
"Apa? Kau bilang apa Ferdi?" tanya Kakek David.
Ibu Marisa langsung menghampiri Pak Ferdi. Dia memegang lengannya.
"Pa, Ferdi lagi mabuk, jadi ngomongnya ngelantur," ucap Ibu Marisa segera mengamankan situasi. Dia tak ingin ditendang dari Keluarga Sebastian karena menipu Kakek David.
Ibu Marisa menginjak kaki Pak Ferdi memberi kode agar dia diam jangan banyak omong.
"Dia memang mabuk, seharusnya jangan ada sini," ucap Alex.
"Pantas dari tadi bau alkohol ternyata Papa" ucap Claudya.
Sophia lega mendengar Alex tidak sama sekali mencurigai ucapan Pak Ferdi. Untuk saat ini, Sophia merasa lebih baik Alex tidak mengetahui kebenarannya.
"Kau mabuk Ferdi?" tanya Kakek David. Dia melotot ke arah Pak Ferdi.
"Sedikit Pa, nyobain prodak baru," sahut Pak Ferdi.
"Berapa kali Papa bilang, jangan membawa kebiasaan burukmu ke rumah," ucap Kakek David kesal.
"Iya Pa," sahut Pak Ferdi.
"Pa biar aku antar Ferdi ke kamar, dia mabuk," ucap Ibu Marisa.
"Iya, bawa dia," sahut Kakek David.
Ibu Marisa segera membawa Pak Ferdi meninggalkan tempat itu. Mereka masuk ke kamarnya di lantai atas. Ibu Marisa langsung mengajak Pak Ferdi bicara..
"Kau maunya apa sih Ferdi? Kalau Papa tahu Alex bukan anakmu, penyakit jantung Papa akan kambuh," ucap Ibu Marisa.
"Alex memang bukan anakku, kenapa? Kau takut miskin?" sanggah Pak Ferdi.
"Kalau kau bilang Papa, Alex bukan anakmu, Papa akan mengusir kita," ucap Ibu Marisa.
"Diam! Jangan berani mengatakan apapun," ucap Pak Ferdi.
"Kenapa? Kau takut harta Papa jatuh ke panti asuhan?" tanya Ibu Marisa.
Pak Ferdi terdiam. Dia tak bisa mengatakan pada Kakek David kalau Alex bukan anaknya. Harta kekayaan keluarganya akan jatuh ke tangan panti asuhan.
"Papa tak mungkin memberikan hartanya padamu, kalau bukan karena aku, kepintaranku, dan anakku, kau gembel," ucap Ibu Marisa.
Pak Ferdi masih terdiam. Kunci ada pada Ibu Marisa. Selama ini mereka sudah sepakat untuk menjalankan sebuah rumah tangga boneka hanya demi uang.
"Kalau kau masih ingin menikmati harta Papa, biarkan Alex tetap jadi cucunya," ucap Ibu Marisa.
"Kau tahu anakmu itu mulai kurang ajar padaku," ujar Ferdi.
"Aku tahu tapi kita sudah sepakat, Alex memimpin perusahaan sampai Papa meninggal," ucap Ibu Marisa.
"Kau juga jangan lupa janjimu, setengah perusahaan milikku," ujar Pak Ferdi.
"Oke, mulai hari ini, jaga mulutmu," ucap Ibu Marisa.
Mereka menyudahi pembicaraan. Ibu Marisa ke luar dari kamar. Pak Ferdi tersenyum licik.
"Kau pikir aku bodoh Marisa, aku akan menyingkirkan anak itu dari rumah ini, lihat saja," ucap Pak Ferdi. Dia ingin mengambil semua harta Kakek David apapun caranya.
Malam itu Alex dan Sophia merayakan ulang tahun Ibu Marisa bersama-sama dengan Kakek David, Claudya dan Gavin. Mereka begitu menikmati hidangan barberque yang dimasak Sophia. Dia meracik bumbunya sendiri. Alex yang duduk di samping Sophia memakan semua hidangan dari ikan, ayam, udang, jagung, sosis dan daging.
"Enak sayang," ucap Alex.
"Mas mau lagi?" tanya Sophia.
