
Dokter Leon dan Erisa berjalan menuju rumah Kakek Daniel. Sepanjang jalan mereka tersenyum malu-malu. Keduanya sedang kasmaran. Setelah sekian lama tak bertemu, rasa rindu membuat hati berbunga-bunga.
"Leon, penampilanmu jadi berubah gini," ujar Erisa.
"Berubah gimana?" tanya Dokter Leon.
"Bajumu mirip tukang kebun, ku pikir kau sudah menikah makanya jadi kusut," jawab Erisa. Melihat penampilan Dokter Leon yang biasanya rapi dan keren tapi justru mirip tukang kebun yang sedang pergi ke ladang.
"Oh ini, aku memang jadi tukang kebun, gimana dong masih mau gak?" tanya Dokter Leon menggoda Erisa.
"Masih dong," jawab Erisa.
"Tapi Akang bau Neng, teu kunanaon?" tanya Dokter Leon menggunakan bahasa sunda. Satu tahun di Garut membuat Dokter Leon tahu sebagian bahasa sunda.
"Cie yang bisa bahasa sunda," jawab Erisa menyindir Dokter Leon.
"Jawab atuh Neng," sahut Dokter Leon.
Erisa tertawa kecil. Geli mendengar Dokter Leon bicara bahasa sunda tapi logat betawi.
"Kunaon seri?" tanya Dokter Leon.
"Udah ah Leon, kau pakai bahasa sunda tapi logatmu itu betawi, jadi geli aku dengernya," jawab Erisa. Dia sampai sakit perut mendengar Dokter Leon bicara.
"Oke-oke, butuh waktu untuk bisa logat bahasa sunda," sahut Dokter Leon.
Mereka kembali berjalan mesti sesekali saling bersenda gurau. Sampai melihat Sari ditarik beberapa warga dengan menggunakan tambang seperti sedang tarik tambang tujuh belasan.
"Sari!" teriak Erisa. Melihat Sari masih di kolam ikan dan dikerumuni warga.
"Erisa! Kemarilah lagi tarik tambang nih!" sahut Sari yang tidak merasa sedang dalam kesusahan. Justru asyik. Sempat dikasih makan dan minum gratis meski masih di dalam kolam renang. Belum sanggup menarik Sari ke daratan.
"Sari ku pikir kau sudah naik, ternyata masih terdampar ya," sahut Erisa. Menghampiri Sari.
"Oh ini temannya ya Neng?"
"Iya Pak, teman saya," jawab Erisa.
"Kita belum bisa narik, butuh beberapa orang lagi biar bisa narik ke atas."
"Kalau begitu ayo ditarik lagi Pak! saya ikut," sahut Dokter Leon. Dia berniat membantu warga menarik tambang untuk menarik Sari yang jebur di kolam ikan.
"Ya udah kita tarik lagi!"
"Siap!" Warga lainnya setuju.
Mereka semua menarik Sari ke atas dengan tambang. Tarik menarik selama setengah jam. Akhirnya Sari bisa naik ke atas juga. Semua orang tepar, Sari malah asyik makan makanan yang disuguhkan untuk tim penyelamat. Ditambah lagi dia jajan di tukang baso, tukang somay, tukang basreng, tukang cimol, tukang ludek, dan lainnya yang ada di tempat itu.
"Sari orang lain menderita menarikmu ke atas, kau malah makan semua konsumsi mereka," ujar Erisa.
"Seharian terdampar aku kelaparan Erisa. Butuh tenaga untuk bertahan hidup selama di dalam lautan," sahut Sari.
"Kau cuma terdampar di kolam ikan bukan di lautan Sari, itupun selama terdampar ibu-ibu sini memberimu makan," sanggah Erisa. Dia heran semangat Sari untuk makan tiada hentinya.
"Iya sih, tapi itu baru makanan pembuka. Makanan utama dan pencuci mulutnya belum," kata Sari.
"Astaga, kau meresahkan semua orang," sahut Erisa.
Sari hanya tersenyum. Untung saja warga sangat ramah dan baik hati. Terdamparnya Sari di kolam ikan justru jadi tontonan warga. Pedagang kaki lima jadi pada ikut nongrong di saat banyak warga dan anak kecil pada ngumpul menyaksikan Sari terdampar tak bisa naik.
Dokter Leon berterimakasih pada warga karena sudah ikut membantu menolong Sari naik ke atas. Dia memang akrab dengan warga karena dia ramah, sopan dan humbel. Selama di Cidatar dia sudah membantu warga dengan menyediakan pengobatan gratis di hari liburnya. Jadi warga sangat bersimpati dan akrab dengan Dokter Leon.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya bapak-bapak," ujar Dokter Leon pada warga.
