
Melihat Alex menatapnya, Sophia langsung menciumnya. Kini dia sudah mulai aktif dan tidak malu-malu lagi. Apa yang dilakukannya memang semata-mata untuk menyenangkan Alex. Ciuman itu dibalas Alex. Penuh kemesraan.
"Mau minum susu dulu pakai kuning telur, madu, ditambah kayu manis dan jahe?" tanya Sophia setelah selesai berciuman.
Alex mendekati wajah Sophia.
"Boleh, biar tahan lama sayang," bisik Alex sedikit nakal di telinga istrinya.
Sophia tersenyum. Mulai senang ketika suaminya genit padanya.
"Aku bikin dulu, Mas berbaring di ranjang menungguku," ucap Sophia.
"Iya sayang," sahut Alex sambil mencolek dagu Sophia. Dia mulai berpindah ke ranjang ketika Sophia ke luar dari kamar. Berbaring sambil melihat foto-foto pernikahan mereka di ponsel miliknya.
"Sophia memang cantik dan sholeha, mimpi apa aku bisa jadi suaminya. Padahal aku ini brengsek," batin Alex sambil meraba wajah Sophia.
Tak lama Sophia masuk kamar membawa segelas susu untuk Alex. Dia memberikan pada suaminya dan duduk di sampingnya. Segera Alex meminum susu hangat buatan istri tercinta sampai habis. Dulu tak pernah sekalipun mau minum susu tapi sekarang setiap malam tak bisa tidur sebelum meminum susu buatan sang pemilik mata emerald itu.
"Segar sayang, siap tugas negara," ucap Alex sambil melirik Sophia.
"Baik komandan, beri aku waktu untuk berdandan agar layak melayani komandan," pinta Sophia.
Alex meraba pipi Sophia dan memberi anggukan.
Tak butuh waktu lama, Sophia berdandan full make up dan mengenakan pakaian seksi agar suaminya senang. Melihat itu Alex terus menatap Sophia yang mendekatinya. Semua hal indah dari atas sampai bawah.
"Sayang cantik sekali, aku suka," puji Alex.
"Makasih Mas, aku siap," ucap Sophia.
Alex tak menunda lagi. Istrinya sudah menawarinya. Apalagi, langsung tancap gas. Meskipun menggunakan pemanasan dahulu sebelum senam dilaksanakan. Bagian ini sangat disukai Sophia. Karena Alex sang casanova begitu mahir. Cinta keduanya bersemi seiring bertambahnya waktu. Perpaduaan hati dan raga yang membuat semua gelora asmara meningkat. Membuat keringat-keringat peluh berjatuhan. Baik Alex dan Sophia hanyut dalam cinta dan keinginan satu sama lain. Ketika kata halal dilabelkan, maka segala sentuhan itu menjadi pahala untuk keduanya.
Dua jam sudah bergelut di dalam cinta dan nafsu. Akhirnya Alex menyudahinya. Semenjak berhubungan dengan Sophia, dia mulai bisa mengontrol nafsu yang ada pada dirinya. Hanya Sophia yang kini membuat syahwatnya naik. Ketika bertemu Deva yang dulu sangat dicintainya tak ada nafsu lagi apalagi cinta. Di mata Alex, Sophia bagai mutiara. Sangat berharga dan tidak bisa ditukar dengan apapun.
Alex memeluk Sophia yang terlihat kelelahan. Wajahnya sedikit pucat. Padahal Sophia yang menderita kanker hati tak memiliki stamina sekuat Alex. Dia tetap memaksakan diri untuk melayani suaminya meskipun terkadang tak mampu. Untung Alex kini mulai mengurangi keinginannya. Dia faham, Sophia butuh istirahat dan dia tak ingin istri tercintanya tersiksa untuk memenuhi keinginannya yang kadang di luar batas. Sophia menjadi tempat Alex berlindung dari kejahatan syahwatnya. Menjadi penenang batinnya yang terkadang sering kesepian.
"Sayang tidurlah! Aku akan memelukmu," ucap Alex.
Sophia mengangguk. Berada di pelukan Alex hingga tertidur. Alex terus mengelus kepala Sophia dan sesekali mencium dahinya.
"Terimakasih sayang sudah hadir dihidupku," batin Alex.
Tiba-tiba handphone Alex berdering. Alex melepas pelukannya perlahan. Bangun. Turun dari ranjang mengambil handphone-nya di atas laci. Dia melihat panggilan dari Kenan dan langsung mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum," sapa Kenan.
"Wa'alaikumsallam," sahut Alex.
