
Baca episode sebelumnya ya baru nyambung ke sini
.
.
Pak Harry duduk di ruang makan. Dia makan siang sendirian. Kebetulan Luki dan Humaira sudah pindah rumah. Namun seminggu ini Humaira menginap di rumah Keluarga Harold karena Kakek David dan Nenek Carroline sedang kurang sehat. Dia dan Luki sepakat tinggal sampai kakek dan nenek sehat.
"Pa nambah lagi," ucap Humaira sambil menaruh lauk-pauk yang baru dimasaknya.
"Perutmu sudah besar, jangan capek-capek," sahut Pak Harry.
"Gak papa, kan cuma masak buat Papa," jawab Humaira. Sangat jarang punya waktu untuk berbakti pada ayahnya. Saat punya kesempatan, Humaira tidak ingin menyia-nyiakannya. Sejak pindah rumah, Luki yang selalu memasak untuk Humaira karena dia hamil. Luki sangat pandai memasak dan mengurus keperluan perempuan. Bakatnya saat masih belok berguna juga di saat istri sedang hamil. Dia jadi lebih memahami perempuan dan mengerti segala keperluannya.
"Kau mulai gemuk, pasti Luki pandai membahagiakanmu ya?" tanya Pak Harry. Melihat Humaira lebih berisi.
"Alhamdulillah, Oppa memang selalu memanjakan Humaira. So sweet banget, Humaira jadi betah deket-deket Oppa," jawab Humaira.
"Baguslah kalau begitu, Papa jadi gak salah pilih menyerahkanmu pada Luki kalau dia bisa membahagiakanmu dengan baik," sahut Pak Harry. Dari awal memang Pak Harry sudah yakin bahwa Luki bisa membahagiakan putri sholehanya.
Humaira duduk di dekat Pak Harry. Dia meletakkan teh hijau di sampingnya.
"Makasih ya Nak," ucap Pak Harry.
"Iya Pa," jawab Humaira.
Pak Harry kembali memakan sarapannya. Dia begitu lahap menyantap hidangan yang dimasak Humaira.
"Ini yang selalu Papa rindukan, masakanmu, gak ada duanya," puji Pak Harry. Dia selalu rindu masakan rumah yang dimasak putrinya.
Humaira tersenyum. Dia senang melihat ayahnya begitu senang menyantap hidangan yang dimasak olehnya.
"Pa, nanti kalau kakek dan nenek pulang ke rumah Keluarga Sebastian, Papa sendirian di rumah," ujar Humaira. Dia tahu rumah Keluarga Harold sangat besar kalau ditinggali ayahnya sendirian pasti sepi dan sunyi.
Pak Harry langsung terdiam. Dia memang merasakan kesepian dan sendirian saat Humaira dan Luki kembali ke rumah mereka begitupun dengan Kakek David dan Nenek Carroline yang kembali ke rumah Keluarga Sebastian.
"Gimana kalau Papa menikah lagi, kaya Om Ferdi dan Tante Marisa. Mereka terlihat bahagia bisa menghabiskan masa tua bersama," usul Humaira. Dia tak tega Papanya sendirian di masa tuanya. Meskipun ayahnya tak terlihat tua. Lebih mirip sugar daddy yang tampan dan keren. Bahkan ubannya saja belum ada. Meskipun Alex selalu meledeknya Pak tua.
"Menikah? Dengan siapa? Papa sudah betah menduda," jawab Pak Harry. Terlalu lama jadi duda karatan membuat Pak Harry hilang kesadaran kalau dia masih bisa jadi buaya daratan.
"Pa, kalau ada istri, ada yang masakin Papa, menemani Papa dan mengukir banyak kenangan bersama," ucap Humaira.
Pak Harry terdiam. Dia juga merasa iri ketika semua punya pasangan. Cuma Pak Harry yang jomblo. Tiap ngumpul gigit jari apalagi di kantor gadis-gadis cantik kerap menggodanya. Bikin panas dingin atas bawah dan kiri kanan. Belum lagi otak mesumnya yang sering datang kadang bingung menyalurkan. Tak mungkin berendam air es untuk mengembalikan kenormalannya.
