Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Acara Nikahan Yang Berbeda



Setelah akad nikah yang dilaksanakan di Masjid Al Malik, berlanjut resepsi pernikahan di balai warga yang berada di daerah tempat tinggal Sora. Pak Harry dengan percaya dirinya mengenakan setelan jas hitam duduk bersama Sora di kursi pengantin. Mereka menyalami tamu undangan yang datang.


"Ini tamu undangan kapan habisnya?" keluh Pak Harry.


"Ibu mengundang sekelurahan jadi banyak," sahut Sora.


"Apa? Sekelurahan?" Pak Harry syok mendengar tamu undangan satu kelurahan yang diundang.


"Kapan malam pertamaannya, udah sore gini tamu udah kaya antrian sembako," batin Pak Harry. Kirain tamu cuma dikit. Malah berjubel tanpa jaga jarak dan justru keenakan dempetan bagi kaum pria.


"Sabar ya Bang, ini baru setengahnya," ujar Sora memanggil Pak Harry dengan sebutan Bang.


"Iya Neng," sahut Pak Harry padahal udah gak betah pengen tancap gas. Gak tahunya antrian sembako masih berlanjut.


Di sisi lain Gavin dan Luki sedang mengantri prasmanan untuk mengambil makanan. Mereka harus mengambil makanan untuk istri-istrinya.


"Vin munduran, kau terlalu mepet padaku tar disangka ada hubungan gelap," ujar Luki. Dia risih dempet-dempetan dengan Gavin.


"Ya elah Luk gimana gue gak mepet, lihat antrian di belakang gue!" sahut Gavin menyuruh Luki melihat ke belakang.


"Astaga, mereka pada ngapain Vin?" tanya Luki melihat ke belakang.


"Yang ngantri makan, Lo gak lihat satu pasangan bawa tiga anak, belum kakek nenek bawa semua cucunya dan Om Tante bawa semua keponakannya," jawab Gavin. Dia memperhatikan semua tamu undangan yang hadir dari tadi.


"Itu tamu undangan atau acara makan gratis?" sahut Luki.


"Gak tahu. Baru kali ini gue lihat acara nikahan kaya mau bikin ktp masal," jawab Gavin. Selama jadi orang kaya dia jarang menjumpai tamu undangan sebanyak itu. Pada bawa anak, cucu, keponakan, c!c!t, anak tetangga tak lupa anak boleh nemu di jalan juga dibawa.


"Iya ya, yang enak bapak-bapak dari depan empuk di belakang empuk. Bukannya susah ngantri malah dapat berkah," ujar Luki. Melihat bapak-bapak yang dipepet janda bohay depan dan belakang.


"Itu enak, coba liat di belakangku aki-aki, dari tadi pegangan bajuku terus. Udah lemes kayanya bentar lagi pingsan," sahut Gavin. Dari tadi ditarik terus bajunya sama kakek-kakek tua yang maagnya udah kambuh.


"Masih mending. Di depanku bocah dari tadi pamer jam tangan gak ada habisnya," kata Luki.


"Sabar Luk, itu bocah baru punya jam. Aku juga dulu gitu, setiap menit pamer ke temenku sampai sekelas beli jam yang sama denganku," sahut Gavin.


"Parah, pamer yang merugikan orang," kata Luki.


Gavin tertawa. Di balik ngantri yang panjang terselip cerita lucu di antara mereka. Sementara acara berlanjut ke acara saweran. Anak-anak sudah siap berdiri di depan pelaminan. Mereka siap berebut saweran.


"Bang acara saweran. Abang mau nyawer?" tanya Sora.


"Iya dong," jawab Pak Harry.


Dengan memberi kode satu tepukan kedua anak buahnya muncul membawa koper besar berisi uang seratus ribuan.


"Bos yakin nyawer seratus ribuan?" tanya Son.


"Iya Bos, apa ini saweran sultan?" tambah Jon. Mereka tak menyangka Pak Harry akan nyawer dengan uang seratus ribuan.


"Aku ingin berbagi pada anak-anak di sini. Jarang-jarangkan saweran sultan," sahut Pak Harry. Dia memegang koper miliknya yang berisi uang jutaan.


"Kalau gitu kita akan ikut saweran Bos. Biar dapet duit juga," ujar Jon.


"Aku juga mau ikut Bos. Lumayan buat beli jangkol sekarung," tambah Son.


Anak buah Pak Harry jadi ingin ikut acara saweran sultan.


