
Setelah Sophia kembali ke kantornya, Alex mulai menghubungi kenalannya. Meminta masukan dan pendapat dari mereka. Termasuk menghubungi para pemegang saham untuk mendiskusikan masalah ini. Karena mereka sudah mulai resah dengan kondisi saham perusahaan yang anjlok. Tak lama Kenan masuk ke dalam ruangan Alex.
"Assalamu'alaikum," sapa Kenan.
"Wa'alaikumsallam," sahut Alex.
"Bos, Yuda tidak ada di rumahnya. Tetangganya juga gak tahu dia pergi ke mana," ucap Kenan.
"Kok bisa, bukannya kemarin Yuda masih bicara denganmu?" tanya Alex.
"Iya, kemarin juga saya minta dia datang ke kantor pagi ini," sahut Kenan. Dia tahu persis kemarin Yuda sempat mengobrol dengan Yuda soal masalah yang dihadapi perusahaan. Namun Kenan tidak tahu kalau ternyata Yuda justru tidak datang ke kantor sesuai janjinya kemarin.
"Kau sudah tanya keluarganya atau sanak saudara yang lain?" tanya Alex.
"Dia yatim piatu Bos, orangtuanya sudah meninggal satu tahun lalu. Dia tinggal sendirian di Jakarta," jawab Kenan.
"Teman atau sahabatnya mungkin tahu info tentangnya," ucap Alex.
"Dia introvet Bos, tidak punya teman atau sahabat, di proyek saja dia lebih sering diam," ujar Kenan.
Alex terdiam. Memikirkan sesuatu. Yuda adalah saksi kunci dari permasalahannya. Alex harus bisa menemukannya.
"Bos rumahnya juga terlihat kotor dan berantakan dari luar, mungkin sudah lama tak ditempati," ungkap Kenan.
"Apa dia punya pacar atau mungkin seorang wanita yang dekat dengannya?" tanya Alex.
"Kalau itu saya tidak tahu Bos," jawab Kenan.
"Cari tahu itu, kalau sudah ada infonya, kabari aku," titah Alex.
"Baik Bos," jawab Kenan.
Alex memperhatikan kepala Kenan. Dia memakai koyok di kedua pelipisnya. Dan di lehernya juga.
"Kenapa kau pakai koyok?" tanya Alex.
"Saya pusing Bos dengan permasalaan ini, banyak info yang harus saya ingat, belum lagi pesenan istri saya tar pulang kerja," jawab Kenan.
"Terus untuk apa koyo di leher juga?" tanya Alex.
"Ini pelatihan Bos, kalau perusahaan gulung tikar, tenggorokan harus kuat menahan lapar dan haus di saat kantong mengering" ujar Kenan.
"Ha ha ha." Alex tertawa lepas. Tak disangka tingkah Kenan membuatnya tertawa. Untung disaat penat ada sekretaris aneh yang satu ini. Minimal ada hiburan dikala gabut.
"Bos mulai gila ya gara-gara bangkrut?" tanya Kenan.
"Kau masih ingin kerja Kenan?" tanya Alex. Seperti biasa alarm yang satu ini digunakan untuk menindas Kenan ke level terendah.
"Ampun Bos masih," ucap Kenan.
"Mati aku, gunung berapi aktif," batin Kenan. Bisa kena lahar panas kalau masih dekem di tempat. Mending amankan diri selagi suasana hati Bosnya lagi buruk.
"Ke luar!" pekik Alex.
"Siap!" sahut Kenan. Kemudian dia ke luar. Gak sanggup menghadapi aungan singa lapar. Lebih baik ngadem di ruangan meskipun otak konslet gara-gara mabok info.
***
Sophia kembali ke kantor. Dia duduk di kursi kerjanya. Ikut memikirkan masalah yang dihadapi suaminya. Meskipun di depan Alex berusaha untuk tidak ikut campur sesuai permintaannya. Namun sebagai istri, Sophia ingin sekali membantunya. Sophia terdiam. Pikirannya terbang bebas ke sana ke mari. Mencari cara untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi Alex. Tak terasa darah ke luar dari lubang hidungnya. Sophia mengelap darah itu dengan tangannya.
"Ya Allah apa waktuku semakin dekat, tapi beri waktu agar hamba pergi di saat suami hamba mampu ditinggalkan," batin Sophia. Air mata menetes di pipinya. Rasa sakit mulai terasa. Sophia harus menahan rasa sakit pada tubuhnya.
Hingga dia berdiri berjalan menuju sofa namun terjatuh untung ada Aiko yang baru masuk langsung menghampiri Sophia dan menangkap lengannya.
"Sophia, kau terlalu lelah sepertinya," ucap Aiko.
"Aku ingin berbaring di sofa, bisakah bantu aku?" tanya Sophia.
