Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Ternyata Kamu



"Nanti ku beri tahu. Jalan aja dulu," sahut Erisa. Padahal dia juga bingung mau ke mana. Semua buntu di otaknya padahal biasanya encer.


"Oke," sahut Dokter Leon. Dia mulai menyalakan mobilnya. Mengendarai mobil kesayangannya ke luar dari halaman rumahnya. Menuju jalan raya. Mengikuti arah yang ditunjukkan Erisa. Meski dia sedikit bingung karena Erisa terlihat ragu saat menunjuk.


Berputar-putar kembali ke tempat semula. Berputar lagi sampai bosan dan berakhir di tempat yang sama di depan rumah Dokter Leon.


"Perasaan ini rumahku? Iyakan?" Dokter Leon merasa pusing muter terus dan ujung-ujungnya kembali ke rumahnya.


"Iya ya," sahut Erisa. Dia juga merasa menunjukkan arah yang berputar-putar.


"Aku naik taksi saja ya, terimakasih sudah diantar," ujar Erisa.


"Sari biar ku antar sampai rumah!" elak Dokter Leon.


"Gak usah repot-repot," sahut Erisa. Padahal dia bingung mau pulang ke mana juga.


Di antara perdebatan mereka berdua, suara handphone milik Erisa berdering. Menecahkan perdebatan itu. Erisa langsung mengambil handphone di tas miliknya. Melihat panggilan di layar handphone yang terus menyala.


"Sari!" batin Erisa terkejut mendapati yang menelpon dirinya adalah Sari sahabatnya.


"Aduh gimana ini?" batin Erisa bingung.


"Leon aku angkat telpon dulu ya!" pinta Erisa. Sebelum mengangkat telpon dari Sari dia meminta izin pada lelaki yang duduk bersamanya.


Dokter Leon mengangguk.


Mau tak mau Erisa terpaksa mengangkat telpon itu dengan membelakangi Dokter Leon.


"Assalamu'alaikum," sapa Sari.


"Wa'alaikumsallam, ada apa Sari?" tanya Erisa.


"Erisa, datanglah ke rumah sakit! Ini tentang kakekmu," jawab Sari. Suaranya terdengar sendu.


"Sari kakekku kenapa?" tanya Erisa dengan suara pelan.


"Pokoknya datanglah ke rumah sakit. Nanti ku jelaskan di sini," jawab Sari. Dia tidak bisa memberitahu yang sebenarnya.


"Oke," jawab Erisa. Perasaannya jadi tidak enak semenjak mendengar suara Sari yang sendu. Dia takut terjadi sesuatu pada kakeknya.


"Leon, aku harus pergi dulu, ada kepentingan mendadak," ujar Erisa.


"Biar ku antar!" jawab Dokter Leon dengan tegas.


"Loh kenapa harus kau mengantarku, aku bisa sendiri," sanggah Erisa. Dia heran lelaki yang dia copet itu kekeh ingin mengantarnya.


"Karena aku merasa cocok denganmu," jawab Dokter Leon.


"Astaga, kenapa makin nempel kaya gini. Apa perlu ku sembur biar kabur. Aduh ... gimana menghempaskannya," batin Erisa. Dokter Leon sudah menempel dengannya susah lepas. Bagaimana Erisa bisa ke rumah sakit.


"Ya, aku juga cocok denganmu tapi biarkan aku pergi ya?" sahut Erisa.


"Aku yang akan mengantar," jawab Dokter Leon.


"Ku apakan dia biar pergi dari hidupku, lama-lama kaya parasit menempel terus," batin Erisa.


"Ya udah antar aku ke rumah sakit. Tapi cukup sampai di depannnya saja, oke?" tanya Erisa. Tak ada pilihan Dokter Leon masih ingin menempel dengannya.


"Ok siap!" jawab Dokter Leon.


Akhirnya mereka berdua pergi ke rumah sakit. Dokter Leon mengantarkan Erisa sampai depan rumah sakit.


"Makasih ya Leon," ucap Erisa sambil mengambil tas miliknya yang belum sempat di tutup selepas mengambil handphone miliknya. Dia mengambil tas yang diletakkan di samping pahanya. Namun karena terbalik semua isiannya terjatuh ke bawah.


"Pakai jatuh lagi," ujar Erisa. Melihat isi tasnya berjatuhan.


"Biar ku bantu ambilkan!" kata Dokter Leon. Dia ingin membantu Erisa.


"Gak usah, aku bisa," sahut Erisa. Dia mengambil barang-barang yang terjatuh. Memasukkan kembali ke tas.


