
"Papa ..., Papa ...," panggil bocah gendut botak itu berkali-kali.
"Wanita itu kurus sekali, wajahnya pucat seperti mayat, kasihan sekali," batin Gavin.
"Papa, jangan tinggalkan kita lagi," ucap bocah gendut botak itu.
Gavin tak menggubris ucapan bocah itu. Dia menghampiri wanita yang terlihat lemah. Gavin berdiri di samping ranjang. Melihat ke arah wanita itu.
"Maaf anakku suka begitu kalau bertemu lelaki tampan, dia mengira ayahnya," ujar wanita itu.
"Kau kenapa? Sakit apa?" tanya Gavin tak tega melihat kondisi wanita di depannya.
"Jantungku bocor," jawab wanita itu.
Gavin melihat ke sekeliling. Dia tak melihat ada sanak saudara yang menunggu wanita itu. Hanya dia dan bocah gendut botak itu.
"Kemana suamimu?" tanya Gavin.
"Suamiku pergi bersama wanita lain, dari Dodo masih kecil," jawab wanita itu.
"Sialan lelaki brengsek, tega sekali meninggalkan istri dan anaknya," batin Gavin emosi.
Bocah gendut botak itu menempel pada Gavin. Memeluk kakinya. Seolah Gavin memang ayahnya.
"Papa, Dodo kangen, jangan tinggalin Dodo dan Mama lagi," ujar Dodo.
Gavin yang seumur-umur tak pernah menyukai anak kecil, tiba-tiba ada sedikit rasa sayang. Dia mengelus kepala botak mengkilap itu.
"Umurku sudah tidak lama lagi, tapi berat meninggalkan Dodo, aku tidak punya siapa-siapa lagi," ujar wanita itu sambil menangis dan memegang jantungnya.
Bocah gendut botak itu mendekati ibunya. Dia memeluknya sambil menangis.
"Mama jangan tinggalin Dodo, nanti yang masakin nasi sebakul siapa lagi?" ucap Dodo menangis.
"Maafkan Mama Do, Mama ingin selamanya sama Dodo, tapi Mama sudah tak kuat lagi," ujar wanita itu pelan. Suaranya serak.
Mata Gavin berkaca-kaca melihat ibu dan anak itu. Dia terharu melihat pemandangan di depannya. Hatinya tersentuh.
"Mas, titip Dodo, saya yakin Mas orang yang baik dikirim Allah," ucap wanita itu.
Gavin mendekat. Dia berusaha memandu wanita itu untuk mengucapkan syahadat. Padahal selama ini Gavin tak pernah sholat. Entah kenapa dia berpikir untuk membantunya mengucapkan kalimat syahadat itu. Tak lama setelah mengucapkan syahadat, wanita itu meninggal.
"Innalilahi wa innailaihi roj'iun," ucap Gavin spontan.
"Mama ... Mama ..., jangan tinggalin Dodo, katanya mau beli permen lolipop sama beli umang," ucap Dodo menangis.
Gavin merangkul Dodo yang menangis. Bocah gendut botak itu tak punya siapa-siapa lagi. Gavin merasa diberi amanah untuk menjaganya.
Tiba-tiba wanita bercadar itu masuk ke dalam. Menghampiri Dodo dan Gavin. Dia melihat wanita yang ada di ranjang.
"Innalilahi wa innailaihi roj'iun," ucap wanita bercadar itu. Dia mengusap mata ibunya Dodo yang sudah meninggal. Kemudian memencet bel pemberitahuan ke konter perawat.
"Nona anda mengenal Mamanya Dodo?" tanya Gavin pada wanita bercadar itu.
"Tidak, saya bertemu Mama Dodo pingsan di jalan, seharusnya segera dioperasi tapi saya sedang mencari uangnya untuk operasi, ternyata Allah berencana lain," jawab wanita bercadar itu.
Gavin yang tadi ingin sekali bertemu dengan wanita bercadar itu akhirnya bertemu dengannya melalui Dodo dan ibunya. Ternyata tadi saat di konter pembayaran itu dia sedang menanyakan biaya operasi untuk ibunya Dodo. Sungguh wanita yang baik. Gavin semakin kagum. Padahal dia menemukan dompet Gavin, tapi tak terbersit sedikit pun untuk mengambil uangnya. Malah mengembalikannya.