"Pa, memangnya tak ingin mencari janda tua yang cocok dengan Papa," ujar Humaira.
"Jangan janda tua, Papa mau yang muda masih fresh dan bugar," sahut Pak Harry.
Gubrak
"Pa, memang selera Papa daun muda? Gak salah?" tanya Humaira.
"Kamukan tahu selama hidup Papa baru berapa kali sih tempur. Bisa dihitung pakai jari," jawab Pak Harry.
Humaira menelan salivanya. Tak disangka ayahnya ingin menikah demi memuaskan apa yang belum sempat terealisasi. Sudah dibayangkan oleh Humaira kalau ayahnya menikah lagi dengan daun muda.
"Ya udah terserah Papa, mau daun muda juga gak papa, asalkan jangan anak sekolah Pa. Gak baik untuk dicontoh," ujar Humaira.
"Yes, makasih sayang," sahut Pak Harry. Senang sudah mendapat lampu hijau dari Humaira. Padahal dia udah ngincer Sora yang tak berdaya. Pak Harry udah terlanjur jatuh hati pada pandangan pertama. Dari body udah memenuhi kriteria otak mesum Pak Harry. Muda dan cantik menjadi obsen keduanya. Soal lumpuh Pak Harry bisa bawa Sora ke tempat terapi terbaik.
Setelah Humaira ke kamarnya. Pak Harry menyiapkan sarapan untuk Sora. Dia sengaja menyuruh pembantunya untuk tidak memberi sarapan pada Sora karena Pak Harry sendiri yang akan mengantarkannya.
Pak Harry membawa sarapan untuk Sora. Dia pergi ke halaman depan. Kebetulan Sora sedang berjemur ditemani pembantu rumahnya. Pak Harry memberi kode agar pembantu minggir kembali ke alamnya. Pembantu itu pun segera meninggalkan Sora.
"Sarapan dulu," ucap Pak Harry. Membawa nampan berisi nasi dan lauk pauk beserta air minum.
Sora langsung menunduk. Dia takut menatap Pak Harry. Namun bukan Pak Harry kalau menyerah. Dia duduk di kursi yang ada di depan Sora. Meletakkan nampannya di meja.
"Nona apa kau tidak ingin sarapan?" tanya Pak Harry.
Wajah cantik Sora sangat ditunggu Pak Harry. Seakan dia merasa pernah melihat Sora tapi entah di mana.
"Pelit banget, padahal aku ingin melihat wajahnya lagi," batin Pak Harry. Tak sabar melihat wajah cantik Sora.
"Aku tidak lapar," jawab Sora pelan.
"Kau harus sarapan, nanti perutmu sakit," ujar Pak Harry.
"Pergilah! Pergilah dariku!" seru Sora.
"Loh kenapa harus pergi? aku hanya ingin membantumu," sahut Pak Harry.
Sora menaikkan kepalanya. Menatap Pak Harry dengan penuh kemarahan. Matanya tampak berkaca-kaca. Menyimpan kesedihan yang mendalam.
"Kau brengsek!" Satu kata yang terlontar dari mulut Sora. Dia terlihat memandang Pak Harry seperti musuhnya sendiri. Kedua netranya membulat. Menatap dengan tajam.
"Brengsek?" Pak Harry tidak tahu kenapa wanita muda di depannya menyebutnya brengsek. Padahal Pak Harry sudah menolongnya. Seharusnya Sora mengucapkan terimakasih padanya.
"Pergi! Pergi! Aku benci kau!" ujar Sora. Dia meminta Pak Harry untuk pergi dari hadapannya. Dia sampai mendorong Pak Harry.
"Nona-Nona kau kenapa?" Pak Harry tidak tahu kenapa wanita muda itu memberontak. Terlihat marah dan kesal padanya. Padahal Pak Harry merasa tak melakukan kesalahan. Bahkan dia juga baru bertemu dengannya.
"Brengsek! Kau jahat!" seru Sora. Dia memukul dada bidang Pak Harry dengan kepalan tangannya sambil menangis. Terlihat sangat terpukul dan tersakiti oleh Pak Harry yang diam saja.
"Nona! Nona! Diamlah! Ada apa?" tanya Pak Harry. Dia bingung kenapa Sora seperti itu padanya.