
"Paling digondol tikus, buat stok bulan puasa," canda Alex.
"Kalau gitu biarlah satu bulan ini kita gak perlu ngempanin," sahut Gavin.
"Om dan bapak yang tak bertanggungjawab," ujar Claudya sambil menggeleng sinis.
"Aduh kalau si gendut cuti, siapa yang bakal ngabisin makanan sisa?" ucap Ibu Marisa resah kalau Dodo gak ada. Makanan bakal menjanda. Kesepian dan sendirian tanpa dicolek siapapun.
"Kalian ini bukannya panik Dodo gak ada malah seneng," sahut Kakek David.
"Iya Mas benar kata kakek, kasihan Dodo," tambah Sophia.
"Ya udah aku cari Dodo," ujar Alex.
"Aku juga nyari Dodo, kali aja dia lagi ngumpetin opor dan rendang," sahut Gavin.
"Paling juga lagi galau besok kuat atau gak," kata Claudya.
"Ya udah kita cari Dodo sebelum imsyak," sahut Pak Ferdi.
"Gak usah, kalian sahur aja, biar Gavin yang nyari," kata Gavin.
"Oke, kau cari Dodo Vin, nanti kalau dah ketemu kabarin kita semua," sahut Kakek David.
"Iya Kek, siap," jawab Gavin.
Kakek David dan yang lainnya menikmati santapan sahur sedangkan Gavin mencari Dodo.
***
Dodo berjalan membawa ransel gunung di punggungnya. Berjalan menuju Pemakaman Kamboja Merah. Jalannya mulai pelan. Ranselnya sangat berat. Dodo kebanyakan bawa bekal sahur.
"Aduh kalau Dodo pingsan, tar mubadzir dong bekal nya," kata Dodo mengeluh keberatan membawa ransel di punggungnya. Udah kaya mau naik Gunung Merapi. Bawa semua perbekalan untuk bertahan hidup.
"Apa dikurangin aja ya, tapi tar laper gimana?" tambah Dodo. Dia duduk di tepi jalan. Tinggal beberapa langkah sampai tanah pemakaman.
"Dicemil dulu ah biar berkurang, gak berat jadinya," kata Dodo. Dia membuka ransel gunungnya. Memakan setengah perbekalan. Burger, pizza, buah, gorengan, salad sayuran dan snack ringan.
"Udah tinggal setengahnya, pasti ringan," ucap Dodo. Dia berdiri kembali berjalan setapak dua tapak.
"Loh kok beratnya berpindah ke perut, sama aja kaya tadi," keluh Dodo. Berat ransel memang berkurang tapi berat perut Dodo bertambah. Dengan susah payah Dodo masuk ke pemakaman.
"Pocong sama kunti lagi liburkan? Kalau gak pasti minta rendang sama opor Dodo," celoteh Dodo melihat ke arah pohon-pohon besar di pemakaman.
"Ini sahur pertama Dodo di tengah kuburan," kata Dodo. Dia menghampiri Pak Sukirman penjaga makam yang sedang duduk di pos.
"Assalamu'alaikum," sapa Dodo.
"Wa'alaikumsallam," sahut Pak Sukirman. Lelaki kurus yang setia menjaga pemakaman siang dan malam.
Dodo duduk di pos bersama Pak Sukirman.
"Dodo repot-repot datang ke sini cuma mau sahur dengan bapak," ujar Pak Sutarman.
"Pak Sutarmin gak punya keluarga, pasti gak ada yang masakin, makanya Dodo bawa makanan untuk sahur," ujar Dodo.
"Mulia sekali niatmu, semoga Allah membalas kebaikanmu," sahut Pak Sutarmin. Dia memang tak memiliki sanak saudara. Gaji juga pas-pasan. Tadinya mau sahur pakai air putih doang karena gajinya habis untuk bayar utang semasa istrinya sakit.
"Amin, ya udah Pak ayo makan keburu imsyak, Dodo dah laper banget jalan beberapa langkah tadi," sahut Dodo sambil memegang perutnya yang mulai lapar lagi padahal baru jalan beberapa langkah setelah makan tadi.
"Iya Do, kita baca doa dulu," jawab Pak Sutarmin.
Dodo mengangguk. Berdoa bersama Pak Sutarmin. Kemudian makan bersama dengan lauk pauk dan sayuran yang dibawa Dodo. Ada rendang sapi, opor ayam, kentang balado, sambel ati, dan menu sayuran lainnya.
"Enak Do, baru kali ini bapak makan enak, terakhir sebelum istri bapak sakit," ujar Pak Sutarmin.
