
Akhirnya Claudya pulang ke rumah. Dia membawa jagung bakarnya menuju ke lantai atas. Claudya berdiri di depan kamar Alex, lalu mengetuknya.
Tok ... tok ... tok ...
Pintu terbuka tak lama dari Claudya mengetuknya.
"Pesenan jagung bakar gue ada?" tanya Alex.
"Ada nih," jawab Claudya sambil mengacungkan plastik berisi jagung bakar itu pada Alex.
"Thanks Claudya manis," ucap Alex sambil mengambil plastik di tangan Claudya.
Alex membuka plastik. Memastikan pesanannya benar.
"Lah kok satu, punya gue mana? jagung bakar mentega?" tanya Alex.
"Itu aja udah untung ada Kak, mana gue dikira jablay lagi, ih nyebelin deh," keluh Claudya.
Alex tertawa. Dia tak kuasa menahan tawanya mendengar Claudya dikira jablay.
"Berapa sekali mangkal Neng, Abang butuh kehangatan," sindir Alex.
"Kakak lo ya," ucap Claudya sambil menepuk lengan Alex perlahan.
"Sabar dong Neng jangan kasar, Abang mau yang penuh kelembutan," ledek Alex.
"Kakak nyebelin, bukannya membelaku, malah ngedekin, aku kaya gini gara-gara kakak menyuruhku beli jagung," ucap Claudya kesal.
"Oke-oke maaf," lirih Alex.
Claudya berhenti. Menurunkan emosinya. Membuang nafas gusarnya.
"Nyebelin deh Kak, gak ngeliat apa aku pakai hijab, masa dikira jablay," keluh Claudya.
"Iya sih pakai hijab, tapi bajumu masih ketat dan seksi, wajarlah kalau dikira jablay bertopeng ninja," sindir Alex.
Claudya melihat ke arah bajunya. Dia memperhatikan bajunya yang ketat dan nyeplak.
"Iya sih, apa karena bajuku ketat ya?" keluh Claudya.
"Makanya pakailah baju yang sopan, kaya Sophiaku, di luar gombrang di dalam kamar aduhai," ucap Alex sambil membayangkan seksinya Sophia saat di dalam kamar.
"Otak kakak mesum juga, sama kaya lelaki tadi, iiih ...," ucap Claudya.
"Kakak gak mesum, wajarlah sama istri sendiri, makanya jangan jones, kesepian tiap malam," sindir Alex.
Claudya mengerucutkan bibirnya. Kesal pada kakaknya.
"Udah lupakan perkataan lelaki tadi, mana tahu jodoh," ucap Alex.
"Najis, aku gak mau berjodoh sama lelaki mesum," ujar Claudya.
Alex tersenyum melihat adik kecilnya kesal.
"Neng bayarannya berapa semalam, Abang butuh belaian," ledek Alex.
"Kakak nyebelin, awas ya besok nyuruh-nyuruh Claudya lagi," ucap Claudya kemudian berjalan meninggalkan Alex.
Alex tersenyum melihat kepergiaan adik kecilnya. Dia menutup pintu kembali. Menghampiri Sophia yang duduk di karpet sambil nonton drakor.
"Sayang jagung bakar rasa coklat," ucap Alex sambil menunjukkan plastik berisi jagung bakar pada Sophia.
"Cepetan Mas, Sophia pengen banget," ujar Sophia.
Alex duduk di samping Sophia. Mengeluarkan jagung bakar itu. Menyuapkan ke mulut Sophia. Segera Sophia membaca basmalah, lalu menggigit jagung bakar itu. Mengunyahnya perlahan sambil menikmati rasanya.
"Enak gak sayang?" tanya Alex.
Sophia mengangguk.
Alex mengelus perut Sophia dengan tangan kirinya.
"Dede sudah ya jagung bakarnya, lihat Mama lagi makan, nanti Dede makan juga," ucap Alex.
Sophia tersenyum melihat Alex berbicara dengan janin di rahimnya.
"Sayang habisin, biar anak kita kenyang juga," ucap Alex.
Sophia mengangguk. Dia kembali memakan jagung itu.
"Mas mau?" tanya Sophia mengacungkan jagung bakar di tangannya.
Alex mendekati Sophia. Mendekati bibirnya yang dipenuhi coklat lalu menciumnya sesaat.
"Aku mau ini sayang," ucap Alex usai mencium Sophia.
"Mas," sahut Sophia.
"Semenjak hamil makin cantik dan seksi sayang," puji Alex.
Sophia tersenyum malu.
"Ayo abisin, tar duduk lagi di pangkuanku," ucap Alex.
Sophia mengangguk. Kembali memakan jagung bakar itu sampai habis. Alex mengambilkannya minum.
"Makasih Mas," ucap Sophia sambil memegang gelas di tangannya.
"Iya sayang," sahut Alex.
Sophia meminum air yang diberikan Alex sampai habis.
"Kemarilah! duduk di pangkuanku," pinta Alex.
Sophia mengangguk. Dia duduk di pangkuan Alex. Suaminya itu memeluknya dari belakang. Satu tangannya mengelus perut datarnya.
"Perutmu nanti membesar ya sayang?" tanya Alex.
"Iya Mas, mulai usia 4 bulan ke atas perutku akan mulai kelihatan besar," sahut Sophia.
"Kok tahu?" tanya Sophia.
"Kenan yang memberi tahuku, aku baru bilang kau hamil, dia sudah menceramahiku sampai melahirkan segala," jawab Alex.
