Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Terharu



"Ini cerita baper banget, bawangnya kebanyakan hik hik hik ..." Pak Harry menangis.


"Iya Bos, bawangnya emang banyak, tapi kaos kita udah basah semua buat ngelapinnya Bos," ucap Son.


"Emang kaos ya, aku kok kaos kaki buat ngelap air mata Bos," sahut Jon.


"Apa? Kaos kaki? Bau dong Jon," ujar Son.


"Dari pada kaosmu jarang dicuci, terakhir nyuci sebulan lalukan?" kata Jon.


"Iya sih," jawab Son.


Untung suasana hati Pak Harry lagi sendu. Gak peduli tuh air matanya dilap pakai kaos kaki basi atau kaos bau. Yang penting nangis dulu selagi momen bapernya pas.


"Perasaan si Bos doang yang nangis kejer, yang lainnya nangis standar," ujar Jon memperhatikan yang lainnya.


"Mungkin faktor tua, jadi sensitif," kata Son.


"Kalian bicara apa?" tanya Pak Harry.


"Ampun Bos," kata Son dan Jon.


"Lari keliling rumah sepuluh kali!" titah Pak Harry.


"Siap Bos!" jawab Son dan Jon.


Mereka langsung kabur. Gak berani menolak perintah Pak Harry.


Semua orang di ruang keluarga itu terharu dengan apa yang diceritakan Alex. Bahkan Sophia menangis tersedu-sedu mendengar perjuangan suaminya untuk bertahan hidup dan ingin bertemu dengannya.


"Mas, aku ingin memelukmu," ujar Sophia.


"Iya sayang, aku juga ingin memelukmu," sahut Alex.


Sophia langsung memeluk suaminya. Begitupun Arfan yang berjalan mendekati keduanya.


"Papa ... Mama ...," kata Arfan.


Sophia yang sedang memeluk Alex tersenyum. Mengajak Arfan masuk dalam pelukan mereka.


"Aku seneng banget sayang bisa bersamamu dan Arfan," kata Alex.


"Iya Mas, aku juga seneng banget bisa bersamamu dan Arfan," jawab Sophia.


Semua orang terharu melihat kebersamaan Alex dan Sophia. Cinta mereka diuji waktu dan jarak yang memisah. Tapi mereka tetap bertahan dan bermimpi untuk bersama hingga Allah SWT mempertemukan keduanya.


"Kakek seneng kau sudah berkumpul lagi bersama Sophia dan Arfan," ujar Kakek David.


"Ayah dan kita semua ikut senang dengan kebahagiaan mu Nak," kata Pak Ferdi.


"Kau harus menjaga dan menyayangi keluarga kecilmu," ucap Pak Harry.


Alex mengangguk. Memeluk Sophia dan Arfan. Dia tidak ingin terpisah dari keluarga kecilnya lagi.


"Bos foto boleh dishare di group buat bukti perjuangan Bos mencari kitab suci?" tanya Kenan. Tak lengkap rasanya cerita Alex sakti tanpa bukti yang konkret.


"Tidak! Jangan Kenan! Biarkan ini jadi rahasia di antara kita," kata Alex. Dia takut semua orang tahu fotonya saat gembel.


Namun semua orang sudah asyik berkerumun membicarakan foto orang gila yang masuk ke group mereka.


"Ini orang gila dari mana?" tanya Pak Harry.


"Mungkin orang gila yang kemarin makan tai ayam," jawab Gavin.


"Mirip Kak Alex ya?" ujar Claudya.


"Kalau Alex gila paling tidak lebih tampan," sahut Kakek David.


"Mungkin ini orang gila yang stress gara-gara kesetrum listrik tegangan tinggi," kata Ibu Marisa.


"Tapi mirip orang hutan juga ya," kata Pak Ferdi.


"Lebih mirip mamut pada jaman purba," ujar Tuan Matteo.


"Tapi coba lihat ada tulisan di bawahnya," kata Maria.


"Alex Sebastian pulang dari zaman purba, lupa gak dibalik," ujar Gavin membaca tulisan di bawah foto itu.


Mereka semua berbalik. Menoleh ke arah Alex yang mati kutu. Tak sanggup berkata-kata. Semua ini pasti ulah Kenan. Alex hanya bisa pasang senyuman tampannya.


