Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Menaklukan Hatimu



"Saya takut merepotkan," sahut Luki.


"Tidak, kau sudah menyelamatkan nyawaku, aku harus menjamumu dulu, barulah kau boleh pulang," ujar Pak Harry.


"Baiklah, kalau ini permintaan Anda," jawab Luki.


"Siapa namamu?" tanya Pak Harry.


"Arfan Edward," jawab Luki.


"Kau pemilik Perusahan Edward Group?" tanya Pak Harry. Dia pernah mendengar Perusahaan Edward Group yang belum lama ini didirikan dan lumayan maju.


"Iya betul," jawab Luki.


"Masih muda sudah punya perusahaan, hebat," sahut Pak Harry.


"Anda terlalu memuji," sahut Luki.


Tak lama Humaira mendekat. Duduk di samping ranjang. Mengobati luka ayahnya.


"Sakit Pa?" tanya Humaira.


"Sedikit, kau oles perlahan aja," jawab Pak Harry.


Humaira mengangguk. Mengoles obat luka memar itu perlahan-lahan. Sampai semuanya selesai dioleskan.


"Arfan ini putri semata wayangku, Humaira Az Zahra," ucap Pak Harry memperkenalkan Humaira pada Luki.


Luki tersenyum menatap gadis cantik bercadar itu. Matanya kebiruan. Indah seperti air di dalam lautan.


"Senang bertemu denganmu Humaira," ujar Luki.


Humaira hanya mengangguk. Menurunkan pandangannya saat Luki menatap matanya.


"Kau akan terpesona ketampananmu Humaira," batin Luki. Dia berpikir Humaira akan jatuh ke pelukannya dengan mudah.


"Humaira, ini Arfan Edward, lelaki pemberani yang menolong Papa," ujar Pak Harry mengenalkan Luki pada Humaira.


"Terimakasih Arfan sudah menolong Papa," ucap Humaira.


"Iya Humaira," jawab Luki.


Pak Harry tersenyum melihat Luki yang dari tadi memandangi putri semata wayangnya.


"Pa, mau minum teh hangat?" tanya Humaira.


"Boleh, tapi kau obati dulu luka Arfan," jawab Pak Harry.


"Tapi Pa," elak Humaira.


"Lakukan perintah Papa! Jangan membantah!" titah Pak Harry.


Humaira hanya diam. Mengambil kotak P3K itu ke luar dari kamar Pak Harry diikuti Luki yang berjalan di belakangnya.


"Humaira kau ingin mengobatiku di mana?" tanya Luki.


"Di sana," jawab Humaira menunjuk ke arah ruang keluarga.


"Oke," jawab Luki.


Humaira berjalan ke ruang keluarga di lantai atas itu bersama Luki. Duduk di karpet. Humaira mengambil obat oles untuk luka Luki. Dia menggunakan katembat untuk mengolesnya dan meletakkannya di bawah.


"Maaf, lakukanlah sendiri!" ucap Humaira.


"Apa tanganmu sakit Humaira?" tanya Luki.


"Tidak, tapi anda bisa melakukannya sendirikan," sahut Humaira.


Luki tersenyum sinis. Mendengar jawaban Humaira.


"Tanganku sakit sekali, tadi terkena luka pukul saat menolong ayahmu," ujar Luki.


"Tutuplah matamu!" pinta Humaira.


"Kenapa harus tutup mata?" tanya Luki.


"Agar kita tidak saling memandang," jawab Humaira.


"Sepertinya aku harus membuatnya murahan di depanku," batin Luki.


"Oke," jawab Luki. Dia menutup matanya.


Perlahan Humaira mengambil katembat yang ditetesi obat luka kemudian mengoleskannya disudut bibir Luki dengan wajah yang datar. Tiba-tiba Luki membuka mata, meraih tangan Humaira.


"Astagfirullah," ucap Humaira terkejut tangannya digenggam tangan Luki. Dia menutup matanya. Menarik tangannya.


"Lepas!" pinta Humaira.


"Kenapa? Tanganmu sangat lembut, belum pernah dipegang laki-laki ya?" ujar Luki.


"Jangan kurang ajar!" pekik Humaira.


"Memang kenapa? Aku tampan, tak tertarikah kau padaku?" tanya Luki.


"Tidak, lepaskan!" pekik Humaira.


"Aku sudah menolong ayahmu, jadi buat aku senang!" titah Luki.


Humaira menggeleng. Kini dua tangannya dipegang lelaki asing tak sopan itu.


"Kenapa kau melakukan ini pada seorang wanita, kau pasti terlahir dari seorang wanitakan?" tanya Humaira.


"Ha ha ha, ibuku bahkan mencambukku, itu yang dibilang seorang wanita?" ujar Luki.


"Tapi kau tidak bisa seenakmu sendiri, tidak semua wanita seperti ibumu, lepaskan tanganku!" pinta Humaira.


Karena Luki terus menggenggam tangannya, akhirnya Humaira mengigit tangan Luki. Dengan gigi yang masih dilapisi cadar.


"Aw ..." Luki terkejut. Tangannya spontan terlepas dari tangan Humaira.


"Anda tamu di sini bersikaplah sopan," ujar Humaira marah. Dia langsung berdiri meninggalkan Luki.


"Humaira, lambat laut kau akan tergila-gila padaku, mengemis cintaku," ujar Luki tersenyum licik.


Di sisi lain Humaira berjalan turun ke lantai bawah. Dia masih kesal dengan tamu ayahnya itu.


