
"Sebenarnya aku dan Sophia juga berpikir kalau Ezar anakku," sahut Alex. Tak bisa dipungkiri jangankan Gavin atau yang lainnya, Alex dan Sophia juga berpikir hal yang sama. Mungkin Ezar memang anak Alex. Selama ini Alex sudah tidur dengan banyak wanita. Tidak menutup kemungkinan Alex lupa atau melakukan kesalahan saat tidur dengan salah satu dengan mereka.
"Bisa jadi sih Kak, mungkin aja pengamannya bocor, salah makai, atau over kapasitas," tambah Gavin.
Claudya kembali menginjak kaki Gavin.
"Aw ..." Gavin kembali kesakitan.
"Bisa tidak Kak ucapanmu disensor? Di sini lingkungan ramah untuk bocil, kau malah promosi yang aneh-aneh," ujar Claudya kesal pada Gavin.
"Iya ya, lupa," kata Gavin meringis.
Pak Ferdi dan Ibu Marisa tercengang dengan apa yang disampaikan Gavin tadi. Mereka takut itu kejadian pada hubungan intim keduanya. Masa udah tua punya baby lagi.
"Yah, Bu, kok bengong kenapa?" tanya Gavin melihat kedua orangtuanya melongo.
"Itu karena ucapanmu tadi Vin, Ayah dan Ibu jadi kepikiran soal bilik bambu," sahut Alex yang udah hatam betul soal kamar 4×4. Yang isinya cuma kasur doang buat lompat jarak jauh terus berguling-guling.
"Iya, apa aman ya? ibu jadi kepikiran. Masa udah tua hamil lagikan gak lucu," ujar Ibu Marisa.
"Emang ibu belum monopause ?" tanya Claudya.
"Belum, mana gak KB lagi," sahut Ibu Marisa. Dia tidak ingin KB karena tidak cocok. Dia merasa kurang sreg saat melakukan program KB.
"Astaga, jangan-jangan Ezar adikku yang terbuang," sahut Gavin.
"Om dedenya Arfan dong," ujar Claudya.
"Kalian ini ngawur semua, Ezar ini anaknya kakek," sanggah Alex bercanda.
"Om kita semua dong?" ujar Gavin. Jika Ezar anak Kakek David berarti Ezar Omnya Alex, Gavin dan Claudya.
"Astaga gak kebayang deh kalau bener, masih balita panggilannya udah berat banget," tambah Claudya. Jika Ezar anaknya Kakek David, masih satu tahun udah dipanggil Om oleh Alex, Gavin dan Claudya.
"Masih mending kita manggil Om masih gayalah, Arfan manggil Ezar lebih parah lagi," sahut Gavin.
"Arfan manggil Ezar kakek dong," kata Claudya membaca silsilah dari atas ke bawah.
"Gue bayangin deh Ezar jadi kakek, baru juga setahun udah disebut kakek, tar kalau Arfan nikah punya anak disebut kakek buyut, kasihan amat nasibnya tua sebelum mateng," sahut Gavin.
"Kau juga tua Kak Gavin, lebih pantes disebut leluhur Gavin," ledek Claudya.
"Kau ya Claudya, gak bisa apa baik dikit padaku?" sahut Gavin
"Gak mau," balas Claudya. Mereka berdua kembali berdebat. Sampai lelah sendiri.
"Lex dari mana kau dapat Arfan kw ini?" tanya Pak Ferdi.
"Dari panti asuhan Yah," jawab Alex sambil mengunyah keripik. Di meja begitu banyak camilan. Ada kue kering, keripik, dan kacang-kacangan.
"Kok bisa ada di panti asuhan Kak?" tanya Claudya sambil memperhatikan Ezar yang bermain dengan Arfan.
"Dinas sosial membawanya ke panti asuhan," jawab Alex santai.
"Kok bisa Ezar di tangan dinas sosial?" tanya Ibu Marisa. Dia ingin tahu asal usul Ezar. Begitupun dengan yang lainnya.
"Dinas sosial yang menemukan Ezar di tempat sampah," jawab Alex.
"Astagfirullahallazim," sahut Gavin dan yang lain. Miris mendengar Ezar dibuang di tempat sampah padahal anaknya lucu.
