
Sore itu Alex berjalan ke luar dari ruangannya untuk pulang. Beban dipundaknya begitu berat. Seakan meluap dan hampir tumpah. Alex terlihat dingin. Tak ada gurat senyuman sedikitpun. Isi di kepalanya seakan ingin pecah. Alex terus berjalan. Tak sengaja mendengar percakapan beberapa karyawan.
"Aku dengar perusahaan akan bangkrut."
"Iya, saham anjlok, pemegang saham mungkin akan jual saham."
"Aduh, kita akan di PHK dong."
"Dapet pesangon gak yah?"
Alex terus berjalan meskipun suara-suara yang memanaskan telinganya itu terus terdengar dan terbayang di pikirannya. Dia tahu hal seperti ini sudah wajar terjadi. Jika dia diposisi karyawan mungkin akan berpikir hal yang sama.
Alex ke luar dari lobi. Dia berjalan ke parkiran mobil yang ada di halaman depan. Parkiran khusus untuk petinggi perusahaan. Alex masuk ke mobil miliknya. Meminta supir agar cepat meninggalkan perusahaan. Mobil itu pun melaju menuju jalanan. Alex menatap kaca sepanjang perjalanan. Dia merasa Allah sedang mengujinya dengan ujian yang berat.
"Kenapa Allah mengujiku seperti ini, di saat aku bertobat, apa ini adil untukku?" batin Alex.
"Apa jadi orang baik harus diuji seberat ini," batin Alex.
Prasangka demi prasangka terus menari di kepalanya. Seakan Allah mempermainkannya. Allah tak adil. Ketika dia maksiat, Alex berada di atas awan tapi ketika Alex bertobat, seakan Allah menjatuhkannya ke jurang teramat dalam.
Alex terus berprasangka. Mungkin karena pikirannya yang kalut. Alex seperti dijatuhi ponis yang berat. Hingga dia tak mampu membela dan menghindar dari jeratan deruji besi.
Alex menatap jalanan yang dipenuhi kesibukan setiap insan. Dari orang pulang kerja, berdagang hingga orang yang masih berjuang untuk bisa bertahan hidup dengan bekerja apa saja. Matanya tertuju pada lelaki cacat yang sedang menawarkan tisu. Kakinya sudah tak ada. Hanya bagian perut ke atas yang tersisa. Dia duduk dipapan yang ada rodanya. Menawarkan tisu pada pengendara roda empat, roda dua maupun pejalan kaki. Lelaki itu terlihat tak pantang menyerah meskipun belum ada yang mau membeli tisu itu.
"Astagfirullah, kenapa aku mengeluh Ya Allah, seakan di dunia ini akulah yang paling kesulitan," batin Alex. Dia mulai tersadar. Prasangkanya tadi itu tidak benar. Di dunia ini masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih sulit darinya. Dia seharusnya husnudzon pada Allah SWT bukannya malah suudzon. Kita tak pernah tahu dibalik cobaan ada hikmah di dalamnya.
"Pak Amat, minggir ke tepi cari parkiran terdekat!" pinta Alex.
"Baik Tuan," sahut Pak Amat. Supir pribadi yang sudah lama bekerja dengan Alex.
Mobil Alex menepi. Parkir di parkiran umum depan ruko. Alex turun dari mobilnya. Menghampiri lelaki cacat itu.
"Assalamu'alaikum," sapa Alex.
"Wa'alaikumsallam."
"Bolehkah saya bantu untuk menjualnya Mas?" tanya Alex.
"Boleh, apa tidak merepotkan?"
"Tidak," sahut Alex.
Lelaki cacat itu memberikan sebagian dagangannya pada Alex. Kemudian Alex mulai menawarkan tisu itu ke setiap pengguna jalan.
Dia menghampiri pengendara mobil yang sedang berhenti karena lampu merah. Alex mengetuk kaca mobilnya. Tak lama kaca mobil itu turun.
"Ada apa?"
"Saya mau menawarkan tissu Pak, barangkali butuh," ucap Alex.
"Gak ada apa kerjaan yang lebih baik, minta-minta mengatasnamakan jualan tissu."
"Pak saya tidak minta-minta, hanya menjual tissu, bapak berkenan beli, jika tidak tidak perlu menghina," sahut Alex.
"Paling juga harga tisunya lebih mahal dari toko."
"Tissunya hanya 5 ribu, tidak akan membuat kantong bapak jebol," sahut Alex.
"Jangan-jangan tisu palsu, atau dah expired."
