Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Kue Peluluh Hati



"Kucing," jawab Luki.


"Kucing? Tapi kucing gak bisa bicara," ucap Humaira. Dia curiga. Mengenakan hijabnya. Berjalan menuju balkon kamarnya.


Melihat Humaira tahu, Luki segera pergi. Dia kembali melompat ke balkon kamarnya.


Bruuug ...


Luki terjatuh karena salah perhitungan.


"Aw ..., lumayan sakit," ucap Luki memegang kakinya yang keseleo. Dia berjalan pincang sampai ke dalam kamarnya.


Sementara itu Humaira mencari seseorang yang tadi mengintipnya.


"Tadi kayanya ada yang berdiri di sini?" ujar Humaira. Matanya menyapu halaman balkon. Tak ada seorang pun yang ada di balkon kamarnya. Hanya deburan angin sejuk yang terus menyapanya.


"Apa benar kucing?" batin Humaira. Dia kembali ke dalam kamarnya. Mengenakan hijab panjangnya dan cadar untuk menutup wajah cantiknya. Humaira berjalan ke luar dari kamarnya. Turun ke lantai bawah. Seperti biasa Humaira akan membuat kue basah. Pertama dia membuat adonan kue. Menyiapkan isian dan bahan lainnya. Pagi itu tak ada satu pun yang diperbolehkan ke dapur saat Humaira membuat kue. Bahkan sarapan pun dia yang memasak.


"Hari ini hari jum'at, aku akan membuat lebih banyak," ujar Humaira. Tangannya begitu terampil membuat berbagai jenis kue baik tradisional maupun kue modern zaman sekarang.


Di lantai atas Luki masih berdiri memperhatikan foto keluarga Harold.


"Ternyata keluarga Harold hanya memiliki tiga anggota keluarga, mudah untuk ku taklukkan," ucap Luki. Kemudian berjalan ke lantai bawah. Bau harum kue basah mengusik hidungnya.


"Harum, baunya enak," ucap Luki. Di pagi buta itu dia heran sudah ada aroma yang menggugah perutnya untuk segera mengisinya. Luki berjalan mengikuti aroma kue basah itu. Masuk ke dalam dapur. Begitu banyak kue basah di meja dapur. Semuanya baru matang, cantik dan terlihat enak.


"Siapa yang membuat kue sebanyak ini? Baunya enak, bikin laper," ujar Luki. Dia tak sabar ingin mencoba kue yang ada di atas meja. Bergegas menghampiri meja itu. Berdiri di depan kue basah yang begitu banyak. Berjejer, menggodanya untuk dimakan.


"Aku ambil satu tak masalahkan?" batin Luki. Dia mengambil satu kue onde. Menggigit onde itu. Mengunyahnya perlahan. Membiarkan indera perasanya menikmati berbagai rasa yang bercampur dalam sebuah onde.


"Enak, jadi inget waktu kecil suka jajan onde," batin Luki. Rasa enak itu membuat tangannya kembali mengambil onde itu. Mengunyahnya kembali sampai mulutnya penuh.


"Arfan kau sedang apa di situ?" tanya Humaira.


"Ugh ... ugh ... ugh ...." Luki terbatuk karena terkejut. Tersedak onde yang masuk ke tenggorokannya. Melihat itu Humaira mendekat. Membantunya dengan menepuk pundaknya.


"Huh ... huh ... huh ...." Nafas Luki tersengal-sengal setelah potongan onde itu berhasil ke luar dari tenggorokannya.


"Alhamdulillah, nih minum dulu," ucap Humaira sambil memberikan satu gelas air minum pada Luki.


"Kau tak meracuni airnya kan?" tanya Luki memegang air di gelas yang ada di tangannya.


"Meracuni?" tanya Humaira.


"Iya karena semalam aku membuatmu kesal," jawab Luki.


"Onde tadi yang kau makan itu yang ku racuni," ujar Humaira.