"Sorry Bos, malam-malam ganggu, ada info penting," ujar Kenan.
"Cepat katakan!" perintah Alex.
"Oke, begini Bos, saya sudah tahu informasi tentang masjid yang digusur itu," sahut Kenan.
"Iya, informasi apa? Jangan membuatku kesal!" ancam Alex.
Kenan menceritakan semua informasi yang didapatnya pada Alex. Dari pemilik tanah, tanah yang diwakafkan, dan pembeli tanah itu.
"Apa Luis Aragones?" Alex terkejut saat nama itu disebut Kenan.
"Iya Bos, CEO dari Perusahaan Alison Barnett," jawab Kenan.
"Oke, kali ini kau sangat berguna Kenan, ada bonus untukmu besok," ujar Alex.
"Makasih Bos, sering-sering aja, mumpung lagi sepi job," ucap Kenan.
Alex langsung menutup telponnya usai bicara. Dia mengambil pakaian di lemari. Mengenakan T-shirt berwarna putih, dengan jaket levis berwarna biru tanpa dikancingkan dan celana levis yang senada dengan jaket miliknya. Dia berjalan ke ranjang. Menyelimuti Sophia. Mencium keningnya.
"Tidurlah yang nyenyak sayang, aku akan segera pulang, I Love You," bisik Alex. Kemudian berjalan ke luar kamarnya. Berjalan menuruni tangga. Ke luar dari rumah. Naik mobil Lamb0rghini berwarna hitam miliknya. Kemudian meninggalkan rumah besarnya.
Mobil melaju dijalanan. Memecah jalan dari keramaian kendaraan yang lulu lalang. Cuaca yang cerah membuat pengendara mobil dan roda dua semakin padat. Tujuan mereka berbeda-beda, begitupun dengan Alex yang pergi ke suatu tempat.
Sampai di Klub Prixsion. Alex masuk ke dalam klub malam itu. Banyak gadis-gadis perawan yang masih remaja menggodanya. Mereka tahu selera Alex hanya pada gadis perawan. Namun kali ini tatapannya dingin. Tak ada nafsu seperti biasanya. Matanya hanya menyapu ke sekeliling ruangan seakan mencari target yang belum muncul dipelupuk matanya.
Alex terus berjalan menuju lorong yang mengarah ke ruang VIP dari klub malam itu. Alex memasuki salah satu ruang VIP. Di dalam beberapa pebisnis duduk bermain kartu dan ditemani wanita malam sambil mabuk. Mereka terlihat membicarakan sesuatu.
"Kalian takkan percaya, Sophia datang ke kantorku," ujar Luis.
"Kau gila? Mana mungkin wanita sholeha itu berurusan denganmu."
"Memang kenapa? Aku saja mencoleknya tadi."
"Kau kurang ajar sekali, kau tahu siapa suaminya?"
"Alex Sebastian. Memangnya kenapa? Paling Alex akan memberiku giliran setelah dia puas dengan Sophia," jawab Luis.
Alex yang berada di belakang mereka kesal. Mengepalkan tangannya tak terima istrinya dihujat dan dihina. Dia bersiap memukul namun mereka masih membicarakan Sophia. Alex menunggu waktu yang tepat.
"Lagian sok Alim pakai hijab, paling kalau tau rasanya milik gue, juga bakal ketagihan," ucap Luis.
"Paling Alex tar membuangnya, tahu sendiri incarannya Alex."
"Dasar gila."
"Sophia itu bakal nyerahin tubuhnya buat gue, dari mana coba dia dapatkan uang 10 Trillion," ujar Luis sesumbar.
"Gila loh, kalau Alex tahu gimana?"
"Tinggal gue balikin bininya setelah semalaman gue pake," jawab Luis.
Kesabaran Alex sudah memuncak di ubun-ubun. Apa yang dikatakan Luis sudah di luar batas. Dia berjalan menghampiri Luis dan menghajarnya habis-habisan. Beberapa kali memukul Luis dengan tangannya sendiri hingga babak belur, tak memberi kesempatan Luis untuk melawan.
Dug ... dug ... dug ...
Pukulan demi pukulan dikeluarkan.
Bluuug ...
Luis terjatuh di meja judi. Semua orang porak poranda. Sebagian bertahan untuk menyaksikan. Tak ada yang melerai. Mereka sengaja ingin tahu kedua teman setongkrongan mabuk itu berkelahi.
Luis berusaha bangun. Berdiri di depan meja.
"Alex kau mau apa? Kenapa tiba-tiba memukulku?" tanya Luis.