"Tega banget tahu kak yang buang, aku aja yang udah setahun lebih belum hamil, pengen punya anak tapi belum diamanahin," keluh Claudya sambil menangis. Sudah setahun lebih Claudya belum juga hamil. Maria dan Humaira yang menikah belakangan saja sudah hamil. Terkadang Claudya suka sedih melihat mereka sudah hamil sementara dia belum. Claudya ingin segera memiliki momongan apalagi Tuan Matteo sudah tidak muda lagi.
"Sabar ya Claudya, semoga Allah segera memberimu momongan," ujar Sophia mendoakan Claudya. Dia tahu apa yang dirasakan Claudya. Pasti dia kesepian dan merindukan kehadiran seorang anak di dalam pernikahannya.
"Kalau anak itu dibuang di tempat sampah, berarti orangtuanya yang sudah membuangnya?" ujar Pak Ferdi.
"Bisa jadi, tapi kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi," sahut Alex. Dia tidak tahu persis apa yang sudah terjadi pada Ezar.
"Tapi kenapa Ezar mirip dengan Arfan ya Kak?" ujar Claudya yang merasa heran kenapa Ezar mirip Arfan.
"Bisa jadi Ezar memang anak kandungku," jawab Alex. Dia berpikir mungkin Ezar anaknya. Karena memiliki kemiripan dengan Arfan.
"Benar Lex, lebih baik kau lakukan test DNA biar jelas," usul Pak Ferdi.
"Iya Kak, dari pada kita menduga-duga," tambah Claudya.
"Test DNA memang cara yang paling tepat untuk membuktikan apakah aku dan Ezar memiliki hubungan ayah dan anak," jawab Alex.
Sophia dan yang lainnya mengangguk. Apa yang dikatakan Alex benar. Hanya dengan test DNA mereka bisa membuktikan apakah Ezar anak Alex atau bukan.
"Ya udah Kak, untuk sementara waktu biar Ezar aku yang ngasuh ya?" pinta Claudya. Dia ingin sekali mengasuh Ezar sebagai ganti Arfan.
"Gimana Sophia?" tanya Alex pada Sophia. Biar bagaimanapun Sophia yang membawa Ezar ke rumah itu.
Sophia mengangguk. Dia menyetujui permintaan Claudya. Lagi pula Sophia akan kerepotan jika mengasuh dua anak kecil.
"Alhamdulillah," jawab Claudya. Dia senang sekali bisa mengasuh Ezar. Paling tidak mengurangi kesedihannya karena belum juga dikaruniai anak.
***
Malam itu Tuan Matteo menghadiri acara ulang tahun temannya. Kebetulan acara itu hanya dihadiri para lelaki. Tuan Matteo datang ke acara itu demi menghormati undangan dari temannya.
Tuan Matteo masuk ke dalam rumah besar. Di dalam terlihat meriah. Ada banyak tamu undangan. Kebanyakan laki-laki. Ada beberapa perempuan tapi itu hanya pengisi acara, penghibur dan wanita malam yang sengaja dipesan untuk melayani para tamu untuk minum alkohol.
Tuan Matteo duduk di bar mini milik temannya. Dia minum jus bersama beberapa teman semasa kuliah sambil bersenda gurau.
"Ded ku dengar kau sudah punya anak tiga?"
"Iya Dong, anak gue lucu-lucu."
"Kamu Yud, udah punya anak berapa?"
"Dua, itupun berantem mulu."
Mereka menceritakan anak-anaknya. Sedangkan Tuan Matteo hanya diam dan mendengarkan karena dia belum memiliki anak.
"Kau Matteo udah punya anak berapa?"
"Belum, masih proses," jawab Tuan Matteo. Dia juga ingin sekali memiliki momongan tapi Allah belum memberinya kepercayaan.
"Umur lo udah tua juga, masa masih proses terus."
"Tar keburu aki-aki baru punya anak."
"Jangan sampai hari tua sendirian, mati gak ada yang doain."
Teman-temannya silih berganti berpendapat tentang masalah yang sedang dihadapi Tuan Matteo.
"Jangan-jangan istrimu gak subur?"
"Udah nyari simpenan aja."
"Iya, kita kasihan sama lo, udah tua belum juga punya anak."
Mereka berpendapat dan memberi saran sesuka hatinya. Tidak memikirkan perasaan Tuan Matteo.