"Lelaki itu sangat tidak sopan, kalau bukan orang yang menolong Papa aku sudah mengusirnya," batin Humaira. Berjalan masuk ke dapur. Humaira mengambil teh dan gula. Membuat teh hangat untuk ayahnya dan Luki.


Dia termenung. Mengaduk teh hangat itu. Dari belakang Luki ingin mencekiknya. Dia sudah mempersiapkan tangannya untuk mencekik gadis bercadar itu.


"Kalau ku bunuh saja, mungkin Harry akan sangat sedih, putri semata wayangnya mati," batin Luki.


Tangan Luki semakin mendekati Humaira. Namun gadis bercadar itu berbalik.


"Astagfirullah," pekik Humaira.


"Kenapa cantik?" tanya Luki yang masih berdiri di belakang Humaira.


"Kau mau apa lagi?" tanya Humaira.


"Gimana kalau kau cium aku dari pada mengigit tanganku?" tanya Luki.


Plaaak ...


Humaira menampar Luki dengan keras.


Luki langsung melepas pelukannya, memegang pipi kanannya yang ditampar Humaira.


"Anda sangat kurang ajar, tidak punya etika," ujar Humaira.


Luki hanya tersenyum licik. Melihat itu Humaira langsung meninggalkan Luki. Lama-lama dekat dengan lelaki itu membuatnya semakin kesal. Humaira naik ke lantai atas. Masuk ke kamarnya. Mengunci pintu kamarnya.


"Astagfirullah, kenapa lelaki itu melecehkanku?" batin Humaira. Dia berbaring di ranjangnya.


"Tehnya Papa gimana? Aduh, apa aku harus ke luar lagi, gimana kalau lelaki tadi macam-macam lagi?" batin Humaira.


Mau tak mau Humaira memberanikan dirinya. Ke luar dari kamarnya. Turun ke lantai bawah. Masuk ke dapur. Dia tak melihat ada gelas teh di dapur.


"Loh gelasnya ke mana?" ucap Humaira. Dia mencari di sekitar meja dan kitchen set. Tapi tak ada juga. Akhirnya Humaira memutuskan naik ke lantai atas. Masuk ke kamar ayahnya. Dia melihat Luki dan ayahnya sedang meminum teh berdua. Mereka terlihat akrab.


"Assalamu'alaikum," ucap Humaira.


"Wa'alaikumsallam," sahut Luki.


"Humaira, kemarilah! Teh buatan Arfan sama enaknya dengan buatanmu," ujar Pak Harry.


"Itu bukannya teh buatanku, kenapa Arfan mengakui itu teh buatannya?" batin Humaira.


Humaira hanya mengangguk.


"Duduklah di sini!" ajak Pak Harry menyuruh Humaira duduk di sampingnya.


"Iya Pa," sahut Humaira. Kemudian duduk di samping ayahnya.


"Humaira, antarkan Arfan ke kamar tamu! Sekarang sudah malam, dia akan menginap di sini," ujar Pak Harry.


"Pa ...," ucap Humaira ingin menolak tapi takut ayahnya tersinggung.


"Ayo Humaira, dia tamu Papa, perlakukanlah dengan baik, jangan melawan," ujar Pak Harry.


"Iya Pa," sahut Humaira.


Meskipun dia malas harus mengantar Luki, tapi mau gimana lagi. Akhirnya Humaira mengantar Luki ke kamar tamu. Dia membuka pintu. Mempersilahkan Luki masuk ke dalam.


"Apa kau tak ingin menemaniku tidur?" tanya Luki.


"Jangan bermimpi, anda tamu di sini, bersikaplah sebagai tamu bukan tuan rumah," jawab Humaira.


"Apa kau sejudes itu berbicara pada lelaki tampan sepertiku?" tanya Luki.


"Tidak, hanya pada lelaki yang tak tahu sopan santun," jawab Humaira.


"Baiklah, selamat malam calon istriku," ucap Luki.


Humaira tak menggubris. Meninggalkan Luki begitu saja. Tanpa berkata apapun.


"Licin juga untuk menangkapmu," ucap Luki. Dia masuk ke dalam kamar. Berbaring di ranjang. Memejamkan matanya.


Tiga jam berlalu. Suara adzan mulai terdengar. Luki membuka matanya. Melihat sekeliling. Ternyata dia berada di kamar tamu yang berada di rumah Keluarga Harold. Luki beranjak dari ranjang. Berjalan menuju balkon kamarnya. Dia berdiri menghirup udara segar pagi hari. Sebelum matahari terbit.


Ketika Luki menikmati udara segar, terdengar suara orang melantunkan Al Qur'an, suara yang begitu syahdu. Membuat hatinya tenang dan begitu tentram.


"Suara siapa? Baru kali ini aku mendengar suara yang membuatku rindu ingin selalu mendengarnya kembali," batin Luki. Dia berjalan mencari sumber suara itu. Melompat dari balkon kamarnya ke balkon di sampingnya.


Bluuug ...


Kaki Luki berpijak di lantai. Mulai berjalan menghampiri jendela kaca yang sudah dibuka gordennya. Dia melihat ke dalam.


"Ternyata Humaira sedang mengaji, suaranya begitu indah," batin Luki. Dia tetap di situ. Melihat apa yang dilakukan Humaira. Bahkan sampai Humaira melepas mukenanya. Rambut panjangnya tergerai dan pirang. Bola matanya kebiruan. Hidungnya mancung, kulitnya putih bersih. Membuat Luki masih betah mengintip.


Namun Humaira tak sengaja melihat ke arah kaca.


"Siapa itu?" teriak Humaira. Dia merasa melihat seseorang di kaca.