
Alex ke luar dari ruang rawat inap. Dia berjalan menuju ke ruang Dokter Leon. Di sepanjang langkahnya Alex berdoa agar Sophia diberi kesehatan. Dia tidak ingin kehilangan Sophia lagi.
"Aku pernah jadi pezina yang berlumur dosa, tapi beri aku kesempatan untuk bersama bidadariku Sophia Ya Allah," ucap Alex. Dia berharap Allah SWT akan terus memberinya kesempatan agar bisa bersama Sophia. Hari ini, esok dan lusa.
Alex masuk ke ruang Dokter Leon. Dia duduk di kursi. Menatap Dokter Leon yang sudah menunggunya sendari tadi. Wajah keduanya sama-sama terlihat tegang.
Dokter Leon membuang nafas gusarnya. Dia bersiap-siap untuk menyampaikan hal penting pada Alex.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan darah, USG dan ST can, sel kanker di tubuh Sophia sudah tidak ada lagi, jujur saya terkejut. Mungkin ini yang dinamakan kuasa sang pencipta," ujar Dokter Leon.
"Apa Dok? Jadi Sophia ... Sophia sembuh?" tanya Alex memastikan kembali. Dia ingin mendengar kesembuhan Sophia langsung dari Dokter Leon.
"Iya, selamat," sahut Dokter Leon sambil tersenyum pada Alex.
"Alhamdulillah Ya Allah," ucap Alex. Kemudian bangun. Dan bersujud di lantai. Dia benar-benar bahagia dengan apa yang didengarnya. Alex bersujud pada Allah SWT. Berterimakasih atas kesembuhan Sophia. Segala sesuatunya tak luput dari kuasaNya.
Alex kembali bangun. Duduk bersama Dokter Leon. Dia sumringah. Wajahnya penuh kebahagiaan. Kesembuhan Sophia sudah menjadi mimpinya sejak lama, kini Allah SWT sudah mengabulkannya. Benar kata orang akan ada pelangi setelah hujan. Begitupun dengan kehidupan akan ada hikmah dibalik ujian.
"Saya tahu yang Anda rasakan, begitu dengan saya sebagai Dokter yang menangani Sophia. Ini kabar baik untuk saya dan semua orang," ujar Dokter Leon.
"Iya Dok, terimakasih karena selama ini Anda sudah menangani istri saya," sahut Alex.
Dokter Leon mengangguk. Tanpa Alex berterima kasih pun Dokter Leon akan dengan suka rela membantu Sophia tanpa pamrih.
"Untuk memastikan kesehatan Sophia ke depannya. Dia harus tetap menjaga pola asupan, istirahat dan berolah raga. Satu lagi, rajin check up selama satu tahun. Barulah Sophia dinyatakan sembuh total," ujar Dokter Leon. Butuh waktu untuk menyatakan Sophia sembuh total meski saat ini sel kanker sudah tidak ada lagi. Tapi untuk jaga-jaga lebih baik lebih waspada sampai benar-benar dinyatakan sembuh total.
"Baik Dok, saya akan ingat terus nasehat dari Dokter," jawab Alex. Dia akan mengikuti semua nasehat yang Dokter Leon berikan demi kesehatan Sophia.
"Iya, semoga semuanya berjalan lancar, dan Sophia sembuh total," kata Dokter Leon.
"Iya Dok, terimakasih," ujar Alex.
Dokter Leon mengangguk.
Alex ke luar dari ruangan Dokter Leon dengan wajah yang bercahaya, ceria dan bersemangat. Dia senang dengan kabar baik yang Dokter Leon sampaikan. Alex berjalan kembali ke ruangan rawat inap. Di dalam hanya tinggal Sophia dan Arfan.
"Assalamu'alaikum," ucap Alex masuk ke dalam ruangan.
"Wa'alaikumsallam," sahut Sophia yang sedang memeluk Arfan yang sudah tidur di sampingnya.
Alex berjalan menghampiri Sophia. Berdiri di depan Arfan yang sedang tidur dengan pulas.
"Arfan udah bobo ya sayang?" ujar Alex sambil mencolek-colek pipi gembul Arfan.
"Udah Mas, baru aja. Habis kecapean mainan jeruk, minta πyu$u terus bobo," jawab Sophia. Tangannya mengelus kepalanya.
"Lucu banget kalau lagi kaya gini, pengen nyium tapi takut bangun," ujar Alex tak berani mencium putranya yang lagi asyik tidur.
"Kalau gitu nyium bundanya aja mau gak Mas?" tanya Sophia.
Alex yang tadi menatap Arfan beralih menatap Sophia.
"Mau banget sayang, lebih dari itu juga mau banget," sahut Alex.
Sophia tersenyum malu-malu.
"Meluncur sayang," kata Alex. Dia mendekat. Berpindah tempat di dekat Sophia biar tidak mengganggu Arfan yang bobo. Alex langsung mencium bibir merah delima. Menikmati ciuman penuh balasan itu.
"Sayang pengen, tapi masih di rumah sakit," kata Alex yang udah puasa selama satu tahun. Dia khawatir pedangnya karatan. Repot kalau mesti diasah ke Gua Gong. Atau ke Sangiran. Mesti ninggalin Sophia lagi. Jadi traumakan, tar bang toyib lagi bisa diprotes penonton. Cukup sekali jadi bang toyib jangan tiga kali bikin emosi ibu-ibu berdaster.