"Iya Dok," jawab bapak-bapak yang ada di situ.
"Ayo pulang ke rumah kakek!" ajak Dokter Leon.
"Oke," sahut Erisa.
"Tunggu dulu ya," kata Sari.
"Mau apalagi?" tanya Erisa penasaran. Sari udah makan sebanyak itu apa masih mau nambah. Erisa sampai geleng-geleng.
"Aku mau traktir warga di sini, tapi uangku basah semua," ucap Sari.
"Ya udah pakai uangku aja," sahut Erisa. Dia tahu dompet milik Sari basah kuyup karena masuk ke dalam kolam ikan.
"Boleh, kaukan sudah kaya sekarang," sahut Sari.
Erisa menggeleng. Dia memang sudah mapan karena tinggal bersama Keluarga Harold, salah satu keluarga terpandang di Jakarta.
"Ya udah, lagi pula gak enak juga. Dari tadi kau sudah merepotkan warga," ujar Erisa.
Sari hanya tersenyum. Benar juga yang dikatakan sahabatnya. Warga sudah susah payah menolongnya dan memberinya konsumsi, belum lagi dia malah menghabiskan konsumsi tim penyelamat.
Akhirnya Erisa memborong semua pedagang kaki lima yang mangkal di tempat itu. Semua warga bisa jajan gratis karena sudah dibayar Erisa.
"Makasih ya Neng," warga mengucapkan terimakasih pada Erisa.
"Iya Pak, Bu," sahut Erisa.
Setelah itu Dokter Leon, Erisa dan Sari kembali ke rumah Kakek Daniel. Mereka mandi dan berganti pakaian, barulah duduk bersama di ruang tamu.
"Kek, ini Erisa Harold, wanita yang sering ku ceritakan pada kakek," ucap Dokter Leon memperkenalkan Erisa pada kakeknya.
"Pantes jatuh cinta sama pencopet, kalau pencopetnya cantik gini. Coba kakek juga dicopet," sahut Kakek Daniel.
"Jangan dong Kek, ini cemcemanku. Sari aja Kek," sanggah Dokter Leon.
"Iya Kek, Sari jomblo, kakek duda, cocok," canda Erisa.
"Kakek takut gak sanggup ngasih makannya kalau yang itu," sahut Kakek Daniel.
"Alhamdulillah, untung gendut kalau gak dijodohin ma kakeknya Dokter Leon," ucap Sari. Gemuknya kali ini membawa berkah, kalau tak bisa dilirik Kakek Daniel.
Erisa dan yang lainnya tertawa dengan gurauan itu. Kakek Daniel hanya bercanda. Dia hanya ingin mencairkan suasana.
"Oya Kek, aku ingin kembali ke Jakarta, untuk melamar dan menikahi Erisa," ujar Dokter Leon.
"Semoga semuanya lancar. Kakek tidak bisa ke Jakarta. Hanya doa yang akan selalu menemanimu," sahut Kakek Daniel.
"Iya Kek, amin," jawab Dokter Leon. Dia tahu kakeknya tidak bisa ke Jakarta. Dia bisa memahami itu.
"Kau tidak akan tinggal di sini lagi?" tanya Kakek Daniel.
"Tergantung Erisa, jika dia berkenan tinggal di sini, Insya Allah aku akan kembali dan tinggal di sini, tapi kalau Erisa ingin tetap di Jakarta, aku akan tinggal di sana," jawab Dokter Leon. Dia tidak ingin memisahkan Erisa dari keluarganya. Erisa sudah lama berpisah dengan keluarganya, Dokter Leon tak tega jika membawa Erisa ke Garut.
"Ya sudah, gimana baiknya saja. Yang penting kalian bahagia," sahut Kakek Daniel. Dia pernah gagal, menikah di atas perbedaan keyakinan. Dia tidak ingin cucunya mengalami hal yang sama. Dia berharap Dokter Leon akan bahagia dengan keluarga kecilnya nanti.
"Kalau gitu Leon pamit, hari mau langsung ke Jakarta. Terimakasih atas semua kebaikan Kakek," ujar Dokter Leon.
"Iya, hati-hati di jalan," jawab Kakek Daniel. Hanya doa restu yang bisa dia berikan untuk cucunya.
"Iya Kek, assalamu'alaikum," jawab Dokter Leon.
"Wa'alaikumsallam," sahut Kakek Daniel.
Erisa dan Sari juga berpamitan pada Kakek Daniel. Mereka ikut Dokter Leon kembali ke Jakarta.