Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Tanggapan Keluarga



"Menikah dengan siapa Kek?" tanya Alex. Penasaran. Nenek-nenek siapa yang akan dinikahi kakeknya.


"Iya Kek, penasaran. Padahal aku juga mau nikah nih Kek," tambah Claudya.


"Bocah, gue dulu nikah. Lo bungsu belakangan," terang Gavin.


"Enak aja, Kak Gavin masih belum jelas, aku udah jelas, pokoknya duluan," kekeh Claudya.


"Aku dukung semuanya, tiga kali nikah tiga kali makan enak, perut kenyang hatipun senang," ucap Dodo sambil memegang perutnya yang udah buncit.


"Betul, Papa juga dukung semuanya. Kalau bingung kita bikin arisan siapa yang nikah duluan," ujar Pak Ferdi. Memberi usul karena di rumahnya mau pada nikah.


"Kalau aku asal jelas bebet, bobot, dan bibitnya setuju aja," kata Ibu Marisa.


"Memangnya siapa Kek?" tanya Alex ulang. Dia ingin tahu siapa yang membuat kakeknya akhir-akhir ini sering tersenyum dan telponan.


"Bukan cabe-cabeankan Kek?" tanya Gavin.


"Kak Gavin kejauhan, itu mah mangsanya Kak Gavin kali," ujar Claudya.


"Udah jangan berdebat dulu, biarin kakek ngomong dulu," ucap Alex.


Gavin dan Claudya mengangguk.


"Kakek ingin menikah dengan Carroline Harold," ujar Kakek David.


"Apa Carroline Harold?" Ibu Marisa terkejut. Dia langsung berdiri. Matanya terbelalak. Tak percaya nama wanita itu disebut.


"Ibu duduk! Kakek sedang bicara," ucap Claudya.


Ibu Marisa membuang nafas gusarnya. Mengatur nafasnya. Dia hampir terkena serangan jantung mendengar Nenek Carroline wanita yang ingin dinikahi Kakek David.


"Bu, duduklah! Tidak sopan berdiri saat kakek bicara," ujar Alex.


Ibu Marisa kembali duduk. Meskipun emosinya masih belum mereda sepenuhnya. Bagaimana tidak, dia tidak bisa menerima wanita tua itu jadi anggota keluarganya. Berarti semakin sulit untuknya bisa bersama Pak Harry.


"Carroline Harold, itu bukannya neneknya Humaira?" batin Gavin. Dia terdiam. Memikirkan masalah itu. Jika kakeknya menikah dengan Nenek Carroline maka kesempatan untuk bersama Humaira akan semakin sulit.


"Kakek yakin ingin menikah dengan Nenek Carroline?" tanya Alex.


Sophia hanya diam mendengarkan sambil mengelus perutnya.


"Iya, ada kesalahan di masa lalu yang membuat aku harus menebus semua kesalahanku padanya," ujar Kakek David.


"Kesalahan? Kesalahan apa Pa?" tanya Pak Ferdi.


Kakek David menceritakan apa yang sudah terjadi di masa lalu bersama Nenek Carroline. Matanya sampai berkaca-kaca saat menceritakan semuanya. Ekspresi di wajahnya terlihat gurat penyesalan.


"Sedih banget Kek, kasihan Nenek Carroline, Claudya setuju," ujar Claudya.


"Aku setuju Pa, menikahlah!" Pak Ferdi mendukung. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan ayahnya.


"Aku juga setuju, kakek memang harus menebus semua kesalahan di masa lalu dan merubahnya jadi sebuah kebahagian," ujar Alex.


"Iya Mas, aku sependapat," tambah Sophia.


"Dodo setuju Kek, nanti Dodo undang temen-temen TK biar ikut ke acara nikahan kakek," ujar Dodo.


"Yaelah Dut, bocah TK paling ngamplop gopean tapi ribut nangisin es krim kalau abis," ujar Claudya.


"Nanti Dodo bilang ngamplop seribu aja lebih gedekan Tante," sahut Dodo.


"Buat bayar tukang parkir aja masih kurang, apalagi buat ngamplop," sanggah Claudya.


"Berarti Dodo bilang bawa celengan ayam aja kali Tante, biar isinya banyak," jawab Dodo.


Alex, Sophia, Claudya, Pak Ferdi dan Kakek David tertawa kecil mendengar celotehan Dodo. Hanya Gavin dan Ibu Marisa yang terdiam.


"Aku naik dulu Kek, semuanya," ucap Gavin. Ekspresi di wajahnya terlihat murung. Dia senang kakeknya akan menikah. Tapi itu berarti dia harus mengubur dalam-dalam cintanya untuk Humaira.


"Loh Kak Gavinkan belum bilang setuju atau tidak?" tanya Claudya.


"Aku setuju," ujar Gavin datar. Dia berdiri. Berjalan meninggalkan ruang makan.


"Kak Gavin kenapa sih?" tanya Claudya.


"Mungkin capek, diakan baru kerja di tempat baru," jawab Pak Ferdi.


"Iya Pa," sahut Claudya.