"Masih ganteng meski gembel," kata Kakek David.


"Iya Kak, ganteng kok dengan versi yang berbeda," tambah Gavin.


"Ya elah Kak Gavin, tadi bilang orang gila yang makan tai ayam," kata Claudya.


"Lo kompor Claudya, abis gue bisa dijitak Kak Alex nih," sahut Gavin.


Semua orang malu-malu kucing sudah mengatai foto yang disebar Kenan di group keluarga itu. Untung saja ada Sophia. Dia langsung mencium pipi Alex.


"Mas tetep ganteng, apapun itu," kata Sophia.


Alex menoleh ke samping. Memandang wajah cantik Sophia. Tak peduli kemarin dia seperti orang gila toh Sophia mencintainya apa adanya.


"I Love You sayang," bisik Alex.


"I Love You Too Mas," balas Sophia.


"Papa ... Mama ... yoo ... yoo ..." Arfan hanya ngerti yoo doang. Belum paham kata cinta. Alex dan Sophia langsung mengangkat Arfan. Meletakkan di tengah dada mereka. Mencium pipinya.


"Papa sayang Arfan," kata Alex.


"Mama juga sayang Arfan," tambah Sophia.


Arfan hanya tersenyum-senyum ceria bisa berada di antara kedua orangtuanya.


***


Pagi itu Luki menemani Humaira di toko kue miliknya. Toko yang cukup besar. Banyak kue yang dijual di toko itu. Semua kue dibandrol dengan harga yang terjangkau untuk seluruh kalangan masyarakat. Humaira jualan bukan hanya agar untung tapi biar bisa menyediakan kue yang enak dengan harga terjangkau sehingga masyarakat luas bisa merasakan kue buatan tokonya.


"Sayang capek gak?" tanya Luki.


"Gak Oppa, cuma sebel nyium yang wangi-wangi," jawab Humaira.


"Apa kita ke Dokter aja?" tanya Luki. Dia mengkhawatirkan keadaan istrinya.


"Gak usah Oppa, kayanya aku hamil," jawab Humaira. Dia memberitahu kabar bahagia pada suaminya.


"Apa kau hamil sayang?" tanya Luki. Dia antusias ingin tahu apa benar Humaira hamil buah cinta mereka berdua.


"Iya, aku hamil Oppa, kemarin test pack," jawab Humaira sambil memegang perutnya.


Luki langsung mendekat. Berlutut di depan Humaira. Mencium perut datarnya.


"Ada buah cinta kita di sini sayang," kata Luki.


"Iya Oppa, ada Oppa junior," sahut Humaira tersenyum bahagia


"Alhamdulillah, jadi gak sabar pengen gendong anak kita sayang, kaya Arfan yang lagi lucu-lucunya," ujar Luki. Dia teringat saat menggendong Arfan yang gembul dan menggemaskan.


"Iya Oppa, aku juga sama," sahut Humaira.


Mereka berdua begitu bahagia dengan hadirnya buah cinta di antara keduanya.


***


Jack mengenakan setelan jas rapi. Kini dia sebagai pengusaha tas, baju, dan sepatu branded setelah menutup usaha klub malam dan prostitusi online miliknya. Usahanya cukup maju. Dia sudah memiliki beberapa butik di berbagai Mall besar di Indonesia.


Jack berdiri di depan cermin. Merapikan bajunya. Hari ini dia ingin menjemput Vera. Sudah setahun lebih Vera rehabilitasi di rumah sakit jiwa. Akhirnya Vera bisa sembuh. Jack bahagia sekali hari ini bisa bertemu dengan Vera.


"Sudah ganteng, aku gak sabar pengen ketemu Vera," ujar Jack. Melihat dirinya di depan cermin. Tampak tampan dan gagah. Dia berharap Vera akan suka dengan penampilan barunya dengan kumis tipis dan sedikit jambang.


"Cowok maco gini cewek mana yang nolak, tapi Vera tetap cintaku," ujar Jack. Dia sudah jatuh cinta berat pada Vera.


Setelah merapikan penampilannya, Jack berjalan ke luar dari kamarnya. Dia mengendarai mobilnya pergi ke rumah sakit jiwa tempat Vera berada.