
Satu minggu kemudian. Sora sudah pulang ke kontrakkannya. Dia duduk di kursi roda bersama ditemani ibunya. Mereka sedang berjemur di teras kontrakkan tempat tinggalnya. Pagi itu Ibu Nita menyuapi Sora sarapan pagi. Dia terlihat cemberut. Hanya diam membisu sepanjang menyuapkan sendok ke mulut putrinya. Dia tampak menyimpan sesuatu dibenaknya.
"Bu ada apa?" tanya Sora.
"Ada apa? Kau tidak melihat kakimu lumpuh? Masa depanmu hancur, siapa yang akan mau menikahi wanita lumpuh sepertimu," jawab Ibu Nita.
Sora terdiam. Melihat kakinya yang lumpuh. Dia memang kehilangan kesempatannya untuk menjadi pengacara dan sekarang dia tidak bisa membahagiakan ibunya. Matanya berkaca-kaca.
"Kalau Tuan Matteo menikahimu, masa depanmu akan terjamin. Kau tidak perlu bekerja seumur hidupmu. Dia sangat kaya," ujar Ibu Nita.
Sora menunduk. Dia tahu ibunya mengkhawatirkan masa depannya. Biar bagaimanapun hati seorang ibu tak mungkin tega melihat anaknya seperti itu.
"Sekarang lihatlah! Masa depanmu hancur, kau lumpuh, untuk mengurus dirimu sendiri saja tidak bisa apalagi membantu ibu," ujar Ibu Nita.
"Aku akan mencari pekerjaan yang ku bisa Bu," jawab Sora.
"Pekerjaan apa yang bisa dilakukan wanita lumpuh? Paling ngamen dan minta-minta," jawab Ibu Nita.
Sora terdiam. Dia tahu tak ada pekerjaan yang bisa dilakukan wanita lumpuh.
"Tapi Tuan Matteo akan membiayai pengobatanku sampai sembuh Bu, dia juga akan membantuku menggapai cita-citaku," ujar Sora.
"Sembuh? Kapan? Memangnya orang lumpuh bisa sembuh dengan cepat? Keburu tua dulu," sahut Ibu Nita.
Sora kembali diam. Dia bisa merasakan kekhawatiran ibunya.
"Ibu belum puas sebelum lelaki itu dilaporkan ke polisi," ujar Ibu Nita. Dia ingin melaporkan Tuan Matteo ke polisi karena ketidakpuasannya.
"Jangan Bu, kasihan Ezar, kalau ayahnya masuk penjara," sahut Sora.
"Ezar? Siapa Ezar?" tanya Ibu Nita.
"Ezar anak angkat Tuan Matteo dan Nona Claudya," jawab Sora. Dia memberitahu ibunya siapa Ezar.
"Untuk apa kau peduli pada mereka? Lagi pula Ezar bukan siapa-siapamu," sahut Ibu Nita.
"Tapi Bu, Ezar mungkin saja anakku," ujar Sora. Dia berpikir Ezar mungkin memang anaknya.
"Sudah, jangan memikirkan anak haram itu lagi. Sudah bagus dia hilang. Kau bisa menyelesaikan kuliahmu, kalau tidak, kau akan malu seumur hidupmu," sahut Ibu Nita. Dia tidak suka setiap kali membahas anaknya Sora. Anaknya Sora dianggap penghalang kesuksesan Sora untuk mengapai cita-citanya.
"Anak haram? Dia anakku Bu," jawab Sora. Dia tidak mau anaknya disebut anak haram.
"Anakmu? Dia itu anak lelaki brengsek yang sudah memperkosamu seenaknya, tak pantas kau menyebut anakmu," sahut Ibu Nita. Dia tidak ingin menganggap bayi yang dilahirkan Sora sebagai anaknya Sora tapi anaknya lelaki yang sudah memperkosanya.
"Tapi Bu, Ezar tetap anakku, darah dagingku, meski ...," sanggah Sora. Teringat peristiwa menyakitkan dua tahun lalu.
"Sudahlah jangan pikirkan hal itu, lupakan masa lalumu, untuk apa memikirkan anak itu lagi," ujar Ibu Nita. Dia tidak ingin Sora mengingat anaknya lagi.
"Tidak, bagaimana kalau Ezar memang anakku, dia punya tanda lahir yang sama dengan anakku," sanggah Sora. Dia tahu Ezar memiliki tanda yang sama dengan anak kandungnya.
"Anakmu sudah mati!" seru Ibu Nita marah. Dia tidak suka Sora mengingat anaknya.
"Tidak, anakku masih hidup," sahut Sora. Dia yakin Ezar anaknya. Perasaan seorang ibu tak mungkin salah.
"Anakmu sudah mati!" Ibu Nita menekankan.
"Tidak, Ezar pasti anakku," sahut Sora. Dia lebih percaya dengan keyakinan hatinya.
"Anakmu mati! Aku sudah membuangnya di tempat sampah." Ibu Nita kelepasan. Dia tidak bisa mengontrol dirinya. Justru mengungkap kebenarannya.
"Apa? Ibu membuang anakku di tempat sampah?" Sora terkejut dengan pengakuan spontan ibunya yang tidak sengaja itu.