Sophia tersenyum. Menyandarkan kepalanya di bahu Alex.
"Kau harus tetap sehat, biar bayi kita juga sehat," ujar Alex.
Sophia termenung. Di pikirannya terlintas bayangan penyakitnya. Namun Sophia sudah pasrah pada Allah SWT. Baginya yang penting keselamatan bayi yang di kandungnya jika harus memilih di antara dia dan bayinya.
Alex mencium pipi Sophia. Menghirup aroma tubuh istrinya yang bak aroma terapi untuknya.
Menikmati kehangatan berdua.
"Pengen, tapi kamu lagi hamil sayang," ucap Alex.
Sophia bangun menatap Alex. Memegang pipinya.
"Boleh, tapi jangan sering dan harus pelan, kandunganku masih lemah sampai trisemester pertama selesai," ujar Sophia.
"Kalau gitu boleh ya, sekali aja," pinta Alex merengek.
Sophia mengangguk.
Alex langsung membopong Sophia. Membawanya ke ranjang. Membaringkan Sophia di ranjang king size itu. Mereka berdua bergulat di atas ranjang. Meskipun demikian Alex menyentuh Sophia dengan penuh kelembutan. Dia tak ingin menggangguk kehamilannya. Dia juga tak memaksakan diri memenuhi keinginannya. Calon buah hatinya jauh lebih penting dari sekedar nafsu.
Alex menyudahi keinginannya sekali putaran. Dia berbaring memeluk Sophia dalam balutan selimut tebal. Dia mencium kening istrinya. Mendekapnya dalam pelukannya yang hangat.
"Sayang kalau kau masih mual, sebaiknya cuti lagi," ucap Alex.
"Sepertinya tidak Mas, besok panen, aku harus memantau sesekali, tak enak dengan orang lapangan," ucap Sophia.
"Berarti besok kau pergi ke perkebunan?" tanya Alex.
"Iya, ada Aiko yang menemaniku," jawab Sophia.
"Kenapa tidak Sekretaris Wang saja yang ke perkebunan?" tanya Alex.
"Sekretaris Wang di luar kota Mas, mengurus peresmian perusahaan cabang, pembangunannya baru selesai," jawab Sophia.
"Aku ingin sekali menemanimu, tapi besok aku dan Tuan Matteo menandatangani kontrak kerjasama," ujar Alex.
"Gak papa, aku bisa ke perkebunan bersama Aiko kok Mas, lagi pula kontrak kerjasamamu penting, nasib ribuan karyawan dipertaruhkan," sahut Sophia.
Alex kembali mencium kening istrinya. Sophia memang paling mengerti dirinya. Alex beruntung memiliki Sophia.
"Makasih ya sayang, nanti kalau urusanku selesai aku menyusul," ucap Alex.
Sophia mengangguk.
Akhirnya mereka bisa tidur dengan lelap. Alex memeluk Sophia tak ingin jauh dari istri tercintanya.
***
Tuan Matteo kembali ke kediamannya. Dia berjalan menuju lantai atas. Tak sengaja bertemu sekretarisnya. Dia bernama Luki Andara. Tinggal bersama Tuan Matteo di rumah itu dari pertama kali dia bekerja padanya. Luki sangat mengerti Tuan Matteo. Namun terkesan posesif dan terlalu perhatian.
"Tuan anda pulang malam lagi?" tanya Luki.
"Iya, maaf, aku bosan di rumah," jawab Tuan Matteo.
Luki menghampiri Tuan Matteo. Melepas jaket di tubuhnya.
"Tidak baik pulang malam untuk kesehatan Tuan," ucap Luki.
"Lain kali aku akan menguranginya," ujar Tuan Matteo.
"Mau dibuatkan minuman hangat atau dipijat?" tanya Luki.
Tuan Matteo terdiam. Memikirkan tawaran Luki.
"Teh jahe boleh," ucap Tuan Matteo.
"Tak ingin dipijat? Ada gaya baru Tuan, aku sudah mempelajarinya," ujar Luki.
"Tidak, cukup teh jahe," jawab Tuan Matteo.
Luki memperhatikan muka Tuan Matteo. Wajahnya memerah di pipi sebelah kirinya. Luki langsung memegang pipi Tuan Matteo.
"Tuan ini kenapa?" tanya Luki.
"Tidak apa-apa," jawab Tuan Matteo.
"Pasti sakit, biar saya kompres pakai air hangat ya," ucap Luki.
"Tidak perlu, nanti juga sembuh," ujar Tuan Matteo.
"Besok akan membiru kalau tidak dikompres, pasti itu terkena tamparankan?" tanya Luki.
"Gigitan semut kecil," jawab Tuan Matteo.
Luki kembali memegang pipi Tuan Matteo.
"Masa sih cuma gigitan semut kecil, semutnya wanita cantik ya?" tanya Luki.
Tuan Matteo tersenyum. Teringat gadis muda yang kesal padanya karena dianggap jablay.
"Tuan kok senyum-senyum sendiri?" tanya Luki.
"Gak kok, aku lelah, nanti bawa teh jahenya ke kamar ya," jawab Tuan Matteo.
Luki mengangguk.
Tuan Matteo berjalan meninggalkan Luki. Dia masuk ke kamarnya.
"Wanita mana yang mendekati Tuan Matteo?" Luki terlihat dingin. Mengingat ada wanita yang mendekati Tuan Matteo.