Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Mau Lahiran



"Yang bener Kak?" Claudya penasaran. Dia mengambil kertas hasil test DNA itu. Membaca sendiri. Rasa penasarannya akan terjawab.


"Iya, Ezar bukan anak kakak," ujar Claudya.


"Hampir aja aku jantungan, aku tak ingin berpoligami, cukup Sophia seorang," kata Alex sambil mengedipkan mata pada Sophia. Supaya tar malam masuk bilik bambu berduaan dan romantisan.


Sophia tersenyum. Sudah tahu maunya sang casanova. Meski udah ada Arfan juga urusan ranjang menjadi prioritas pertama. Untung Sophia pandai memanjakannya.


"Bisa aja Kak Alex, di mana-mana lelaki kalau disuruh pasti mau. Kecuali suamiku dong," sahut Claudya. Dia tahu Tuan Matteo perjaka karatan gak mungkin mendua. Udah mentok sama istri kecilnya.


"Enak aja, aku setia. Udah kenyang kali mengembara," sanggah Alex. Meski dulu sering mengkol sana sini tapi sekarang Alex sudah memproklamirkan diri untuk setia pada satu wanita. Pencinta wanita boleh buaya jangan.


"Iya-iya percaya, Kak Sophiakan pawang buaya, udah takluk sama pawangnya," sahut Claudya. Sang casanova alias buaya sungai Amazon sudah ditaklukan sang pawang cantik dan sholeha. Mana mungkin liar lagi mencari mangsa sana-sini.


Sophia tersenyum dengan ucapan Claudya. Alex memang sudah jinak semenjak menikah dengannya. Sifat buayanya dikhususkan untuk Sophia seorang.


"Udah ah Kak, udah jelas. Biar Ezar sama aku aja, dari pada sama kakak," ujar Claudya. Dia ingin sekali merawat Ezar.


"Ya udah, sama kamu aja, kalau bisa nitip Arfan sekalian. Malam ini aku mau berduaan ma Sophia," sahut Alex.


Tuan Matteo menggeleng. Yang bener aja ngasuh dua bocil. Satu bocil aja banyak iklan. Apalagi dua bocil, kapan tayang sinetronnya. Kebanyakan iklan. Mesti bergadang jagain lilin selama tuyul mainan kepiting.


"Gak bisa, aku ada acara lain, Kak Alex kaya gak paham aja, ngalah dikit napa," kata Claudya.


"Kakak udah satu tahun ke zaman purba, kasihanlah, biarkan kakakmu ini berduaan sama bidadari cantik," sahut Alex.


"Sayang, kita akan menginap di rumah baru Lukikan?" ujar Tuan Matteo mengamankan situasi.


"Iya ya sayang, ayo berangkat keburu siang," jawab Claudya meninggalkan Alex. Dia menggendong Ezar membawanya pergi dari tempat itu.


"Baru aja mau nitip gratis, malah kabur," kata Alex.


Sophia menghampiri Alex sambil menggendong Arfan.


"Mas, ayo pulang!" kata Sophia.


"Iya, sayangku," sahut Alex.


"Papa! Papa!" Arfan memanggil Alex.


"Mau digendong Papa ya," ujar Alex sambil membuka tangannya. Menggendong Arfan. Senangnya Arfan ada digendongan Alex.


"Mas, kita masih bisa berduaan setelah Arfan tidur," kata Sophia.


"Berarti dari sore hari kita ajak Arfan tidur," ujar Alex.


Sophia tertawa kecil. Mendengar ucapan suaminya.


"Kok ketawa sayang?" tanya Alex.


"Mas mau ajak Arfan tidur dari sore? Beneran?" tanya Sophia.


"Iya dong, demi tugas negara di malam nanti," jawab Alex.


Tapi kenyataannya tak seindah rencana yang sudah dipersiapkan matang-matang. Arfan dikandangin dari sore hari. Biar tidak mengganggu. Tidur udah. Tapi bangun lagi di jam 10 malam. Malah bergadang ngajak Alex dan Sophia main mobil-mobilan.


"Sayang, kok Arfan malah seger, bukannya tadi kita kandangin dari sore," kata Alex.


"Kan aku dah bilang, anak kecil jangan tidur dari sore hari, malamnya jadi bergadang," sahut Sophia.


"Papa! Obil ... obil ..." Arfan mengajak Alex menggerakkan mobilnya.