"Suapin," bisik Alex di telinga Sophia. Membuat Sophia tersenyum malu. Sampai Pipinya kemerahan.
"Ehm ... ehm ..., yang udah halal, mepet terus," ucap Claudya menyaksikan dua pengantin baru sedang kasmaran.
"Makanya nikah, biar halal mau ngapa-ngapain juga," ucap Alex. Dia sengaja mengatakan itu agar adiknya segera menikah. Tidak terus-terusan pacaran yang hanya akan menambah dosa. Dan sering kali sakit hatinya dari pada sukanya.
"Maunya? Tapi pacarku belum siap," sahut Claudya. Sebenarnya dia ingin sekali menikah, tapi pacarnya belum ingin menikahinya.
"Makanya nyari yang pasti-pasti aja kaya Sophia, langsung ke pelaminan gak perlu banyak mikir," terang Alex. Menyombongkan diri mendapatkan Sophia sang istri tercinta, idaman hatinya.
"Iya sih Kak, tapi aku dah terlanjur cinta," ucap Claudya. Cintanya pada pacarnya membuat dia terus bertahan meskipun membosankan dan melelahkan.
"Claudya, cinta sejati itu hanya untuk Allah SWT, hanya Allah yang tak pernah meninggalkan kita dalam kondisi apapun. Jika kau mencintai Allah, Insya Allah segala urusanmu akan dimudahkan," ucap Sophia.
Claudya mengangguk. Saran dari Sophia memang benar. Selama ini Claudya terlalu mencintai pacarnya. Sampai melupakan logika. Cinta padanya membuat Claudya harus bertahan meskipun hubungan mereka menyakitkan.
"Cowok tuh kalau cuma ngajak pacaran, tandanya dia gak yakin nikah sama kamu, masih penjajakan," ujar Alex.
"Paling pacaran lama terus ditinggalin, lagu lama, udah banyak yang kaya gitu," celetuk Gavin yang tiba-tiba menambahkan pembicaraan mereka.
"Iya, nanti nyari yang pasti," ucap Claudya.
"Nah gitu, iyakan sayang," ucap Alex sekalian menggoda istrinya yang duduk di sampingnya.
"Iya Mas," sahut Sophia. Dia senang suaminya bisa berbaur dengan adik-adiknya. Meskipun itu hanya obrolan ringan tapi berarti untuk mempererat hubungan kekeluargaan. Terkadang hal kecil membawa pengaruh besar. Begitupun dengan obrolan mereka yang tampak biasa tapi bisa menjalin kedekatan sebagai keluarga.
***
Siang itu Alex pergi bersama Kenan melihat pembangunan perumahaan elit yang berdiri di kawasan Mekarsari. Perumahan yang bernilai milyaran untuk setiap unitnya itu terletak di tempat yang strategis. Dekat pintu tol, mall, rumah sakit, sekolah ternama, pasar induk, terminal dan stasion kereta api cepat. Alex sengaja memilih lokasi tersebut untuk pembangunan perumahan itu. Dia berkeliling dengan Kenan menggunakan mobil golf.
"Bos, kenapa merubah konsep? Jadi banyak pohon dan taman, bukannya sayang Bos, bisa digunakan untuk beberapa unit rumah lagi," ucap Kenan.
"Sophia bilang alam harus tetap dijaga, kalau kita terus membangun tanpa memperhatikan alam, bumi ini akan rusak," ujar Alex.
"Keren Nyonya Bos, pantes sekarang berasa adem deket Bos, sebelumnya kaya mepet neraka kalau deket Bos," ucap Kenan.
"Kau bilang tadi apa?" tanya Alex.
"Ampun Bos, hanya kiasan lambe turah aja," sahut Kenan.
"Ku pikir kau sudah bosan kerja, baru saja aku mau mengantarmu ke liang layat," balas Alex.
"Jangan Bos, masih banyak dosa, mau tobat dulu sebelum terlambat," sahut Kenan.
Alex kembali fokus melihat semua rumah-rumah besar yang sedang dibangun. Beberapa tukang terlihat sedang bekerja. Alex turun dari mobil. Dari kejauhan dia melihat ada calon pembeli sedang marah-marah pada bagian marketing.
