
Disarankan baca episode sebelumnya baru ke bab ini. Sudah dirubah ya bab pengumumannya. Cek saja bab sebelumnya.
.
.
"Iya aku yang sudah membuang Ezar, maafkan aku," ujar Ibu Nita.
"Jangan pernah berani mendekati anakku, apalagi mengakuinya sebagai cucumu! Haram untukmu jadi neneknya!" tegas Pak Harry. Dia tidak akan membiarkan Ibu Nita mendekati Ezar.
"Pak Harry tolong maafkan ibuku. Ku mohon!" pinta Sora. Dia tahu ibunya bersalah tapi Sora yakin ibunya melakukan itu demi masa depannya.
"Tidak akan! Dia harus mendekam di penjara!" Pak Harry marah besar. Dia tak terima Ezar dibuang. Sudah seharusnya Ibu Nita di penjara.
"Harry!" Kakek David berteriak.
Semua orang tercengang mendengar Kakek David berteriak. Raut wajahnya serius menatap Pak Harry.
"Pa, aku hanya ingin dia membayar kesalahannya pada anakku," sahut Pak Harry.
"Orang yang bersalah di sini itu kau! Kau yang sudah memperkosa Sora. Kau yang membuat Sora mengandung janinmu. Di mana kau saat Sora kesulitan? Seharusnya kau bisa belajar dari itu semua. Jangan egois!" Kakek David tahu betul akar masalah ini berawal dari Pak Harry. Meski Ibu Nita turut andil.
"Aku setuju kata kakek. Papa juga menelantarkanku begitupun juga Ezar. Meski Papa tidak tahu kami ada. Seharusnya Papa berkaca dari kesalahan Papa, bukannya merasa benar," tambah Alex. Dia sependapat dengan Kakek David, ayahnya tetap jadi orang yang paling bersalah.
"Pa, tidak baik memperpanjang masalah ketika seseorang sudah meminta maaf. Allah saja Maha Pemaaf, apalagi kita hanya manusia. Apapun yang terjadi pada Ezar semua sudah takdir dari Allah," kata Sophia. Dia merasa harus ikut menenangkan ayah mertuanya.
"Sophia benar Pa, masalah ini akan semakin besar jika Papa tidak berlapang dada. Baik Papa maupun Ibu Nita sama-sama melakukan kesalahan, apa salahnya saling memaafkan," tambah Humaira. Sama seperti Sophia, dia ingin melihat semuanya damai dan saling memaafkan.
"Ya elah Om kalau lapor polisi, Om juga di penjara kali. Gak nyadar udah merkosa Sora," celetuk Gavin. Mulutnya kembali mengeluaikan kicauannya.
Maria kembali memasukkan nastar ke mulut Gavin biar diam. Mending ngunyah nastar aja.
"Sayang aku alergi nanas, kau tak lihat aku bentol-bentol sejak makan nastar," keluh Gavin yang udah biduran.
"Makanya Kak jangan asal ngomong, itu azab bagi orang yang bermulut pedas sepertimu," sahut Claudya.
"Masa sih azab, aku belum sempat bertobat. Gimana caranya?" ujar Gavin.
"Udah-udah, kembali ke berita utama. Iklan nanti aja," ujar Ibu Marisa yang asyik menikmati pertengkaran Pak Harry dan Ibu Nita. Bak nonton menantu durhaka dan ibu mertua jahat.
"Iya ya sayang, lumayan hiburan dikala gabut," tambah Pak Ferdi.
"Marisa, Ferdi!" Kakek David melotot ke arah keduanya yang menganggap itu sebuah tontonan. Keduanya hanya meringis. Ngeri kena omel Kakek David.
"Udah Kek, nanti jantungmu kambuh," sahut Nenek Carroline. Padahal dia juga lagi nungguin babak berikutnya dari sinetron menantu durhaka dan mertua jahat.
"Sudahlah Om, Ibu Nita, kaliankan sudah tua. Tidak baik seperti ini. Kasihan Ezar dan Sora. Mereka baru saja bahagia. Lebih baik kita rayakan kebahagiaan ini," ujar Tuan Matteo dengan pemikiran bijaknya.
"Astaga suamiku memang idaman, makin cinta," batin Claudya memperhatikan Tuan Matteo yang bicara seakan angin surga yang berhembus.
"Iya Pa, masalah gak akan pernah selesai kalau semuanya merasa benar. Sora dan Ezar butuh banyak waktu untuk bersama dari pada memikirkan masalah yang takkan pernah selesai," tambah Luki.