Luki langsung memegang perutnya. Benarkah Humaira menaruh racun di onde yang dia makan. Luki langsung menaruh gelas di meja. Berjalan menuju tempat cuci piring. Berusaha mengeluarkan onde dari perutnya.


"Tak ku sangka kau psikopat, apa ini sifat aslimu," ujar Luki.


"Iya, lelaki tak sopan sepertimu memang harus ku racuni, biar tak ada lagi di bumi," ujar Humaira sambil tersenyum dibalik cadarnya melihat Luki berusaha mengeluarkan onde yang dimakannya.


Luki duduk lemas di bawah tempat cuci piring. Dia tak bisa mengeluarkan onde yang sudah masuk ke perutnya. Terpaksa menerima nasibnya.


"Nih," ucap Humaira memberikan sepiring kecil berisi berbagai kue untuk Luki.


"Satu onde saja kau racuni belum ke luar, kau sengaja ingin membuatku mati dengan sepiring kue itu?" tanya Luki.


"Makanya kalau makan sesuatu tanya dulu, izin dulu, biar halal saat kau memakannya, berkah jadinya," sahut Humaira.


Luki melihat piring kecil itu. Ragu untuk mengambilnya.


"Kenapa? Aku tadi hanya bercanda, ambillah tapi jangan nakal lagi," ucap Humaira.


Luki melihat mata Humaira. Namun wanita bercadar itu langsung menurunkan pandangannya.


"Oke aku takkan melihat mata birumu, ku ambil kuenya," ujar Luki. Dia tahu gadis bercadar itu menjaga pandangannya.


Humaira hanya mengangguk. Segera Luki mengambil piring itu. Dan hendak memakan kuenya.


"Baca doa dulu sebelum makannya," ucap Humaira.


"Doa? Doa apa?" tanya Luki.


"Doa makan, apa kau tak tahu?" tanya Humaira.


"Apa seribet itu untuk makan?" tanya Luki yang tak paham agama.


"Tidak ribet, mau ku tuntun?" tanya Humaira.


Luki terdiam sesaat. Gengsi banget, doa makan saja tak tahu.


"Aku hafal cuma lupa maklum kesibukanku menggunung," sahut Luki. Padahal dia sendiri mana tahu doa makan.


"Baik, sekarang aku akan membantumu mengingatnya kembali," ujar Humaira.


Luki mengangguk. Mengikuti Humaira melantunkan doa makan.


"Nah sekarang makanlah dengan benar, aku mau packing dulu," ujar Humaira.


Luki hanya diam. Gadis bercadar itu mulai memacking kue basah di atas meja. Dia makan sambil memperhatikan gadis bercadar itu.


"Bukan," jawab Humaira.


"Untuk apa kalau bukan untuk pesta?" tanya Luki.


"Untuk jualan," jawab Humaira.


"Apa? Kau jualan? Kau anak Harry Harold yang kaya raya jualan kue?" tanya Luki..


"Memang kenapa? Yang kaya ayahku, aku tetap Humaira. Lagi pula apa salahnya berjualan kue?" tanya Humaira.


Luki terdiam. Tak percaya gadis bercadar itu berjualan kue basah. Padahal rumahnya saja mirip istana. Ayahnya Harry Harold konglomerat di Jakarta. Masa iya jualan kue basah?


"Kau jualan di kafe ya?" tanya Luki.


Humaira menggeleng.


"Kalau gak di kafe di mana?" tanya Luki.


"Aku keliling di jalanan, komplek, sekolah dan pasar," jawab Humaira.


Luki semakin terkejut mendengar ucapan Humaira. Padahal dia tinggal duduk manis bagai putri raja. Untuk apa harus capek-capek berjualan di luar.


"Kau gak salah? Kau kaya Humaira," ujar Luki.


"Kekayaan hanya titipan. Kapan pun Allah mau bisa mengambilnya kembali. Aku hanya ingin bekerja sesuai bidang yang ku suka, yang penting halal dan berkah," jawab Humaira.