"Iya, ayo," jawab Aiko. Dia membantu Sophia berbaring di sofa. Memijat kaki Sophia sambil duduk di samping kakinya.
"Sophia, kondisimu semakin menurun, aku ...," ucap Aiko tak berani meruskan kata-katanya.
"Aku baik-baik saja, hanya butuh istirahat sebentar," sahut Sophia.
Aiko sangat mengkhawatirkan kondisi Sophia. Akhir-akhir ini kondisinya menurun. Namun Sophia tak pernah mengeluh. Dia selalu terlihat ceria dan bersemangat.
"Sophia, apa kau memikirkan masalah yang dihadapi Alex?" tanya Aiko.
"Iya, meskipun dia melarangku ikut membantunya, tapi aku tetap ingin membantunya meskipun tanpa sepengetahuannya," jawab Sophia.
Sophia mengangguk.
"Perusahaan Alex sedang dalam masalah besar, jika tak segera ditangani, perusahaannya terancam bangkrut," ujar Sophia.
"Siapa yang tega melakukan semua ini, seperti sebuah konspirasi," kata Aiko.
"Pasti bukan orang sembarangan yang terlibat," tambah Sophia.
"Mungkinkah saingan bisnis Alex?" tanya Aiko.
Sophia terdiam. Memikirkan kemungkinan itu.
"Aku tidak tahu, tapi asisten kontraktor yang menangani proyek pembangunannya belum tahu di mana keberadaannya," ujar Sophia.
"Jangan-jangan dia pelakunya, terus kabur," sahut Aiko.
Sophia terdiam kembali memikirkan apa yang dikatakan Aiko.
"Belum ada bukti kalau dia pelakunya," sanggah Sophia.
"Shopia, dia itu hanya asisten kontraktor, apa motifnya jika dia pelakunya?" tanya Aiko. Dia mencurigai ada orang lain yang terlibat selain asisten kontraktor itu.
Sophia terdiam. Apa yang dikatakan Aiko masuk akal. Untuk seorang asisten kontraktor melakukan itu pasti memiliki tujuan. Dan untuk apa dia melakukan hal yang berisiko seperti itu.
"Apa mungkin dia orang suruhan?" tanya Aiko.
"Jika dia orang suruhan? Siapa orang yang sedang bermain di belakang layar?" batin Sophia.
"Sophia, apa mungkin ada orang yang ingin menjatuhkan Alex?" tanya Aiko.
Sophia terdiam. Mengingat kembali ingatan beberapa hari yang lalu. Dia ingat Pak Ferdi menelpon seseorang. Dia bilang ingin memberi pelajaran untuk Alex.
"Apa? Tidak aku tidak bisa berprasangka tanpa bukti, jatuhnya fitnah," batin Sophia.
"Mungkin saja, tapi kita harus mencari bukti dulu," jawab Sophia.
"Memang siapa sih asisten kontraktor itu?" tanya Aiko.
"Yuda Prayoga," jawab Sophia.
"Yuda Prayoga?" Aiko terkejut saat nama itu disebut.
"Iya," sahut Sophia.
Aiko terdiam. Dia mengingat lelaki yang bernama Yuda Prayoga. Seperti pernah mendengar nama itu.
"Ada fotonya gak?" tanya Aiko.
"Gak ada, tapi mungkin Alex punya," jawab Sophia.
"Kalau begitu coba minta Alex kirimin fotonya," usul Aiko.
Sophia mengangguk. Mengeluarkan handphone miliknya. Dia mengirim pesan pada Alex. Tak lama langsung dibalas. Sophia membuka pesan. Melihat foto Yuda dan memperlihatkannya pada Aiko.
"Tuhkan bener, aku pernah liat dia," ucap Aiko.
"Di mana?" tanya Sophia.
"Apartemen Galaxsia, waktu main ke apartemen Nancy temen SMA-ku," ucap Aiko.
"Memangnya apa hubungan Yuda dan apartemen Nancy?" tanya Sophia penasaran. Dia ingin tahu di mana keberadaan Yuda untuk membantu Alex menyelesaikan masalahnya.
"Yuda itu pacarnya Nancy," jawab Aiko.
"Berarti Nancy kenal dekat dengan Yuda?" tanya Sophia.
Aiko mengangguk. Dia yakin Nancy kenal dekat dengan Yuda.
"Kalau begitu antar aku temui Nancy, siapa tahu dia punya informasi tentang Yuda," pinta Sophia.
"Sekarang?" tanya Aiko.
"Iya," jawab Sophia. Lebih cepat lebih baik. Agar masalah yang dihadapi Alex cepat selesai.
"Oke, tapi aku telpon Nancy dulu, hari ini masuk sip berapa dia," sahut Aiko.
Sophia mengangguk. Setidaknya sudah ada titik terang. Mungkin saja dengan begitu keberadaan Yuda bisa ditemukan.