
Ketika Gavin sudah merasa tenang, dia ke luar dari mobilnya. Dengan leluasa menghirup udara segar di luar. Membiarkan paru-parunya mengambil dan menghembuskan oksigen dengan baik. Gavin sudah merasa lega, hampir saja dia mati menabrak apapun yang mungkin bisa ditabraknya. Namun kini rasa penasaran mulai mengusik benaknya, Gavin berjalan ke pintu belakang mobil. Baru dia ingin membuka pintu mobil belakang. Tiba-tiba Vera menepuk bahunya.
"Gavin kok masih di sini?" tanya Vera.
Mendengar suara Vera, Gavin berbalik. Melihat ke arahnya.
"Vera," ucap Gavin.
"Iya, kok masih di sini?" tanya Vera.
"Tadi aku ...," ucap Gavin langsung terhenti. Dia merasa tak perlu menceritakan soal pocong itu pada Vera.
"Aku kenapa?" tanya Vera.
"Tidak, aku tidak fokus sampai menabrak pohon," jawab Gavin.
"Iya ya mobilmu nabrak pohon, pasti bengong mikirin Kak Mariakan?" sindir Vera sambil tersenyum.
"Ya begitulah, oya kau mau ke mana?" tanya Gavin.
"Aku mau beli nasi Padang di jalan Tarakan," jawab Vera.
"Yaudah, bareng aja," ajak Gavin. Dia pikir satu arah dengan Vera tak ada salahnya kalau bareng.
"Boleh deh," jawab Vera.
Gavin mau membukakan pintu depan karena di belakang ada pocong kecil itu tapi Vera menolak. Dia merasa tak nyaman satu kursi dengan Gavin takut salahfaham dilihat orang. Vera minta di kursi belakang.
"Tapi Vera?" ujar Gavin.
"Gak papa, aku di belakang aja," kekeh Vera.
"Tapi ...," sahut Gavin. Dia ingin menghentikan Vera namun gadis cantik itu kekeh ingin duduk di kursi belakang mobil. Dia membuka pintu mobil belakang.
Deg
Gavin takut Vera akan tahu soal pocong di kursi belakangnya. Jantung Gavin berdebar tak karuan. Apalagi saat pintu mobil terbuka. Aliran darahnya semakin deras. Mendadak panas dingin. Seperti hendak divonis mati. Gavin takut Vera terkejut jika melihat pocong kecil yang ada di kursi belakang. Tapi ternyata Vera malah menduduki pocong kecil itu tanpa sepengetahuannya.
"Aduh malah didudukin, semoga Vera tak tahu," batin Gavin.
"Gavin ayo, jangan bengong," ujar Vera yang melihat Gavin masih termenung di depannya. Pintu mobil itu masih terbuka lebar.
"I-iya," jawab Gavin kikuk. Dia khawatir dengan Vera bukannya takut.
Mau tak mau Gavin menutup pintu mobilnya. Dia kembali duduk di kursi kemudi. Memundurkan mobilnya kembali ke jalan. Gavin mengendarai mobilnya di jalan dengan kecepatan sedang. Tak ada kerusakan yang parah. Hanya body mobil di ujung kiri yang penyok.
Sepanjang jalan Gavin masih memikirkan masalahnya dan calon suami Maria yang mati dadakan sebelum hari pernikahannya.
"Gavin, turun di depan tukang es kelapa aja, susah parkir soalnya," ujar Vera. Mengarahkan Gavin agar menghentikan mobilnya di depan tukang es kelapa.
"Oke," jawab Gavin. Dia menghentikan mobilnya di depan tukang es kelapa sesuai permintaan Vera.
"Makasih ya Gavin," ucap Vera.
"Iya sama-sama," jawab Gavin.
Vera membuka pintu mobil belakang. Turun dari mobilnya. Dia membawa tas berukuran sedang yang dicangklong di bahu kanannya. Kemudian berjalan meninggalkan mobil Gavin.
"Untung Vera tidak tahu," ucap Gavin. Dia kembali mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu.
"Aku mau lihat pocong itu masih di kursi gak ya?" ucap Gavin. Dia berpikir untuk menghentikan mobilnya di tepi jalan. Untuk mengecek keberadaan pocong kecil itu.
Gavin menghentikan mobilnya di tepi jalan. Dia turun dari mobilnya. Membuka pintu belakang.
"Loh kok pocongnya jadi gak ada?" Gavin bingung. Jelas-jelas tadi Gavin melihat pocong itu diduduki Vera.
"Apa aku salah lihat? Kayanya gak mungkin," ungkap Gavin. Dia terdiam sesaat memikirkan serangkaian cerita yang masih terpecah seperti puzzle yang harus disatukan kembali menjadi sebuah gambar yang bisa dilihat dengan nyata.
"Ibu tua itu mencurigakan, Dendi juga mencurigakan," ujar Gavin.
"Tapi kunci mobilku ada di meja yang ada di rumah Mak Ros cukup lama, berarti pocong itu sengaja ditaruh di mobilku oleh seseorang, dan orang itu punya akses ke luar masuk mobilku," ujar Gavin berpikir.
"Orang yang mengembalikan kunci mobilku Mak Ros," tambah Gavin.
