
Mobil Alphard berwarna hitam itu sampai juga di Gedung Maripossa. Gedung tempat acara pesta dansa para konglomerat itu. Kakek David dan Claudya jalan duluan sedangkan Gavin sibuk membantu si gendut ke luar dari mobil.
Kakek David dan Claudya memasuki red karpet di depan gedung sampai ke dalam. Mereka sempat berfoto di depan red karpet. Beberapa wartawan juga memfoto mereka. Kemudian mereka kembali berjalan memasuki gedung itu.
Di dalam gedung terlihat ramai. Semua orang yang hadir dipastikan konglomerat. Tak ada satupun orang bisa masuk kalau mereka bukan konglomerat. Ada kartu khusus sebagai tanda konglomerat, kartu itu sudah paten. Ada syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan kartu itu. Tidak sembarangan orang memiliki kartu berwarna hitam dengan dilapisi emas. Kartu yang hanya dimiliki anggota yang terdaftar sebagai konglomerat dan keturunannya.
"Kek, Claudya mau ke sana, sepertinya itu teman-temanku," ujar Claudya sambil menunjuk ke arah kanan.
Kakek David hanya mengangguk. Membiarkan cucunya menghampiri temannya. Sedangkan dia berjalan di antara orang-orang yang sedang berdiri di dalam ruangan itu. Ada yang mengorbrol, menari dan berdansa, ada juga yang menyantap hidangan dan minuman.
Kakek David berjalan sampai ke ujung ruangan. Ada tangga menuju ke lantai atas. Acara pesta dansa itu memang berada di lantai satu dan dua. Hanya saja lantai duanya berupa balkon yang memutari ruangan di bawahnya. Kakek David naik ke tangga. Dia berjalan menuju lantai atas. Di lantai dua, suasananya lebih sepi dari lantai satu. Kakek David berjalan sambil melihat keramaian di lantai satu yang terlihat dari atas. Tak sengaja dia melihat seorang wanita yang sedang menyendiri. Dia menegang jus jeruk di tangannya. Berdiri di tepi tralis yang membatasi lantai dua. Menatap ke bawah menyaksikan keramaian di bawahnya.
Ketika Kakek David berjalan mendekat. Wanita itu menengok ke arahnya. Mata mereka saling menatap dan bertautan. Ada sesuatu yang tersirat dari mata keduanya.
Mereka berdua masih terdiam. Menatap tajam. Ada perasaan yang tersembunyi di dalam hatinya. Meskipun tak ada kata yang ke luar tapi tatapan mata itu sudah menjelaskan semuanya.
"Apa kabar Carolline?" tanya Kakek David.
"Kau ingin tahu kabarku? Ku pikir kau sudah melupakanku," jawab Nenek Carolline. Tersenyum sinis.
"Kau datang di pesta dansa ini?" tanya Kakek David basa basi. Sebenarnya dia tak ingin menanyakan itu. Tapi dia ingin menanyakan sesuatu lebih dari itu.
"Aku ningrat tentu datang ke acara ini, kau sendiri orang miskin untuk apa datang ke sini?" tanya Nenek Carroline.
"Iya seharusnya aku tidak datang," jawab Kakek David.
"Heh ..., jiwa miskinmu itu, membuatmu menciut," sahut Nenek Carroline.
"Aku turun dulu, selamat menikmati pestanya," ujar Kakek David.
Tak menunggu dibalas Nenek Carroline, Kakek David berbalik berjalan meninggalkan. Baru beberapa langkah Nenek Carroline berbicara pada Kakek David.
"Seperti dulu, kau selalu meninggalkanku," ujar Nenek Carroline.
Kakek David terdiam. Teringat sesuatu di masa lalunya. Ingatan itu seakan berputar kembali. Tergambar di depan matanya.
"Mas kenapa? Kenapa kita harus berpisah?"
"Aku miskin."
"Kau menyerah?"
"Iya aku tak mampu menghidupimu, benar kata Papamu."
"Jadi kemiskinan membuatmu menyerah? Padahal aku tidak mempermasalahkan, aku rela hidup susah denganmu."
"Maafkan aku, aku ingin kau bahagia."
"Bahagia? Aku hanya akan bahagia bersamamu."
"Maafkan aku, mulai hari ini aku menceraikanmu Carroline."
Hening.