"Tidak bisa, kalian harus jaga proses sawerannya agar berjalan lancar," sahut Pak Harry.


"Baik Bos," jawab Son dan Jon.


Akhirnya Pak Harry menaburkan uang seratus ribuan ke udara. Semua anak-anak kecil berlomba-lomba mengambil uang seratus ribuan. Son dan Jon berdiri di belakang agar ibu-ibu dan bapak-bapak tidak ikut saweran sultan. Namun semua tak seindah yang dibayangkan. Bapak-bapak, ibu-ibu mau ikut saweran. Bahkan nenek dan kakek yang udah osteoporosis juga memaksakan diri, meski nafas udah ngos-ngosan duit seratus ribu menggiurkan. Itu membuat tugas Son dan Jon jadi berat.


"Huh!" Ibu-ibu berseru. Mereka tetap maju ke depan mencoba menerobos.


"Bu-Bu jangan pegang-pegang nanti saya mau nikah lagi," ujar Son.


"Udah Son, kasih ciuman satu-satu pasti mundur," ujar Jon.


"Masalahnya yang di depan nenek-nenek Jon," sahut Son. Barisan di depan dipenuhi nenek-nenek yang memaksakan dirinya.


"Sama dong, aku mau nyium isinya bapak-bapak," sahut Son.


"Huh," seru bapak-bapak dan ibu-ibu.


Akhirnya saweran itu selesai. Semua orang kembali tenang. Duduk di kursi masing-masing dan sebagian berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.


Setelah acara saweran dilanjutkan acara foto keluarga. Semua anggota Keluarga Sebastian dan Keluarga Harold berfoto bersama. Mereka berpose sesuka hati untuk kenang-kenangan.


Di sisi lain Alex dan Sophia berteduh di gajebo milik warga. Di dekat kolam ikan. Alex memberi uang satu juta untuk menyewa gajebo itu agar Sophia bisa beristirahat dari keramaian.


"Sayang capek gak?" tanya Alex. Dia ingin tahu keadaan Sophia dari tadi berdiri membantu mengurus tamu.


"Enggak kok Mas, justru seneng. Baru kali ini ada acara nikahan merakyat. Tamu undangannya kalangan bawah," sahut Sophia.


"Iya ya sayang," jawab Alex sambil mengelus perut Sophia.


"Laper gak?" tanya Alex.


"Gak," jawab Sophia menggeleng.


Alex mencium kening Sophia. Dia begitu mencintai wanita sholeha yang melamarnya itu.


"I Love You Sophia," ujar Alex.


"I Love You Too Mas," sahut Sophia. Menatap wajah tampan suaminya yang kini menjadi imam yang baik untuknya.


Mereka berdua duduk di gajebo sekalian mengawasi Arfan yang asyik melihat ikan.


"Lihat Arfan, dia seneng banget lihat ikan ya sayang," ujar Alex sambil menunjuk ke arah Arfan yang kegirangan melihat ikan.


"Arfan memang suka ikan, Mas," sahut Sophia.


Alex turun dari gajebo menghampiri Arfan yang melihat ikan di kolam kecil di depannya.


"Papa ikan," kata Arfan menunjuk ke arah ikan di kolam.


"Iya, ikannya banyak ya," sahut Alex. Dia berdiri di samping Arfan. Melihat anak lelaki kecilnya. Dulu tak pernah terpikirkan akan memiliki seorang istri apalagi anak. Sekarang Alex sudah memiliki keduanya.


"Alhamdulillah," ucap Alex. Dia mengelus kepala Arfan. Ikut melihat ikan-ikan yang berenang di kolam ikan itu.


***


Malam harinya Pak Harry mengajak Sora pulang ke rumah Keluarga Harold mumpung sepi. Kakek David dan Nenek Carroline sudah pulang ke rumah Keluarga Sebastian. Humaira sengaja pulang ke rumahnya sendiri. Jadi hanya ada Pak Harry dan Sora.


Pak Harry membopong Sora sejak turun dari mobil hingga masuk ke kamarnya. Matanya fokus memandang wajah cantik wanita yang masih muda itu. Pak Harry untung bandar daun muda, puber keduanya bisa tersalurkan dengan baik.


Pak Harry membaringkan Sora di ranjang. Dia menatap wajah cantik Sora tal berkedip.


"Cantik," puji Pak Harry.


Jantung Sora berdebar mendapatkan pujian cantik dari Pak Harry. Dia merasa malu karena belum lama mengenal lelaki berkepala empat itu.