
Satu jam kemudian perawat membawa bayi ke dalam ruangan tempat Nada berada. Kenan dan Alex yang duduk di sofa langsung antusias. Menyambut bayi yang ada di ranjang bayi yang didorong perawat.
"Tunggu suster kita mau lihat dulu," kata Alex.
"Iya suster mau memastikan gak ketuker ma bayi sapi," sahut Kenan.
"Maaf Pak hanya manusia yang melahirkan di sini, kalau sapi tinggal di kebon juga jadi."
Alex tertawa kecil. Menutup mulutnya. Kok bisa sekretarisnya menanyakan masalah sapi di rumah sakit apalagi sapinya lahiran di rumah sakit.
"Kenan coba kau lihat bayimu!" titah Alex.
"Eh iya Bos, malah sibuk ngurus anak sapi Bos," sahut Kenan.
Bergegas Kenan melihat bayinya. Kedua netranya terbelalak melihat bayi tampan, putih, dan lucu.
"Bos gak kaya aku, perbaikan keturunan nih," ujar Kenan. Melihat bayinya lebih mirip Nada yang cantik jelita.
"Baguslah, kasihan bayi ini kalau mirip ayahnya, untung mirip ibunya," sahut Alex.
"Iya ya Bos, kalau mirip denganku bisa ditolak cewek cantik terus Bos," jawab Kenan.
"Sudah belum Pak? Saya mau bawa ke ibunya."
"Sudah suster," jawab Kenan. Dia mempersilahkan bayinya dibawa ke Nada. Kenan senang sudah melihat bayi jagoannya. Dia sampai menangis terharu sudah memiliki keluarga kecilnya yang baru bersama Nada.
"Sabar Kenan, aku tahu kau terharu wajah anakmu lebih tampan darimu," ujar Alex.
"Iya Bos, semoga anakku gak kaya Bos, jadi buaya Amazon," sahut Kenan.
"Kenan kalau tampan resikonya jadi buaya, sabar aja sekolahin anakmu di daratan jangan di perairan," jawab Alex.
Kenan tertawa mendengar Bosnya bicara. Mereka berdua sama-sama Bos dan anak buah yang aneh-aneh aja.
Sementara itu Nada sedang menggendong bayinya dan m€nyu$ui putranya. Sophia langsung menutup tirai yang mengelilingi ranjang agar Alex dan Kenan tak melihat saat Nada sedang m€nyu$ui Irfan. Di saat m€nyu$ui, Nada senang sekali melihat putra tampannya. Sesekali mencium pucuk keningnya.
"Tampannya Irfan Haikal," puji Sophia melihat anak Nada. Nama Irfan Haikal pemberian dari Paman Harun usai pergi ke Mekkah. Kenan dan Nada sepakat memberi nama itu sebagai nama anak laki-laki mereka.
"Makasih Tante," sahut Nada. Dia menatap bayinya yang terlihat nyaman digendongannya.
Sophia memperhatikan Nada yang sedang m€nyu$ui Irfan. Terlihat kesakitan. Membuat Sophia penasaran.
"Kak Nada kenapa?" tanya Sophia.
"Sakit, lecet Sophia di$u$u sama Irfan," jawab Nada sambil meringis.
"Iya ya Kak, kemarin aku juga gitu, apalagi Arfan udah ada gigi, mana pertama kali aku m€nyu$uinya, sakit banget," sahut Sophia.
"Aku dulu pas Nesa juga gini sampai dua minggu panas dingin," kata Nada menceritakan pengalamannya m€nyu$ui Nesa saat masih bayi.
"Kalau aku sampai berdarah dikit Kak, mungkin karena Arfan udah punya gigi di saat aku m€nyu$uinya untuk yang pertama kali," sahut Sophia. Dia juga membagikan pengalamannya.
"Berarti jadi ibu sungguh luar biasa pengorbanannya. Dari mengandung, melahirkan m€nyu$ui sampai merawat anaknya hingga dewasa," ujar Nada.
"Iya, sungguh besar pengorbanan seorang ibu, itu sebabnya surga di telapak kaki ibu," sahut Sophia. Matanya berkaca-kaca. Teringat ibunya. Saat itu Sophia masih kecil, ibunya sudah meninggal karena kanker hati
"Kakak jadi ingat ibu, meski sakit tetap merawat kita. Tak pernah mengeluh sakit, dia selalu tersenyum di depan kita dan memberikan seluruh kasih sayangnya," ujar Nada. Matanya berkaca-kaca mengingat ibunya.
