Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Alex Bukan Anakku



Alex menurunkan emosinya. Suara lembut sang pemilik mata emerald kembali menyejukkan hatinya. Dia duduk kembali bersama Sophia.


"Sophia pasti ibu memarahimu iyakan?" tanya Alex.


"Tidak juga, Mas lupa hari ini ibu ulang tahun, jadi aku belikan ibu sebuah kalung dan tas," jawab Sophia.


Alex mencium kening Sophia. Dia tak menyangka Sophia berpikir sejauh itu. Dia yang anaknya saja tak pernah ingat ulang tahun ibunya. Hubungan Alex dan ibunya tak sedekat itu. Mereka cenderung hidup di jalur masing-masing. Tak ada kedekatan ibu dan anak. Hanya uang dan uang.


"Pantas ibu tak marah, kau memberikan sesuatu yang dia suka, maafkan aku Sophia," ujar Alex.


"Untuk apa minta maaf, ibumu, ibuku juga, begitupun keluargamu, keluargaku juga," sahut Sophia.


Mata Alex berkaca-kaca. Wanita di depannya ini memang berhati malaikat. Dia tak pernah membalas perbuatan buruk keluarganya namun justru menaburkan kebaikan.


"Aku beruntung memilikimu Sophia, terimakasih sudah hadir di hidupku," ucap Alex.


"Mas, Sophia akan ada di sini, menjadi istri dan tempatmu berbagi segala hal," ujar Sophia sambil menyentuh dada Alex.


Seketika Alex luluh. Senangnya bisa bersama Sophia. Tidak ada wanita berhati mulia yang menerimanya apa adanya. Memberi keteduhan dan penyejuk jiwanya.


"Itu alasan kenapa kau ingin mengembalikan uang 2 Trillion itu?" tanya Alex.


"Iya, lagi pula kemarin Mas juga yang bayar uang tanah ke rekening Luis, aku merasa ini untuk menjaga hubunganmu dengan ayah dan ibumu," ujar Sophia.


"Uang tanah yang 5 Trillion itu murni dari rekening pribadiku, jadi jangan berpikir untuk mengembalikannya, aku ingin berperan sebagai suamimu Sophia," ujar Alex.


"Iya suamiku," puji Sophia dengan manja.


Cup


Alex mencium bibir merah delima itu sesaat ketika Sophia memujinya. Sangat jarang Sophia bersikap manja. Membuatnya gemas.


"Seksi," puji Alex.


Sophia tersenyum. Malu-malu. Tapi begitu senang ketika suaminya berkata seperti itu padanya.


"Untuk uang yang 2 Trillion, tak perlu kau kembalikan, anggap saja aku membeli kalung berlian untuk ibu, lagi pula selama ini aku tak pernah membeli sesuatu untuknya," ujar Alex.


"Baiklah, jadi semua clear ya, tidak ada masalah lagi," ucap Sophia.


"Ada masalah lagi," ucap Alex.


"Apa Mas?" tanya Sophia heran. Seingatnya masalah dengan ibunya sudah diselesaikan tadi.


Alex mendekati wajah cantik Sophia. Memberi kode dengan tatapan matanya. Begitupun Sophia yang hanya membalas dengan anggukan. Alex langsung memburu Sophia. Meskipun masih sore, selama ada waktu tak ada salahnya memadu cinta. Toh mereka sudah halal.


Alex berpacu dengan nafsu yang membara di atas cinta yang kian memenuhi hatinya. Menuangkannya dalam sentuhan indah disetiap rasa yang membuat Sophia jatuh dalam kenyamanan yang tiada duanya. Mereka menikmati detik demi detik. Setiap rasa lelah dan ambisi menjadi satu. Membuat keduanya dimabuk asmara. Melayang bagaikan berada ditempat yang indah. Suara-suara merdu terus terlantun dari mulut keduanya memenuhi ruangan yang hanya bisa didengar keduanya.


Dua jam berlaru. Suara adzan menghentikan kegiatan dua insan itu yang sedang dimabuk cinta. Alex dan Sophia berbaring sejenak mengumpulkan tenaga dan mengatur nafas.


"Sholat magrib berjamaah sayang," ucap Alex.


Sophia mengangguk.


"Sepertinya di ruang keluarga saja, biar bareng kakek," ucap Alex..


"Boleh," sahut Sophia.


"Sholat berjamaah," ucap Kakek David.


"Iya Kek," sahut Alex dan Sophia.


"Kalau begitu, kau harus jadi imamnya Alex," usul Kakek David.