Tak lama perawat datang, begitupun dengan Dokter memastikan ibunya Dodo sudah benar-benar meningal. Mencatat waktu kematiannya dan mengurus jenazahnya.
Gavin dan Dodo duduk di luar ruang rawat inap. Mereka duduk di kursi. Sedangkan wanita bercadar tadi mengurus pemakaman ibunya Dodo.
"Siapa yang menyayangi Dodo, Mama sudah meninggal hik hik hik," ucap Dodo.
Gavin merangkul bocah gendut botak itu. Dia tahu tak mudah bocah sekecil itu ditinggal ibunya.
"Ada Om, mulai sekarang kau akan tinggal bersama Om," ujar Gavin.
"Om masak nasinya sebakul gak? Dodo tar kelaparan kalau gak," ucap Dodo.
"Gendut, makan terus yang kau pikirkan, pantas badanmu gempal," ujar Gavin.
"Jadi Om, Papanya Dodo?" tanya Dodo.
"Aduh, gimana ini? Bocah gendut ini pasti ngabisin makanan mulu," batin Gavin. Dia sudah membayangkan jika jadi ayah dari bocah gendut itu. Namun dia tak tega melihatnya seorang diri.
"Panggil Om aja, kitakan friends," ucap Gavin.
"Om, Dodo belum sholat ashar, ayo kita sholat Om," ucap Dodo.
"Om gak sholat," jawab Gavin.
"Nanti Om masuk neraka, dibakar, belum lagi di alam kubur mendapat siksaan yang pedih," ujar Dodo.
"Gendut kau itu seperti Ustad aja," ujar Gavin sambil mengelus kepala botaknya.
Akhirnya Gavin mengantar si gendut ke mushola. Gavin memperhatikan bocah gendut itu wudhu, untuk bocah kecil seperti dia sudah sempurna wudhunya.
"Kau pintar sekali wudhu Ndut," puji Gavin.
"Dodo ngaji di masjid sama Ustad Sabari," jawab Dodo.
Gavin tersenyum. Anak sekecil Dodo rajin mengaji sedangkan Gavin sholat aja tidak.
"Ayo Om wudhu, kita sholat bareng," ajak Dodo.
"Aku tak tahu caranya wudhu gendut," ujar Gavin.
"Dodo ajarin Om," ucap Dodo.
"Oke," jawab Gavin.
Dodo mengajari Gavin wudhu. Walaupun beberapa kali salah, Dodo berhasil mengajari dengan benar.
Gavin dan Dodo masuk ke mushola. Berdiri satu shaf.
"Om jadi imamnya," pinta Dodo.
"Om lupa bacaan sholat, gak bisa," sahut Gavin.
"Kalau gitu ikutin Dodo," ucap Dodo.
Gavin mengangguk. Mengikuti Dodo yang sholat di sampingnya sampai selesai. Gavin melihat Dodo mendoakan ibunya. Dia terharu.
"Kok bisa gue bertemu bocah gendut ini? Bahkan wudhu dan sholat," batin Gavin.
Setelah itu Gavin mengajak Dodo naik ke lantai tiga untuk bertemu keluarganya. Mereka berjalan di lorong lantai satu.
"Om, gendut lapar, beliin roti," ucap Dodo.
"Yaudah," sahut Gavin. Dia mengantar Dodo beli roti di kantin yang ada lantai satu.
"Mba rotinya satu," ucap Gavin pada kasir kantin itu.
"Om gak cukup satu," ucap Dodo.
"Memangnya kau makan berapa banyak roti Ndut?" tanya Gavin.
"10 roti cukup Om, biasa 15 roti Om," ucap Dodo.
"Buset, ini mah bikin bangkrut gue kalau jadi anak gue, setahun aja ngempanin nih bocah gendut, miskin mendadak gue," batin Gavin.
"Eh Om, 20 juga boleh, Dodo tadi nangis terus jadi laper," ucap Dodo.
