Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Ini Wanita Itu



Dokter Leon menarik tangan Erisa turun dari bus. Meskipun Erisa awalnya menolak dan berusaha melepas tangannya tapi tetap saja Dokter Leon menarik tangan Erisa sampai di tepi jalan.


"Lepas! Kau belum jawab pertanyaanku!" pekik Erisa. Dia ingin kembali ke Jakarta. Tidak ingin bertemu lelaki yang sudah memiliki orang lain di hidupnya.


Dokter Leon melepas tangan Erisa. Berbalik menatapnya.


"Ayo pulang dulu nanti ku jelaskan!" kata Dokter Leon.


"Gak mau! Untuk apa? Kalau mau menjelaskan di sini aja," sahut Erisa. Dia kekeh tidak ingin pergi bersama Dokter Leon.


"Kalau di sini gimana aku akan menjelaskan, kau tidak ingin bertemu dan berkenalan dengan wanita bercadar itu?" tanya Dokter Leon.


Erisa terdiam. Dia membuang mukanya. Berat jika harus kembali ke Cidatar. Bagaimana kalau wanita itu benar-benar istri Dokter Leon. Tentunya dia akan sakit hati.


"Aku harap kau ikut kembali denganku Erisa," ucap Dokter Leon. Dia berharap Erisa mau kembali bersamanya.


"Tidak, sudah jelas. Dia istrimu. Kau tidak ingin menjelaskan di sini," jawab Erisa. Dia yakin wanita itu pasti istimewa untuk Dokter Leon.


"Karena aku ingin kau bertemu langsung dengannya," ujar Dokter Leon.


"Biar aku tahu kalau dia wanita spesial di hidupmu? Begitukan?" tanya Erisa.


"Iya, dia sangat spesial di hidupku," jawab Dokter Leon. Terlihat serius saat mengatakan hal itu. Menatap Erisa tanpa ragu.


"Oh, jadi benar kau sudah memiliki seseorang. Seharusnya aku memang tak datang ke sini, dan tidak menunggumu selama ini," ujar Erisa. Dia menyesal datang ke Cidatar hanya untuk bertemu Dokter Leon. Kalau ternyata Dokter Leon sudah memiliki seseorang yang lain di hidupnya. Dia juga tidak seharusnya menunggu selama satu tahun lebih demi seorang lelaki.


Dokter Leon tak menggubris ocehan Erisa. Dia menarik lengan wanita itu. Membawanya masuk ke dalam elef. Mereka duduk kursi yang berada di belakang kanan dan kiri supir.


"Bang jalan!" titah Dokter Leon.


"Gak usah Bang, ke Jakarta aja," tolak Erisa.


"Neng ini elef gak mungkin ke Jakarta, kecuali Neng mau booking nih," sahut supir elef.


"Aku bayar lima juta Bang, anterin ke Jakarta!" titah Erisa. Dia ingin ke Jakarta bukan Cidatar.


"Siap! Selama ongkos sesuai hajar!" sahut supir elef.


"Jangan mau Bang! Saya bayar enam juta. Berangkat ke Cidatar," kata Dokter Leon memberi penawaran. Dia tidak ingin kalah dari Erisa.


"Galau nih Neng, Akang kalau ngelihat duit ijo. Plin plan lagi kalau udah disuap gini," keluh supir elef.


"Ku tambahin dua juta, balik ke Jakarta!" titah Erisa menawarkan lebih tinggi ke supir elef.


"Bang delapan juta, berangkat ke Cidatar!" titah Dokter Leon. Dia tidak akan kalah. Pokoknya harus balik ke Cidatar.


"Astaga, kalau kaya gini setiap hari Akang pening pilih mana. Coba ada pencerahan lainnya," sahut supir elef. Masih belum menyalakan elefnya kebetulan masih kosong. Belum ada penumpang.


"Sembilan juta, jakarta otw!" titah Erisa. Dia kekeh ingin kembali ke Jakarta.


"Sepuluh juta, Cidatar go!" sahut Dokter Leon. Udah kaya jual beli tawar menawar antara penumpang dan supir.


"Aduh masih burem kalau begini, Akang sih pasti dukung yang lebih banyak," sahut supir elef.


"Dasar Abang! Tanpa kepastian! Sama aja!" Erisa kesal pada supir elef. Kemudian turun dari elef. Malas harus kembali menunggu tanpa kepastian.