"Tidak, ibu tadi .." Ibu Nita bingung harus bagaimana mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan pada Sora.
"Jadi benar, anakku tidak hilang tapi kaulah yang membuang anakku?" seru Sora. Dia kecewa ibunya sudah membuang anaknya.
"Sora ibu bisa jelaskan," sahut Ibu Nita ingin berkilah agar Sora tidak menyalakannya.
"Tidak perlu dijelaskan lagi, sudah jelas ibulah uang membuang anakku di tempat sampah, iyakan?" pekik Sora marah. Dia tidak pernah berpikir ibunyalah yang sudah membuang anaknya.
"Iya, untuk apa kau merawat anak haram itu. Masa depanmu akan hancur. Kuliahmu akan terhenti, lalu bagaimana dengan cita-citamu?" sahut Ibu Nita.
"Iya, memangnya gampang ngurus anak? Lihat ibu, demi mengurusmu segala pekerjaan sudah kulakukan!" jawab Ibu Nita. Dia membuang anak Sora demi masa depannya.
"Aku tidak menyangka ibu tega melakukan itu, bagaimana kalau anakku kesakitan di luar sana saat ibu membuangnya di tempat sampah?" sahut Sora. Dia membayangkan apa yang akan terjadi pada anaknya saat di tempat sampah.
"Aku tidak peduli, yang penting anak haram itu tidak menghalangi mimpimu lagi," kata Ibu Nita.
Sora menggeleng. Dia tak menyangka ibunya tega melakukan semua itu. Padahal Sora tahu ibunya sangat menyayanginya dari kecil.
"Ibu kejam! Ibu jahat!" Sora kecewa.
"Semua yang ibu lakukan demi kamu! Terserah kau mau berpikir seperti itu," sahut Ibu Nita.
"Demi aku? Atau demi ibu? Aku bisa menggapai semua ini meski harus merawat anakku," sanggah Sora. Dia akan melakukan apapun demi bisa kuliah dan merawat putrannya. Namun ibunya justru sudah menghancurkan impiannya.
"Kau itu tidak tahu terimakasih, ibu sudah menyayangimu, semua ku lakukan untukmu," jawab Ibu Nita.
Sora terdiam. Air matanya menetes di pipinya.
"Kau tidak tahu mana yang terbaik, justru mempersulit hidupmu sendiri," ujar Ibu Nita. Kemudian masuk ke dalam rumah untuk meletakkan piring.
Sora yang ada di luar. Berusaha mendorong kursi rodanya. Dia memutar rodanya meninggalkan tempat itu. Sora terus mendorong rodanya, sesekali minta tolong pada orang yang melintas untuk mendorong rodanya yang tersangkut. Dia mendorong rodanya sampai jalan raya.
"Aku harus bertemu Ezar, dia pasti anakku," ujar Sora. Dia yakin Ezar pasti anaknya. Tanda lahir itu sudah jelas sama.
Di sisi lain Pak Harry sedang duduk di kursi belakang sambil memainkan gadget miliknya. Meski sudah tua keladi, dia masih suka melihat foto gadis-gadis cantik di handphone miliknya sekedar cuci mata atau nambah dosa.
"Son ada cewek lumpuh nyeberang jalan."
"Iya Jon. Kata Pak Ustad kita harus tolong menolong dalam hal keburukan."
"Salah Son. Dalam hal maksiat."
"Astagfirullah, itu masih satu komunitas jahat."
"Yang bener dalam hal menolong wanita cantik ya Son."
"Benar itu, yang cantik tolong duluan."
Pak Harry menggeleng dengan kelakuan dua bodyguard yang duduk di kursi depan.
"Bos menepi dulu, mau nolong cewek cantik."
"Iya Bos. Kasihan kesulitan menyeberang jalan."
"Terserah," jawab Pak Harry.
Son dan Jon langsung memarkir mobil di tepi jalan. Kebetulan itu bukan jalan utama masih bisa parkir di tepi jalan.
"Son kebelet pipis."
"Aku juga Jon. Kok pengen buang hajat."
"Tapi cewek itu gimana dong?"
"Nanti dulu, kita tuntaskan pukulan maut ini dulu."
Son dan Jon ke luar. Mereka langsung tancap gas kabur mencari toilet. Tinggal Pak Harry di dalam mobil. Karena Son dan Jon tak berisik lagi, dia mengalihkan pandangannya ke luar. Melihat wanita yang mendorong kursi rodanya untuk mencapai tepi jalan sedangkan mobil dan motor lulu lalang.
"Haruskah aku turun tangan juga?" ujar Pak Harry. Mau tak mau dia turun dari mobil. Menghampiri wanita yang mendorong kursi rodanya untuk sampai di tepi jalan.
"Biar ku bantu Nona," ujar Pak Harry.
Sora tak memperhatikan wajah orang yang mau menolongnya dia hanya bilang iya.
Pak Harry mendorong kursi roda itu ke tepi jalan.
"Nah sudah sampai," ujar Pak Harry.
"Terimakasih," sahut Sora. Menoleh ke belakang. Matanya terbelalak melihat Pak Harry.