Alex dan Sophia merasa ada sesuatu yang tak biasa dari Gavin. Dia yang tadi ceria berubah jadi murung. Pasti ada sesuatu yang mengganjal.


"Pa, Nenek Carroline itu bukan wanita yang baik, sebaiknya Papa pikirkan lagi, masih banyak wanita lain yang lebih baik," ujar Ibu Marisa.


"Marisa, kau tidak perlu berkata seperti itu. Papa tidak mungkin memilih orang yang salah. Lagi pula Nenek Carroline itu mantan istri Papa, jadi wajar kalau mereka rujuk lagi," jawab Pak Ferdi.


"Iya Ma, memang apa salahnya kakek menikah dengan Nenek Carroline? Dulu terpaksa berpisah biarlah sekarang bersama," tambah Claudya.


"Tapi ...," ucap Ibu Marisa.


"Bu, jangan mempersulit keadaan ini, kalau ibu tidak setuju silahkan! Tapi jangan melarang kakek menikahi Nenek Carroline," ujar Alex.


"Nenek anom kalau gak setuju tinggal demo di jalanan, suarakan pendapat nenek biar di dengar pemerintah," sahut Dodo.


Alex tertawa dengan saran Dodo. Begitupun yang lainnya.


"Hih, bikin tambah pusing, aku ke atas dulu," ujar Ibu Marisa.


"Kau mau ku pijat seperti semalam?" tanya Pak Ferdi.


"Terserah," sahut Ibu Marisa. Kemudian berjalan meninggalkan ruangan itu.


"Pa, aku naik dulu, mau nenangin Marisa," ucap Pak Ferdi.


"Iya," jawab Kakek David.


"Cie Ayah romantis nih sama Ibu," ujar Claudya menggoda Pak Ferdi.


"Tahu sendiri ibumu harus dibaikkin, Ayah ke atas dulu," ucap Pak Ferdi.


"Iya Pa," sahut Claudya.


"Lex, Sophia, Ayah ke atas dulu," kata Pak Ferdi.


Alex dan Sophia mengangguk.


Pak Ferdi pergi meninggalkan ruang makan. Tak lama Kakek David juga meninggalkan ruangan itu. Tinggal Alex, Sophia dan Claudya di ruang makan.


Alex turun dari kursi. Duduk berlutut di samping Sophia. Menciumi perut Sophia.


"Dede Papa kangen, kamu udah kenyang ya," ucap Alex.


Sophia tersenyum melihat tingkah suaminya yang selalu menciumi perutnya.


"Bikin ngiri aja deh Kak Alex," ujar Claudya.


"Makanya nikah dong, bisa romantisan gini," sahut Alex.


"Iya, aku juga pengen nikah," gumam Claudya.


"Bukannya Tuan Matteo mau melamar?" tanya Sophia.


"Iya, nunggu ngenalin dia sama keluarga," jawab Claudya.


"Kau serius mau nikah dengan Tuan Matteo, usianya jauh di atasmu?" tanya Alex. Dia harus memastikan adiknya benar-benar mencintai Tuan Matteo.


"Memang kenapa? Dia romantis dan maco, bikin greget tahu," sahut Claudya.


"Yang lagi jatuh cinta, semua indah, kita berasa ngontrak sayang," ucap Alex.


Sophia tersenyum. Dia mengelus rambut Alex.


"Mas kaya belum pernah jatuh cinta," sahut Sophia.


"Iya, tapi jatuh cintanya sama kamu aja," ujar Alex.


"Eneg aku dengernya, katanya casanova, bucin gini," sahut Claudya.


"Suka-suka gue, ayo sayang kita lanjut di kamar, udah halal ini," ucap Alex.


"Tengil," sahut Claudya.


Alex membopong Sophia.


"Mas malu sama Claudya," ucap Sophia.


"Biarin, biar dia cepetan nikah, gak bayangin doang," sahut Alex.


"Nyebelin deh Kak Alex," sahut Claudya.


Alex tersenyum. Puas meledek adiknya. Kemudian berjalan meninggalkan ruang makan.


Di tempat yang berbeda, Luki sedang berdiri di balkon lantai atas. Meminum minuman keras. Dia meminum beberapa teguk tapi diambil Tuan Matteo.


"Kau tidak bisa mabuk, jangan minum ini lagi," ucap Tuan Matteo sambil memegang botol minuman keras itu


"Aku hanya ingin menenangkan diri," sahut Luki.


"Bukan dengan cara ini," sahut Tuan Matteo.


Luki menengadahkan wajahnya ke atas.


"Orang yang sudah membuat perusahaan Papaku bangkrut harus membayar semuanya," ucap Luki.


"Kau masih dendam karena itu?" tanya Tuan Matteo. Berdiri di samping Luki.


"Karena orang itu, ayahku sampai berjudi dan mabuk-mabukkan, ibuku terus mencambukku setiap hari, karena dia stress dengan hutang yang menumpuk," sahut Luki.


"Apa yang akan kau lakukan untuk membalasnya?" tanya Tuan Matteo.