Gavin membuang nafas gusarnya. Ada sebuah teka-teki yang harus dipecahkan.
"Pagi ini aku hampir memakan peniti. Dan orang yang memberiku kue lemet itu Mak Ros, dia juga mengembalikan kunci mobilku," kata Gavin.
Gavin terdiam. Mencurigai setiap orang yang mungkin bisa jadi tersangka atas semua hal yang terjadi selama ini. Kematian calon suami Maria yang mendadak dan mengenaskan.
"Kenapa Vera tiba-tiba muncul di saat aku kecelakaan. Pocong itu juga menghilang saat Vera turun?" tanya Gavin pada dirinya sendiri yang mulai lebih sensitif dengan orang-orang di sekelilingnya.
"Ibu tua, Dendi, Mak Ros, Vera, apa hubungannya dengan semua ini? Apa pelakunya salah satu dari mereka?" ujar Gavin. Dia mengacak rambutnya dengan jemari kanannya.
***
Sore itu Alex mengajak Kenan untuk membeli rumah baru. Mereka pergi berdua mencari rumah yang strategis karena Kenan harus bekerja. Alex sengaja meminta Kenan untuk memilih sesuai budget yang ditentukannya. Tentunya Kenan senang sekali, Bosnya yang suka menindas ternyata sangat baik dan perhatian.
Alex dan Kenan turun dari mobil. Berjalan memasuki pelataran rumah minimalis yang cukup mewah. Mereka menemui si empunya rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap Alex dan Kenan.
"Wa'alaikumsallam."
Sang pemilik rumah menemani keduanya berkeliling rumah. Sambil berbincang mengenai fasilitas rumah itu dan segala hal yang ada di dalamnya.
"Bagaimana Bos Alex?"
"Kenan bagaimana?" tanya Alex pada Kenan.
"Bagus Bos, suka," jawab Kenan.
"Baiklah Pak Jainal, saya ingin membeli rumah ini," ujar Alex.
"Kalau gitu kita urus administrasinya dulu."
Alex mengangguk. Dia mengurus administrasi bersama Pak Jainal pemilik rumah itu. Setelah itu Alex mendapatkan kunci rumah itu beserta semua surat berharganya. Alex menghampiri Kenan yang masih melihat ruang tamunya.
"Kenan mulai sekarang rumah ini sudah resmi jadi milikmu," ujar Alex.
"Alhamdulillah, terimakasih Bos," sahut Kenan.
Alex memberikan kunci dan surat berharga itu pada Kenan.
"Jaga amanah ini dengan baik, semoga berkah ya," ujar Alex.
"Terimakasih Bos, semoga Allah membalas kebaikanmu," sahut Kenan sambil menerima kunci dan surat berharga itu.
"Mulai hari ini kau harus semakin giat bekerja, kau duda sekarang," ujar Alex.
"Siap Bos," jawab Kenan.
"Besok sidang perceraianmu, aku dan Sophia akan mengantarmu," ujar Alex.
"Terimakasih Bos," ujar Kenan.
Alex menganggguk.
Sebagai Bos dia tetap perhatian dan baik pada bawahannya meski secara formal Alex sangat tegas saat bekerja.
***
Monika duduk di sofa sambil menghitung uang yang dimilikinya. Mulai bulan besok Kenan tak lagi memberinya uang. Meskipun begitu sudah banyak uang dan surat berharga di tangannya. Tak lama Pak Kades datang ke rumahnya bersama seorang temannya. Mereka mengobrol bersama di ruang tamu.
"Begini Monika sayang, ini Daru seorang pebisnis hebat. Dia ingin mengajak untuk bisnis MLM," ujar Pak Kades.
"Iya Nona Monika. Dengan bergabung sebagai member kami, anda bisa mendapatkan keuntungan sampai seratus persen bahkan seribu persen tanpa harus bekerja," tambah Danu.
"Keuntungan seratus persen sampai seribu persen?" Monika terkejut mendengar keuntungan yang dijanjikan.
"Iya itu untungnya, asalkan Nona Monika mau investasi minimal 10 juta, semakin besar investasinya semakin besar keuntungannya," ujar Danu.
Pak Kades mengajak Monika bicara berdua.
"Sayang investasi yang banyak, biar kita kaya meski tak kerja," bisik Pak Kades.
"Tapi ini beneran untung?" bisik Monika.
"Beneran, temenku aja udah dapet untung," bisik Pak Kades.
"Ya udah aku mau," jawab Monika. Dia setuju untuk menginvestasikan uangnya untuk bisnis MLM itu.
"Gimana? Mumpung hari ini saya sendiri yang membimbing," ujar Danu.
"Oke saya mau investasi," jawab Monika.
"Berapa? Semakin besar investasinya, keuntungan semakin banyak, Nona tak perlu bekerja lagi, tinggal duduk manis uang yang bekerja untuk kita," rayu Danu.
"5 Milyar," jawab Monika.
"Besar sekali anda beruntung, saya yakin anda akan jadi milyader," ujar Danu.
Monika tersenyum senang. Memberikan Cek lima milyar pada Danu. Hampir sebagian besar tabungannya digunakan untuk investasi bisnis MLM itu. Danu hanya tersenyum senang. Monika mau investasi begitu besar.