Lamunan itu terpecah menjadi puing-puing yang berhamburan. Kakek David kembali ke dunia nyatanya. Di mana antara dia dan Carroline terbentang jarak yang luas. Melebihi benua dan samudera. Bagai api dan air. Bumi dan langit. Semua sudah memisahkan mereka.
"Aku benci orang miskin yang tidak mau berjuang, mereka hanya bisa berputus asa, bahkan memutus ikatan yang seharusnya diperjuangkan," ujar Nenek Carroline.
Kakek David masih terdiam membelakangi Nenek Carroline. Matanya berkaca-kaca. Apa yang dikatakan Nenek Carroline semuanya benar tentangnya.
"Pengecut, kau meninggalkanku pengecuuuut ...," teriak Nenek Carroline. Meluapkan sesak di dadanya. Selama ini, bertahun-tahun lamanya. Nenek Carroline sudah memendam kemarahannya.
Tiba-tiba Dodo naik ke atas, menghampiri Kakek David. Dia melihat Kakek David sedang berduaan dengan Nenek Carroline. Dodo berdiri di depan Kakek David. Berbicara padanya.
"Kek lagi pacaran ya? Udah tua inget umur Kek," ucap Dodo.
Kakek David yang tadi tegang, langsung tersenyum. Mengusap kepala botak Dodo.
"Nenek itu menyeramkan kaya Mak lampir, kakek yakin mau berpasangan dengannya?" tanya Dodo sambil menunjuk ke arah Nenek Carroline. Wanita tua di depannya itu mengenakan lipstik hitam, baju hitam dan melotot itu yang menyebabkan Dodo memanggilnya Mak lampir.
Kakek David pun berbalik karena Dodo menunjuk ke arah Nenek Carroline.
"Apa? Mak lampir?" ujar Nenek Carroline.
"Kek dia bukan cewek idaman kakekkan? Banyak yang lebih cantik di bawah," ucap Dodo.
"Kau bilang aku apa bocah gendut?" Nenek Carroline emosi. Dodo membuatnya naik darah.
"Kek, Nenek itu darah tinggi, panggilkan ambulan bentar lagi wassalam," ujar Dodo.
Kakek David menutup mulutnya. Menahan tawanya. Melihat Nenek Carroline emosi tingkat tinggi gara-gara celetukkan Dodo yang polos.
"Huh ... huh ..., bisa darah tinggi beneran aku mendengar bocah gendut itu bicara," ucap Nenek Carroline.
"Dodo ayo kita ke bawah," ajak Kakek David.
"Tunggu Kek, Nenek itu setan apa hantu? Takutnya cuma Dodo yang ngeliat," ujar Dodo.
"Benar-benar emosiku sudah memuncak, cucumu itu harus ku plaster mulutnya," ujar Nenek Carroline.
"Kek setannya kejam dan sadis, ayo turun," ajak Dodo sambil memegang tangan kiri Kakek David. Mengajaknya turun, pergi menjauh dari Nenek Carroline yang sudah emosi tingkat tinggi.
"Carroline aku turun dulu," ucap Kakek David.
Nenek Carroline masih terdiam mengepalkan tangannya menatap Dodo tajam.
"Ayo Kek, udara di sini semakin panas, sepertinya banyak setannya," ujar Dodo.
Kakek David hanya mengangguk. Menuntun Dodo berjalan meninggalkan Nenek Carroline. Mereka turun ke lantai bawah. Sedangkan Nenek Carroline masih terdiam dan kesal.
"Apa benar bocah gendut itu cucunya David? Rasanya pengen ku pakai ngulek sambel kepala botaknya," ujar Nenek Carroline.
"Mengganggu saja, kenapa tadi aku tak sempat menjitak kepala botak si gendut itu," tambahnya.
Nenek Carroline membuang nafas gusarnya. Menarik nafas dalam-dalam. Mengaturnya perlahan. Hampir saja terbawa emosi. Kalau tidak beneran naik darah berujung terkena serangan jantung. Gengsi sakit di depan mantan suami yang meninggalkannya begitu saja. Seharusnya dia marah-marah padanya. Eh, muncul bocah gendut botak mengganggu suasana. Kemarahannya terpaksa ditabung lagi. Mungkin esok atau lusa bisa dilampiaskan semaksimal mungkin.