Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Ayahku



Erisa turun dari bus. Dia berjalan menuju rumah yang ada di ujung jalan. Rumah itu tidak terlalu besar. Di sekelilingnya terdapat banyak tanaman kaktus. Rumah tempo Belanda yang banyak kaca


dan berwarna cream. Erisa menatap rumah itu. Sudah lama tak datang ke rumah yang dulu pernah ditempatinya dan kakeknya.


Erisa menarik nafas panjangnya. Dia siap masuk ke dalam. Tak peduli apa yang akan terjadi. Dia ingin tahu siapa ayahnya.


Erisa melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah itu.


"Assalamu'alaikum." Erisa masuk ke dalam ruang tamu. Di dalam neneknya sedang mengobrol dengan lelaki bertubuh gemuk, berkaca mata dan berkumis tipis.


"Wa'alaikumsallam," sahut keduanya.


"Erisa!" Lelaki gemuk itu kegirangan melihat Erisa masuk ke dalam.


"Duduklah di sini Yuda baru saja datang."


Nenek Erisa bernama Menur. Sedangkan lelaki gemuk itu bernama Yuda Saputra. Nenek Menur sudah lama ingin menjodohkan cucunya dengan Yuda. Biar hidup Erisa jauh lebih baik.


Erisa mengangguk. Meski malas dia ingat tujuannya datang. Mau tak mau mengikuti kemauan neneknya.


Erisa duduk di samping neneknya. Tersenyum tipis pada Yuda yang dari tadi menatap Erisa seperti melihat makanan.


"Erisa, Yuda akan membuka grosir sembako di daerah Jakarta Selatan loh, makin sukseskan Yuda?" ujar Nenek Menur mencoba mempengaruhi Erisa dengan harta yang dimiliki Yuda.


"Oh," sahut Erisa singkat. Dia malas setiap Yuda datang nebeknya selalu seperti itu.


"Aku juga akan membuka salon. Nanti nenek dan Erisa datang ya, untuk kalian gratis," ucap Yuda.


"Ih nenek jadi seneng duluan. Tahu aja nenek hobi nyalon. Pengertian banget calon mantu," sahut Nenek Menur. Dia terus saja memuji Yuda di depan Erisa. Sedangkan hanya memasang wajah masam. Dia malam mendengarkan obrolan tentang harta.


"Iya dong Nek, kan calon istri harus terawat," sahut Yuda sambil berkedip ke arah Erisa yang mengerucutkan bibirnya.


"Erisa buatkan Yuda kopi!" titah Nenek Menur.


Erisa tak membalas ucapan neneknya. Dia langsung bangun. Berjalan ke dapur. Mukanya terlihat malas. Kenapa dia harus bertemu makhluk yang menyebalkan seperti Yuda. Apalagi Yuda sudah berani menyebutnya calon istri padahal Erisa setuju saja belum.


Erisa berdiri di depan kitchen set yang ada di dapur. Dia malas membuatkan lelaki gemuk itu kopi.


"Menyebalkan banget harus bertemu dengan si gendut, udah gitu kegenitan lagi," keluh Erisa. Dia risih bertemu Yuda yang sudah ditolak berkali-kali tapi masih saja ingin menemuinya dan memperistri dirinya.


"Ah aku punya ide." Erisa tersenyum. Mulai membuat kopi. Dia terlihat bersemangat dan tersenyum melihat kopi di depannya. Satu gelas kopi yang akan mengejutkan lelaki gemuk yang nolak dihempaskan.


"Bagus, pergilah jauh-jauh! Jangan pernah kembali!" guman Erisa. Sambil mengaduk kopi di cangkir berwarna putih.


Erisa membawa kopi itu ke ruang tamu. Meletakkannya di atas meja. Kemudian dia kembali duduk di samping neneknya.


"Kopinya sudah jadi, ayo diminum nak Yuda!" titah Nenek Menur.


Yuda mengangguk sambil tersenyum malu-malu menatap Erisa yang cemberut. Dia mengambil cangkir kopi di atas meja. Perlahan-lahan. Tangannya terlihat grogi saat memegang cangkir kopi itu. Gemetaran dan tampak kaku.


"Minumlah cepat! Dan cepatlah hilang dari peredaran!" batin Erisa. Dia mesti melempar si gendut ke pluto biar dicomot avatar atau alien nyasar.


"Gimana kopi buatanku Yuda? Pasti enak." Erisa tersenyum dengan senang hati melihat Yuda sudah mencicipi kopi buatannya.


