Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Aku Mencintaimu



"Mas untuk apa kau melakukan tes fungsi hati dan beberapa tes kesehatan lainnya?" tanya Sophia.


Deg


Alex terkejut. Jantungnya berdebar tak karuan. Dia tidak menyangka Sophia akan tahu semua itu. Padahal Alex masih merahasiakannya dari Sophia sampai menemukan pendonor yang cocok dengannya.


"Sophia, aku melakukan semua itu demi kesembuhanmu," jawab Alex.


Sophia langsung terdiam. Dia menelan ludahnya berkali-kali. Apakah suaminya tahu kalau dirinya sakit?


"Sophia, aku sudah tahu semuanya, tentang penyakitmu," kata Alex.


Sophia menatap suaminya. Matanya berkaca-kaca. Ada duka mendalam di dalam jiwanya.


"Mas, aku-aku ..." Air mata Sophia terjatuh lebih dulu dari kata-kata yang ingin ke luar dari bibir merah delima itu. Perih hatinya jika mengingat apa yang dideritanya selama ini. Sophia juga ingin sehat dan hidup normal seperti orang lain. Tapi takdir berkata lain, Sophia hanya bisa menerimanya dengan ikhlas.


Alex meraih tubuh Sophia menyandarkan di dada bidangnya. Membiarkan Sophia menangis. Meluapkan semua beban yang selama ini dipendamnya.


"Menangislah, sepuasnya sayangku, tak perlu menutupinya lagi," kata Alex.


"Hik hik hik." Sophia menangis. Bersandar di dada bidang suaminya. Tempatnya kini bersandar dari kerasnya kehidupan yang dijalaninya.


"Aku akan melakukan apapun agar kau sembuh Sophia," ujar Alex.


"Mas maafkan aku," kata Sophia. Dia meletakkan tangannya di dada Alex. Tangan itu dipegang tangan Alex. Mereka berbagi duka bersama.


"Iya sayang, aku tahu kau tidak ingin membuat orang lain mengkhawatirkan keadaanmu, kau tidak ingin menyusahkan siapapun dan membuat mereka bersedih karena rasa sakit yang kau derita," sahut Alex. Dia memeluk erat Sophia dalam dekapan hangatnya.


"Aku takut membuatmu bersedih Mas, aku tidak bermaksud membohongimu," ungkap Sophia.


Alex mencium kepala Sophia. Begitu besar rasa cinta dan sayangnya pada istrinya itu.


"Iya sayang, aku mengerti. Tapi ke depannya kau harus jujur padaku sepahit apapun itu," sahut Alex. Dia tidak ingin ada rahasia lain lagi. Apalagi menyangkut hidup matinya Sophia.


Sophia mengangguk. Apa yang dikatakan Alex benar. Sepahit apapun suami harus tahu kesulitan apa yang sedang dilalui istrinya.


"Mas umurku mungkin tidak panjang lagi, apa Mas masih mau jadi suamiku?" tanya Sophia.


"Sayang menjadi suamimu itu sebuah keberuntungan untukku. Tak peduli berapa lama," jawab Alex.


Sophia menangis. Mendengar ucapan Alex padanya.


"Hidup mati manusia di tangan Allah SWT, selama itu belum terjadi kita harus berusahakan sayang?" ujar Alex. Air mata mulai menjatuhi pipinya. Dia tidak bisa membohongi hatinya. Betapa sakitnya Alex harus mengetahui kalau Sophia sakit dan merasakan sakit itu sendirian.


"Iya Mas," jawab Sophia.


"Kita akan mencari obat untuk penyakitmu sayang, kita akan berdoa pada Allah SWT agar penyakitmu segera diangkat," ujar Alex.


Sophia mengangguk. Lega rasanya ketika bebannya bisa dibagi bersama suaminya. Meskipun dia harus menghadapi penyakit mematikan itu asal bersama suaminya, Sophia bisa melewatinya.


"Aku sudah melakukan berbagai pemeriksaan, kemungkinan hatiku bisa didonorkan padamu sayang," kata Alex.


Sophia hanya terdiam mendengarkan ucapan Alex.


"Setelah kau melahirkan, kita akan melakukan transplantasi hati," ujar Alex.


Mendengar itu Sophia langsung memeluk Alex dengan erat. Lelaki dipeluknya memang belahan jiwanya.


"Mas kenapa kau melakukan semua ini?" tanya Sophia.


"Karena aku mencintaimu, aku ingin kau hidup Sophia, dan untuk buah cinta kita," jawab Alex.


Sophia menangis. Cinta yang dulu dipikirnya hanya akan dirasakannya sepihak ternyata berbalas.


