Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Kakak Harus Kuat



Sophia berjalan menuju ruang perawatan setelah selesai bicara dengan Dokter. Nada kakaknya baru saja menjalani kuret. Sophia harus menyiapkan mentalnya untuk memberi tahu kakaknya saat siuman nanti. Dari belakang Alex menghampiri Sophia. Langsung memeluknya.


"Astagfirullah," ucap Sophia terkejut ada orang yang memeluknya dari belakang.


"Maaf sayang, kaget ya," ucap Alex.


"Kirain siapa? tapi Mas lepas dulu, nanti kalau ada orang malu," sahut Sophia.


"Iya sayang," sahut Alex. Dia melepas pelukannya dari Sophia. Mengajak Sophia duduk di kursi yang ada di lorong lantai tiga.


"Sayang bagaimana keadaan Nada?" tanya Alex.


Sophia menarik nafas panjangnya. Menghembuskan secara perlahan sebelum dia menceritakan apa yang ada terjadi pada suaminya.


"Kak Nada baru saja dikuret Mas. Tadi terjadi pendarahan, demi keselamatannya, kandungannya terpaksa harus dikuret," ujar Sophia.


"Kok bisa pendarahan, kenapa?" tanya Alex.


"Itu dia Mas, aku belum tahu, tadi aku menemukan Kak Nada sudah pendarahan," jawab Sophia.


"Kau menemukan Nada di mana?" tanya Alex.


"Di ruang keluarga lantai atas," jawab Sophia.


Alex dan Sophia sama-sama terdiam. Memikirkan kemungkinan yang terjadi pada Nada.


"Apa mungkin Kak Nada terpeleset?" tebak Sophia.


"Bisa jadi, tapi lebih baik kita tanya Nada apa yang terjadi sebenarnya," sahut Alex.


Sophia mengangguk. Mengambil tangan Alex dan menciumnya.


"Kangen ya sayang?" tanya Alex.


"Sejak hamil, bawaannya pengen ketemu Mas," ucap Sophia.


"Aku juga sayang, sampai Kenan naruh fotomu di dinding ruang kerjaku," gumam Alex.


Sophia tersenyum.


"Dede bayi gimana kabarnya?" tanya Alex.


"Dari tadi pengen makan terus," jawab Sophia.


Alex pindah, berjongkok di depan Sophia.


"Mas," ucap Sophia.


"Aku pengen mengelus dan bicara sama anak kita sayang," ujar Alex.


Sophia mengangguk.


Alex mengelus perut Sophia. Mengajak bayi yang masih berupa janin itu bicara.


"Papa nih sayang, laper terus ya, nanti kita makan ya, tapi nengok Tante Nada dulu," ujar Alex.


Sophia tersenyum.


"Ayo sayang, kita lihat keadaan Nada," ajak Alex.


Sophia mengangguk.


Mereka berdua berjalan bersama. Alex memegang tangan Sophia. Begitu romantis. Seakan tak ingin terpisahkan. Apalagi akan hadirnya buah hati di antara mereka.


Keduanya masuk ke dalam ruangan tempat Nada dirawat. Di dalam Bibi Fatimah sedang menunggu Nada yang masih berbaring sambil menangis. Bibi Fatimah belum memberi tahu kalau Nada baru saja dikuret. Dia menangis karena ulah suaminya tadi.


"Assalamu'alaikum," sapa Sophia dan Alex.


"Wa'alaikumsallam," sahut Bibi Fatimah.


Sophia dan Alex menghampiri mereka berdua. Berdiri di dekat ranjang tempat Nada berbaring.


"Kak Nada," sapa Sophia.


"Sophia," sahut Nada sambil menangis. Melihat itu Sophia langsung memeluk Nada.


"Sophia Mas Hanan hik hik hik ...," ucap Nada tersedu-sedu.


"Iya, gak papa, Kak Nada bisa cerita sama Sophia," sahut Sophia.


"Sebenarnya apa sudah terjadi di rumah Bi?" tanya Alex.


"Tadi pagi Hanan pulang ke rumah, tak berapa lama dia ke luar dari rumah membawa koper dan ransel miliknya, bibi coba menegurnya tapi dia pergi begitu saja, saat Bibi masuk ke dalam rumah, Sophia sudah memapah Nada," jawab Bibi Fatimah.


Alex mengepalkan tangannya. Dia tahu pasti ini ulah Hanan.


"Hanan, pasti ini ulah Hanan," batin Alex.


Sementara itu di dalam Nada menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Hanan tadi pagi. Sophia terdiam mendengarkan kakaknya.


"Aku tak percaya Hanan akan meninggalkanku demi wanita itu," ucap Nada terisak tangis.