"Iya Kak Nada, semoga Allah memberi tempat yang terbaik untuk ibu, mengampuni dosanya, dan meringankan siksa kuburnya," kata Sophia. Mendoakan ibunya yang sudah meninggal.
"Amin," sahut Nada.
Tak lama Keluarga Wijaksana, Keluarga Sebastian dan Keluarga Harold datang. Menjenguk Nada dan bayinya. Mereka semua ikut bahagia dengan kelahiran anak Kenan dan Nada ke dunia.
***
Humaira duduk di depan televisi melihat angsa-angsa putih yang cantik. Dia sampai tersenyum melihat angsa itu. Luki yang baru ke luar dari toilet menghampiri istrinya yang asyik menonton televisi sambil makan camilan.
"Bidadariku lagi ngapain?" tanya Luki. Dia hanya mengenakan handuk setengah badan.
Mendengar suara suaminya, Humaira menoleh ke arahnya.
"Lagi nonton angsa putih Oppa," sahut Humaira.
Luki mengangguk. Akhir-akhir ini Humaira memang suka melihat angsa putih baik langsung maupun di televisi atau di handphone miliknya.
"Kenapa sayangku suka sama angsa putih?" tanya Luki
"Habis angsa putih so sweet banget," jawab Humaira. Tersenyum. Bibirnya mengembang seperti bulan sabit.
"So sweet kenapa?" tanya Luki yang masih berdiri di depan lemari.
"Habis angsa binatang yang setia, jadi aku suka Oppa," jawab Humaira. Dia menyukai angsa karena setia pada pasangannya. Kalah sama manusia yang tak semuanya setia. Sisanya setiap tikungan ada atau selingkuh tiada akhir.
"Oppa juga setia, gak tergoda? Oppa baru mandi nih," sahut Luki sambil mengedipkan matanya.
Humaira tersenyum. Menghampiri Luki yang tampan bak artis Korea. Humaira berdiri di depannya.
"Aku mencintaimu Humaira Az Zahra," ujar Luki sambil membelai rambut kepirangan Humaira.
"Aku juga mencintaimu suamiku," sahut Humaira. Tangannya meraba dada bidang suaminya yang begitu menggoda.
Luki mendekati wajah cantik Humaira, mencium bibir merah delima itu. Mendapatkan ciuman dari Luki, Humaira membalasnya. Mereka berciuman mesra.
Tak lupa Luki juga mencium perut Humaira.
"Dede, ini Abi, sehat terus ya," ujar Luki. Dia begitu menyayangi Humaira dan buah cinta mereka.
Humaira tersenyum. Mengelus kepala suaminya. Dia beruntung menjadi wanita yang ada di hati Luki. Selama menikah dengannya, Luki selalu memperlakukannya dengan lembut dan penuh perhatian. Humaira merasa menjadi seorang putri.
"Oppa, aku ingin angsa," pinta Humaira.
Luki langsung bangun. Menatap wajah cantik Humaira. Pemilik mata biru itu terlihat memohon.
"Mau angsa ya? nanti siang Oppa carikan ya?" ujar Luki.
"Beneran Oppa?" tanya Humaira. Dia ingin sekali memiliki angsa putih.
Luki mengangguk.
"Iya sayang," sahut Luki. Demi istrinya yang sedang hamil dia harus mendapatkan angsa putih.
Siang itu Luki pergi ke perkampungan di pinggiran kota Jakarta. Dia ingin membeli angsa dari orang kampung. Tak disangka dia bertemu Gavin juga.
"Vin, ngapain Lo ada di sini? Jangan bilang cari selingkuhan di sini?" ujar Luki.
"Kok tahu?" sahut Gavin terlihat serius.
"Beneran Lo selingkuh?" tanya Luki. Terkejut mendengar Gavin punya selingkuhan.
"Iya, selingkuh sama angsa putih," jawab Gavin.
Luki tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Gavin.
"Lo kenapa Luk? Jangan bilang lo juga mau selingkuh ma kerbau," ujar Gavin.
"Enak aja, gini-gini gue tahu bedanya cewek cantik sama kerbau cantik," sahut Luki.
"Kirain lo masih belum ngerti, kerbau aja diembat," ujar Gavin.
Mereka berdua kembali bercanda saat bertemu. Sudah beberapa minggu tak bertemu. Membuat mereka meluapkan kerinduaannya sebagai seorang sahabat.
"Luk ke sini mau ngapain?" tanya Gavin
"Mau nyari angsa putih," jawab Luki.
"Berarti sama, gue juga nyari angsa putih," sahut Gavin.
