Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Pengantin Datang



Di sisi lain Alex, Gavin, Tuan Matteo dan Luki duduk di teras masjid. Mereka menunggu kedatangan pengantin pria.


"Kayanya pengantin pria hilang ditelan bumi," ujar Gavin.


"Jangan asal bicara. Mungkin dia sedang nyalon dulu. Creambath dan mani pedi cure biar cucok meong," jawab Luki.


"Astaga menang calon pengantin pria sek0ng?" sahut Gavin.


Mereka berdua malah asyik berpendapat di luar tema acara pernikahan. Sudah dari pagi duduk otaknya agar perlu dimiringkan biar tidak tegang dan lelah.


"Mungkin kalau siang Sarimin malam baru Marimar," jawab Alex. Ikut-ikutan gabut kaya Gavin dan Luki.


"Atau sedang mencari harta karun dulu buat mas kawin," tambah Tuan Matteo terbawa suasana gabut.


"Ha ha ha." Mereka tertawa. Paling tidak ada hiburan di saat gabut dan bosan.


"Vin, Humaira udah mulai susah jalan, tidur, dan banyak makan. Maria gitu juga gak?" tanya Luki. Dia mengkhawatirkan keadaan Humaira. Semakin perutnya besar semakin sulit beraktivitas.


"Iya sama. Malah Maria jadi sering sentitif kalau gue pulangnya telat atau ketemu temen cewek. Dintrogasi dari A-Z, terus bawaannya mesti ngikut," jawab Gavin.


"Kok bisa? Emang begitu atau cuma bawaan hamil?" tanya Luki.


"Biasanya juga enggak, pas hamil aja sensi," jawab Gavin. Semenjak Maria hamil jadi mudah cemburuan dan sensitif.


"Biasa kalau dicemburuin," sahut Alex.


"Masalahnya gue lagi jalan sama kucing betina aja dicemburuin, dikira bakal poligami ma kucing," jawab Gavin. Lagi asyik-asyik jalan ma kucing langsung diciduk Maria mesti putusin kucing atau tidur di sofa.


"Ngenes juga, untung Claudya belum ada keluhan. Paling rajin kentut dan mesti bilang harum," sahut Tuan Matteo.


"Claudya baru hamil lihat aja nanti. Bisa-bisa pakai parfum doang dikira punya cewek baru," ujar Gavin. Dia sudah berpengalaman karena Maria sudah hamil tujuh bulan.


"Berarti Sophiaku paling sholeha saat hamil, mana saat lahiran aku pergi ke barat mencari kitab suci," kata Alex.


Gavin dan yang lainnya tertawa. Mereka ingat saat Alex seperti gembel.


"Iya Kak, Kak Sophia memang paling sholeha, sampai punya suami Bang Toyib aja sabar menanti," sahut Gavin.


"Iyalah, Sophiaku memang the best," puji Alex pada Sophia. Dia paling beruntung memiliki Sophia dalam hidupnya.


"Vin cemburunya cuma gak boleh jalan ma kucing betina doangkan?" tanya Luki kepo.


"Bukan cuma itu. Beli ayam aja mesti yang jantan, tiap beli ayam goreng mesti tanya sama abangnya, ini ayam jantan apa betina? Si abangnya bingung mengungkap sejarah ayam itu," jawab Gavin.


"Parah, gimana kalau ayamnya sek0ng kan gak jelas jantan atau betina," sahut Luki.


"Ya elah ayam mau normal atau sek0ng tetep dimakan," sahut Alex.


"Emang beda ya rasanya ayam sek0ng?" tanya Tuan Matteo ikut-ikutan gak jelas demi membangun keasyikan di saat mereka udah boring.


"Yang sek0ng rasa strawberry kalau yang normal rasa nanas, kan beda," sahut Gavin.


"Oh." Tuan Matteo ngikut gabut.


"Jangan mau dibodohi Gavin, ayam sek0ng ayam juga, masuk dalam spesies unggas. Dalam biologi ... bla ... bla ..." Alex menjelaskan ilmu pengetahuan alam pada ketiga orang gabut. Bukannya paham malah pada ngantuk.


"Kak teruskan! Tadi apa ovipar?" tanya Gavin.


Luki langsung mencubit pinggang Gavin. Menatap ke arahnya.


"Bosen gue ama telor dan telor dari tadi," bisik Luki.


Tuan Matteo juga menepuk lengan Gavin yang berada di sampingnya.


"Bilang kakak ipar udahan jadi guru biologinya, otakku overload," bisik Tuan Matteo.


"Kak bisa gak kita cuti dulu? izin sakit," ujar Gavin.


