Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Cinta Penuh Kepalsuan



"Ee ...." Hanan ragu mengatakannya pada Deva. Dia takut Deva akan meninggalkannya.


"Hanan katakan!" titah Deva.


"Aku-aku," ucap Hanan.


"Benarkan, kau koruptor?" tanya Deva.


Hanan kembali terdiam. Ucapan Nada menusuknya. Dia jadi teringat kesalahannya.


"Hanan, kau menyalahgunakan dana untuk desa terpencil?" tanya Deva sekali lagi. Dia ingin memastikan.


Hanan masih diam. Dia tak mampu menolak.


"Hanan! Jawab aku!" bentak Deva.


"Iya aku melakukannya!" tegas Hanan. Dia mengatakannya dengan kencang. Terbawa emosi.


"Tidak, kau bohongkan Hanan?" tanya Deva. Dia menggeleng. Seolah semua hanya lelucon. Lelaki yang dikenal olehnya baik itu mana mungkin seorang koruptor.


"Aku tidak bohong, aku menang koruptor," jawab Hanan.


"Heh, tak kusangka kau sangat busuk," ujar Deva..


"Busuk? Lalu kau apa?" bentak Hanan. Dia emosi dibilang busuk oleh Deva. Yang tadinya dipikirannya akan manis dan manis ternyata kenyataannya tak seindah negeri dongeng.


"Setidaknya aku bukan koruptor," jawab Deva dengan keras.


"Kau bukan koruptor tapi pelakor!" pekik Hanan.


"Kau mengatai aku pelakor?" Deva emosi. Tak rela disebut pelakor.


"Iya, memang apalagi sebutannya untuk wanita yang merebut suami orang?" tanya Hanan sambil menyetir.


"Aku tak merebut suami orang, tapi kaulah yang tergoda dan bodoh," jawab Deva.


"Heh, seharusnya aku tahu kau tak tulus mencintaiku," ujar Hanan. Dia menyesal. Mengira cinta Deva tulus dan akan hidup bahagia bersamanya. Nyatanya Deva menyalahkannya atas semua yang terjadi.


"Tulus, mana ada ketulusan dalam perselingkuhan?" ujar Deva. Tak ada kamus tulus dalam perselingkuhan yang diawali pengkhianatan dan kebohongan. Yang ada hanya nafsu dan keserakahan.


"Ternyata Nada lebih baik darimu," kata Hanan. Menjilat ludahnya kembali. Dia tahu mantan istrinya seribu persen lebih baik dari Deva.


"Iya mungkin dia lebih baik dariku, tapi sayangnya kau membuangnya, kasihan," ucap Deva.


"Alex benar kau sampah!" bentak Hanan.


"Menyesal? Terlambat Tuan! kau bahkan sudah terjun ke dalam neraka," ujar Deva.


"Astagfirullah," ucap Hanan. Dari semua peristiwa yang sudah terjadi begitu lama, dia baru mengingat Allah. Dari kemarin lupa kalau Allah ada dan terus mengawasinya.


"Sok suci, kau brengsek, peselingkuh, dan sekarang koruptor," ledek Deva.


"Hentikan ucapanmu!" bentak Hanan yang sudah hatinya sudah panas dari tadi.


"Kau tak terima? Mau bilang lelaki alim, kau bahkan sudah berzina denganku," ujar Deva. Tak hanya sekali berzina dengannya bahkan berkali-kali. Hanan terbuai dalam indahnya balutan nafsu yang disuguhkan setan padanya dengan segala sentuhan keindahannya.


"Diam!" bentak Hanan. Meskipun itu benar. Disaat seperti ini dia tak terima mendengar itu.


"Nada beruntung sudah terbebas dari lelaki sepertimu," ledek Deva.


"Kau memang ular, licik!" ujar Hanan.


"Licik? Kau juga licik, mengkorupsi dana rakyat," balas Deva.


Keduanya yang tadinya bermesraan kini menjadi musuh dalam medan perang. Sama-sama melancarkan serangan.


"Kenapa aku bisa terjebak rayuan manismu dan meninggalkan Nada?" ujar Hanan.


"Kau tak terjebak, tapi kau terlena karena nafsumu sendiri, dan meninggalkan istrimu, itu kemauanmu," ujar Deva.


Hanan terdiam. Benar kata Deva, dia sudah membuang mutiara demi sebuah sampah seperti Deva.


"Turunkan aku! Tak sudi aku duduk dengan koruptor sepertimu!" pekik Deva.


Hanan masih terdiam. Menyetir mobilnya.


"Turunkan aku!" bentak Deva.


Hanan langsung banting stir dengan kencang sampai menyerempet pembatas jalan. Lalu mobilnya berhenti.


Dug ...


Deva terbentur body mobil sampai dahi lebam.


"Aw ..., kau gila? Kalau mau mati jangan ajak aku!" ujar Deva sambil memegang dahinya yang lebam.


"Oke, aku akan ke luar," jawab Deva. Dia membuka pintu, melangkahkan kakinya ke luar dari mobil.