"Siap," sahut Alex.


Mereka berdiri di shaf masing-masing. Bersiap sholat magrib. Tiba-tiba Claudya menghampiri mereka. Dia sudah mengenakan mukena juga.


"Kau mau ikut sholat berjamaah Claudya?" tanya Kakek David..


"Iya, sholat berjamaah sepertinya lebih seru," sahut Claudya.


Kakek David tersenyum. Selama ini Claudya tak pernah sholat tapi sekarang dia melihat cucunya itu sudah rapi mengenakan mukena. Rumah yang dulu hanya kakek David saja yang sholat, semenjak kedatangan Sophia, menjadi penerang di rumah itu.


"Ayo, masuk barisan," ajak Kakek David.


"Siap Kek," sahut Claudya. Dia berdiri di samping Sophia. Ikut sholat berjamaah bersama. Pemandangan itu begitu sedap dipandang mata. Empat orang sholat berjamaah. Rumah yang dulu sepi bak tak ada penghuninya kini terisi sudah. Kedatangan Sophia merubah perlahan isi di dalamnya, memberi kehangatan dan cahaya terang.


Usai sholat, Alex dan Sophia kembali ke kamar mereka. Kakek David duduk di samping Claudya. Dia penasaran apa yang membuat cucunya itu berubah.


"Kakek liat akhir-akhir ini kau lebih kalem, mulai sholat kembali, kenapa?" tanya Kakek David. Dia ingin tahu alasan Claudya bisa berubah. Biasanya dia jarang ada di rumah, urakan dan tak pernah sholat.


"Aku melihat Kak Alex, dia sekarang terlihat bahagia. Padahal kuncinya hanya sederhana," ucap Claudya.


"Apa?" tanya Kakek David.


"Iman," jawab Claudya.


"Kenapa Iman?" tanya Kakek David.


"Kak Alex yang dulu hidup penuh dengan dosa, tapi aku tak melihat dia bahagia, tapi sekarang saat Iman itu ada dihatinya, Kak Alex jauh lebih bahagia, aku juga ingin seperti itu," jawab Claudya.


"Kau benar cucuku, jika dihatimu ada iman, sekecil apapun yang kau miliki, akan mencukupkan kebahagiaanmu," sahut Kakek David.


"Sophia sudah membawa Iman itu di hati Kak Alex, dia seperti penerang di hidup Kak Alex, aku ingin seperti itu, menjadi penerang untuk orang lain," ucap Claudya.


Kakek David tersenyum. Dia merangkul cucu bungsunya itu. Sangat jarang mereka bisa bercengkrama dari hati ke hati.


"Kelak kau akan jadi penerang di rumah mertuamu, jadilah istri yang sholeha dan mennantu yang membawa penerang di rumah itu, seperti Sophia," ujar Kakek David.


"Amin, makasih Kek," ucap Claudya.


Kakek David mengangguk. Dia senang bisa menyaksikan kedua cucunya sudah ada di jalur yang benar. Tingga anak, menantu dan cucu satunya lagi. Kakek David berharap rumah itu akan ramai saat sholat berjamaah dan terdengar lantunan-lantunan ayat suci Al qur'an. Seperti harapan mendiang istrinya.


Setelah sholat Sophia ke luar dari kamarnya. Dia ingin membantu Bi Inem dan Bi Siti menyiapkan acara barbeque untuk perayaan ulang tahun ibu mertuanya. Sophia berjalan ke menuju tangga, namun tak sengaja mendengar suara Pak Ferdi bicara ditelpon dengan seseorang disebuah ruangan santai. Ada nama Alex disebut dalam pembicaraan itu. Sophia mendekat. Berdiri di samping pintu ruangan itu.


"Alex memang bukan anakku," ucap Pak Ferdi.


"Aku ingin memberinya sedikit pelajaran," sahut Pak Ferdi pada orang yang sedang ditelponnya.


Sophia terkejut saat mendengar kata itu. Matanya berkaca-kaca. Tak kuasa mendengar kenyataan itu. Dia tidak tahu kalau ternyata Alex bukan anak Pak Ferdi. Sophia menutup mulutnya dengan tangannya.


"Apa Alex tahu soal ini?" batin Sophia. Dia tak menyangka akan mendengar hal ini. Sophia langsung meninggalkan tempat itu. Berjalan perlahan. Tubuhnya terasa lemas. Dia masih menata hatinya. Tak tahu harus melakukan apa setelah mendengar kenyataan tadi.