
Percakapan kedua penculik dengan orang yang ditelpon terdengar kencang karena di load speaker. Dodo mendengarkan mereka dengan jelas.
"Dung, Din, kapan pulang? Embok kangen."
"Iya Mbok kami juga kangen, tapi mau gimana lagi belum punya ongkos."
"Ini juga lagi usaha Mbok, moga lebaran ini kita ngumpul bareng."
"Dah lima tahun kalian dak pulang, Mbok keburu mati, udah tua Le."
"Jangan mati dulu Mbok tunggu kita pulang."
"Iyo Mbok, kita pasti pulang. Lebaran ini kita kumpul Mbok."
Dudung dan Udin sampai menangis saat bicara dengan Mboknya. Mereka rindu ingin bertemu tapi belum ada duit untuk ongkos dan bayar utang di desa karena Mboknya sakit.
"Mbok udah sakit lama, cuma pengen liat kalian pulang, takut dak sempat ketemu lagi Le."
"Mbok hik hik hik ..." Udin dan Dudung makin kejer denger Mboknya bilang seperti itu. Mereka merasa tak berguna. Niat hati merantau ke Jakarta biar jadi orang sukses ternyata tak seindah yang dibayangkan. Tak mudah mencari pekerjaan di kota metropolitan. Apalagi mereka cuma lulusan SD. Paling banter jadi pengamen atau tukang rongsokan. Tanpa keahlian dan koneksi hidup di Jakarta hanya akan mempersulit diri sendiri. Biaya hidup yang mahal, semua hal berbayar, tak bisa sembarangan memetik tanaman orang. Beda di kampung yang masih bisa mengambil genyer di sawah atau mencari belut secara cuma-cuma. Jakarta bukan kota yang mudah ditaklukkan. Kau harus bermental baja, punya segudang bakat dan prestasi untuk hidup di kota nomor satu di Indonesia itu. Jangan berani menginjakkan kaki di Jakarta jika kau hanya sekedar aji mumpung atau ikutan trend. Tak mudah memulai apapun di kota yang menjadi pusat perekonomian negara Indonesia itu. Begitupun dengan Udin dan Dudung, mereka sudah terjebak dengan mimpi dan angan, tak mengukur diri, terbuai dengan gedung tinggi. Padahal mereka tak memiliki apapun untuk bersaing di kota yang sering disebut ibu tiri itu.
"Pulang Le ... pulang ... Mbok kangen ...."
"Mbok maafin Udin dan Dudung, kami pasti pulang, tunggu kami hik hik hik ...."
"Pengen kaya orang-orang Le lebaran kumpul ma anaknya, dak usah dikasih duit akeh, yang penting kalian pulang, Mbok dah seneng."
"Iya Mbok hik hik hik ...." Udin dan Dudung menjerit meratapi nasib yang tak berpihak pada mereka. Seandainya boleh bermimpi mereka ingin punya usaha di kampung meski cuma usaha jualan bakso yang penting bisa kumpul sama Mboknya dan merawatnya yang sudah tua renta.
"Mbok sakit Le cuma pengen ketemu, pulang Le ..."
"Embok hik hik hik ...." Perih mendengar ucapan Mboknya yang hanya ingin bertemu. Tapi Udin dan Dudung dak punya ongkos. Jual rongsokan habis untuk makan sehari-hari kadang abis buat bayar utang mereka di Mbok Odah.
Sambungan itu terputus. Mungkin karena pulsa tetangga si Mbok habis. Maklum tetangga Mboknya Udin dan Dudung juga bukan orang mampu. Bisa bantuin nelpon juga udah bagus. Sebagai tetangga yang ingin membantu meringankan kesulitan tetangganya.
Dodo sampai nangis mendengar percakapan penculik dan Mboknya. Tak kuasa membendung air matanya.
"Ngenes amat penculiknya, baru kali ini Dodo ngeliat penculik kaya mereka, biasanyakan keren-keren," batin Dodo sambil mengusap air matanya.
Karena merasa kasihan pada penculiknya Dodo sadar diri. Rela diculik dan kembali ke kamar duduk manis sambil membaca buku dongeng yang ada di atas laci. Bersantai sambil berbaring manja usai sholat magrib dengan tayamum karena tak ada air di ****** gubuk reyot itu.
"Do ayo kita kabur, kok kamu malah santai sih?" tanya Nesa.
"Kali-kali nikmatilah diculik," jawab Dodo.
"Gimana mau nikmati, kita gak lagi liburan," sahut Nesa.
"Nesa penculiknya kesusahan, anggap aja kita sedekah dengan rela diculik," ujar Dodo.
"Kok rela diculik sedekah? Kitakan terancam," jawab Nesa.
"Mereka cuma pengen mudik gak punya duit," jawab Dodo.
"Kasihan, Nesa pernah liat film Kapan Anakku Pulang, sedih banget," kata Nesa.
"Makanya, kali ini kita anggap diculik sebagai liburan, jarang-jarang kita diculik kaya gini," Dodo.
Nesa mengangguk.
"Emang mereka gak minta uang tebusan?" tanya Nesa.
"Aku denger sih lima ratus ribu," jawab Dodo.