"Enak banget," sahut Yuda terpaksa. Padahal dia eneg meneguknya meski satu tegukan.


"Tentunya kopi buatan Erisa enak. Habiskan Nak Yuda!" titah Nenek Menur yang tidak tahu kopi itu sudah disabotase.


"Habiskan ku mohon! Aku membuatnya khusus untukmu," pinta Erisa yang sengaja biar Yuda mau menghabiskan kopi ala-ala buatannya.


"I-iya," jawab Yuda. Seteguk aja eneg. Apalagi harus semuanya. Tapi dia terlanjur gak enak. Terpaksa mau tak mau harus menghabiskan kopi itu.


Yuda pun meminum kopi itu. Tegukan demi tegukan sampai habis tak tersisa.


"Alhamdulillah, se-seger," ujar Yuda. Padahal perutnya sudah nano-nano. Bibirnya jadi d0wer.


"Aku buatkan lagi ya. Biar tambah hangat, segerkan?" ucap Erisa.


"Gak-gak usah Erisa. Aku mau pu-pulang soalnya." Yuda tak kuat menahan kentut. Dia juga takkan mampu minum kopi aneh itu lagi.


"Pruuuuut ... pruuuut ... pruuut ..." Suara kentut Yuda. Seisi ruang tamu bau kentutnya.


"Bau banget." Nenek Menur langsung pingsan mencium bau kentut yang melebihi telur busuk.


Bruuug ...


Tubuh Nenek Melur jatuh ke samping sofa. Sedangkan Erisa menutup hidungnya.


"Ma-maaf E-risa. A-ku pamit dulu. Maaf ya," ujar Yuda. Dia ke luar dari ruang tamu dengan buru-buru. Sepanjang jalan masuk ke mobilnya yang terparkir di halaman, Yuda kentut sambil memegang bokongnya. Dia benar-benar eneg dengan kopi buatan Erisa.


Di dalam Erisa tampak senang sudah berhasil menghempaskan Yuda. Paling tidak hari ini dia tidak melihatnya.


"Mumpung nenek pingsan lebih baik ku cari sendiri apapun yang bisa menunjukkan siapa ayahku," ucap Erisa. Dia tahu neneknya alergi mencium bau menyengat. Kentut Yuda sangat bau membuat neneknya pusing dan pingsan. Hal itu dimanfaatkan Erisa untuk masuk ke kamar neneknya selagi wanita tua itu masih pingsan.


"Aku harus mencari tahu siapa ayahku. Kalau aku tanya nenek pasti banyak syarat. Dia pasti memintaku menikah dengan Yuda, baru mau memberitahuku," gumam Erisa. Dia hafal betul seperti apa neneknya. Pasti akan bersyarat jika dia ingin tahu siapa ayahnya.


Erisa mencari petunjuk apapun yang bisa menunjukkan siapa ayahnya. Dia menggeledah laci mencarinya satu demi satu bagian raknya. Hanya ada buku, nota, alat tulis, kaca mata dan bon. Erisa kembali mencari di bawah kasur, hanya ada beberapa lembar uang seratus ribuan dan buku tabungan. Erisa kembali mencari ke lemari. Semua rak di periksanya. Dari tumpukan demi tumpukan baju. Sampai ke rak paling bawah. Tak ada apapun hanya baju dan surat-surat berharga berikut kartu identitas. Lalu dia mencari di kolong ranjang. Dia hanya menemukan kecoak dan tikus yang lagi double date. Merasa terganggu mereka berlari ke sana-sini. Baru mau memproduksi koloni Erisa mengganggu mereka.


"Di mana nenek menyimpannya?" Erisa bingung.


"Berpikir Erisa!" Erisa coba berpikir. Dia harus bisa mendapatkan petunjuk. Sebelum neneknya sadar.


"Ah, ini biasa ada di sinetron. Nenekkan gemar menonton sinetron." Erisa tersenyum. Sepertinya dia tahu di mana neneknya menyimpan petunjuk itu.


Erisa berjalan menuju sebuah foto yang terpajang di dinding. Dia yakin ada sesuatu di foto itu. Erisa mengambil foto itu. Membuka figura dari fotonya dan mengambil foto yang menempel di belakang foto yang terpajang.


"Tuhkan, ini klasik." Erisa menarik foto itu. Dia melihat foto lama milik ibunya. Di foto itu ada dua orang yang sedang berdiri. Si lelaki memeluk wanita yang merupakan ibunya.


"Ini ayahku?" Erisa terperanjat melihat wajah ayahnya.