Alex berhenti menerangkan pelajaran biologi yang sempat didapatnya sewaktu sekolah dulu. Ternyata suami Sophia ini pandai dari zaman sekolah. Pantas saja jadi CEO.


"Oke, gue juga udah capek," sahut Alex.


"Berarti Claudya bisa nyidam jadi gitu ya?" tanya Tuan Matteo.


"Belum tentu sama, pasti beda-beda," sahut Gavin.


Tuan Matteo dan yang lainnya mengangguk.


Sementara itu Pak Ferdi dan Pak Harry duduk di sudut teras masjid. Mereka sudah lama tak duduk bersama dan mengobrol layaknya kakak dan adik.


"Kalau suaminya Sora tak datang, saatnya kau memancing di air keruh," ujar Pak Ferdi menasehati kakaknya.


"Mancing ya di sungai atau di kolam ikan, ngapain di air keruh gak level buat orang tampan sepertiku," sahut Pak Harry. Padahal Pak Ferdi cuma memgibaratkan, Pak Harry gak konek.


"Astaga Kak Harry kau tak mengerti peribahasa?" tanya Pak Ferdi.


"Aku sering bolos saat pelajaran bahasa, jadi gak paham peribahasa," jawab Pak Harry.


"Pantes, maksudku jadilah pengantin pengganti," Sahut Pak Ferdi.


"Itu judul novel atau sinetron? Aku ketinggalan nonton sinetronnya," kata Pak Harry.


"Ku pikir Bos sangat pintar ternyata istilah anak zaman now sana kau tak paham," keluh Pak Ferdi. Dia tak menyangka Pak Harry tak paham istilah yang dicetuskan anak zaman now.


Pak Harry tersenyum. Baru kali ini mereka ngobrol sampai bercanda seperti itu.


Di dalam masjid penghulu mulai mempertanyakan kehadiran calon pengantin pria. Begitupun dengan tamu yang mengikuti acara akad nikah itu mulai riuh.


"Calon pengantin prianya belum datang juga?" tanya penghulu.


"Belum Pak."


"Gimana ini saya mau nikahin yang lain juga?" Penghulu mulai resah. Masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.


"Saya juga mau ngawinin sapi saya sama sapi punya tetangga," keluh warga lainnya.


"Kalau saya sih siang ini mau nikah yang ke lima kali sama janda muda," tambah yang lainnya.


"Kalau saya sedih calon pengantin pria belum datang," ujar salah satu pemuda.


"Ini contoh anak muda dengan tingkat empati yang tinggi, patut di contoh," ujar Kakek David memuji pemuda di sampingnya.


"Sedih kenapa?" tanya yang lain kepo.


"Sedih karena belum makan juga sampai acara akad ini selesai," sahutnya.


"Kirain berempati, ternyata laper toh."


"Sudah bapak-bapak jangan bawa-bawa masalah nikah dan kawin ke sini. Kita fokus ke pernikahan calon pengantinnya," sahut Pak RT setempat.


Di seberang posisi bapak-bapak berada Sora tampak pucat. Dari tadi nomor telpon Niko gak bisa dihubungi, malah gak aktif. Dia takut terjadi sesuatu padanya.


"Sora Niko belum datang juga?" tanya Ibu Nita. Panik karena situasi yang mulai memanas. Tamu undangan mulai tak sabaran. Mereka bertanya-tanya pada Ibu Nita tentang kehadiran pengantin pria.


"Aku gak tahu Bu," jawab Sora.


"Pak penghulu udah bolak balik tanya dari tadi," kata Ibu Nita. Dia tidak enak dengan penghulu yang akan menikahkan orang lain lagi.


"Apa akadnya ditunda aja?" tanya Sora yang sudah berputus asa. Dia tidak bisa meninggikan lagi wajahnya.


"Tamu sudah terlanjur datang, malu nak kalau gak jadi," jawab Ibu Nita. Apa kata orang jika tidak jadi menikah.


Sora terdiam. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Niko seperti hilang begitu saja tanpa kabar. Air mata Sora menetes di pipinya. Seakan semua kesedihan tumpah di hari itu. Dia tak menyangka hari yang seharusnya jadi hari bahagianya malah menjadi duka.


Tiba-tiba suara Alex terdengar nyaring ke dalam. Dia berdiri di depan pintu untuk menenangkan tamu yang sudah bosan.


"Pengantin pria datang!" seru Alex.


"Alhamdulillah." Semua orang ikut senang.


Tak hanya para tamu undangan yang senang tapi Sora terlihat paling senang. Dia mengucap syukur berkali-kali. Hampir saja Sora pingsan kalau pengantin pria tak datang. Untungnya datang juga.