"Kok nyulik mintanya dikit, aku aja kalau main barbie yang penculikan gitu minta tebusannya 1 Milyar, pantes mereka miskin terus," sahut Nesa.
"Itulah dia, mereka penculik bersorban, gak mau dosanya kebanyakan," jawab Dodo.
Nesa mengangguk. Akhirnya dia gabung sama Dodo baca dongeng. Bersantai meski diculik. Anggap lagi camping di rumah tua.
Di sisi lain penculik masih baper mikirin Emboknya.
"Din apa kita minta tambahan tebusan," usul Dudung.
"Berapa? Jangan bilang 1 Milyar, kita gak bisa ngitungnya, tar repot sendiri."
"Seratus ribu gitu, jalan kaki dari terminal ke rumahkan butuh makan Din."
"Iya sih, tapi kita dah sms lima ratus ribu."
"Bilang sewa rumah culik, dan akomodasi penculikannya biaya tambahan yang harus dibayar."
"Makanya nambahnya seratus ribu, biar grafik dosanya gak nanjak bebas."
"Emang dosa ada grafiknya?"
"Gak tahu juga, tapi yang jelas dosa."
Mereka berdua berpikir bersama. Meminta otak berpikir smart sedikit. Padahal mentok di seratus ribu juga.
"Ya udah bilang aja biaya makan si gendut."
"Tapi diakan cuma makan pakai kepompong sangrai, itu termasuk kebohongan, dosa loh Din."
"Dosa lagi?"
"Iya makanya kita jujur aja."
"Ya udah tulis yang gak bikin nambah dosa, ngeri juga kalau kebanyakan dosa."
Dudung mengangguk. Menulis biaya tambahan sewa rumah culik dan akomodasi penculikan. Benar-benar penculik yang berbeda.
Di rumah Keluarga Sebastian, Kakek David mendapat sms dari para penculik. Dia langsung memperlihatkan sms itu pada orang yang berkumpul di ruang tamu. Mereka membacanya bersama.
"Kok ada ya penculik hemat gini," ujar Nenek Carroline.
"Mereka mau nyulik atau cuma minta bayarin ongkos bus," kata Pak Ferdi.
"Penculik kurang paham duit ini," sahut Ibu Marisa.
"Sepanjang sejarah, baru kali ini penculik pakai assalamu'alaikum, mohon maaf lahir dan batin, nulis nama mereka lagi," ungkap Kakek David.
"Berarti penculik tersopan tahun ini Pa," sahut Pak Ferdi.
"Ya udah telpon semuanya, pulang aja gak usah nyariin Dodo dan Nesa, besok kita langsung ke TKP aja," kata Kakek David.
"Iya Pa," jawab Pak Ferdi.
Udah kebaca sama Kakek David ini penculik cuma kaum dhuafa yang minta santunan tapi gak ngerti caranya. Pakai menculik biar keren kaya film Amerika tapi tetep ikan asin dan motor butut modal utama penculikan.
Tak lama Alex dan yang lainnya pulang ke rumah keluarga sebastian. Mereka berkumpul di ruang tamu. Kakek David menceritakan perihal sms dari penculik itu pada mereka semua.
"Ha ha ha .... tahu gitu biar dua hari dulu, biar sewa rumah culiknya bertambah," ujar Gavin.
"Ada ya penculik modelan mereka?" ujar Luki. Mendengar Luki berkata seperti itu Humaira langsung menunduk malu.
"Oppa," kata Humaira.
"Habis nyulik kok minta tebusan dikit amat," ucap Luki pada Humaira yang menunduk malu.
"Pasti mereka penculik kelas undur-undur, mundur jadinya," kata Tuan Matteo. Menyamakan penculik itu dengan undur-undur yang berjalan mundur.
"Sayang, biar bagaimanapun mereka penculik kita harus waspada," sahut Claudya pada Tuan Matteo yang duduk bersamanya satu sofa.
"Iya sayang," sahut Tuan Matteo.
"Kalau kaya gini gak perlu sewa detektif segala untuk mencari Nesa dan Dodo, mahalan bayar detektifnya," ujar Kenan.
"Bayar detektifnya 1 Milyar, eh penculiknya minta tebusan enam ratus ribu," jawab Alex.
"Ya sudah, besok pagi langsung TKP aja, mereka ngajak ketemu di Pelabuhan Brangkas," ujar Kakek David.
"Pelabuhan Brangkas, itu bukannya pelabuhan ilegal?" tanya Alex.
"Iya aku pernah denger pelabuhan itu, tak banyak yang tahu, katanya semua barang ilegal lewat pelabuhan itu," tambah Tuan Matteo.
"Berarti besok kita tetap harus waspada," sahut Luki.
Semua orang di ruang tamu mengangguk.
"Kangen juga ma si gendut, pasti kurusan dua hari gak makan banyak," ujar Gavin.
"Anaknya ilang bukannya sedih Kak," ketus Claudya.
"Iya Abang, Dodokan hilang," sahut Maria.
"Iya cinta, sedih nih," sahut Gavin.
Mereka harus pergi ke Pelabuhan Brangkas besok pagi setelah sahur. Penculik itu minta ketemuan di pelabuhan itu.