Mulut Luki langsung menutup mendengar penjelasan Humaira. Tak pernah terbayang olehnya gadis bercadar itu memiliki pemikiran yang sangat berbeda dari wanita yang sering dijumpainya. Meskipun dari dulu Luki membenci wanita.


"Humaira maafkan sikapku semalam padamu," ucap Luki.


Humaira tersenyum dibalik cadarnya. Setidaknya lelaki tak sopan itu sudah ada perkembangannya.


"Iya, aku memaafkanmu, tapi habiskan kuemu, jangan tersisa nanti mubadzir," jawab Humaira.


"Gampang, lagi pula enak," sahut Luki.


Humaira kembali memacking kue-kuenya. Sedangkan Luki asyik memakan kue basah itu. Dia begitu lahap memakan kue itu sambil memperhatikan Humaira.


"Humaira, kau jual berapa kuemu?" tanya Luki.


"Dua ribu," jawab Humaira.


"Apa? Kau jual rugi?" tanya Luki.


"Tidak rugi, memang untungnya tak banyak, tapi ..., bisa membuat orang kenyang memakan kue buatanku itu sudah cukup," jawab Humaira.


Luki terdiam. Bagaimana bisa gadis kaya raya itu berjualan kue semurah itu. Dia yang biasa hidup dalam kemewahan tapi bisa sederhana.


"Kalau kau naik mobil jualannya mana balik modal, harga bensinkan lumayan tinggi tak sebanding dengan keuntunganmu," ujar Luki.


"Itu sebabnya aku jalan kaki," jawab Humaira.


"Kau jalan kaki?" Luki terkejut.


"Iya," jawab Humaira.


"Kau tak capek?" tanya Luki.


"Tidak, justru aku senang, lebih banyak tempat bisa ku jangkau, kalau naik mobilkan aku tidak bisa masuk ke daerah padat penduduk," jawab Humaira.


"Untuk apa kau capek berjualan uangnya gak seberapa," ujar Luki.


"Kau benar, tapi tidak semua hal harus diukur dari materi. Mungkin dengan kue buatanku bisa mengenyangkan orang yang lapar tapi hanya memiliki sedikit uang," jawab Humaira.


Luki menggeleng. Mendengar penjelasan Humaira. Cara pandangnya pada kehidupan sangat berbeda darinya. Gadis itu tak melihat apapun dari materi tapi lebih ke tujuannya.


Luki berdiri. Mencuci piring kecil itu. Menghampiri Humaira.


"Terimakasih atas kuenya Humaira," ucap Luki.


Humaira hanya mengangguk.


Luki berjalan meninggalkan tempat itu. Dia terdiam. Tujuannya mendekati Humaira untuk balas dendam. Tapi kenapa hatinya berubah. Dia berjalan ke lantai atas. Berjalan melewati ruang kerja Pak Harry. Tak sengaja mendengar percakapan Pak Harry dengan seseorang.


"Aku ingin tanah di daerah itu," ucap Pak Harry.


"Tapi Alex Sebastian sudah membelinya."


"Sialan, Alex, lagi-lagi dia menghalangi jalanku," jawab Pak Harry.


"Apa perlu ku singkirkan Bos?"


"Bermainlah sedikit pada mobilnya, aku ingin dia mendapatkan pelajaran berharga," ujar Pak Harry.


Luki terkejut dengan perkataan Pak Harry. Sesuai perkiraannya lelaki tua itu bukan orang yang biasa. Dia akan menyingkirkan siapapun yang menghalangi bisnisnya.


"Kenapa malaikat cantik memiliki ayah iblis seperti Harry Harold?" batin Luki. Tak bisa dicerna dalam pikirannya, seorang Harry Harold memiliki putri seorang Humaira.


"Alex? Itu bukannya kakaknya Claudya?" batin Luki. Dia mengenal Alex. Tahu betul perusahaan milik Pak Harry memang bersebrangan dengan perusahaan yang dipimpin Alex yang sama-sama bergerak di bidang properti.