"Nah sudah, makasih ya Leon," ujar Erisa.


"Iya, memang siapa yang sakit?" tanya Dokter Leon.


"Ee ... saudara," jawab Erisa. Dia sudah cemas, takutnya Dokter Leon akan bertanya lebih lanjut. Akan susah baginya untuk menjawabnya.


"Oh," sahut Dokter Leon. Dia tidak curiga apapun. Percaya pada ucapan Erisa.


"Aku masuk dulu," ujar Erisa.


Dokter Leon mengangguk.


Erisa pun turun dari mobil Dokter Leon. Dia melambai sebelum pergi. Kemudian berlalu begitu saja. Sedangkan Dokter Leon masih memperhatikannya hingga tak terlihat oleh kedua netranya.


"Dia lucu," ucap Dokter Leon. Tersenyum. Ketika dia ingin mengemudi kembali, tak sengaja sudut matanya melihat dompet yang ada di kursi tempat Erisa tadi duduk.


Dokter Leon menoleh. Dia familiar dengan dompet itu. Tangannya langsung mengambil dompet berwarna hitam yang ada di kursi di sampingnya. Dokter Leon membuka dompet itu. Memeriksa semua isi di dalamnya.


"Ini dompetku, isinya juga milikku. Wanita itu?" Dokter Leon berpikir. Kemudian tersenyum licik.


"Kau yang memulainya, aku takkan melepasmu," ujar Dokter Leon. Sesuatu muncul di otaknya. Dia mengendarai mobil itu meninggalkan tempat itu.


***


Erisa berlari masuk ke dalam rumah sakit. Cadar yang dikenakan terlepas, dia tak sempat mengambil cadarnya kembali. Erisa kalang kabut memikirkan kakeknya. Sepanjang jalan menuju lantai tiga hatinya tak tenang. Air matanya tak terasa menetes di pipinya. Erisa bergegas masuk lift. Naik ke lantai tiga. Di menuju ruang ICU. Di sana kakeknya sedang berbaring koma. Erisa berlari dari lift ke ruang ICU, tapi Sari menghentikannya.


"Erisa kau harus kuat sebelum masuk ke dalam," ujar Sari.


"Kau ngomong apa sih Sari?" tanya Erisa bingung. Dia tidak tahu apa yang dibicarakan Sari padanya.


"Kakekmu sudah tiada Erisa," jawab Sari. Dia tak tega menyampaikan kabar itu pada Erisa namun dia harus menyampaikannya.


"Tidak, kau bohong. Kakek pasti sembuh," sahut Erisa. Tubuhnya lemas. Selama ini dia sudah berusaha ini itu agar bisa membiayai biaya perawatan kakeknya.


Sari memegang kedua lengan Erisa. Dia menatap wajah temannya.


"Aku tidak berbohong. Kau harus ikhlas," ujar Sari. Ekspresi di wajahnya menunjukkan keseriusan. Dia berkata yang sebenarnya.


Erisa menggeleng. Dia terduduk ke bawah. Tubuhnya lemas. Semangatnya turun drastis. Air matanya membanjiri kedua pipinya.


"Erisa," ucap Sari. Dia berjongkok di samping Erisa.


"Aku belum sempat bicara dengan kakek. Kenapa kakek tidak menungguku hik hik hik." Erisa menangis. Dia sangat ingin mendengar suara kakeknya untuk yang terakhir kalinya.


"Erisa, aku tahu ini pasti berat. Tapi ikhlaskan kakekmu pergi. Agar dia tenang di sana," ujar Sari. Matanya berkaca-kaca. Dia tahu apa yang dirasakan Erisa.


"Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi Sari selain kakek. Nenek tidak peduli denganku. Dia hanya memperlakukanku seperti barang yang bisa berguna hik hik hik ..." Erisa menangis. Hanya kakeknya yang selalu menyayanginya.


"Erisa sabar ya. Aku tahu yang kau rasakan," ujar Sari. Sekuat-sekuat dirinya, saat melihat Erisa menangis, dia juga ikut bersedih. Selama ini Sari selalu menemani Erisa dalam suka maupun duka. Meski hidup Erisa berubah drastis, Sari tak pernah meninggalkannya.


Erisa mengangguk. Meski air matanya terus menetes. Perih hatinya, orang yang paling dia sayangi harus pergi meninggalkannya.


Melihat itu Sari langsung memeluk Erisa. Hanya pelukan yang dibutuhkan Erisa saat ini. Dia tidak memiliki siapapun yang menyayanginya lagi selain Sari sahabatnya.