"Gagal total mau nyetak gol, Arfan malah tambah seger," keluh Alex. Menyesal tiada bisa diulang lagi. Arfan udah terlanjut bergadang gara-gara masih sore udah dikandangin.


"Sabar Mas, besok ya," sahut Sophia.


"Besok bukannya tanggalmu dapet ya sayang?" tanya Alex. Tahu betul tanggal haid Sophia.


"Sabar, tidur di bawah AC deh biar adem seminggu ini," ujar Alex.


Sophia tertawa kecil mendengar keluhan suaminya. Niat hati menang banyak eh semua hanyalah impian. Pada kenyataannya tak seindah itu.


***


Pagi itu Kenan mengajak Nada jalan-jalan supaya proses kelahiran anak mereka bisa lancar. Kini mereka tinggal berdua. Nesa dan Tara ikut Dodo di pesantren. Selain untuk menuntut ilmu, supaya Nada gak kecapean dan stress mengurus dua anak ketika hamil. Tak mudah mengurus anak-anak meskipun ada baby suster dan pembantu yang mengurus rumah. Sebagai seorang ibu tetaplah harus bertanggungjawab pada anak-anaknya.


"Mi, bentar lagi Mami lahiran. Mau normal atau caesar?" tanya Kenan sambil memapah Nada yang sudah keberatan badan.


"Pengennya normal Pi, tapi yang penting lahirannya lancar," jawab Nada.


"Iya Mi, yang penting lancar. Papi pengennya Mami dan dede bayi sehat dan selamat saat lahiran nanti," sahut Kenan.


"Amin," jawab Nada.


"Mi, mau minum gak?" tanya Kenan.


Nada mengangguk. Sudah cukup jauh berjalan dari tadi, dia ingin minum. Tenggorokannya sudah kering..


Kenan mengantarkan Nada duduk di kursi yang ada di taman.


"Sayang, aku beli minum dulu," kata Kenan.


"Iya Pi," jawab Nada.


Bergegas Kenan meninggalkan Nada yang duduk di kursi taman. Dia terburu-buru takut kelamaan meninggalkan Nada yang duduk sendirian. Tinggal Nada yang duduk sendiri. Dia mengelus perutnya. Tiba-tiba perutnya sakit.


"Aw ...!" Nada mulai kesakitan. Dia mengelus perutnya.


"Aw ...!" Rasa sakit di perut Nada semakin meningkat dan lebih cepat.


"Aku mau melahirkan, Papi belum balik lagi," keluh Nada sambil memegang perutnya. Dia sudah tak tahan lagi. Kesakitan. Nada sampai berteriak kencang.


Di sisi lain Kenan baru saja membeli air minum untuk Nada. Dia membeli dua botol air mineral. Kenan membawa air minum itu sambil berjalan ke tempat di mana Nada berada.


"Mami pasti haus banget, aku beli yang ukuran sedang biar puas minumnya, dingin lagi," kata Kenan. Dia berjalan, hanya saja langkahnya terhenti saat mendapati Nada tak ada di tempat duduknya.


"Mami di mana?" ujar Kenan yang tak melihat istrinya.


"Mami!" teriak Kenan. Dia panik Nada tidak ada di tempat itu.


Kenan langsung mencari Nada. Dia berlari ke sana ke mari. Mencari keberadaan istrinya.


"Mami ke mana? Mana lagi hamil gede lagi," keluh Kenan. Kembali mencari Nada di dalam taman. Sampai dua balikan mencarinya kembali.


"Itu Mami!" Kenan melihat Nada sedang berjalan bersama seseorang. Bergegas Kenan menghampiri istrinya.


"Mami!" panggil Kenan.


Wanita yang berjalan di depannya berbalik.


"Ada apa Bang? Eke lagi jalan santai besok mau lahiran anak kucing nih."


"Astagfirullah ini mah bukan Mami, tapi Mumi," sahut Kenan melihat banci menggunakan bedak bayi di mukanya sampai tebal banget.


"Mumi? Eke udah totalitas Cin mau pemotretan majalah kingkong."


"Udah cin kita jalan lagi, keburu siang dukun beranaknya gak nerima gorila lahiran."


"Yuk cus."


Kedua banci itu meninggalkan Kenan. Mereka hanyalah banci omprengan yang mengisi perutnya untuk bahan candaan sambil ngamen ke sana sini.


"Terus Mami ke mana?" Kenan bingung dan mengkhawatirkan Nada. Dia tidak tahu ke mana istrinya. Seingatnya tadi meninggalkan Nada di kursi untuk membeli air minum.