Sophia yang duduk di dekat ranjang memegang tangan kakaknya.


"Sabar ya Kak, jangan menangisi sesuatu yang tak pantas ditangisi, air mata kakak berharga," ucap Sophia.


"Iya Sophia, Hanan memang keterlaluan, aku sudah memberikan segalanya tapi dia malah ...," ujar Nada.


"Kak Nada, saat kakak menangis, Abang Hanan sedang tertawa bersama wanita itu, kakak harus kuat, tunjukkan padanya kalau dia menyesal meninggalkan kakak," ucap Sophia.


Nada langsung melihat ke arah Sophia.


"Menangis tidak akan menyelesaikan masalah, kakak harus bangkit, bahagia, agar Abang Hanan melihat kakak baik-baik saja tanpa dirinya," kata Sophia.


Nada mengangguk.


"Aku tahu sakit rasanya dikhianati, tak mudah untuk melupakan rasa sakit itu, tapi jika tetap terpuruk, sakit, tidak akan merubah keadaan kakak, tapi mereka yang di sana tetap bahagia dengan pengkhianatannya," ujar Sophia.


Nada mendengarkan nasehat dari Sophia.


"Pengkhinat biarlah milik pengkhianat, apa yang terjadi itu cara Allah menyelamatkan kita dari orang yang tidak baik, alam sudah menyeleksinya, karena Allah ingin memberi yang terbaik untuk kakak," ujar Sophia.


"Kau benar Sophia, mungkin Hanan sekarang sedang tertawa bahagia dengan wanita itu, aku tidak boleh menangis, Hanan akan menyesal karena meninggalkanku," ujar Nada.


"Iya, kakak harus semangat, tunjukan pada mereka kakak bisa bahagia dan bangkit," ucap Sophia.


Nada mengangguk.


Sophia tersenyum. Melihat kakaknya sudah baikkan.


"Sophia, tadi aku dikuret ya?" tanya Nada.


Deg


Sophia terkejut. Sebenarnya dia tak tega menyampaikan kabar menyakitkan ini pada kakaknya. Tapi ternyata Nada sudah tahu.


"Iya Kak, semua itu demi keselamatan kakak, maafkan aku," jawab Sophia.


"Tidak perlu minta maaf, dengan begitu aku bisa bercerai dari Hanan, dan memulai hidup baruku," ucap Nada terisak tangis. Rumah tangga yang selama tujuh tahun dipertahankannya hancur tak bersisa, terbawa angin yang berhembus kencang. Seperti pohon yang semakin tinggi semakin besar anginnya. Rumah tangga Nada dan Hanan tak mampu bertahan dari hembusan angin besar yang menerjang. Cinta dan kesetiaan hanya tinggal kenangan. Kini bersisa luka dan rasa sakit yang ditinggalkan.


"Kakak akan bercerai?" tanya Sophia.


"Iya, aku tidak bisa menerima pengkhinatan yang dilakukan Hanan, jika soal uang aku bisa mengerti, tapi soal hati yang sudah retak, tak mudah utuh kembali," ujar Nada. Air matanya silih berganti menetes di pipinya. Menggambarkan suasana hati yang saat ini dirasakan olehnya.


"Baiklah, jika itu sudah keputusan kakak, Sophia akan mendukung dan mendoakan kakak, semoga kakak mendapatkan yang terbaik," gumam Sophia.


"Amin," sahut Nada.


Akhirnya Nada lega sudah menceritakan semuanya pada Sophia. Tak lama Bibi Fatimah, Alex dan Paman Harun masuk ke dalam. Mereka semua mensupport Nada dan menemaninya melewati masa sulit itu.


***


Di ruang intrograsi Badan Korupsi Nasional. Seseorang sedang diintrograsi tim penyidik. Mereka berjumlah tiga orang. Sedangkan orang yang diintrogasi bernama Budi Roberto seorang pejabat di pemerintahan. Dia duduk dicecar berbagai pertanyaan.


"Siapa saja yang terlibat dalam penyalahgunaan dana untuk desa terpencil?"


"Saya dan Hanan Al Malik."


"Ada lagi selain kalian?"


"Tidak, saya hanya kaki tangan, Hanan Al Malik yang mendapatkan sebagian besar aliran dananya."


"Apa hanya itu dana yang disalah gunakan?"


"Banyak, ada beberapa dana lainnya."


Tim penyidik terus mencerca dengan berbagai pertanyaan hingga orang itu mau tak mau mengakui keterlibatan Hanan dalam berbagai kasus penyalahgunaan dana yang seharusnya untuk rakyat. Hanan tidak amanah dengan dana yang dititipkan padanya, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat tapi dia malah menggunakannya untuk kepentingan pribadinya.