
Ibu Marisa mengambil kotak perhiasan itu sesuai dengan perkiraan Sophia. Dia membuka kotak itu. Di dalamnya sebuah kalung silver bertahta berlian. Begitu indah dan mewah. Harganya diperkirakan sekitar 2 Trillion. Sangat elegant dan mewah.
Ibu Marisa menelan ludahnya berkali-kali. Dia belum pernah melihat kalung seindah itu. Kalung itu gemerlap dan memantulkan cahaya. Benar-benar kalung yang akan menunjukkan kelas sosial atas. Jika dia memakainya semua teman-temannya akan terkesima. Kalung itu pasti sangat jarang dimiliki ibu-ibu sosialita setongkrongannya.
"Ini kalung punya siapa?" tanya Ibu Marisa.
"Punya siapa lagi, kalau bukan punya ibu," jawab Sophia.
"Untukku?" tanya Ibu Marisa.
"Iya Bu, ini hadiah ulang tahun ibu dari Mas Alex," jawab Sophia.
Ibu Marisa terdiam sesaat. Mengingat tanggal ulang tahunnya. Benar saja. Hari ini dia akan ulang tahun. Dia sendiri saja lupa. Bahkan orang di rumahnya saja tak ada yang mengingat dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
"Jadi kalung ini hadiah ulang tahun ibu?" tanya Ibu Marisa.
"Iya Bu, selama ini Mas Alex sibuk, dia tak sempat mempersiapkan kado untuk ibu, jadi uang dari Mas Alex aku belikan kalung ini untuk ibu," jawab Sophia.
Ibu Sophia menatap pemilik mata emerald itu. Hampir saja dia akan menyemburnya dengan kemarahan level tinggi. Tapi justru dia tak sanggup memarahi Sophia.
"Selamat ulang tahun ya Bu, Sophia juga punya sesuatu untuk ibu," ucap Sophia. Dia mengeluarkan handphone-nya. Menelpon Aiko. Menyuruhnya membawa masuk pesanannya.
Hanya beberapa kata saja lalu menutup telponnya kembali.
Ibu Marisa hanya diam. Tak ada kata yang ingin dikatakannya. Semburan lahar yang tadi meluap dan memanas mendadak tenang.
Tak lama Aiko masuk ke dalam ruangan kerja Sophia, dia membawa sebuah goodie bag berwarna orange berlogo Herm€s. Memberikannya pada Sophia. Kemudian ke luar dari ruangan kerja Sophia.
"Nah Bu, ini kado dari Sophia untuk ibu," ucap Sophia sambil meletakkan goodie bag berukuran besar itu di atas meja.
"Ini untuk ibu?" tanya Ibu Marisa.
"Iya, untuk siapa lagi, khusus untuk ibu," jawab Sophia sambil tersenyum.
Ibu Marisa sangat bersemangat. Sudah mendapatkan hadiah kalung mewah. Ditambah goodie bag berwarna orange yang menggoda iman itu. Dipastikan isinya tak mungkin mengkhianati bungkusnya yang sudah terlihat elegant.
Ibu Marisa meletakkan kotak perhiasan itu ke dalam tas miliknya. Kemudian mengambil goodie bag berwarna orange itu. Dengan cepat mengeluarkan isinya yang berupa kotak besar berwarna orange dengan tali pita yang menjadi pengikat sekaligus pemanis kotak itu.
"Ayo dibuka Bu, semoga ibu suka," ujar Sophia.
Ibu Marisa segera membuka kotak orange itu. Ternyata di dalamnya tas herm€s croco hilmalaya. Yang diperkirakan harganya sangat fantastis dan limitied. Ibu Marisa senang sekali. Dia belum punya tas itu sebagai tas koleksinya.
Dia tak sabar ingin segera membawanya pulang dan memakainya saat bertemu ibu-ibu sosialita.
"Sophia, jangan senang dulu, dengan hadiah-hadiah ini bukan berarti aku menganggapmu sebagai menantuku," ujar Ibu Marisa.
"Iya Bu, Sophia mengerti, yang penting ibu suka dengan hadiahnya," sahut Sophia.
"Oke, aku mau pulang, bilang sama Alex malam ini kita barberque," ujar Ibu Marisa.