"Sabar ya Mas, pas pulang boleh tancap gas," sahut Sophia.
"Jangan Mas, tar gatot, Maskan buaya dari sungai amazon untuk apa pakai obat begituan," sahut Sophia bercanda.
"Iya ya sayang, sang casanova tak perlu begituan, tinggal sayang siap aja beres," jawab Alex.
Sophia tertawa kecil menutup mulutnya. Tak kuasa menahan tawanya mendengar suaminya yang ada aja tingkahnya.
"Sayang tadi Dokter Leon bilang kau sudah sembuh dari kanker hati," kata Alex sambil mengelus rambut panjang Sophia.
"Sembuh Mas?" Sophia terkejut.
"Iya sayang, sembuh. Allah SWT sudah mengambil kembali penyakitmu," jawab Alex.
"Alhamdulillah, Alhamdulillah," ucap Sophia. Air mata menetes di pipinya tanpa disadarinya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT. Asalkan kita tetap beriman padanya. Segala sesuatu sudah atas kehendakNya. Kita manusia harus berusaha, berdoa, dan tawakal. Biarlah Allah SWT yang memutuskannya.
Alex menyeka air mata Sophia. Mencium keningnya.
"Kau pantas bahagia, karena kau bidadari tak bersayap yang sholeha dan baik hati," ujar Alex.
Sophia tersenyum sambil menangis. Dia bersyukur Allah SWT telah mengangkat penyakitnya.
"Kita bisa bersama merawat dan membesarkan Arfan dan anak-anak kita nantinya," ujar Alex.
Sophia mengangguk. Memeluk Alex. Begitupun dengan Alex yang membalas pelukan Sophia. Mereka saling berpelukan. Berbagi semua rasa. Baik rasa suka maupun duka.
***
Alex dan Sophia mengadakan syukuran di kediaman Keluarga Sebastian setelah Sophia dinyatakan sembuh. Mereka membagikan ribuan paket sembako untuk fakir miskin dan mengadakan pengajian di kediaman Keluarga Sebastian. Acara pengajian itu dihadiri anak-anak yatim. Alex dan Sophia ingin berbagi kebahagian mereka dengan anak-anak yatim yang merupakan anak-anak asuh Sophia. Pengajian itu tak hanya dihadiri anak yatim piatu tetapi juga dihadiri Keluarga Sebastian, Keluarga Harold, dan Keluarga Wijaksana.
Sophia duduk sambil memangku Arfan yang tampan mengenakan baju koko kecil berwarna biru muda senada dengan baju koko yang dipakai Alex dan para lelaki anggota keluarga lainnya. Begitupun Sophia yang cantik dengan gamis berwarna baby pink. Sophia duduk bersama Claudya, Humaira, Ibu Marisa, Nada, Nenek Carroline dan Bibi Fatimah. Mereka sama-sama melantunkan ayat suci Al-Quran. Sedangkan Arfan hanya diam dan mendengarkan sambil menengadah tangannya. Sampai pengajian itu selesai.
"Alhamdulillah," ucap Sophia setelah usai mengaji. Dia mencium Arfan yang anteng selama pengajian itu berlangsung.
"Arfan anteng ya Sophia, bikin gemes," kata Bibi Fatimah.
"Arfan gitu Bi, kalau dengerin apa aja yang berhubungan dengan doa, lantunan ayat suci dan sholawatan pasti anteng, terus tangannya menengadah," sahut Claudya yang tahu betul anak asuhnya selama setahun ini.
"Pinternya cucu nenek," kata Bibi Fatimah sambil mencolek pipi cabi Arfan.
"N€n€ ... N€n€ ..." ucap Arfan pada Bibi Fatimah.
"Gemesin, pengen deh Bibi bawa ke rumah," ujar Bibi Fatimah.
"Iya kan, Arfan memang gemesin, di rumah aja rebutan mau gendong," sahut Ibu Marisa.
"Pagi-pagi aja kakek udah bawa Arfan jalan pagi," tambah Nenek Carroline.
Sophia tersenyum. Ternyata banyak yang menyayangi Arfan. Dia tak khawatir lagi saat kemarin tak ada di sisi Arfan. Karena putranya ada di sekeliling keluarganya yang menyayanginya.
Setelah acara pengajian itu selesai, Alex dan Sophia beserta semua anggota Keluarga Sebastian, Keluarga Harold, dan Keluarga Wijaksana berkumpul di ruang keluarga. Mereka bersenda gurau dan saling bercengkrama mempererat persaudaraan dan silaturahmi di antara anggota keluarga.
"Lex mumpung lagi santai, coba kau ceritakan apa yang sudah terjadi padamu selama satu tahun ini," kata Kakek David. Dia penasaran dengan apa yang terjadi pada cucunya..
"Iya Lex, mumpung kita ngumpul jadi kita semua tahu apa yang terjadi padamu," tambah Pak Ferdi.
"Jangan terlalu baper Lex kurangi kata menyedihkannya, Papa tidak mau mata Papa sembab," ucap Pak Harry. Dia tidak mau ketampanannya berkurang dengan air mata yang terus menetes hingga menimbulkan sembab.
"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya," sahut Alex.
Mereka semua terdiam bersiap mendengarkan cerita Alex.