"Dodo ikut sedih Pak, meskipun Dodo sudah gak ada ibu tapi ada keluarga angkat yang sayang Dodo," sahut Dodo.
"Alhamdulillah, itu karena kau anak yang baik," jawab Pak Sutarmin. Terharu anak sekecil Dodo yang peduli pada sesamanya.
Tak lama Gavin datang. Menghampiri Dodo yang sedang sahur di dalam pos.
"Assalamu'alaikum," sapa Gavin.
"Wa'alaikumsallam," sahut Dodo dan Pak Sutarmin.
"Kau di sini gendut, ku kira diculik, kasihan penculiknya kalau menculikmu," ujar Gavin.
"Tapi Dodo imut Om, pasti diculik buat model samphoo anti ketombe," sahut Dodo.
"Bukan, paling juga buat iklan pembasmi cacing kremi," sahut Gavin.
Dodo dan Pak Sukirman tertawa barengan.
"Ayo Om duduk kita sahur bareng," ajak Dodo.
Gavin mengangguk. Sahur bersama Dodo dan Pak Sukirman. Gavin sampai terkejut melihat Pak Sukirman makan, udah kaya orang gak pernah makan berhari-hari. Lahap dan banyak banget. Sama seperti Dodo.
"Mungkin bagi sebagian orang, apa yang ku makan sehari-hari, justru makanan yang jarang dimakan mereka," batin Gavin. Dia mulai sadar kenapa Dodo memilih sahur pertamanya di tengah pemakaman. Itu karena Pak Sukirman.
Setelah sahur Gavin jalan bersama dengan Dodo di tepi jalan. Mereka terpaksa jalan kaki karena Gavin memarkirkan mobilnya lumayan jauh dari tempat itu.
"Do, Om bangga," kata Gavin sambil mengelus kepala botaknya.
"Bangga kenapa Om?" tanya Dodo.
"Kau masih kecil tapi sudah punya rasa empati yang besar," jawab Gavin.
"Dodo hanya kasihan, Pak Sukirman gak punya keluarga, pasti sahurnya sendirian," sahut Dodo.
"Besok kau tak perlu sahur di rumah lagi, temanin aja terus Pak Sukirman," ujar Gavin.
Gavin tertawa membayangkan Dodo membawa ransel gunung berisi banyak makanan. Pasti udah tepar berkali-kali. Untung gak ada yang mau nyulik. Udah pada tahu nyulik bocah gendut butuh modal yang banyak. Apalagi kalau penculiknya kelas teri, bukan untung malah ngutang sana sini buat ngempanin Dodo.
***
Pagi itu Alex dan Sophia pergi ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Mereka ingin mendampingi dan mensupport Kenan agar tetap semangat meski pahit yang dirasakannya. Alex dan Sophia sudah masuk ke dalam ruang sidang. Namun Kenan ke luar lagi untuk pergi ke toilet.
"Astaga bocor terus gara-gara minum 8 gelas disekaliin," keluh Kenan. Dia berjalan di lorong. Menuju toilet. Tak sengaja bertemu mantan istrinya Monika bersama Pak Kades.
"Eh mantan miskin, punya bensin buat datang ke sini?" sindir Monika.
"Paling ngutang Bosnya, diakan gembel sekarang," tambah Pak Kades.
"Dua parasit, masih punya muka nyombongin hartaku," balas Kenan.
"Kau saja yang bodoh, jadi laki banci," ledek Monika.
"Besok juga ngondek di lampu merah," tambah Pak Kades.
"Makasih, setidaknya aku tak gila seperti kalian," kata Kenan.
"Hih, ayo sayang kita cabut gak level," ujar Monika.
"Iya, tar kelamaan di sini ketularan miskin," sahut Pak Kades. Keduanya meninggalkan Kenan. Masuk ke ruang sidang. Penampilan mereka terlihat berkelas. Monika sampai mengenakan emas lengkap di leher, tangan dan jarinya. Udah kaya toko emas berjalan. Begitupun Pak Kades yang mengenakan pakaian dan jam tangan branded. Semua itu didapat dari Monika. Mereka duduk di kursi. Tak lama Kenan masuk. Duduk tak jauh dari Monika.
Kenan berusaha tegar meski hatinya perih. Selama ini semua sudah diperjuangkannya. Dia berkorban apa saja untuk Monika. Tapi semua kerja kerasnya hanya dihargai sebuah pengkhianatan.