"Siap Bu," sahut Sophia sambil tersenyum.
Akhirnya Ibu Marisa membawa kedua kado itu. Dia ke luar dari ruangan Sophia dengan wajah yang ceria. Senyumannya terpancar seakan matahari baru saja terbit usai hujan lebat. Semua staf yang tegang karena melihat Ibu Marisa ngomel sepanjang jalan dari lantai satu hingga lantai 30 itu sudah mereda. Mereka mengelus dada takut kena sembur juga seperti karyawan yang di bawah. Untung saja punya Bos baik kalau gak mereka kutuk ibu mertua jahat itu jadi batu biar gak ngomel lagi.
Sophia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.
"Alhamdulillah selesai juga," ucap Sophia lega. Sudah berhasil menghadapi kemarahan ibu mertuanya dengan cara yang seaman mungkin.
Tiba-tiba Aiko masuk ke dalam. Dia menghampiri Sophia yang masih duduk di sofa. Aiko duduk di samping Sophia.
"Untung saja rencana Presdir berjalan sesuai perkiraan anda," ucap Aiko.
"Iya, untung saja ada kalung berlian milik Jordi Patrison, kalau tidak entah bagaimana aku menghadapi ibu mertuaku," ujar Sophia.
"Hampir saja kau menolak kalung berlian itu, tapi Bos Jordi meminta anda untuk menyimpannya dulu," sahut Aiko. Dia tahu saat Jordi seorang pengusaha berlian meminta Sophia untuk jadi brand ambassador-nya. Dia memberi sampel kalung itu. Di pameran kelas atas, membutuhkan seorang pengusaha kaya untuk menjadi brand ambassador agar barang itu dilirik pembeli yang notabennya orang kelas atas juga. Sophia diminta menjadi brand ambassador karena dia sering membeli berlian untuk investasi. Sophia memang menginvestasikan hasil perusahaannya pada tanah, logam mulia, berlian dan surat-surat berharga lainnya.
"Sepertinya aku harus membayar kalung itu, tolong minta Sekretraris Wang untuk mentransfer sesuai harga jualnya pada Jordi," pinta Sophia.
"Siap Presdir," sahut Aiko.
"Oya Aiko, dari mana kau pesan tas secepat itu?" tanya Sophia.
"Kemarin saat Presdir bilang ingin membeli kado untuk ibu mertua anda," ujar Aiko.
"Oh, aku ingat, habis meeting pagi, aku bilang iya dengan usul yang kau berikan," sahut Sophia.
"Iya itu, tanpa pikir panjang saya langsung pesan, Sekretaris Wang sudah ACC," ucap Aiko.
"Terimakasih ya Aiko, tanpa bantuanmu mungkin masalah ini tidak akan selesai," ujar Sophia.
Sophia mengangguk. Apa yang dikatakan Aiko benar. Asal kita selalu berada di jalan yang benar pasti ada jalan menghadapi setiap masalah yang datang. Allah takkan menguji manusia melebihi batas kemampuannya.
***
Sampai di rumah, Ibu Marisa masuk ke kamarnya. Dia mengeluarkan kotak perhiasan itu dan meletakkan tas branded pemberian Sophia di ranjang. Ibu Marisa terus memegangi barang-barang barunya. Seolah barang itu seperti magnet yang terus menariknya agar tak jauh darinya. Dia senang sekali dengan kedua hadiah itu. Tiba-tiba Pak Ferdi datang. Dia menghampiri Ibu Marisa yang masih berkelut dengan kedua barang mewah itu.
"Dari mana kau dapat barang-barang mahal itu?" tanya Pak Ferdi.
"Ya dari Alex dan Sophia, dari siapa lagi," jawab Ibu Marisa.
"Alex, Sophia, memangnya untuk apa mereka memberimu barang mewah itu?" tanya Pak Ferdi.
"Kau sih sudah salah faham duluan," jawab Ibu Marisa.
"Salahfaham kenapa?" tanya Pak Ferdi. Dia tidak mengerti Ibu Marisa bicara apa.