"Terimakasih Pak, anda calon pembeli yang ramah, lain kali jagalah ucapan anda, jangan melihat hari ini anda ada di dalam mobil, mungkin esok atau lusa anda juga ada dijalanan seperti saya," ucap Alex menyindir pemilik mobil itu. Dia meninggalkan mobil itu. Kembali menawarkan tisu pada yang lainnya. Sampai adzan magrib memanggil tak satupun tissu bisa dijual olehnya. Alex menghampiri lelaki cacat tadi.
"Mas maaf belum laku satupun," ucap Alex.
"Tidak apa-apa Tuan, mungkin belum rejeki saya hari ini."
Alex baru sadar. Hidup itu tak mudah untuk sebagian orang. Bahkan untuk sekedar bertahan hidup untuk hari ini. Mengeluh tak membuat hidup kita berubah tapi berusaha dan menerima segala sesuatunya dengan ikhlas itu lah sikap yang terbaik.
"Mari sholat magrib di masjid Tuan!"
Alex mengangguk. Sholat magrib berjamaah di masjid terdekat. Dia duduk berdzikir kemudian berdoa. Meminta ampunan atas prasangka buruknya pada Allah SWT.
"Ya Allah ternyata hidupku jauh lebih baik dari sebagian orang di luar sana. Maafkan aku yang mengeluh karena ujian kecil dariMu, ampuni hamba Ya Allah."
Doa-doa dipanjatkan Alex. Meminta kemurahan Allah SWT agar masalahnya bisa selesai dengan baik. Setelah itu Alex duduk di teras masjid dengan lelaki cacat tadi.
"Namanya siapa Mas?" tanya Alex.
"Ngadino Mas, asal Jawa Tengah," jawab Ngadino.
"Saya Alex Sebastian," jawab Alex.
"Pantas penampilannya rapi, ternyata orang besar," ucap Ngadino yang tahu siapa Alex.
"Tiap hari dagang tisu?" tanya Alex.
"Iya Tuan, untuk orang cacat seperti saya sulit mendapat pekerjaan, yang penting halal kerja apa saja saya jalani," jawab Ngadino.
"Masya Allah, saya jauh dibawah Mas memandang hidup." Alex sampai menangis melihat Ngadino dan hidupnya.
"Kunci ikhlas dan berusaha, hidup hanya sebentar di dunia, apalagi yang dicari," jawab Ngadino.
Alex semakin menangis. Dia malu. Hidupnya penuh dosa. Kekayaan sudah membuatnya lupa akan daratan. Hidup dalam gemerlap duniawi. Mengikuti nafsunya yang terus menjerumuskannya ke lembah dosa.
"Sehari berapa dapatnya Mas?" tanya Alex.
"Alhamdulillah, kadang 30 ribu kadang sampai 70 ribu, cukup untuk menghidupi anak dan istri saya," sahut Ngadino.
"Sudah berapa lama kerja seperti ini?" tanya Alex.
"Sejak saya tertabrak truk, mungkin 3 tahun ini" jawab Ngadino.
Alex miris mendengar cerita Ngadino. Dia banyak belajar darinya. Betapa besar arti sebuah keikhlasan dan pantang menyerah. Meskipun hidupmu sedang sulit.
"Terimakasih Tuan," sahut Ngadino.
Alex berdiri. Berjalan menuju penitipan sandal dan barang di masjid itu. Dia mengambil tisu dagangan milik Ngadino. Alex mengeluarkan dompetnya. Mengambil semua uang seratus ribuan miliknya ditaruh di dalam plastik daganga Ngadino.
"Semoga ini bisa jadi modal usaha untuknya," batin Alex. Kemudian kembali dan memberikan plastik dagangan pada Ngadino.
"Saya pamit duluan Mas, semoga dagangannya semakin laris," ucap Alex.
"Amin, makasih Tuan," sahut Ngadino.
Alex berjalan meninggalkan pelataran masjid dengan wajah berseri. Sekarang dia tahu Allah sayang padanya dengan caranya yang berbeda. Setiap insannya punya ujian yang berbeda tapi bagaimana caranya untuk tetap berada dijalanNya.
Alex kembali ke rumah. Dengan wajah berseri penuh semangat membuka pintu kamarnya. Pintu itu terbuka. Alex masuk. Terkejut melihat Sophia begitu cantik dengan balutan dress mini berwarna putih. Rambutnya tergerai yang merupakan favorit Alex. Dia tersenyum seksi menggoda imannya.
"Assalamu'alaikum sayang," ucap Alex.
"Wa'alaikumsallam Mas," sahut Sophia.
Pandangan Alex tertuju pada Sophia dari atas sampai bawah. Semua masalah seakan lenyap. Nafsunya naik ke ubun-ubun melihat tubuh indah yang terekspose di depannya.
