
"Siapa kau?" ucap Tuan Matteo melihat seseorang dengan penutup wajah berbahan kaos hitam menutup wajahnya, hanya mata yang terlihat, dia berada di depannya.
Orang itu terkejut saat mendapati Tuan Matteo ada di dalam bersama Claudya. Tangannya yang tadi memegang pisau langsung memasukkannya ke dalam kantung celana. Dia bergegas mau melarikan diri tapi Tuan Matteo menghadangnya.
"Mau ke mana kau? Jawab pertanyaanku?" tanya Tuan Matteo menatap orang di depannya.
Orang itu langsung menyerang Tuan Matteo yang ada di depannya. Mereka baku hantam. Memukul dan menendang. Claudya hanya terpaku melihat mereka baku hantam. Tuan Matteo terus menyerang, lebih dominan. Dia menendang kaki orang di depannya hingga dia terjatuh ke lantai.
Bruuug ...
Orang itu terjatuh lalu mengeluarkan pisau yang tadi di kantung celananya. Dia bangun kembali menyerang Tuan Matteo. Tangannya mengarah ke depan sambil mengacungkan pisau ke arah dada Tuan Matteo. Untung Tuan Matteo menunduk. Dia mendorong orang itu hingga menabrak lemari yang ada di belakangnya.
Dug ...
Orang itu terhantam ke lemari. Pisau terjatuh ke lantai.
Praaang ....
Baik Tuan Matteo dan orang itu sama-sama melihat ke arah pisau. Mereka ingin mengambil pisau itu. Keduanya langsung berlari ke arah pisau. Hanya saja Tuan Matteo lebih dulu mengambilnya. Dia langsung siaga. Menyerang orang itu hingga mengenai tangannya di bawah siku.
Sreet ...
"Aw ...," keluh orang itu. Dia memegang tangannya yang terluka.
"Menyerahlah! Siapa kau?" tanya Tuan Matteo yang masih dalam posisi terjaga, mengacungkan pisau ke depannya.
Orang itu bukannya menyerah, justru langsung menyerang Tuan Matteo. Dia menendang ke arah tangan Tuan Matteo yang memegang pisau.
Praang ...
Pisau kembali terjatuh. Mereka kembali baku hantam. Tak ada yang mengalah. Orang itu melihat pisau, dia bergegas mengambil pisau itu. Mengacungkannya ke arah depan. Tuan Matteo langsung berjaga. Dia memegang pisau itu, tangan kanannya terluka sampai berdarah.
Pisau itu ditekan semakin kuat ke depan. Ingin menusuk ke depan, untung saja Tuan Matteo berpikir cepat. Dia menendang perut orang itu.
Dug ...
Orang itu mundur ke belakang. Pisau kembali terjatuh di lantai.
Praaang ...
Tuan Matteo kembali menyerang. Mereka baku hantam kembali. Keduanya dominan. Namun Tuan Matteo mengambil sebuah guci cukup besar yang berada di dekatnya dan dilempar ke arah orang itu hingga mengenai dadanya.
Dug ...
Praak ...
Guci itu terjatuh di lantai terbelah menjadi beberapa bagian. Orang itu juga terpental mundur ke dekat pintu. Dia masih memegang dadanya. Tuan Matteo maju ke depan, tapi orang itu bergegas berdiri, bukan untuk melawan justru melarikan diri. Ke luar dari ruangan itu. Berlari sekencang mungkin. Tuan Matteo mengejarnya, sayangnya dia sudah menghilang.
"Huh ... huh ... huh ...." Suara nafas Tuan Matteo tersengal-sengal.
Karena tak menemukan orang itu, Tuan Matteo kembali ke ruangan tadi. Di dalam Claudya berlari ke arahnya.
"Kau tak apa-apa?" tanya Claudya khawatir.
Tuan Matteo hanya menggeleng. Tanpa sadar darah di telapak tangannya menetes terus. Claudya melihat itu. Dia segera mengambil tangan Tuan Matteo.
"Tanganmu," ucap Claudya melihat luka terkena pisau tadi. Luka itu terus berdarah.
"Hanya luka kecil," jawab Tuan Matteo.
"Luka kecil gimana, kau bisa kehabisan darah," sahut Claudya. Dia melepas tangan Tuan Matteo. Mengambil sapu tangannya di dalam tas pestanya. Dia membalut luka berdarah di tangan Tuan Matteo.
"Semoga sapu tangannya bisa menahannya sementara waktu, ayo kita ke rumah sakit," ujar Claudya.
"Tidak usah ke rumah sakit. Aku antar kau pulang sayang," ucap Tuan Matteo.
"Kau bilang sayang lagi? Aku ini bukan siapa-siapamu," celoteh Claudya.
Tuan Matteo tersenyum dengan celotehan Claudya.
"Ya sudah, ayo pulang!" ajak Tuan Matteo.
Claudya mengangguk.
Mereka berdua berjalan ke luar dari ruangan itu. Berjalan beriringan. Claudya terlihat grogi saat berjalan bersama Tuan Matteo.
"Orang kalau cinta bawaannya beda, grogi ya," sindir Tuan Matteo.
"Eh siapa yang cinta, jangan kepedean," sahut Claudya kemudian jalan duluan karena kesal. Tapi setelah di depan dia tersenyum malu-malu.