Setelah Deva turun, Hanan mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu. Tinggal Deva yang berdiri di tepi jalan. Dia mengeluarkan alat perekam di tas cangklong miliknya. Kemudian menelpon seseorang.


"Hallo," ucap Deva.


"Hallo sayang, gimana?"


"Aku sudah ada barang buktinya," jawab Deva.


"Kalau gitu, serahkan padaku."


"Tapi kau janjikan akan bersamaku?" tanya Deva.


"Tentu, sesuai kesepakatan kita."


"Oke, aku ke sana," sahut Deva.


Percakapan itu pun ditutup. Deva memasukkan kembali rekaman dan handphone miliknya ke dalam tas cangklong miliknya. Dia menyetop taksi yang melintasi jalan. Kemudian naik ke dalam taksi itu.


***


Hanan kembali ke rumah pribadi miliknya. Beberapa hari ini sudah ditempati bersama Deva. Tadinya rumah itu disiapkannya untuk hidup bersama wanita itu. Namun kenyataannya Deva tak sebaik yang dia pikirkan. Hanan duduk di kursi. Mengistirahatkan tubuhnya yang lelah dan penat. Bayang-bayang rasa bersalah mulai menghantuinya. Bersalah pada Nada dan pada amanah rakyat. Hanan mengusap wajahnya dengan tangan kanannya. Seolah semua beban menumpuk di pundaknya. Dia tak bisa berlari apalagi menghindar.


Hanan membuang nafas gusarnya. Dia mengambil remot di meja. Menyetel televisi LED 92 inchi di depannya.


"Hanan Al Malik di duga menyalahgunaan dana untuk desa terpencil. Kini BKN sedang mengusut kasus ini ..."


Hanan langsung mematikan televisinya. Dia tak ingin meneruskan kabar dari berita utama di televisi itu. Hanan menunduk. Mengingat semuanya. Dulu dia hanya lelaki polos lulusan pesantren. Seorang yatim piatu yang berhasil mendapatkan beasiswa dari pesantren hingga menyelesaikan perguruan tingginya. Sekarang hanya seorang peselingkuh dan koruptor yang merugikan negara.


Hanan tak mampu lagi berdiri di kakinya sendiri. Tubuhnya lemas. Tak bertenaga. Semua semangatnya menghilang. Tersisa penyesalan yang menyakitkan.


"Semuanya hancur tak bersisa. Keluarga, jabatan dan kepercayaan orang padaku," ujar Hanan.


"Aku terlena dalam kenikmatan dunia yang fana, lupa betapa banyak nikmat yang Allah berikan, aku bodoh," ujar Hanan.


Menyesal.


Itulah yang terlintas dalam benak Hanan. Semua sudah terjadi. Dia tak bisa menyelamatkan dirinya atau memperbaiki semuanya. Istri tercinta terlepas, kedudukan akan lenyap, dan semua yang dimilikinya akan diambil kembali oleh sang pemilik kehidupan.


Tak lama suara bel pintu rumahnya berbunyi. Hanan bangun. Berjalan menuju ruang tamu. Dia membuka pintu rumahnya.


"Deva? Kau kembali? Untukku?" tanya Hanan.


"Jangan senang dulu, aku kembali bukan untukmu, tapi untuk mengambil barangku," ucap Deva.


"Ku pikir kau masih peduli padaku?" ujar Hanan.


"Peduli pada calon tahanan? Oh No, aku tak mau hidup susah Hanan," sahut Deva.


"Kau matre," ucap Hanan.


"Aku tidak peduli," sahut Deva. Dia masuk ke dalam rumah melewati Hanan. Berjalan menuju tangga. Naik ke lantai atas. Hanan membuntutinya. Mengikuti Deva sampai masuk ke kamar mereka.


"Kau benar-benar wanita yang tak tahu malu," ujar Hanan.


Deva tak menggubris. Dia membereskan semua baju dan barang-barangnya ke dalam koper miliknya.


"Terbuat dari apa mukamu? Pantas Alex membuangmu," ujar Hanan.


Deva menyeletingkan koper miliknya. Kemudian berdiri di depan Hanan.


"Alex memang membuangku, tapi kau memungutku, aku yang bodoh atau kau yang bodoh?" tanya Deva.


"Sampah!" bentak Hanan sambil menunjuk ke muka Deva.


"Sampah? Kaulah yang sampah masyarakat," jawab Deva.


Plaaak ...


Hanan menampar Deva dengan kencang.


"Aw ..., kau Hanan!" ujar Deva.


"Ke luar! Jangan pernah kembali!" titah Hanan sambil menunjuk pintu ke luar.


"Oke, lagi pula siapa yang mau tinggal di sini, aku tak sudi mendekam di penjara denganmu," sahut Deva.


Hanan hanya terdiam. Membiarkan Deva pergi meninggalkannya. Dia sudah tak memiliki siapapun lagi. Bahkan harta yang dimilikinya pun akan disita pemerintah.


Hanan hanya bisa pasrah. Menerima semua kesalahannya. Penyesalan sudah terlambat. Air mata tak ada gunanya lagi.