Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Curiga Padanya



"Gavin ... Gavin ... Gavin ...," panggil Maria pada Gavin yang masih termenung.


"I-iya Maria," jawab Gavin.


"Memang kenapa?" tanya Maria.


"Kemarin ku pikir ibu itu aneh," jawab Gavin.


Maria tertawa kecil dengan ucapan Gavin.


"Lucu ya?" tanya Gavin.


Maria menggeleng.


"Aku menyapa ibu itu gak dibales, udah gitu melotot terus ke arahku," ujar Gavin. Menceritakan pengalaman bertemu ibu tua itu saat pertama kali hingga saat ini pada Maria.


"Ibu Sarinah memang begitu kalau ketemu orang baru," jawab Maria.


"Oh emang begitu ya," sahut Gavin.


"Dia sudah lama seperti itu, tapi gak pernah ganggu atau melukai orang," kata Maria.


"Kirain," sahut Gavin. Udah suudzon duluan ternyata tidak sesuai yang dipikirkannya.


"Oya tumben datang ke sini?" tanya Maria.


"Ngapel dong sama calon istri," jawab Gavin.


Maria tersenyum malu. Membuang muka.


"Gavin lagi puasa," jawab Maria.


"Habis kamu bikin deg deg ser mulu Maria," sahut Gavin.


Udah meleleh total. Es di Kutub Utara mencair gara-gara matahari kepanasan melihat rayuan gombal Gavin di pagi hari. Bikin ngiri aja, mataharikan jomblo.


"Gavin kau mantan playboy ya, pinter banget gombal," jawab Maria.


"Mantan playboy tapi calon suami setia," jawab Gavin.


Luluh lantah porak poranda diterjang tsunami hati Maria kerendem air. Tenggelam jauh ke dalam buaian cinta.


"Gavin udah ah, tar batal puasanya," ucap Maria.


"Iya cinta, aku ke sini bawa buah buat bikin es buah tar sore," ujar Gavin.


"Tahu aja kalau tar sore mau bikin es buah," jawab Maria.


"Iya dong, ini yang dinamakan cinta, satu hati dan pikiran yang sama," jawab Gavin.


Kasihan ayam jago niat hati ngapelin betina eh mesti kursus dulu ma Gavin biar dapet betina yang banyak. Toh ayam jago bebas poligami.


"Gavin tuh ayam jago sampai bengong mendengar kamu merayu terus," ujar Maria. Menunjuk ke arah ayam jago berdiri tak jauh dari Gavin berada.


"Eh iya, kursus kali dia," sahut Gavin melihat ayam jago itu.


"Ya udah, mana buahnya," kata Maria.


"Tapi boleh gak tar buka puasa sama kamu cinta?" tanya Gavin.


"Boleh, tapi kurangin gombalannya, Vera masih jomblo loh," sahut Maria.


"Siap cinta!" sahut Gavin. Senengnya melihat Maria mulai banyak bicara. Meskipun diawal sangat pendiam. Mungkin udah dekat dengannya. Jadi dia jauh lebih terbuka. Lagi pula Gavin calon suaminya.


Gavin memberikan seplastik buah pada Maria.


"Makasih ya, nanti ku bikin es buah, oya mau dimasakin apa?" tanya Maria.


"Apa ya? Apa aja asal masakanmu pasti dimakan," jawab Gavin.


"Iya, aku akan masak banyak untukmu," sahut Maria.


"Abang kerja dulu ya Neng, doain biar bisa beli rumah buat kita tinggal nanti," ujar Gavin.


"Amin," sahut Maria.


Gavin memakai kembali helm-nya. Mengendarai motornya meninggalkan tempat itu. Maria yang berdiri di depan rumahnya hanya melambai.


"Bu ibu lihat deh Maria, tumben calon suaminya masih idup?"


"Iya, mungkin bulan puasa kesialannya libur dulu."


"Amit-amit deh, cowoknya mau aja ngapelin mulu."


"Anakku aja suka sama Maria, langsung ku amankan."


"Awas Bu Susi, kalau anakmu deket Maria, mati tar."


"Iya."


Di jalan Gavin terus mengendarai motornya. Dia melaju dengan kecepatan sedang. Saat di lampu merah Gavin berhenti. Membuka kaca helm miliknya.


"Itu bukannya Mak Ros, mau ke mana rapi banget?" batin Gavin melihat Mak Ros duduk di halte bus. Tak lama Mak Ros naik ke dalam bus. Melihat itu Gavin jadi penasaran. Dia putar balik saat lampu lalu lintas berubah hijau. Mengikuti bus yang ada di depannya. Sampai di sebuah klinik. Gavin berhenti di depan klinik itu. Sedangkan Mak Ros masuk ke dalam klinik itu.