"Uang 2 Trillion itu ya buat beli kalungku ini, kau lupa aku ulang tahun hari ini?" ujar Ibu Marisa. Dia tahu suaminya itu tak pernah ingat ulang tahunnya. Yang dia ingat hanya uang dan uang. Mabuk, judi dan main perempuan. Hanya ulang tahun Kakek David yang diingatnya itupun karena ada maunya.
"Maksudmu uang 2 Trillion dari Alex untuk Sophia?" tanya Pak Ferdi.
"Iyalah, memang uang mana lagi, makanya jangan asal menuduh anakku," jawab Ibu Marisa.
Pak Ferdi terdiam. Dia masih tak percaya dengan ucapan istrinya.
"Alex itu mentransfer uang 2 Trillion ke Sophia untuk membeli kalung ini, ya wajarkan Alex itu sibuk makanya minta tolong istrinya," ujar Ibu Marisa.
"Untuk apa Alex memberimu kalung mahal?" tanya Ferdi.
"Aku ini ibunya, memangnya kenapa seorang anak ingin membahagiakan ibunya di hari ulang tahunnya?" tanya Ibu Marisa..
Pak Ferdi terdiam. Memikirkan ucapan istrinya.
"Bukan hanya Alex, kau lihat tas ini, mahal, limitied, hanya 5 pisis di seluruh dunia," ujar Ibu Marisa menunjukkan tas herm€s croco hilmalaya pada suaminya. Tas mahal yang limitied. Dibandrol dengan harga fantastis. Tak banyak orang yang mampu membelinya.
"Dasar matre," ejek Pak Ferdi.
"Aku matre? Kau apa? Penjilat?" tanya Ibu Marisa.
Pak Ferdi kesal. Dia ke luar dari kamarnya begitu saja. Ibu Marisa lega. Suaminya sudah tak mempertanyaan uang yang Alex tranfer pada Sophia.
***
Sore itu Sophia berjalan ke luar dari lift. Dia melihat Alex baru saja memasuki lobi. Mereka berpapasan. Bertemu pada satu titik. Saling menatap. Sophia tersenyum malu, suaminya datang menjemputnya. Hal yang jarang dilakukan Alex. Biasanya dia gengsi, apalagi harus bertekuk lutut pada seorang wanita. Namun sekarang rasa gengsinya beralih menjadi rasa peduli dan ingin selalu perhatian pada Sophia.
"Sayang, kau sudah pulang, baru saja aku mau naik ke atas menjemputmu," ujar Alex.
"Makasih ya Mas," sahut Sophia.
"Ayo pulang, mau digendong apa dibopong?" tanya Alex.
"Mas, malu dilihat karyawanku," jawab Sophia pelan.
"Oke, kalau gitu, ayo!" ujar Alex mengulurkan tangannya. Agar Sophia menggandengnya.
Perlahan Sophia menggerakan tangannya. Menggandeng lengan Alex ke luar dari lobi. Mereka berjalan bersama menuju parkiran mobil. Kemudian naik ke mobil Ferrar! milik Alex. Mobil itu melaju ke luar dari perusahaan.
Sampai di rumah Alex dan Sophia mandi dan bersantai sejenak di ranjang. Mereka duduk dengan menyandarkan punggung pada headboard.
"Mas kemarin yang uang 2 Trillion, bisakah ku kembalikan?" tanya Sophia.
"Memangnya kenapa harus dikembalikan?" tanya Alex.
"Uang itu terlalu banyak, lagi pula aku masih punya simpanan," jawab Sophia.
Tiba-tiba Alex mencium Sophia, sesaat mereka menikmati ciuman itu.
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku Sophia," ucap Alex.
"Mas sebenarnya tadi ibu ke kantorku," sahut Sophia.
"Apa ibu ke kantormu? Untuk apa?" tanya Alex penasaran. Dia tidak mengerti apa tujuan ibunya ke kantor istrinya.
"Ini karena uang 2 Trillion yang perusahaan Mas kirim ke rekeningku," ujar Sophia.
"Pasti ini karena ayah," sahut Alex kemudian berdiri. Dia hendak berjalan namun tangan Sophia memegang tangannya. Membuat Alex tetap berdiri di samping ranjang.
"Mas jangan, sudahlah. Aku rasa masalah ini bisa kita bicarakan baik-baik," ujar Sophia. Dia tidak ingin hubungan ayah dan anak kembali memanas.