"Hadiah yang selalu kurindukan saat penat mendera," batin Alex. Dia berjalan menghampiri Sophia. Mencium bibir merah delima merekah. Menikmati manisnya. Melupakan semua beban yang tadi menimpanya.
"Kau selalu menggoda imanku sayang," ucap Alex.
Sophia yang mengalungkan tangannya dileher Alex tersenyum manja. Senyuman kali ini menggoda membuat Alex menginginkannya lebih banyak.
"Aku tahu Mas, butuh vitamin hati, jadi aku menyiapkan semua ini untuk Mas," ujar Sophia.
"Makasih sayang, makin cinta deh," ucap Alex.
"Aku juga makin cinta sama Mas," sahut Sophia.
Alex mencium kening Sophia. Menghirup aroma wangi dari rambut Sophia. Merilex-kan bagai sebuah aroma terapi.
"Mau langsung atau makan dulu?" tanya Sophia.
"Maunya langsung tapi cacing udah protes," jawab Alex.
"Kalau gitu ayo makan Mas, Sophia dah masak makanan kesukaan Mas," ucap Sophia.
"Makannya di kamar aja ya, biar Bi Siti antar," sahut Alex.
Sophia mengangguk. Kemudian menelpon Bi Siti agar membawakan makanan ke kamarnya. Tak lama makanan di antar Bi Siti. Kemudian Alex dan Sophia makan bersama. Alex dengan manja minta disuapi Sophia. Sambil memainkan rambut panjangnya.
"Sayang tiap hari kaya gini, rasanya kaya di surga," ucap Alex.
"Alhamdulillah, berarti Allah memberi nikmat yang lebih untuk kita Mas," sahut Sophia.
Alex mengelus pipi merah merona itu.
"Aku ingin selamanya seperti ini, sampai di jannnah nantinya," ujar Alex.
Air mata Sophia menetes. Dia juga memiliki harapan yang sama dengan Alex. Selamanya bersama hingga ke jannah nantinya.
"Jangan menangis, Sophiaku selalu cantik saat tersenyum," ujar Alex menyeka air mata Sophia.
"Aku menangis karena bahagia Mas," sahut Sophia.
Alex tersenyum. Senyuman itu begitu dinikmati Sophia. Rasa sakitnya seakan menghilang. Tinggal kebahagiaan yang tersisa.
Setelah makan. Alex dan Sophia sholat isya berjamah. Berdoa, berdzikir dan mengaji bersama seperti biasa. Kemudian Alex berbaring dipangkuan Sophia yang masih mengenakan mukena.
"Hari ini aku dapat pelajaran berharga sayang," ujar Alex.
"Pelajaran apa Mas?" tanya Sophia.
Alex menceritakan pertemuannya dengan Ngadino. Dia menceritakan betapa sulitnya mencari uang diposisi Ngadino. Saat Alex mencobanya sendiri ternyata dia merasakan betapa sulitnya hidup sebagai Ngadino.
"Itulah sebabnya sekecil apapun kita harus bersyukur Mas, karena Allah memberi kenikmatan dari hal yang terkecil sekalipun," ucap Sophia.
"Kau benar. Aku jadi tak takut lagi jika terjadi hal terburuk sekalipun dengan perusahaan," ujar Alex.
"Ini baru suamiku imam pilihan Allah untukku," kata Sophia sambil mengelus rambut Alex perlahan penuh kelembutan.
"Besok aku akan meeting dengan seluruh petinggi perusahaan untuk menyelesaikan masalah ini," ujar Alex.
"Besok aku juga mau memberi kejutan untukmu Mas," ucap Sophia.
"Kejutan apa?" tanya Alex penasaran dengan kejutan dari Sophia.
"Besok ya, namanya juga kejutan," jawab Sophia.
Alex bangun. Menatap mata emerald yang berbinar itu. Memancarkan kesejukan yang menentramkan jiwa.
"Aku menunggu kejutan darimu sayang," ucap Alex.
Sophia mengangguk. Tersenyum manis padanya.
"Tapi aku mau kejutan yang ini, boleh tidak?" tanya Alex menggoda.
Sophia mengangguk. Pipinya tambah memerah. Malu-malu tapi menyukai hal yang sama dengan suaminya.
Alex langsung membopong Sophia. Berdiri. Berjalan menuju ranjang.
"Mas aku lepas mukena dulu," ucap Sophia.
"Jangan lama-lama, dah gak sabar nih," keluh Alex manja.
Sophia tersenyum. Senangnya melihat suaminya begitu manja ingin diberi cinta dan kasih sayang olehnya.