Gavin geleng-geleng. Pantesan gendut ternyata sekali makan 20 roti.
Setelah beli roti Gavin masuk lift bersama bocah gendut botak itu. Naik ke lantai tiga. Mereka masuk ruang rawat inap. Gavin duduk di sofa bersama Dodo. Melihat itu Alex tercengang, Gavin membawa bocah gendut botak bersamanya. Dia menghampiri Gavin dan duduk bersamanya di sofa.
"Anak siapa?" tanya Alex.
"Anak gue Kak," jawab Gavin.
"Apa? Gak salah? Bukannya memperbaiki keturunan kenapa pas-pasan gini, kau nikah sama wewe gombel ya?" canda Alex.
"Anak ketemu gede, emaknya meninggal, gue diamanahin jagain nih bocah gendut," jawab Gavin.
"Hallo Om, aku Dodo, tuker Papa boleh gak? Om lebih ganteng dari Om Gavin," ucap Dodo.
"Dodo, kau ya, aku sudah berbaik hati, kau malah mengkhianatiku," ujar Gavin.
"Maaf Om, perbaikan masa depan, siapa tahu nasib Dodo lebih bahagia kalau sama Om ganteng itu," ucap Dodo.
Alex tertawa. Melihat Gavin jadi pengasuh bocah gendut botak itu. Setidaknya dia punya hiburan dan berlatih tanggungjawab.
Di lantai satu, Ibu Mariska masih makan bersama Claudya di cafe rumah sakit sebelum pulang. Setelah itu mereka berjalan ke luar dari kafe. Berjalan di lorong rumah sakit. Ibu Marisa sibuk dengan handphone-nya, melihat-lihat online shop langganannya. Dia tak sadar menubruk seorang wanita paruh baya. Dia terlihat modis ditemani bodyguard di belakangnya.
"Ibu awas," ucap Claudya yang terlambat memperingati ibunya.
"Sorry," ucap Ibu Marisa melihat ke depan setelah selesai melihat handphone-nya.
"Marisa lama tak bertemu? Sepertinya penampilanmu sudah berubah."
Ibu Marisa terdiam. Mematung melihat wanita paruh baya itu. Dia terlihat ketakutan dan cemas.
"Siapa Bu?" tanya Claudya.
Ibu Marisa tak bergeming. Matanya menatap wanita paruh baya di depannya.
"Bu ...," panggil Claudya menepuk lengan Ibu Marisa.
Wanita paruh baya itu terlihat modis. Pakaiannya elegant. Mengenakan kalung berlian, semua barang yang dikenakannya branded, tampak berkelas.
"Meskipun penampilanmu berbeda, tapi kau tetap Marisa yang miskin dan rendahan."
"Nek, jangan asal bicara. Ibuku bukan wanita miskin dan rendahan," ucap Claudya kesal ibunya dihina.
"Ternyata anakmu pandai bicara ya." Wanita paruh baya itu tersenyum licik menatap Ibu Marisa yang terdiam.
Seorang bodyguard mendekati wanita paruh baya itu. Berbisik padanya.
"Nyonya besar, anda harus bertemu Dokter Martin."
"Oke," sahutnya.
Wanita paruh baya itu kembali menatap Ibu Marisa.
"Aku berharap ini terakhir kalinya bertemu denganmu, kau tahu seperti apa akukan?" ancam wanita paruh baya itu.
Ibu Marisa tak berani mengeluarkan satu katapun. Dia hanya terdiam. Sampai wanita paruh baya itu pergi meninggalkannya.
"Bu siapa nenek tadi?" tanya Claudya penasaran. Tak biasanya Ibu Marisa takut pada oranglain. Biasanya sombong dan berkuasa.
"Bukan siapa-siapa," jawab Ibu Marisa.
"Tapi kok nenek itu kayanya kenal ibu," ujar Claudya.
"Gak penting, ayo pulang," ucap Ibu Marisa. Dia berjalan lebih dulu dari Claudya. Ekspresi wajahnya masih tegang. Dia masih terdiam. Di belakangnya Claudya membuntuti ibunya itu. Ikut ke luar dari rumah sakit.