
"Arfan!" sahut Annisa. Dia terlihat senang bertemu Arfan. Sedangkan Arfan menelan ludahnya berkali-kali melihat Annisa. Matanya membulat tak berkedip melihat Annisa.
"Bulatnya Annisa," batin Arfan. Ternyata Annisa tak secantik saat sekolah dulu. Mungkin apa yang di video call terlalu kencang efeknya.
"Ternyata Emily jauh lebih cantik dan seksi, astaga gimana ini?" batin Arfan meronta. Dia tidak menyangka Emily jauh lebih segalanya dari Annisa dari segi fisik. Nyesel ninggalin Emily.
"Silahkan duduk Ustad Fikri dan keluarga!" titah Alex. Dia mempersilahkan tamu untuk duduk bersama di ruang tamu.
Ustad Fikri Zulfikar dan Istrinya yang bernama Hawa Sholeha memiliki seorang putri bernama Annisa Nadira. Putri semata wayang mereka berdua. Sudah lama Alex dan Sophia dekat dengan Ustad Fikri dan keluarganya. Mereka sering bertemu di sebuah kajian.
Ustad Fikri dan keluarganya duduk di ruang tamu bersama Alex, Sophia dan Arfan. Mereka senang sekali bisa bersilaturahmi di rumah Keluarga Sebastian.
"Alhamdulillah kita bisa bersilaturahmi kembali, momen ini sangat ditunggu-tunggu," ucap Alex.
"Iya Pak Alex, saya dan keluarga senang sekali bisa bersilaturahmi kembali," sahut Ustad Fikri.
"Annisa sudah besar ya," ucap Alex. Menatap Annisa yang bertubuh gemuk. Dia tidak menyangka Annisa akan segemuk itu. Terakhir bertemu setahun lalu. Annisa masih langsing dan cantik.
"Iya Om," jawab Annisa. Dia sedikit tidak suka mendengar kata besar.
"Arfan juga sudah besar ya, tampan," ujar Ustad Fikri. Dia tidak salah pilih untuk putrinya. Arfan tampan dan baik.
"Iya Pak Ustad," jawab Arfan. Dulu saat masih kecil sering mengaji di padepokan milik Ustad Fikri. Saat itu dia kenal Annisa hanya saja sebatas teman masa kecil. Barulah saat remaja kembali bertemu dan mengenal Annisa.
"Arfan, ini Annisa. Kau masih ingatkan?" tanya Ustad Fikri menunjukkan Annisa pada Arfan.
"I-iya Pak Ustad. Besar," jawab Arfan sambil keceplosan bilang besar pada Annisa gara-gara tubuhnya yang memang besar dan bulat.
"Besar?" Ustad Fikri heran kenapa Arfan menyebut besar. Lalu melihat Annisa putrinya yang memang besar.
"Aku yang besar gitu?" tanya Annisa. Cara bicaranya sudah sangat berbeda. Begitupun penampilannya yang gaul. Padahal tubuhnya besar dan bulat.
"Bu-bukan. Maksudku sekarang Annisa sudah besar," sahut Arfan. Dia terpaksa merevisi ucapannya. Kalau tidak Annisa akan marah dan keluarganya bisa saja tersinggung.
"Oh kirain? Soalnya sekarang aku kurusan," ucap Annisa. Gak nyadar diri kalau dia gendut. Dia merasa seksi dan montok.
Arfan hanya tersenyum. Kurusan saja sebesar itu apalagi gemukkan.
"Ustad Fikri masih mengajar mengaji anak-anak kecil?" tanya Alex.
"Tidak Pak Alex, sekarang lebih sering mengisi kajian," jawab Ustad Fikri. Semenjak banyak permintaan mengisi kajian Ustad Fikri sudah tidak mengajar mengaji anak-anak kecil.
"Oh, pantas saat saya lewat padepokan tidak ada ibu-ibu yang sering menunggu anaknya pulang mengaji," sahut Alex.
"Sekarang Annisa yang mengajar mengaji anak-anak kecil tapi tidak di padepokan melainkan langsung ke rumahnya masing-masing," kata Ustad Fikri.
"Iya Tante," jawab Annisa. Sejak lulus kuliah Annisa menjadi guru privat mengaji.
"Guru mengaji itu pekerjaan yang mulia, iyakan Arfan?" tanya Alex pada Arfan yang dari tadi diam saja.