Tuan Matteo segera menyusul Claudya. Hingga mereka sampai ke parkiran mobil. Tuan Matteo mempersilahkan Claudya masuk ke dalam mobil BMW miliknya. Tiba-tiba Luki datang menghampiri keduanya.
"Tuan," sapa Luki.
Tuan Matteo dan Claudya menoleh ke arah Luki.
"Dari mana kau?" tanya Tuan Matteo.
"Oh, aku mau mengantar Claudya pulang ke rumahnya," ujar Tuan Matteo.
"Tapi ini sudah malam Tuan, anda pasti lelah, biar aku saja yang mengantarnya," ujar Luki.
"Tidak usah, kau pulang saja naik taksi, aku mau mengantar Claudya," ujar Tuan Matteo.
Luki awalnya tidak setuju. Tapi apa boleh buat, dia tak mungkin bersikeras menentang itu. Keinginan Tuannya tak bisa dibantah.
"Baik Tuan," jawab Luki. Kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu. Sambil berjalan menjauh tangannya mengepal.
Sementara itu Tuan Matteo dan Claudya masuk ke dalam mobil. Tuan Matteo meminta supir pribadinya mengantar mereka ke rumah Keluarga Sebastian. Mobil melaju di antara lintasan jalan yang mulai sepi. Cahaya lampu jalanan menerangi setiap beberapa kilometer jalanan yang ada. Rembulan malam menyambut malam yang mulai berkabut awan mendung. Hanya beberapa pengemudi yang masih setia mengemudi untuk pergi ke tempat tujuannya. Malam juga semakin larut. Angin hilir mudik menghempaskan hawa yang dingin menusuk ke dalam tulang. Setiap insan sudah mulai bermalas-malasan dibalik selimut tebalnya.
Di perjalanan Claudya tersenyum malu, dia tak berani berkata apapun. Setelah sampai di halaman rumahnya, Claudya akhirnya mengatakan sesuatu.
"Makasih ya, tadi ada kau di saat aku ketakutan," ucap Claudya.
"Gak denger, apa? Coba sekali lagi," ujar Tuan Matteo.
"Makasih ya lelaki mesum," ucap Claudya.
"Manisnya, coba setiap hari begini, gak galak," ujar Tuan Matteo.
"Kau bilang aku galak?" Claudya kesal.
"Enggaklah sayang, cuma mengigit," sahut Tuan Matteo.
"Menyesal aku berbaik hati padamu," ucap Claudya. Kemudian dia memutuskan turun dari mobil. Berdiri di depan pintu mobil yang kaca mobilnya diturunkan oleh Tuan Matteo.
"Hei jangan lupa besok ya, masak yang enak sayang," ucap Tuan Matteo.
"Ogah, pulang sana!" titah Claudya.
Tuan Matteo tersenyum. Setelah itu meminta supir jalan. Mobil BMW pun melaju meninggalkan halaman rumah Keluarga Sebastian.
Sampai di rumah, Tuan Matteo berjalan ke lantai atas. Tiba-tiba Luki menghampirinya yang mau masuk ke dalam kamar. Posisi Tuan Matteo masih memegang gagang pintu kamarnya.
"Tuan sudah pulang?" tanya Luki.
"Iya, kau belum tidur?" tanya Tuan Matteo balik.
"Belum, saya menunggu Tuan," jawab Luki.
"Ya sudah tidurlah!" titah Tuan Matteo.
Luki melihat ke tangan Tuan Matteo yang berbalut sapu tangan.
"Itu tangannya kenapa Tuan?" tanya Luki.
Tuan Matteo melepas tangannya dari gagang pintu kamarnya.
"Oh ini, tadi ada insiden kecil," jawab Tuan Matteo.
Luki langsung maju ke depan. Memegang tangan Tuan Matteo yang dibalut sapu tangan. Dia bergegas membuka sapu tangan itu.
"Ini luka, infeksi kalau tidak diobati," ucap Luki.
"Gak usah, udah kering darahnya," sahut Tuan Matteo.
"Biar aku mengobatinya Tuan," ucap Luki.
"Baiklah," sahut Tuan Matteo.
Akhirnya Tuan Matteo dan Luki duduk di ruang santai yang ada di lantai atas. Luki mengobati luka di tangan Tuan Matteo. Perlahan dan penuh kelembutan.
"Gimana sakit tidak Tuan?" tanya Luki.
"Tidak," sahut Tuan Matteo.
Luki melihat sapu tangan di atas meja. Dia mengambil sapu tangan itu, hendak membuangnya ke tempat sampah kecil di bawah meja.
"Jangan dibuang, sapu tangan itu berharga untukku," ucap Tuan Matteo.
"Ini hanya sapu tangan kotor Tuan," jawab Luki.
Tuan Matteo mengambilnya dari tangan Luki. Dia mencium sapu tangan yang harum aroma buah strawberry itu.
"Harum, seperti pemiliknya," ujar Tuan Matteo.
Luki cemberut. Mengerucutkan bibirnya.
"Sapu tangan ini akan ku simpan sebagai kenangan," ucap Tuan Matteo.
Luki mengepalkan tangannya, lalu membereskan kotak P3K di atas meja.
"Luki tanganmu kenapa?" tanya Tuan Matteo yang melihat luka sayatan di bawah siku bagian tangan Luki.