"Baru pemilihan duit udah plin plan. Gimana memilih pemimpin. Jangan-jangan bininya dua ya?" ujar Dokter Leon.


"Kalau gitu good nye Bang! saya gak suka yang poligami," sahut Dokter Leon. Dia ke luar dari dalam elef.


"Loh-loh pada kabur. Gak jadi tawar menawarnya? Sejuta aja deh," ujar supir elef. Namun kedua orang itu tetap meninggalkan elef. Kebanyakan mikir dan plin plan berujung sia-sia gak dapet apa-apa. Nyesel deh supir elef hampir aja dapet duit banyak.


Erisa berjalan di tepi jalan ditemani Dokter Leon di sampingnya. Mereka berjalan tak tau arah dan tujuan.


"Kau tahu aku sudah menunggu cukup lama, mungkin masih ada harapan," ujar Erisa.


Dokter Leon hanya diam. Membiarkan Erisa mengungkapkan isi hatinya. Biar hatinya lega.


"Aku pikir mungkin kau di sana juga sedang menunggu sepertiku," kata Erisa.


"Tapi ternyata aku salah. Seharusnya aku mendengarkan saran keluargaku untuk menikah dengan orang lain. Dan berhenti menunggumu," ujar Erisa.


"Kau menyesal?" tanya Dokter Leon.


"Tidak, mungkin kita memang tidak berjodoh. Aku saja yang terlalu berharap. Padahal kau tidak memintaku menunggu," sahut Erisa. Sambil berjalan ke arah depan. Matanya berkaca-kaca. Ingin menangis tapi semua itu percuma.


"Ayo pulang! Kita selesaikan semuanya baik-baik. Kalau memang harus berakhir, setidaknya berakhir dengan baik," sahut Dokter Leon.


Erisa terdiam sesaat. Apa dia sanggup jika benar wanita bercadar itu istri Dokter Leon ataupun kekasihnya.


"Baiklah! Aku ikut kau pulang," jawab Erisa. Suka tidak suka. Dia harus menyelesaikannya dengan baik. Apapun yang akan terjadi nanti.


Dokter Leon mengangguk.


Mereka berdua kembali naif elef yang melintas di jalan. Mereka sepakat kembali ke Cidatar. Erisa memantapkan hatinya untuk menerima apapun hasilnya nanti. Dia tidak boleh lari dari takdir meski itu menyakitkan.


Sampai di Cidatar, Dokter Leon mengajak Erisa ke tempat yang berbeda. Awalnya Erisa mengikutinya melangkah. Namun dia bingung kenapa Dokter Leon mengajaknya ke tempat yang berbeda.


"Kita mau ke mana?" tanya Erisa. Dia menghentikan langkahnya. Dia ingin tahu ke mana Dokter Leon akan mengajaknya pergi.


Dokter Leon berbalik. Menatap gadis cantik dan seksi di depannya.


"Kau ingin bertemu wanita bercadar itukan? Aku akan mengenalkanmu dengan wanita bercadar itu," sahut Dokter Leon. Dia ingin mengenalkan Erisa pada wanita bercadar itu.


Erisa terdiam. Dia menarik nafas panjangnya. Tangannya sedikit mengepal. Berat untuk melangkah saat tahu akan bertemu wanita bercadar itu.


"Gimana?" tanya Dokter Leon.


Erisa membuang nafas gusarnya. Menaikkan kedua alisnya. Dia ingin tahu siapa wanita bercadar itu.


"Iya," jawab Erisa singkat dengan suara pelan.


Dokter Leon mengangguk. Kembali berjalan ke depan. Hingga masuk ke dalam sebuah pemakaman. Erisa heran kenapa Dokter Leon justru mengajaknya ke tanah pemakaman.


"Kenapa kita ke pemakaman? Bukan ke rumah Kakek Daniel?" tanya Erisa. Dia penasaran. Sepanjang matanya memandang berjejer makan-makam yang bersemayang.


"Kau akan tahu nanti, ikutlah denganku!" jawab Dokter Leon.


Erisa mengangguk. Sudah terlanjur basah sejauh ini. Dia tidak mungkin putar balik. Rasa penasarannya harus dituntaskan.


Dokter Leon dan Erisa kembali berjalan hingga sampai di depan sebuah nisan. Di nisan itu tertulis nama Aisyah Khumairoh bin Muhammad Ramdani.


"Ini Aisyah, wanita bercadar itu," ucap Dokter Leon. Wajahnya terlihat sendu menatap nisan yang ada di depannya.