"Dulu ku pikir aku akan selamanya jadi lelaki brengsek. Bagiku semua wanita itu murahan. Tak ada artinya dimataku," kata Alex.


Sophia mendengarkan ucapan Alex.


"Mas aku juga mencintaimu," sahut Sophia. Dia juga merasakan hal yang sama dengan Alex. Rasa cinta yang tulus.


Alex menciumi kening Sophia. Memeluknya erat. Tak ingin terpisahkan dari wanita yang begitu dicintainya. Seandainya bisa meminta, Alex ingin sehidup sesurga bersama Sophia. Meskipun dia merasa berlumur dosa. Apakah Allah SWT akan mengampuni semua dosa yang sudah diperbuatnya di masa lalu. Alex berharap Allah SWT mengampuninya.


Setelah merasa tenang, Alex dan Sophia kembali ke dalam rumah. Semua tamu sudah pulang. Tinggal Pak Harry, Humaira, Kakek David dan Nebek Carroline.


"Pa, aku pulang dulu, besok pagi Insya Allah datang ke Masjid Al Malik," kata Alex. Besok pagi akan diadakan akad nikah di Masjid Al Malik barulah setelah itu langsung resepsi di sore harinya di Gedung Feronika.


"Iya, kau harus datang, jadi saksi pernikahan adikmu," sahut Pak Harry.


"Iya siap!" jawab Alex.


Sophia tersenyum. Hubungan Pak Harry dan suaminya sudah membaik. Meski masih berdebat masalah ketampanan babang tampan dan bocah tampan.


"Kakek nginep di sinikan?" tanya Alex. Dia tahu kakeknya tak mungkin pulang. Pasti menginap bersama Nenek Carroline. Sedangkan Alex sendiri tak memungkinkan menginap.


"Iya Lex, nemenin Nenekmu," jawab Kakek David.


"Ya udah kita pulang dulu," pamit Alex pada semuanya.


"Humaira, istirahat yang cukup besok mau jadi pengantin," kata Sophia yang berdiri di depan Humaira.


"Iya Kak Sophia, makasih," jawab Humaira.


"Assalamu'alaikum," ucap Alex dan Sophia.


"Wa'alaikumsallam," sahut semuanya.


Alex dan Sophia ke luar dari rumah Keluarga Harold. Mereka kembali ke rumah Keluarga Sebastian.


Tak lama setelah Alex dan Sophia pergi, Dokter Randi datang bertamu ke rumah Keluarga Harold. Dia datang sendirian untuk bertemu Harry Harold.


"Assalamu'alaikum," ucap Dokter Randi.


"Wa'alaikumsallam," sahut semua orang yang ada di ruang tamu itu. Mereka melihat ke arah Dokter Randi yang berdiri di pintu rumah Keluarga Harold.


"Ayo masuk!" titah Pak Harry.


Dokter Randi mengangguk. Masuk ke dalam ruang tamu. Di dalam ada Kakek David, Nenek Carroline, Pak Harry dan Humaira.


"Duduklah Dok!" titah Pak Harry.


"Iya, terimakasih," jawab Dokter Randi. Kemudian duduk bersama di ruang tamu. Tatapan matanya tertuju pada Humaira yang duduk di seberang. Hanya saja Humaira menunduk.


"Humaira tolong buatkan kopi!" titah Pak Harry pada Humaira.


"Iya Pa," sahut Humaira mendapatkan perintah dari ayahnya. Humaira segera berdiri. Meninggalkan ruang tamu. Dokter Randi terus memperhatikannya dari duduk, berdiri hingga pergi meninggalkan ruangan itu.


"Harry, Dokter Randi, kami naik ke atas dulu," ujar Kakek David. Dia dan istrinya sudah sangat lelah. Dari tadi duduk, berdiri, dan menerima tamu. Belum lagi mengurus pernikahan kedua cucunya.


"Iya Pa," jawab Pak Harry.


"Iya Kek," jawab Dokter Randi.


Kakek David dan Nenek Carroline meninggalkan tempat itu. Mereka naik ke lantai atas. Tinggal Pak Harry dan Dokter Randi di ruang tamu itu.


"Tumben malam-malam bertamu, ada urusan apa Dok?" tanya Pak Harry. Dia ingin tahu semalam itu Dokter Randi sengaja bertamu ke rumah Keluarga Harold.


Assalamu'alaikum


Maaf ya kalau merasa babnya kurang. Author sedang dalam perjalanan arus balik.


Author kasih tanda tamat karena mau tamat. Kalau tak ada halangan Insya Allah tamat akhir bulan ini. Setelah itu lanjut novel baru. Author mau genapin 300.000 ribu kata.