
Baca bab sebelumnya baru ke bab ini. maaf sedikit author masih sakit.
.
.
"Ayolah Pa sarapan!" pinta Sophia.
"Papa gak berselera, dari pada masakannya aneh lebih baik sarapan di luar," sahut Alex. Dia bangun dari kursi. Meninggalkan ruang makan.
Melihat itu Emily menunduk. Dia belum juga bisa membuat Alex menyukainya.
"Sabar ya cantik, Papa pasti akan menyukaimu," ujar Arfan. Dia menyemangati Emily.
"Iya, makasih Arfan," sahut Emily.
"Tenang Kakek akan habiskan masakanmu," ucap Pak Ferdi. Dia ingin menyemangati Emily hal yang dulu tak pernah dia lakukan pada Sophia saat pertama kali datang ke rumah Keluarga Sebastian.
"Nenek juga, kebetulan Nenek laper banget," tambah Ibu Marisa. Seperti Pak Ferdi, dia ingin menyemangati Emily yang sudah berusaha sejauh ini.
"Aku juga Kak," kata Aliza.
"Mama juga," tambah Sophia. Sangat penting memberi support pada orang yang baru belajar. Agar dia semangat untuk lebih baik lagi.
"Tuh sayang masakanmu akan habis, ada Mas Arfan yang akan jadi tempat pembuangan kalau tidak habis," ujar Arfan.
Emily tersenyum. Dia senang semua anggota keluarga Arfan baik dan sayang padanya walaupun tinggal Alex yang belum seperti itu padanya.
Mereka semuapun sarapan bersama. Menikmati masakan sederhana yang dimasak Emily. Pak Ferdi begitu lahap meski dimandorin Ibu Marisa agar tidak makan terlalu banyak.
"Oya, nanti malam kita semua akan makan malam bersama teman Papa, jadi Mama akan masak banyak. Aliza dan Emily bantu Mama. Semuanya harus hadir oke?" ujar Sophia.
"Oke," sahut semuanya.
Setelah menyampaikan pesannya Sophia ke luar dari ruang makan bersama Aliza. Dia ingin mengajarkan Aliza pekerjaan di kantornya. Begitupun dengan yang lainnya mereka mulai meninggalkan ruang makan.
***
Dodo dan trio sekawan sedang berada di sebuah bazar amal. Mereka ingin menjadi bagian dari bazar amal itu, membantu sesama meringankan beban hidup mereka. Masing-masing anggota membawa barang yang akan dijual di bazar amal itu.
"Do kau bawa surat berharga untuk dijual?" tanya Turki.
"Iya dong, beramal itu harus niat," jawab Dodo. Membawa sebuah map berwarna kecokelatan.
"Emang itu surat berharga apaan?" tanya Roma.
"Surat tanah makam gue tar kalau mati," jawab Dodo.
"Astaga, bukannya itu tanah makam buat ngubur Lo? Kenapa mau dijual?" tanya Nepal. Heran melihat Dodo mau sedekah surat tanah makamnya sendiri.
"Habis gue masih hidup lebih baik diamalkan pada orang yang membutuhkan," jawab Dodo bijak.
"Tapi gimana kalau selama acara berlangsung Lo kena serangan jantung, stroke, tersambar petir atau nyemplung got?" tanya Roma. Berpikir Dodo bisa mati kapanpun.
"Jangan dong, tar gue mau dikuburin di mana?" sahut Dodo.
"Tenang, di dekat septic tank rumah gue masih ada tanah sisa. Bau dikit gak masalahkan? Lo kan dah mati," ujar Nepal.
"Sembarangan, gimana kalau airnya rembes? Lagi enak-enak disaksi mesti kebauan," jawab Dodo.
Nepal dan yang lainnya tertawa dengan lelucon mereka berempat.
"Roma Lo bawa panci, wajan dan piring, beli?" tanya Dodo melihat Roma membawa perabot dapur.
"Gaklah, ini perabot Emak gue buat jualan soto," jawab Roma.
"Iya, tar Emak Lo butuh buat jualan gimana?" tanya Nepal.
"Ya gue pinjem punya Emak Lo, kan kita tetanggaan," jawab Roma. Tersenyum meringis pada Nepal.
"Tetangga meresahkan," jawab Nepal sambil menggelengkan kepala.
"Nepal Lo bawa daleman punya siapa?" tanya Dodo.
"Punya siapa lagi selain jemuran tetangga," jawab Nepal sambil membawa sekantung daleman.
"Astaghfirullah, Lo mau nambah pahala kenapa mesti nabung dosa dulu," sahut Dodo.
"Iya, kalau pahalanya lebih gede. Tapi kalau dosanya lebih gede masuk neraka luh," tambah Turki.
"Tenang, tetangga gue ini aneh tak pernah ada di rumah tapi ada terus jemurannya, sampai bulukan, orang-orang bilang rumah kosong," jawab Nepal.
"Astaga jangan-jangan ini daleman almarhum dan almarhumah," sahut Dodo sambil mengelus dada.
"Iya, serem. Jangan sampai pocong nagih daleman nih," tambah Roma. Takut dengan daleman yang dibawa Nepal.
"Aduh mana gue bawa nisan, jadi serem," ucap Turki yang membawa nisan kosong.
"Astagfirullah kenapa Lo juga bawa nisan segala?" tanya Dodo baru ngeh batu keramik yang dibawa Turki batu nisan.
"Kan gue mau dapet pahala juga, ini punya gue kalau mati nanti, kan gue masih hidup jadi gue pinjemin dulu, tar kalau gue mati tak tagih," jawab Turki.
"Serem amet nisan pakai ditagih orang mati segala," sahut Roma merinding dengan apa yang dikatakan Turki.
"Berarti Lo menunda keberangkatan ke alam kubur buat nagih nisan ini dulu?" tanya Dodo gabut dengan tingkah konyol Turki.
"Begitulah, ingetin kalau gue lupa. Minimal bisikin di jenazah gue kalau nisan belum diambil lagi," jawab Turki.
"Astaga gue atau Turki yang bodo ya? Untung gue masih waras bawa daleman dari rumah kosong, ternyata ada yang lebih menakutkan," sahut Nepal.
Dodo dan Roma hanya tertawa mendengar celotehan kedua temannya.
"Ayo ke sana bazar sudah dimulai, kita ke pos!" ajak Roma.
"Sip," jawab semuanya.
Mereka berempat pergi ke pos mereka untuk menjual barang-barang yang dibawa mereka berempat. Hasilnya akan disumbangkan.
Di sela-sela acara itu ada gadis cantik yang berdiri tak jauh dari pos mereka. Dodo terpana melihat kecantikan gadis itu.
"Do obat Lo masihkan? Kita khawatir nih Lo masuk rumah sakit jiwa lagi," canda Turki.
"Diem Lo! Gue lagi jatuh cinta pada pandangan pertama," jawab Dodo.
"Itu bukannya Cala sepupu Lo," sahut Roma.
"Emang ya?" tanya Dodo.
"Kelamaan mandangin cewek cantik sampai lupa saudara sendiri," ucap Nepal. Dia menuang air di kepala Dodo biar gak kepanasan.
"Kok hujan ya?" tanya Dodo. Dia berbalik ke samping ternyata ulah Nepal.
"Lo ganggu aja sih Pal, gue lagi melirik cewek cantik," jawab Dodo.
"Itu mah sepupu eling, cari cewek lainlah," kata Nepal.
Dodo terdiam. Dia baru ngeh kalau Cala cantik banget, selama ini kumpul keluarga jarang memperhatikan.