"Klinik DR. Joko Santoso, klinik apa ya?" batin Gavin penasaran.


Tiba-tiba handphone Gavin berdering.


"Pasti panggilan dari kantor," ujar Gavin. Dia mengambil handphobe di saku jaket miliknya. Melihat layar handphone yang menyala. Panggilan dari rekan kerjanya.


"Tuhkan bener, mesti ke kantor dulu," kata Gavin. Mau tak mau dia tak bisa mencari tahu hari ini. Gavin harus bekerja dulu. Dia mengangkat telpon dari rekan kerjanya.


"Assalamu'alaikum," sapa Gavin.


"Wa'alaikumsallam."


"Vin, meeting pagi nih, lo ditunggu Bos."


"Iya, gue lagi OTW," jawab Gavin.


"Buruan, tar Bos marah."


"Oke," jawab Gavin.


Percakapan itupun di akhiri. Gavin memutuskan pergi ke kantornya. Pekerjaan juga penting. Apalagi Gavin baru dua bulan ini gabung di perusahaan itu. Biar bagaimanapun dia ingin menggapai masa depan indah bersama Maria. Jadi prioritasnya sekarang bekerja dulu.


***


Siang itu Sophia sedang mengontrol pabrik makanan miliknya ditemani Aiko. Sophia terlihat ceria. Dia begitu ramah dan sopan menyapa karyawannya.


"Sophia, aku dengar kau ingin berbagi sembako gratis?" tanya Aiko.


"Iya, aku dan suamiku sudah sepakat untuk membagikan sembako gratis," jawab Sophia.


"Apakah untuk orang muslim saja?" tanya Aiko.


"Tidak, siapa saja yang tidak mampu. Mau dia seorang muslim atau bukan," jawab Sophia.


"Melihatmu membuat cara pandangku pada orang muslim berbeda," kata Aiko.


"Berbeda kenapa?" tanya Sophia.


"Dulu ku pikir orang muslim hanya peduli pada golongannya saja, tapi saat aku bersamamu selama ini, kau orang yang baik pada siapapun. Baik dia muslim atau tidak," ujar Aiko.


Sophia tersenyum.


"Jadi bukan agamanya yang salah tapi pribadi orang tersebut. Baik dia muslim atau tidak, kalau dasarnya baik ya baik, kalau tidak ya tidak, jangan salahkan agamanya," gumam Aiko.


"Iya, pada dasarnya agama Islam sangat mencintai perdamaian, mengajarkan hal yang baik. Jika ada orang muslim yang tidak baik, bukan agamanya yang salah tapi pribadinya masing-masing," jawab Sophia.


"Ya kau benar," sahut Aiko.


Mereka kembali berjalan di lorong-lorong stok makanan yang sudah dikemas.


"Prodak kopi kesehatannya mulai merambah ke luar negeri, banyak pesanan dari Amerika, Rusia, Singapura dan negara lainnya," ujar Aiko.


"Alhamdulillah," jawab Sophia.


"Kau memang hebat, pebisnis yang cerdas," puji Aiko.


"Aku bisa seperti ini karena kau dan semua karyawan yang bekerja keras, tanpa kalian semua aku bukan apa-apa," jawab Sophia.


Aiko mengangguk.


"Oya ngomong-ngomong kapan kau mau married?" tanya Sophia.


"Jodohku masih random," jawab Aiko.


"Gak pengen lihat aku hamil?" tanya Sophia.


"Pengen, banyak yang ngajakin nikah tapi masih belum ada yang sreg gitu," jawab Aiko.


"Pasti nunggu Oppa Korea datang ya?" tanya Sophia.


"Gak ah aku mau yang maco dan berotot kaya Brad Pitt," sahut Aiko.


"Bule dong," kata Sophia.


"Indo juga gak masalah, asal sreg," sahut Aiko.


Sophia tersenyum. Sahabatnya itu masih betah menjomblo. Padahal sudah banyak yang ngajakin nikah.


***


Sore harinya, Gavin ke luar dari kantornya. Berjalan menuju parkiran motor. Dia mengenakan helm. Mengendarai motor gedenya ke luar dari area perusahaan tempatnya bekerja. Sepanjang jalan Gavin kepikiran yang tadi pagi dilihatnya.


"Aku harus mendatangi klinik itu," batin Gavin sambil mengendarai motor gedenya.