, menyebalkan," sahut Claudya.
Akhirnya Claudya berdoa dan terpaksa buka mulut. Tuan Matteo menyuapkan kue itu tanpa menyentuh bibir gadis cantik di depannya.
"Kunyah, rasanya enak, lembut," ujar Tuan Matteo.
Claudya langsung mengunyah kue kecil itu. Merasakan rasa kue itu. Benar saja rasanya manis, enak dan lembut.
Ketika sedang berdua dengan Tuan Matteo, Gavin menghampiri Claudya. Dia berdiri di depan mereka.
"Curut, tangkapan yang bagus, gak sia-sia tampil cantik," sindir Gavin.
"Kau bilang aku curut Kak?" Claudya emosi. Matanya melotot ke arah Gavin.
"Jangan bertanduk, malu tuh sama ayang," sindir Gavin.
"Dia bukan ayangku," bantah Claudya.
"Perkenalkan aku Matteo Renaldi, calon suami Claudya," ucap Tuan Matteo sambil mengulurkan tangannya pada Gavin.
"Saya Gavin Sebastian, calon kakak ipar anda," sahut Gavin mengulurkan tangannya menyalami Tuan Matteo.
Mereka berdua bersalaman sedangkan Claudya terlihat jeles.
"Adik saya ini cerewet, galak, jual mahal, sabar-sabar saja menghadapinya," sindir Gavin.
"Kak lo ya, bukannya baik-baikkin gue di depan cowok malah nurunin pangsa pasar gue," sanggah Claudya.
"Sorry-sorry," sahut Gavin.
"Tuan Matteo saya undur diri, titip adik saya yang kaya singa ini," ujar Gavin.
Tuan Matteo hanya mengangguk.
Gavin buru-buru kabur sebelum Claudya kembali menyemburnya.
"Kakaaak ...," teriak Claudya melihat Gavin kabur.
Tuan Matteo tersenyum. Membiarkan Claudya kesal pada Gavin yang kabur meninggalkan mereka.
Gavin buru-buru mengamankan dirinya sampai tak sengaja menubruk seseorang di depannya.
Bug ...
"Sorry-sorry," ucap Gavin.
"Iya gak papa," sahut Humaira yang berada di depan Gavin.
"Ini dia bidadariku, adem banget habis disembur Claudya kalau ngelihat Humaira," batin Gavin.
Humaira berjalan meninggalkan Gavin. Namun Gavin tak pantang menyerah, mengikuti Humaira berjalan di sampingnya.
"Humaira kau datang ke pesta dansa ini juga ya?" tanya Gavin.
"Aku pelayan di sini," jawab Humaira.
"Apa? Pelayan?" Gavin terkejut.
"Aku kerja dulu, sampai jumpa," ucap Humaira. Berjalan lebih dulu. Dia menuju ke belakang. Gavin tetap mengikutinya. Sampai ke dapur khusus di gedung itu. Humaira terlihat sedang mencuci piring. Gavin menghampirinya. Berdiri di sampingnya.
"Humaira, biar ku bantu ya," ucap Gavin.
"Bajumu nanti kotor," ujar Humaira.
"Gak papa," sahut Gavin.
Humaira hanya diam. Membiarkan Gavin membantunya cuci piring. Gavin yang tak pernah cuci piring akhirnya merasakan rasanya mencuci piring yang begitu banyak.
"Humaira orangtuamu kaya, kenapa kau masih bekerja seperti ini?" tanya Gavin.
"Aku ingin mandiri," jawab Humaira.
Gavin terdiam. Dia begitu kagum pada Humaira yang mau bekerja keras meskipun dia seorang putri raja yang tinggal duduk manis di istananya.
"Makin cinta deh, gak salah pilih aku, pepet terus," batin Gavin.
"Sabunnya kebanyakan, lihat busanya sampai tumpah ke bawah," ujar Humaira.
"Eh iya," sahut Gavin melihat busa-busa itu jatuh ke lantai.
"Nanti licin, biar ku lap dulu," ujar Humaira.
Gavin mengangguk.
Humaira mengambil lap kain yang ada di dapur. Dengan menggunakan kakinya dia mengelap busa-busa itu. Hanya saja kakinya terpeleset ketika mengelap busa-busa itu. Untung Gavin langsung menangkap tubuhnya. Jantung keduanya berdebar. Humaira langsung melepas tubuhnya dari tangan Gavin. Dia menjauh dan menundukkan kepalanya.
"Maaf, terimakasih," ucap Humaira.
"Iya, aku senang kok membantumu," sahut Gavin.
"Mencari kesempatan dalam kesempitan, untung banyak Om Gavin," celetuk Dodo yang berdiri di belakang mereka sambil membawa makanan di tangan kanan dan kirinya. Bajunya sudah belepotan mayonase, krim, saus dan bekas kuah sayuran.
Gavin dan Humaira melihat ke arah Dodo.
"Gendut siapa yang menyuruhmu muncul?" tanya Gavin.
"Aku artis utama Om, muncul di waktu yang tepat," sahut Dodo.
Gavin langsung menghampiri Dodo. Merangkulnya. Membelakangi Humaira.
"Aku sedang pede kate, bisa tidak kau makan saja di luar," pinta Gavin.
"Om tidak baik berduaan, yang ketiga setan," ucap Dodo.
"Kaulah setannya gendut," sahut Gavin.
"Om kata kakek ayo pulang, lanjutkan besok saja kencan romantisnya," ucap Dodo.
"Aku masih ingin di sini," jawab Gavin.
"Jangan Om, tidak baik berduaan dengan yang bukan mahromnya, nikahin aja biar halal," ujar Dodo.
Gavin langsung mengelus kepala botak Dodo.
"Pinter juga pemikiranmu Do, gampang banget nikahinnya, tahu sendiri bapaknya galak," ujar Gavin.
"Itu karena nyali Om ciut, kalau cinta ya diperjuangkan, jangan cuma manis di mulut," ucap Dodo.
"Gendut kau mendadak bijaksana ya?" ujar Gavin.
"Om kan labil, jadi Dodo harus bisa jadi penasehatnya," ucap Dodo.
"Gendut, ucapanmu itu bikin naik darah ya," ujar Gavin.
Dodo cuek asyik memandangi makanan di tangannya.
"Aku pamit dulu sama Humaira ya," ujar Gavin.
"Aku tunggu di luar Om," ujar Dodo.
"Iya," sahut Gavin.
Segera Dodo ke luar. Sedangkan Gavin kembali menghampiri Humaira.
"Humaira aku pulang dulu," ucap Gavin.
Humaira mengangguk.
Gavin melepas bunga mawar merah yang ada di jas miliknya.
"Ini untukmu," ucap Gavin sambil memberikan bunga mawar merah itu pada Humaira.
"Untukku?" tanya Humaira yang menunduk.
"Iya, orang bilang bunga mawar merah tanda cinta," ujar Gavin.
Humaira mengambil bunga mawar merah itu.
"Sampai jumpa di pelaminan Humaira," ujar Gavin.
Humaira hanya tersenyum dibalik cadarnya sambil menunduk.
"Dah," ucap Gavin sambil melambai dan meninggalkan Humaira.