"Kok gue doang yang setan di sini, perasaan kata-kata gue jahat banget dari tadi," celetuk Gavin.
"Baru nyadar kalau setan, ke mana aja?" sahut Claudya.
"Gavin, Claudya!" Kakek David juga melotot ke arah dua orang pengganggu acara utama. Mereka hanya tersenyum manis takut kena omel kakeknya.
Pak Harry terdiam. Begitupun Ibu Nita. Benar kata mereka semua. Tak ada untungnya bertengkar. Sekarang yang terpenting kebahagiaan Sora dan Ezar. Merekalah yang tersakiti di sini.
"Sudah Pa berdamai saja, kita rayakan pertemuan Papa dengan Ezar," ujar Alex.
"Barbeque enak nih. Mumpung semua ngumpul," usul Gavin. Kali ini mulutnya manis.
"Sudah-sudah. Mau ending nih sinetronnya," ujar Ibu Marisa.
"Yang lain diam!" bentak Kakek David.
Semuanya langsung diam. Kakek David kalau sudah marah mengerikan. Meskipun dia sangan penyayang dan lembut.
"Harry, Ibu Nita, mari kita semua berdamai. Nikmati waktu yang tersisa yang Allah SWT berikan dengan baik. Kita tidak akan pernah tahu kapan berakhir. Lebih baik kita banyak bersyukur dan menerima segala ketentuanNya," ujar Kakek David.
Pak Harry menatap wanita tua yang menangisi kesalahannya.
"Ibu Nita aku minta maaf. Biar bagaimanapun aku yang sudah menodai Sora. Aku berjanji akan bertanggung jawab pada Sora dan Ezar. Mereka harus bahagia," ujar Pak Harry.
"Iya, aku sudah memaafkanmu Pak Harry. Kau memang harus membahagiakan Sora dan Ezar," sahut Ibu Nita
"Alhamdulillah." Semua orang bersyukur. Masalah pun selesai dengan damai.
"Saatnya kita semua barbeque!" teriak Gavin.
Semua orang menatap ke arah Gavin yang berteriak.
"Barbeque ... barbeque ... barbeque ..." Suara Gavin makin pelan. Malu dilihatin semua orang.
"Ya sudah, ayo kita semua barbeque untuk merayakan perdamaian ini," sahut Kakek David.
"Asyik!" teriak Claudya.
"Ha ha ha." Semua orang tertawa.
Akhirnya mereka semua barbeque bersama di dekat kolam renang. Tempatnya lumayan luas dan lebih teduh. Berbagai macam bahan ada di meja besar. Ada udang, sosis, ikan, ayam, daging, jagung, kerang, s0t0ng, dan kerang. Para wanita menyiapkan bumbu dan membuat es jeruk. Sedangkan para lelaki membersihkan bahan dan menyiapkan panggangan.
"Kak Sophia dikasih cabe boleh gak?" tanya Claudya.
"Iya loh pada hamil, jangan terlalu pedas," sahut Ibu Marisa.
"Kalau gitu dipisah aja, ada yang pedes ada yang sedeng, terus yang buat bocah gak usah dikasih cabe," kata Sophia.
"Oke," jawab Claudya.
Shopia dan Claudya memblender bumbu. Sedangkan Nenek Carroline dan Humaira memeras jeruk baby untuk dibuat es jeruk. Dibantu Ibu Nita dan Sora yang duduk di tikar.
"Segini cukup gak esnya?" tanya Ibu Nita membawa es dari dalam.
"Kurang, banyak orang soalnya," sahut Nenek Carroline.
"Ya udah, aku dan Ibu Nita ambil es batu lagi Nek," ujar Humaira.
"Jangan perutmu sudah besar. Biar nenek aja," sahut Nenek Carroline.
Humaira mengangguk.
Ibu Nita dan Nenek Carrolinelah yang pergi mengambil es batu lagi. Sedangkan Sora dan Humaira memeras jeruk baby.
"Humaira, terimakasih ya atas semua kebaikanmu padaku," ujar Sora.
"Iya sama-sama," sahut Humaira.
"Keluargamu juga baik-baik semua, terlihat harmonis, pasti sangat bahagia jadi anggota keluargamu," ujar Sora.
"Iya itu benar, jadi jika nanti Sora berubah pikiran. Papa masih menunggumu. Biar Ezar bisa berkumpul dengan ayah dan ibunya," sahut Humaira. Berharap Sora akan berubah pikiran. Dia yakin Sora akan bahagia jika menjadi istri ayahnya.