Sidang dimulai. Majelis hakim membacakan gugatan cerai yang sudah disepaki keduanya begitupun dengan alasan kedua belah pihak untuk bercerai. Tak ada mediasi di antara keduanya karena mereka sudah sepakat untuk bercerai.
Tok!
Palu hakim diketuk. Tanda perceraian sudah diputuskan. Tak ada tali pernikahan yang mengikat mereka secara hukum. Kenan sudah berbesar hati untuk melepas Monika tanpa menuntut apapun. Dia sudah ikhlas.
Monika menghampiri Kenan. Duduk di sampingnya.
"Kenan kalau kau mau jadi budak uangku lagi, aku membuka pintu selebar-lebarnya," ujar Monika.
Kenan hanya diam. Menatap ke depan. Tak menggubris sindiran halus wanita yang dulu pernah dicintainya, ibu anaknya. Sekarang hanya seorang wanita murahan yang begitu menjijikkan.
"Good bye, I am happy," bisik Monika.
"Kau akan menyesal dan mengemis maafku Monika," balas Kenan. Yang masih terdiam di kursi panasnya.
Monika hanya tersenyum. Kemudian berdiri meninggalkan Kenan. Ke luar dari ruang sidang bersama Pak Kades. Begitupun semua orang yang berada di ruang sidang itu. Tinggal Kenan yang masih terdiam. Melihat itu Alex dan Sophia menghampirinya.
"Selamat Kenan, kau sudah resmi jadi duda keren tahun ini," ucap Alex menyemangati Kenan.
"Mas." Sophia menepuk lengan Alex pelan.
"Iya dong Bos, siap mencari janda bohay yang cantik," sahut Kenan berusaha tetap ceria.
"Nah gitu, tanyakan padaku kalau soal cewek, secara Bosmu ini Casa- ...." Alex melihat dulu ke arah Sophia.
"Mas tadi bilang apa? Dede denger loh nanti," sahut Sophia.
"Eh iya sayang, lupa," sahut Alex. Udah deh casanova sekarang jadi Suami Bucinin Istri.
Kenan tersenyum. Melihat Bosnya sekarang udah punya sarang yang membuatnya anteng. Giliran dirinya yang akan melangkah ke depan.
****
Pak Kades dan Monika naik mobil untuk pulang ke rumah. Mereka terlihat senang. Sekarang bebas berduaan tak perlu sembunyi-sembunyi. Sepanjang jalan mereka tertawa, mengingat kekalahan Kenan dan muka ngenesnya.
"Mantan suamimu itu paling bunuh diri abis ini," ujar Pak Kades.
"Ngemis paling, kalau bunuh diri kebagusan," sahut Monika.
"Gak sabar mau ngasih nasi basi padanya," kata Pak Kades.
"Kalau aku gak sabar melihat dia mengemis di kakiku minta sesuap nasi," sahut Monika.
Tiba-tiba ban mobil yang dinaiki mereka berdua pecah. Mau tak mau mobil berhenti dadakan.
"Sayang turun sana, liat apa bannya pecah?" ujar Pak Kades.
"Kenapa gak kamu aja," kata Monika.
"Aku nyetir nih, turun sana,!" titah Pak Kades.
"Kau mulai nyuruh," sahut Monika kesal. Dia turun dari mobil. Berjalan mengecek ban mobilnya. Baru mau berjongkok tahu-tahu sebuah motor berhenti. Satu orang masih di motor, satu orang lagi menghampiri Monika. Menodongkan pisau.
"Serahkan semua perhiasanmu!" ancam lelaki itu.
"Tidak," sahut Monika.
"Serahkan tidak! Atau mati!" ancam lelaki itu mulai memajukan pisaunya ke dekat perut Monika.
"I-iya," jawab Monika ketakutan. Mau tak mau memberikan semua emas yang dipakainya pada perampok itu karena ancamannya.
Lelaki itu langsung mengambil semua emas Monika, tapi dia justru menusuk perutnya kemudian kabur bersama rekannya.
"Eeek ... eeek ... Pak Kades!" teriak Monika sambil menegang perutnya yang bersimpah darah.
Mendengar suara Monika berteriak, Pak Kades yang asyik main game turun dari mobil juga. Dia mendapati Monika sedang memegang perutnya yang berdarah.
"Monika!" teriak Pak Kades. Dia langsung menghampiri Monika.
"Pak Kades antar aku ke rumah sakit, aku takut mati," kata Monika.
"Iya," sahut Pak Kades. Kemudian Pak Kades mencari tumpangan. Sampai pada akhirnya naik taksi menuju rumah sakit.