"Kalau gitu ayo kita nyari barengan," usul Luki.
Gavin mengangguk.
Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari angsa putih itu bersama. Mereka beli di orang kampung. Namun keduanya mesti menangkap angsa itu sendiri yang lagi piknik di padang rumput deket sawah.
"Luk kenapa kita malah dikejar angsa gini," ujar Gavin berlari. Dua angsa besar mengejarnya.
"Iya ya, seharusnya siapa yang menangkap siapa?" sahut Luki.
"Tahu angsa punya darting gini gue milih nyari bebek aja," ucap Gavin.
"Sama, gak tahunya angsa lebih galak dari ibu mertua," sahut Luki.
Keduanya berlari dikejar-kejar angsa. Bokongnya disosor angsa berkali-kali. Belum lagi nyemplung dikubangan comberan bekas kerbau bermalas-malasan.
"Luk, bau," ujar Gavin.
"Iya, perjuangan banget mau nangkap angsa," sahut Luki.
"Kebalik kali, kita yang ditangkap angsa," jawab Gavin.
"Iya ya, nyesel tadi kenapa gak searching dulu. Gak tahunya angsa gak bisa diajak berdamai," tambah Luki.
"Udah Luk kita tangkap bebek aja, cat putih mirip angsakan," usul Gavin.
"Tapikan bebek pendek," sahut Luki.
"Sambung aja kakinya pakai tangga," ujar Gavin.
"Pakaiin heel 30 cm aja, biar kaya angsa," sahut Gavin.
Mereka berdua tertawa dengan candaan keduanya. Kemudian mereka kembali menangkap angsanya. Dengan perjuangan seharian, akhirnya bisa menangkap angsa.
"Luk angsaku cowok," ujar Gavin.
"Angsaku cewek Vin," jawab Luki.
"Kita besanan biar gak perlu nyari jodoh lain," ujar Gavin.
"Bolehlah kalau angsamu CEO," sahut Luki.
"Astaga, kapan angsa jadi CEO?" kata Gavin.
"Kalau gak, angsaku ku jodohkan dengan yang lebih mapan," sahut Luki.
Mereka berdua tertawa. Akhirnya dapat angsa untuk istri mereka yang lagi nyidam angsa putih.
***
Lima bulan berlalu. Sora Nafiza merapikan semua berkas-berkasnya hari ini hari pertamanya bekerja. Dia senang sekali akhirnya mimpinya terwujud. Sebentar lagi dia akan benar-benar jadi pengacara. Ibunya datang ke kamarnya untuk memberikan support.
"Sora apa kamu sudah siap berangkat?" tanya Ibu Nita.
"Ya Bu, doain ya ini hari pertamaku gabung," jawab Sora.
"Ya tentu ibu akan mendoakanmu," sahut Ibu Nita.
"Nanti kita gak perlu tinggal dikontrakkan ini lagi. Setelah Sora sukses, Sora akan membeli rumah dan mobil untuk ibu. Ibu gak usah bekerja lagi, sudah lama ibu kerja keras untuk sekolah Sora. Kali ini biar Sora yang membahagiakan ibu," ucap Sora.
"Iya nak, bagi ibu mimpimu adalah kebahagiaan ibu," sahut Ibu Nita.
"Semoga aku juga bisa bertemu dengan anakku Bu," ujar Sora.
"Sudahlah, jangan pikirkan soal anakmu, kejar mimpimu itu jauh lebih penting," sahut Ibu Nita.
Sora terdiam sesaat. Dia rindu pada anaknya. Tapi Sora tidak tahu anaknya ada di mana.
Pagi itu Sora berangkat menunju Kantor Pengacara Sugiono XX. Sora berjalan ke luar dari kontrakannya. Dia sedang mencari angkutan umum.
Sementara itu Tuan Matteo berangkat ke kantornya dengan menyetir mobilnya sendiri. Hari ini supirnya sedang izin jadi Tuan Matteo membawa mobilnya. Mobilnya melaju dengan kecepatan yang sedang tapi dia tidak begitu fokus karena terburu-buru, ada meeting penting menunggunya. Dari tepi jalan Sora hendak menyeberang ke halte bus di seberang jalan. Tuan Matteo yang memikirkan meeting-nya, tidak sadar Sora sedang menyeberang di depannya.
Dug ...
Suara mobil itu menabrak seseorang yang melintas di depannya. Tuan Matteo terkejut dan menghentikan mobilnya seketika. Dia melihat seorang gadis tertabrak olehnya.