"Iya Pa," jawab Arfan singkat. Dia memikirkan Emily. Seharusnya tidak meninggalkannya. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Alex dan Sophia mulai mengobrol santai dengan Ustad Fikri dan Umi Hawa. Dari hal yang santai sampai bisnis dan agama. Sedangkan Arfan hanya diam. Dia tidak menyangka Annisa sudah berbeda dari fisik maupun sikap.
"Begini Pak Ustad saya ingin Arfan dan Annisa bisa ta'aruf. Kalau memang cocok bisa dilanjutkan tapi kalau tidak ya terserah mereka," ujar Alex. Dia ingin menjodohkan Arfan dan Annisa. Tapi Alex dan Sophia tidak ingin memaksa. Mereka membiarkan Arfan dan Annisa ta'aruf dan memutuskan sendiri bagaimana selanjutnya.
"Saya juga setuju Arfan dan Annisa ta'aruf biar mereka saling memahami, mengerti dan mengenal satu sama lain," sahut Ustad Fikri. Dia setuju jika putrinya ta'aruf dengan Arfan. Secara Arfan anak yang baik dan sholeh. Sayang pada keluarganya.
"Iya, siapa tahu mereka memang cocok," tambah Umi Hawa. Dia yakin Arfan dan Annisa cocok dan berjodoh.
"Kalau saya terserah anaknya, kalau Arfan setuju sebagai orangtua saya akan merestuinya," kata Sophia. Dia menyerahkan semua jawabannya pada Arfan.
"Annisa gimana?" tanya Alex. Dia ingin tahu apakah Annisa mau tidak ta'aruf dengan Arfan.
"Kalau Annisa mau aja sih Om," jawab Annisa tersenyum. Dia senang sekali kalau benar-benar dijodohkan dengan Arfan.
"Kalau begitu Nak Arfan sendiri gimana?" tanya Pak Ustad Fikri. Annisa sudah setuju ta'aruf tinggal jawaban dari Arfan.
"A-apa Pak Ustad?" tanya Arfan. Sendari tadi melamun tak mendengarkan apa yang diucapkan Alex dan yang lainnya. Dia tidak tahu yang ditanyakan Ustad Fikri.
"Kamu mau tidak ta'aruf dengan Annisa?" tanya Pak Ustad Fikri. Mengulang kembali pertanyaannya.
Arfan langsung terdiam. Annisa yang sekarang sudah berbeda bukan Annisa yang dikenalnya beberapa tahun lalu. Tak ada lagi getaran saat melihat dan berada di dekat Annisa. Dari fisik, penampilan dan cara bicara Annisa sudah berubah. Annisa kini gemuk dan terlihat gaul.
"Maaf semuanya ..." Arfan ingin melanjutkan bicara namun suara cempreng terdengar kencang dari pintu masuk.
"Assalamu'alaikum," sapa Emily. Berdiri di depan pintu.Tersenyum pada semua orang. Dia mengenakan pakaian yang seksi seperti hari biasanya. Rok mini dan atasan lengan pendek yang terbuka di bagian bahunya.
"Wa'alaikumsallam," sahut Alex dan semua orang yang ada di ruangan itu. Mereka terbelalak melihat Emily yang seksi. Belahan dadanya terlihat jelas, begitupun paha jenjangnya tampak putih dan mulus.
"Arfan!" teriak Emily dengan suara manjanya. Menatap Arfan yang duduk di sofa. Emily senang sekali bisa bertemu dengan Arfan. Sudah susah payah untuk bisa sampai rumah Keluarga Sebastian. Dia harus mencari informasi ke semua orang yang dikenal Arfan untuk bisa mengetahui alamat rumah Keluarga Sebastian.
"Emily," jawab Arfan tampak sumringah melihat Emily datang. Istri manjanya begitu cantik dan menggoda. Tak bisa dipungkiri Emily menang difisik. Meski sikap manjanya gak ketulungan.
Arfan bangun dan tersenyum pada Emily. Melihat itu Emily yang begitu rindu langsung berlari ke arah Arfan. Memeluk erat Arfan di depan semua orang.
"Arfan, Emily kangen," ucap Emily. Dia spontan mengungkapkan rasa rindunya. Tak peduli di depan banyak orang. Merasakan hangat tubuh Arfan yang dari pagi ingin dipeluknya. Emily tidak ingin berpisah lagi dengannya.