Alex mendekati Luis. Meraih kerah bajunya. Satu tangannya bersiap di udara untuk memukul Luis.
"Berani sekali kau melecehkan istriku! Jangankan seujung rambut, menyebut namanya saja, aku takkan membiarkan mulutmu terbuka," ancam Alex.
"Alex ini hanya bercanda, seperti biasa," sahut Luis. Dia tak mampu melawan karena sudah babak belur.
"Bercanda? Kau mempermalukan istriku di depan semua orang, aku takkan mengampunimu," ujar Alex.
"Alex aku minta maaf," sahut Luis.
Alex tak menggubris Luis yang meminta maaf. Dia menghajar Luis dengan beberapa pukulan yang dari tadi sudah memanas.
"Alex ampun," ucap Luis. Dia terjatuh di lantai. Mukanya sudah lebam. Namun Alex masih belum puas. Dia menghampiri Luis. Membangunkannya. Menarik bajunya hingga dia berdiri kembali.
"Luis, aku tidak akan berinvestasi di proyek mu," ucap Alex.
"Alex, ini bisa dibicarakan baik-baik," sahut Luis. Dia tak menyangka Alex yang merupakan salah satu investor dari proyeknya membatalkan kerjasama mereka.
Seketika Luis teringat malam dua bulan yang lalu. Saat itu Alex sedang mabuk bersamanya di klub malam itu. Mereka juga merokok dan bermain wanita. Duduk di sofa sambil berbincang.
"Lex gue punya proyek yang bakal menghasilkan untung yang sangat banyak," ujar Luis.
"Proyek apa?" tanya Alex.
"Proyek pembangunan apartemen," jawab Luis.
"Di mana?" tanya Alex.
"Belum nemu lokasi yang pas, tapi lagi ngincer tanah di daerah Jayakarsa," ujar Luis.
"Gue mau investasi, menarik, daerah itu sangat strategis," ucap Alex.
"Berarti kau jadi salah satu investornya ya," ujar Luis memastikan kembali.
"Oke," sahut Alex..
Kala itu Alex belum mengenal Sophia. Dia masih nongkrong di klub malam. Kenal Luis hanya sebatas bisnis dan bertemu saat di klub. Itupun jika mereka berada di klub yang sama.
Lamunan Luis terpecah saat Alex kembali menghujaninya dengan pukulan. Meskipun dia sempat membalas beberapa kali dan mengenai wajah Alex tapi tetap Alex jauh lebih kuat darinya.
"Tak ada yang lebih pantas dari ini," ujar Alex kembali memukul Luis.
Dug ...
Emosi Alex sangat meluap. Tak terima Luis berani melecehkan Sophia tadi. Tak ada satu pun orang boleh menyakiti Sophia apalagi itu Luis.
"Lex dia hanya wanita naif, kau bisa mendapatkan wanita lain yang lebih seksi," ujar Luis.
Semakin Luis menghina Sophia semakin besar emosi Alex. Dia memukul Luis sekuat tenaga.
"Sekali lagi kau berani melakukan apapun pada Sophia, aku akan membunuhmu," ancam Alex yang masih dipegang tubuhnya oleh kedua lelaki kekar.
Pukulan kembali dilayangkan oleh Alex pada Luis.
"Kalau sampai besok kau masih berniat menggusur masjid, kau berurusan denganku Luis," ancam Alex.
Luis hanya menatap Alex dengan lemas. Dia tak mampu berkata apapun. Babak belur. Dia hanya terdiam. Tak lama keamanan klub malam itu datang. Memisahkan keduanya.
Alex dibawa ke luar dari ruangan itu. Dia melepas tangan dari kedua lelaki kekar. Kemudian berjalan ke luar dari klub malam. Alex benar-benar marah dan kesal. Semua emosinya sudah diluapkannya tadi. Alex masuk ke mobilnya kembali, mengendarai mobilnya pulang ke rumah.
Sampai di rumah, Alex masuk ke kamarnya. Melihat Sophia masih tertidur di ranjang. Alex melepas jaket dan sepatunya. Lalu berbaring memeluk Sophia. Tiba-tiba Sophia terbangun. Mencium aroma alkohol dari tubuh Alex. Sophia berbalik, menatap Alex dan memegang kedua pipinya.
"Mas kenapa pipimu lebam?" tanya Sophia.
Alex tak menjawab. Justru memeluk Sophia dengan erat seolah tak ingin jauh darinya. Sophia bingung apa yang telah terjadi pada Alex.