"Apa nih? Katanya rumah elit kok bahan bangunannya murahan, nyari untung gede ya?" ucap Hendri seorang calon pembeli yang datang melihat langsung rumah yang akan dibelinya. Dia bersama temannya Sofyan, datang melihat ditemani seorang marketing yang bernama Ilham.
"Maaf Pak, ini tidak benar rumah yang kami bangun sudah memenuhi standar untuk pembangunan perumahan elit," ucap Ilham.
"Standar katamu? Lihat masa semen murahan gini ada di sini, belum lagi ini batanya, gimana mau kuat, kalau batanya aja kaya gini." Calon pembeli menunjukkan semen dan bata yang tergeletak di teras rumah yang sedang dalam proses finishing.
Ilham memeriksa semen dan bata yang ada di teras itu. Dia merasa ada yang janggal. Semen dan bata itu bukan bahan bangunan yang biasa digunakan dalam proyek pembangunannya. Biasanya menggunakan semen unggulan dan bata yang dipesan khusus dari pembuat bata yang ada di Jawa Tengah. Itu pun sesuai standarisasi perusahaannya.
"Ini bukan semen dan bata milik kami Pak, saya juga tak tahu kenapa ada di sini," ucap Ilham.
"Benarkah, coba saya lihat bangunannya, kalau memang standarisasi perusahaan anda benar," ucap Hendri.
"Hendri lihat, masa aku baru nginjek bentar aja keramiknya pecah, pasangnya gak bener nih," ucap Sofyan nenunjukkan keramik lantai yang pecah.
Hendri menghampiri Sofyan. Benar saja saat Hendri juga menginjak lantai keramiknya terangkat sebagian.
"Bener, ini mah gak bener masangnya, keramiknya juga bukan keramik marmer kualitas tinggi, ini KW," ucap Hendri.
"Iya aku tahu bedanya keramik marmer asli dan KW, ini mah KW," tambah Sofyan.
Ilham ikut mengecek melihat keramik yang dipasang di lantai. Dia juga merasa keramik itu bukan keramik yang biasa digunakan perusahaannya.
"Ini bukan keramik yang biasa kami gunakan, keramik yang kami gunakan marmer berkualitas," sanggah Ilham.
"Masih aja menyangkal, udah jelas buktinya, mau nyari untung kok gini amat," ucap Hendri.
"Gak nyangka perumahan besar seperti ini menggunakan bahan abal-abal," ucap Hendri.
Alex yang dari tadi memperhatikan dari kejauhan penasaran dan menghampiri kedua orang itu yang sedang bicara dengan Ilham.
"Assalamu'alaikum," sapa Alex.
"Wa'alaikumsallam," sahut semuanya.
"Ada masalah apa Ilham?" tanya Alex. Dia ingin tahu apa yang sudah terjadi. Mereka terlihat berdebat dari tadi. Jiwa penasarannya harus menemukan jawaban.
Ilham akhirnya menceritakan apa yang terjadi begitupun Hendri dan Sofyan yang menceritakan apa yang terjadi versi mereka.
"Baik, bagaimana kalau kita bicara di kantor pemasaran?" tanya Alex.
"Maaf Bos, saya sudah melihat langsung seperti apa rumah ini, jadi tidak perlu bicara lagi, ini benar-benar mengecewakan kami," ucap Hendri.
"Betul, tidak sesuai dengan harga jual perumahan ini yang sangat mahal, jika bahan yang digunakan kualitas rendahan," tambah Sofyan.
"Maaf Pak Hendri, Pak Sofyan, saya selaku bagian marketing dari perumahan ini, minta maaf, tapi apa yang bapak sekalian lihat ini tidak benar," sanggah Ilham.
"Benar yang dikatakan Ilham, apa yang bapak-bapak lihat ini bukan bahan bangunan yang biasa digunakan kami," ucap Alex.
Di saat mereka saling berdebat dan menjelaskan, Bangunan rumah di samping, yang baru berdiri batanya saja ambrug.
Bluuug ...
Bangunan itu ambrug ke bawah. Seperti terkena gempa bumi.
"Astagfirullah," ucap Alex dan Ilham. Mereka tercengang melihat ke samping. Bangunan itu ambrug.